Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?
Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.
Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bercerai?
Rasa canggung tentu saja ada. Namun bagi Amira, yang hatinya sudah mati rasa, peristiwa yang baru saja ia lalui bersama Farhan dianggapnya sekadar kewajiban atau mungkin lebih tepatnya, sebagai bayaran atas segala yang selama ini Farhan berikan.
Setelah keluar dari kamar mandi dan berpakaian, Amira tidak lagi melihat suaminya di tempat tidur. Ia pun mulai merapikan kamar dan mengganti seprai yang terlihat berantakan. Saat melihat sisa-sisa bukti keintiman yang masih terlihat jelas di kain itu, tubuh Amira tiba-tiba menggigil ngeri.
"Seharusnya momen seperti ini bisa menjadi awal kehadiran anakku. Pantas saja ia tak kunjung datang… ternyata ayahnya pun tidak menginginkannya. Syukurlah kalau begini. Pasti akan sangat menyedihkan jika seorang anak lahir tanpa mendapatkan kasih sayang dari ayahnya," batinnya getir.
Tak lama setelah ia selesai mengganti seprai, Farhan kembali masuk ke kamar usai membersihkan diri.
"Amira, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Farhan begitu melihat istrinya yang hendak melangkah keluar kamar.
Amira menghentikan langkahnya, lalu menoleh. "Ada apa, Mas? Silakan bicara, aku mendengarkan."
"Maaf… maaf kalau tadi aku terlihat agak kasar sama kamu…"
Belum sempat Farhan menyelesaikan ucapannya, Amira sudah menyela dengan nada datar.
"Sudahlah, Mas. Kita ini masih suami istri, jadi hal seperti itu wajar-wajar aja. Cuma memang agak berbeda dari kebiasaan kamu. Ada hal lain yang ingin dikatakan?" tanyanya memastikan.
"Masih? Apa maksudnya pertanyaan itu?" gumam Farhan dalam hati, merasa sedikit bingung.
"Sebentar lagi adik-adikmu akan lulus sekolah. Aku menyarankan agar mereka mendaftar kuliah di luar negeri. Mereka anak-anak yang cerdas dan berprestasi, aku yakin peluang mereka untuk diterima sangat besar," lanjut Farhan.
Amira hanya mendengarkan dengan ekspresi datar. Seandainya rahasia besar yang disembunyikan Farhan belum ia ketahui, mungkin ia akan menyetujui usulan itu. Namun kini, tekadnya sudah bulat untuk menolak.
"Tidak usah, Mas. Kalau mereka pergi ke luar negeri, aku benar-benar tidak punya siapa-siapa lagi. Hanya merekalah yang aku miliki. Lagi pula, banyak universitas bagus di Indonesia, bukan?"
"Kenapa bicara begitu? Masih ada aku sebagai suamimu, dan juga keluargaku. Mengapa harus merasa sendirian?"
Amira tersenyum tipis, senyum yang terasa hambar. "Mas, jangan terlalu baik. Kebaikanmu itu justru kini terasa menjadi beban buat aku. Aku merasa terlalu bergantung sama kamu, dan itu tidak baik. Aku takut suatu hari nanti kamu akan merasa bosan dan akhirnya melepaskanku begitu saja."
"Kok bicara begitu? Apa aku udah buat salah sama kamu ?" tanya Farhan dengan nada penasaran.
Amira menggeleng pelan. "Enggak, Mas. Kamu nggak pernah berbuat salah. Mungkin hanya aku yang merasa tidak percaya diri dengan keadaan. Aku baru sadar bahwa kita ini memang berasal dari dunia yang sangat berbeda. Soal masa depan Amara dan Ammar, tidak perlu kamu pikirkan lagi. Biarkan itu menjadi tanggung jawabku. Mulai minggu depan, aku sudah diterima bekerja di toko kue milik tetangga. Mungkin aku akan lebih sering tinggal di rumah lama kami. Lagi pula, kamu juga sering bepergian ke luar kota, jadi nanti kita memang akan jarang ketemu," ucap Amira dengan nada tenang, meski hatinya terasa perih.
Mendengar itu, Farhan justru merasa gelisah. Bukankah ini yang selama ini ia inginkan? Ia bahkan sering pergi ke luar kota dengan alasan pekerjaan semata-mata untuk menghindari Amira. Namun, giliran Amira yang melakukannya hal serupa, justru muncul rasa tidak rela di hatinya.
"Kenapa harus tinggal di sana? Kenapa harus bekerja? Amara dan Ammar juga adik-adikku. Aku udah janji saat kita menikah, bahwa aku akan menjadi tempat berlindung buat kamu dan kedua adikmu. Biarkan aku yang bekerja, kamu cukup tinggal di rumah saja. Aku ikhlas menafkahi kalian," tegas Farhan.
"Tapi aku tidak mau, Mas. Meskipun kami yatim piatu dan mungkin dianggap berasal dari keluarga sederhana, rasanya kebaikanmu ini terasa berlebihan," jawab Amira tegas.
Farhan semakin bingung mendengar penuturan itu. "Kamu bicara tidak jelas. Apa maksudmu bilang ini seperti berlebihan? Kita ini suami istri, Amira."
"Mas, tapi begitulah kenyataannya. Pernikahan kita terasa begitu janggal. Dulu kamu hanya mengenalku sebagai karyawan di kantormu. Lalu kamu mendekat dan mengetahui kehidupan sulitku. Aku terlalu bodoh sampai percaya pada dongeng pertemuan pangeran dan gadis miskin. Aku sadar, kamu hanya merasa kasihan, hanya merasa iba. Aku yakin dalam hatimu kamu muak harus berpura-pura mencintaiku. Kita ini terlalu berbeda, Mas," ucap Amira mantap, lalu berbalik dan pergi meninggalkan Farhan.
Farhan terdiam, mencoba mencerna setiap kata yang baru saja didengarnya. Ucapan istrinya terdengar samar, namun ia paham betul makna yang tersirat di baliknya.
Farhan masih terpaku di tempatnya, mendengarkan langkah kaki Amira yang perlahan menjauh hingga hilang ditelan lorong. Hatinya bergemuruh bercampur bingung, kesal, dan anehnya ada rasa sakit yang menusuk. Selama ini ia merasa pernikahan itu hanya bentuk tanggung jawab dan rasa iba, namun melihat Amira menjauh seolah melepaskan segala ikatan, membuatnya merasa ada sesuatu yang akan hilang selamanya.
#
Keesokan harinya, Amira bangun lebih pagi dari biasanya. Ia menyiapkan sarapan untuk Amara dan Ammar, adik-adiknya yang masih duduk di bangku SMA. Mereka tinggal di rumah lama itu sejak orang tua mereka tiada, sampai Farhan datang dan mengajak Amira menikah.
"Kak, aku pikir kemarin Kakak tidur di rumah Mas Farhan. Kita sih enggak takut tidur berdua di sini, cuma enggak enak saja jauh-jauh dari Kakak," ucap Amara.
Amira tersenyum tipis, berusaha terlihat tegar. “Kakak nggak mungkin tinggal di sana tanpa kalian. Mulai minggu depan, Kakak akan kerja di toko kue Bu Rika, jadi kita bisa tinggal di sini lagi.”
Ammar tersenyum senang.
"Lalu, gimana sama Mas Farhan?" tanya Ammar.
"Mas Farhan nggak ngizinin, tapi juga nggak menyetujui. Tapi, Kakak udah bertekad mau tetap kerja"
"Tapi kenapa, Kak? Mas Farhan udah baik sama kita dan membiayai kebutuhan kita. Kenapa Kakak harus bersusah payah kerja?" tanya Amara yang masih bingung dengan tindakan Amira, karena kakaknya itu tidak pernah menjelaskan alasan yang sebenarnya.
"Amara, jika Kakak bilang kalau Mas Farhan menikahi Kakak karena rasa kasihan, apa kamu akan mendukung keputusan Kakak?" tanya Amira terus terang. Ia berniat mulai menyampaikan rencananya kepada Amara, bahwa mungkin suatu hari nanti ia dan Farhan akan bercerai.
Mendengar hal itu, Amara cukup terkejut. "Karena kasihan? Bukannya Mas Farhan sangat mencintai Kakak?"
Amira menggeleng cepat. "Kamu dan Kakak sama-sama terbuai mimpi," sahut Amira singkat, namun maksudnya dapat dimengerti oleh Amara.
Di tempat lain, Farhan sedang menunggu kabar dari bagian keamanan di rumah orang tuanya. Ia meminta rekaman CCTV selama satu bulan terakhir. Farhan merasa penasaran dengan ucapan Amira mungkinkah istrinya itu mengetahui sesuatu?