NovelToon NovelToon
Datang Tanpa Dicari

Datang Tanpa Dicari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / GXG
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Festival HASEM baru mulai jam tiga sore, tapi suasana sekolah sudah seperti pasar malam yang ditabrak konser tujuh belas Agustusan. Musik dari aula bocor sampai lapangan, panitia mondar-mandir bawa kabel, dan aroma makanan bercampur jadi satu sampai bikin perut lapar padahal belum tentu enak.

IPS 4 termasuk stand paling niat tahun ini. Tema mereka anime maid cafe. Ide yang jelas-jelas lahir dari otak Putri setelah nonton tiga episode anime tanpa subtitle dan merasa tercerahkan, Narisa jadi korban utama.

Cewek itu berdiri di depan stand dengan kostum pelayan hitam putih lengkap dengan apron renda dan rambut dikuncir dua. Di kepalanya bahkan ada bando kecil yang menurut Putri "imut banget", tapi menurut Narisa "kayak antena kecoa."

Meski begitu, stand mereka tetap ramai. karena selain dekorasinya mencolok, jualannya juga aman buat semua manusia normal.

Corn dog mozzarella, kentang spiral, marshmallow bakar, choco banana, jelly drink warna-warni, sampai milk tea yang gulanya cukup buat bikin dokter diabetes tepuk jidat.

Dan Ips 4 memang serius cari untung.

Anak-anak yang bagian masak benar-benar kerja. Yang bagian kasir sibuk mencatat. Yang bagian promosi teriak sana-sini.

Sementara itu Narisa dan Putri... tetap jadi tim bacot.

"Eh! Kentangnya jangan dikit-dikit! Itu pembeli, bukan burung pipit!" teriak Narisa.

" Saosnya yang banyak! Biar mereka ketagihan terus beli lagi!" timpal Putri.

"Kalian bantu kerja kek!" protes salah satu teman mereka yang lagi menusuk marshmallow sambil berkeringat.

Narisa langsung menunjuk dirinya sendiri dengan bangga.

"Gw bagian visual."

"Gw bagian marketing," sambung Putri tidak tahu malu.

"Kalian bagian nyusahin." sahut temannya datar.

Tapi ya.. banyak cowok dari sekolah lain yang mampir gara gara dipanggil dua makhluk itu.

Di stand sebelah, suasananya jauh lebih absurd.

IPS 3 buka stand seblak, tapi konsepnya bukan jualan. Konsepnya mukbang berjamaah sambil berharap ada pembeli nyasar.

Harum berdiri di depan stand sambil kipas-kipas mulut.

"Bibir gw mati rasa anjir."

Kara yang duduk di kursi plastik sebelahnya hanya mengangguk pelan. Bibirnya merah karena dari tadi ikut makan dagangan sendiri.

Seragam mereka sebenarnya rapi. Kemeja putih, apron hitam, celana hitam khas pelayan kafe. Masalahnya Kara dari tadi kelihatan seperti orang yang dipaksa ikut seminar motivasi.

"Lo cocok tau pake beginian," kata Harum sambil nyengir.

"Gw bukan maskot,"

"Tapi lo berguna buat dipajang di depan sini."

"Lo emang bangsat."

"Galak amat, waiter Skubidu."

Kara mendengus malas. Dia sebenarnya sudah mati-matian menolak seragam itu. Tapi teman-temannya bilang,

"Kita semua juga pake kok."

Ya sudah. Mau gimana lagi.

Waktu dia bersandar sambil minum es teh, Narisa dan Putri akhirnya datang. Putri langsung bersiul ganjen.

"Kece amat bedua."

Harum langsung cengengesan lebar. "Ganteng kan?"

Narisa menatap dua orang itu dari atas sampai bawah.

"Ganteng kayak stiker salah cetak,"

Mereka langsung ngakak.

Kara baru benar-benar melihat Narisa sekarang, padahal stand mereka sebelahan. Dari tadi dia sibuk makan dan direcokin Harum.

Dan begitu matanya naik turun memperhatikan kostum Narisa, alisnya langsung mengernyit.

Roknya pendek. Pendek banget menurut standar manusia Waras. Narisa malah berputar kecil sambil memegang ujung roknya. Pamer.

"Kece kan?"

Refleks Kara langsung menarik pergelangan tangannya.

"Rok lo udah pendek. Jangan sampe lo pamer kancut,"

Narisa melotot.

"Dih, gw pake celana pendek dalemnya. Lagian biarin sih. Yang penting cantik."

"Kek ondel-ondel juga."

Narisa langsung mengernyit.

"Lo seragamnya kaku amat. Begini lo pas kerja?"

Kara melihat bajunya sendiri.

"Kurang lebih."

Narisa membelalak.

"Serius? Pasti banyak yang lirik-lirik kan?"

Kara heran sendiri. Reaksi dan tatapan Narisa bisa berubah dalam sedetik. Ajaib.

"Mereka punya mata," kata Kara santai.

"Harusnya lo colok satu-satu,"

Putri dan Harum yang dari tadi mendengar mulai saling lirik.

"Kalau udah nikah emang begini ya?" gumam Putri.

"Maksudnya saling cemburu gitu?" tambah Harum.

Kara dan Narisa langsung menoleh bersamaan.

"Siapa yang cemburu?" sewot Narisa. "Mata kalian kurang dicuci kayaknya."

Belum sempat suasana makin ribut, dua cewek dari sekolah lain tiba-tiba mampir ke stand IPS 3.

"Kak, jualan seblak ya?"

"Mau beli dong kak. Dua porsi."

Harum langsung pasang mode pedagang kaki lima.

"Level berapa?"

Cewek itu melihat poster menu.

"Level tiga deh, kak."

"Siap. Dua level tiga!" teriak Harum ke dalam stand.

"OKE!" balas bagian masak dengan suara perang.

Sementara itu, mata dua cewek tadi malah terus ke Kara. Narisa yang berdiri di samping langsung diam sambil melipat tangan. Auranya mulai mendekati kompor gas bocor.

"Kenapa kelas kita seragamnya sama-sama pelayan sih?" gerutunya.

"Mana gw tau. Gw cuma disuruh pake."

Putri nyolek Narisa sambil bisik-bisik.

"Tapi kita tema anime. Mereka mah pelayan nikahan."

Narisa hampir ketawa, tapi batal karena dua cewek tadi makin maju.

"Kakak kelas dua belas kan?"

Kara belum sempat menjawab.

"Ya iya lah," serobot Narisa jutek. "Di sini stand kelas dua belas semua."

Dua cewek itu sempat bingung, tapi tetap lanjut.

"Aku Dita, kelas sebelas dari SMA Dunia Gempita."

"Aku Zaskia. Kakak namanya siapa ?"

"Dih, gak ada yang nanya juga," gumam Narisa pelan. Kara melirik sekilas.

"Gw Kara. Oh, dari SMA DUGEM,"

Dua cewek itu langsung bengong.

"Kok kayak familiar ya.." gumam Dita sambil menatap Kara lebih serius.

Mata Zaskia mendadak membulat.

"ASTAGA!" pekiknya sampai Harum kaget. "Kakak yang tim basket itu kan? Yang lawan sekolah kita dua bulan lalu?"

"Eh iya!" Dita langsung ikut heboh.

Kara mengangguk santai. "Harusnya sih iya."

"Sumpah keren banget!" kata Zaskia makin semangat. "Sekolah kita kalah tapi gak ada yang sedih. Semua malah ngomongin tim kakak."

"Kakak yang ini juga," tambah Dita sambil menunjuk Harum.

"Emang kita itu." Harum langsung mengusap dagu songong.

Narisa yang dari tadi diam malah makin manyun. "Cuma lari sama masukin bola doang," gerutunya pelan. "Apanya yang keren sih?"

Tapi dua cewek itu jelas tidak dengar.

"IG dong, kak."

Kara langsung capek batin.

IG lagi.

Sementara dia mikir mau jawab apa, Dita tiba-tiba melirik stand IPS 4 di sebelah.

"Eh, itu lucu banget."

"Lah iya. Ada marshmallow bakar."

Putri langsung mode sales.

"Dateng lah! Corn dognya rame banget yang beli!"

Narisa ikut nyelonong sambil narik dua cewek itu.

"Daripada mantengin dua monyet, mending ke tempat kita."

"Dapet bonus gak kak?" tanya Zaskia polos.

"Dapet senyum gw."

"Lah rugi dong pembelinya," timpal Putri tanpa dosa.

Mereka langsung ketawa.

Dan lima menit kemudian, dua cewek tadi balik sambil bawa plastik penuh jajanan dari sebelah.

Harum sampai melongo.

"Anjir. Itu diborong?"

Dua junior dari sekolah lain itu mengangguk semangat sambil mengunyah kentang.

"Enak banget kak."

Kara cuma memperhatikan sambil bersandar di meja stand. Matanya fokus ke Narisa yang sibuk promosi ke pengunjung lain. Entah kenapa tiap ada orang lewat, cewek itu selalu bisa ngajak ngobrol walau ujung-ujungnya maksa beli.

"Bang ganteng cocok beli kentang spiral."

"Yang itu jangan dibeli. kebanyakan gula. Beli punya kita aja."

"Woi cantik, sini coba jelly drink dulu."

"Beli dua lah. Masa jalan sama gebetan cuma beli satu."

Harum ikut melongok ke arah Narisa.

"Buset. Dia cocok jadi sales."

"Sales model kek gitu bisa ditimpuk orang."

"Tapi pada mampir loh."

"Itu sih mereka aja yang bego."

Lalu Kara melihat satu cowok yang lagi diladenin Narisa. Tinggi, putih, rambutnya rapi, senyumnya model anak 0SIS unggulan.

Narisa bahkan ketawa sampai menepuk pundaknya. Kara langsung mendecih pelan.

"Dasar ganjen."

Harum menoleh perlahan.

"Lah?"

~

Semakin sore festival makin ramai. Setelah langit mulai gelap, suasana justru makin hidup. Lampu warna- warni mulai menyala satu-satu, musik dari panggung makin keras, dan tiap stand seperti berlomba jadi yang paling mencolok.

Stand IPS 4 jelas termasuk yang paling niat. Sementara IPS 3 auranya lebih ke: yang penting terang dan makanannya gak gosong.

Band dari beberapa sekolah mulai tampil bergantian. Saat giliran band Fahri dan Putra naik panggung, Narisa dan Putri otomatis maju paling depan sambil teriak brutal.

"SEMANGAT SAYANGGGG!!!"

Teriakan mereka bahkan lebih nyaring dari speakernya. Fahri yang lagi main gitar sampai hampir salah chord gara-gara ketawa.

Di tengah suasana seramai ini, mungkin cuma Kara yang sibuk stres sendiri. Kemarin dia izin kerja buat hari ini, dan anehnya bos kafe malah mengizinkan tanpa banyak tanya.

"Masa SMA itu gak bakal keulang dua kali. Nikmatin aja dulu."

Kalimatnya masuk akal. Tapi Kara tetap takut tip mingguannya dipotong.

Narisa doyan jajan, Itu masalah besar. Untung Nuri masih sering transfer walaupun habisnya entah buat apa. Yang jelas Narisa selalu bilang,

"Gw bokek. Uang dari mama ilang diambil pret ciken".

Saat sedang melamun begitu, Cantika muncul dengan gaun karnaval yang cukup mencolok. Glitter di bajunya bahkan memantulkan lampu stand sebelah.

"Seblaknya laris gak, kak?" tanyanya sambil melirik ke dalam stand IPS 3.

"Harusnya laris," jawab Kara datar. "Tapi bahannya keburu dimakan anak-anak sendiri."

Memang itu masalah utama kelas mereka.

Festival buat IPS3 bukan cari untung. Festival artinya mukbang massal.

Cantika tertawa kecil, lalu menarik pelan lengan Kara.

"Kak, jalan-jalan yuk."

kara menghela napas.

"Udah capek dari sore."

"Kakak udah muter festival? Sama kak Harum ya?"

"Ramean sih,"

" Sama... Kak Risa juga?"

Kara cuma mengangguk,

Cantika diam sebentar sebelum kembali tersenyum.

"Kak, ikut bentar ya. Aku mau ngomong."

Kara melirik panggung sebentar, lalu akhirnya ikut berjalan.

Mereka berhenti di belakang gedung kelas yang lebih sepi. Suara musik masih terdengar samar dari kejauhan.

Kara melihat sekeliling. Kalau malam begini serem juga, batinnya.

"Kak," Cantika memulai pelan, "Kita mau gimana?"

Kara mengernyit.

"Gimana apanya?"

"Hubungan kita."

Kara langsung ingin pulang.

Cara ngomong Cantika seperti mereka habis ngapa-ngapain, padahal cium cuma sekali, itu pun sudah lama.

Bahkan lebih tepat dibilang kecupan.

"Aku kan udah bilang gak bisa, Ca."

"Kenapa?"

"Ya... gak bisa aja."

"Tapi kakak gak pernah jelasin."

Kara memasukkan tangan ke saku celana. Susah kalau sudah ngomongin beginian.

Dia suka Cantika? Ya suka. Tapi suka biasa. Suka yang kalau tidak jadi apa-apa pun hidup tetap lanjut.

"Jangan dibawa serius," katanya akhirnya.

Cantika langsung menatap.

"Apa gara-gara kak Risa?"

"Bukan itu."

"Kalian jadian?"

Kara menghela napas kecil.

Status mereka memang aneh. Tapi tetap saja Narisa sekarang istrinya. Dan entah sejak kapan, Kara mulai merasa punya tanggung jawab penuh ke manusia bar-bar itu.

"Gitu ya," Cantika tersenyum tipis. "Wajar sih. Kak Risa cantik. Dulu kak Cakra aja nge jar-ngejar dia."

Kara langsung menoleh.

"Kenapa jadi bawa Cakra?"

"Karena dia cowok paling terkenal di sekolah."

Kara langsung malas membantah.

Memang benar. Gosip Cakra kentut pun bisa muter satu sekolah.

"Udah lah," kata Kara lelah. "Kita biasa aja gak apa-apa kan?"

"Maksud kakak... temenan?"

Kara mengangguk.

"Tapi aku suka sama kakak."

"Lah, bocil tukang maksa."

Keduanya menoleh bersamaan.

Narisa datang dengan kostum maid masih lengkap, tangannya melipat di dada, auranya sudah seperti pak Kasim tiap lihat murid bolos. Cuma ditambah muka nyinyir.

"Kak Risa ngapain ke sini?" tanya Cantika mulai kesal.

"Menurut lo?" Narisa menunjuk Kara tanpa ragu. "Lo mau pacaran sama dia? Mimpi."

"Ini bukan urusan Kak Risa."

"Jelas urusan gw lah," Narisa menunjuk Kara lagi. "Dia itu.." Lalu dia berhenti.

Kara mulai curiga.. Apalagi telunjuk Narisa masih ngacung ke dia.

"Dia..."

Cantika ikut bingung.

"Kak Ara kenapa?"

Narisa mikir keras beberapa detik.

"Pokoknya jangan."

"Kenapa?" Cantika mulai terpancing. "Kakak suka sama kak Ara?"

Narisa langsung mendelik jijik.

"Ya kali. Muka dia aja mirip monyet kelindes."

"Woi."

"Kak Ara cakep."

"Nah tuh," Narisa langsung tepuk tangan tiga kali. "Ketauan lo cuma suka visual dia doang."

Kara memutar mata malas.

Suka visual itu kan normal. Dari bocah Tk sampai nenek-nenek juga begitu.

"Yaudah ya," kata Kara cepat sebelum dua orang ini adu bacot lebih parah. "Ini festival terakhir gw di SMA. Jangan bikin ribet."

Cantika langsung diam. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi entah kenapa malah bikin dadanya sesak. Artinya satu tahun yang akan dia lalui tanpa Kara.

"Iya deh," katanya pelan. "Tapi aku masih gak mau nyerah, kak."

Narisa langsung siap nyamber lagi. Untung Kara buru-buru mendorong pundaknya pelan.

"Jalan-jalan aja yuk"

Narisa masih manyun, tapi tetap ikut.

Cantika hanya berjalan pelan sambil memperhatikan mereka menjauh ke tengah festival. Awalnya dia pikir Kara memang dingin ke semua orang. Ternyata tidak.

Dengan Narisa, Kara jauh lebih hidup.

Dia protes, nyolot, ketawa kecil, menjentik dahi Narisa waktu cewek itu asal comot makanan stand orang, lalu menarik belakang apron maid-nya sebelum Narisa khilaf nyolong sosis bakar.

Sementara dengannya... Kara selalu santai. Santai yang lebih mirip seperti dengan teman biasa.

Dan semakin lama Cantika sadar, sikap paling menyakitkan ternyata bukan dibenci. Tapi dianggap baik-baik saja untuk dilepaskan.

"Balik ke stand,"

Cantika mendongak. Olin berdiri sambil melipat tangan. Tanpa banyak bicara lagi, Cantika menunduk dan berjalan melewati sepupunya itu menuju stand kelasnya sendiri.

**

*

Seminggu kemudian... Kara gajian.

Yeeyyy.

Bukan sekarang sih. Nanti malam. Tapi tetap saja, kabar itu harusnya menyenangkan kalau Narisa berhenti nyinyir.

Hari ini mereka santai di rumah karena latihan basket Kara baru mulai siang nanti. Sekarang baru jam delapan, dan entah kerasukan apa, dua orang itu malah gelar karpet di teras.

Narisa rebahan tengkurap sambil baca novel di ponsel. Kara duduk selonjoran sambil asal memetik gitar.

"Aku suka sama kak Ara," ucap Narisa tiba-tiba dengan suara dibuat lembut dan mendesah-desah. "Kakak tuh beda dari yang lain. Aku gak bakal nyerah. Tai."

Tangan Kara langung berhenti memetik.

"Udah seminggu. Belom kelar juga drama cemburu lo?"

Narisa mendecih jijik.

"Anjir, drama. Gak ada di kamus gw cemburu."

"Iye dah."

Narisa tiba-tiba bangun duduk.

"Eh, nanti malam gw ikut ke kafe ya."

Kara lansung curiga.

"Hah?"

"Malam Minggu nih. Pasti rame kan? Kali aja gw dapet gebetan."

Kara kembali memetik gitar asal.

"Gak usah aneh-aneh."

"Dih, kenapa?" Narisa melipat tangan, "Besok si bos peak ngajak ketemuan. Gw malu kalau ditanya belum punya pacar."

"Terserah lo deh."

"Lo mah enak. Udah punya Cantika."

Kara langsung menghela napas panjang.

"Masih itu juga yang lo bahas? Udah berapa episode hidup lo muter di Cantika doang."

Narisa menyipitkan mata.

"Lo suka dia kan? Jujur."

"Bahas yang lain bisa gak?" Kara mendengus. "Cewek cantik bukan dia doang."

Narisa langsung menunjuk dirinya sendiri.

"Maksudnya gw?"

Kara meringis geli. Ekspresi itu malah bikin Narisa sewot. Dia langsung merebut gitar Kara lalu melemparnya sembarangan ke karpet.

"Jangan dibanting, Bonar!"

"Bodo amat. Lo harus dikasih paham secantik apa gw."

"Lah, maksa. Mata gw masih normal. Lo mirip ondel-ondel."

"Lo kayak monyet."

"Baru lo yang ngomong gitu."

"Artinya mata gw waras."

Kara langsung ikut menunjuk diri sendiri.

"Pengunjung kafe pada minta nomor gw tuh." Alisnya naik songong. "Itu artinya apa?"

Narisa membelalak.

"Artinya lo ganjen!"

Dia langsung menyerbu Kara sampai cewek itu roboh ke karpet.

"Bonar! Geli!"

"Mampus lo! Itu nomor lo sebar gitu aja?"

"Ya iya lah. Yang minta cantik-cantik,"

"Najis! Muka monyet! Cewek babi!"

"Itu mulut minta disosor."

"Najis lo!"

Narisa makin brutal mencubiti tangan, pundak, apapun yang kena. Kara sampai ngakak sambil berusaha menahan tangan manusia liar di atasnya itu.

"Wah, rame banget."

Narisa langsung membeku. Pelan-pelan dia menoleh ke samping.

Femi berdiri di pagar sambil bawa piring. Senyumnya tipis, tapi tatapannya curiga maksimal.

"Anjir," gumam Narisa lirih. "Apa ini karma karena gw suka nongol tiba-tiba?"

Dia buru-buru turun dari atas Kara lalu merapikan bajunya sendiri seolah barusan tidak hampir membunuh orang.

"Akrab banget ya," kata Femi santai sambil masuk ke teras.

"Yang begitu akrab ya, Tan?" Narisa langsung defensif. "Padahal kita lagi gelut."

Femi mengangguk pelan seperti pura-pura percaya. "Iya. Gelut."

Narisa langsung mengambil piring dari tangan Femi. Matanya otomatis berbinar.

"Wew, tahu bakso. Bikin sendiri, Tan?"

"Iya. Mumpung Eri libur kerja."

Kara langsung nyomot satu. "Enak nih."

"Duduk dulu, Tan," kata Narisa sambil menepuk karpet. "Geser dikit lo."

Kara beringsut malas sementara Femi duduk di depan mereka. Tatapan perempuan itu gantian mengarah ke Kara lalu Narisa.

"Kalian ini..." katanya hati-hati. "Beneran sepupu?"

"Bukan," jawab Kara santai sambil ngunyah. "Kita udah kawin, Eh, nikah. Sama lah kayak Tante sama kak Eri."

Narisa langsung menoleh tajam, tapi reaksi Femi malah santai.

"Enak ya bisa nikah." gumam Femi pelan.

Narisa makin bengong.

"Eh? Loh?"

.

1
Suka GL
Seru deh
Zye Rava
Aduh knp bos bramantyo kepo nikah segender ya mana anak orang lgi yang dinikahkan. agak lain ini orang 🤣
Inayah🥰
Ceritax ga kalah seru sm yg satux thor 😍 yg ini dua2x bar2
Felafel
Ceritamu seru semua thor next ya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!