Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah pernikahan
Laila bersandar di dada bidang Zayn, membiarkan jemari suaminya memilin ujung rambutnya yang kecokelatan. Aroma kopi dan sisa sarapan masih tertinggal di udara, berpadu dengan kehangatan yang melingkupi mereka di bawah selimut tebal.
"Zayn, sungguh, kita sudah tiga hari di kamar ini. Aku rindu melihat matahari yang asli, bukan cuma dari balik kaca jendela ini," keluh Laila pelan, meski nada suaranya lebih terdengar seperti rengekan manja daripada protes sungguhan.
Zayn terkekeh, suaranya menggetarkan dada yang menjadi bantal bagi kepala Laila. "Matahari di luar sana terlalu terik, Sayang. Di sini lebih sejuk. Lagipula, bukankah pemandangan di dalam sini jauh lebih indah?" Zayn mengerling nakal ke arah Laila yang masih mengenakan lingerie marunnya.
"Dasar gombal! Tapi Zayn, aku serius. Apa kamu tidak bosan? Kita makan, tidur, lalu... yah, kamu tahu sendiri, selama tiga hari penuh tanpa keluar pintu kamar sama sekali. Petugas room service saja mungkin sudah hafal suara ketukan pintu kita," Laila mencubit pinggang Zayn gemas.
"Bosan? Denganmu?" Zayn memutar tubuhnya hingga kini ia menumpu berat badannya dengan siku, menatap Laila tepat di mata. "Aku bisa menghabiskan tiga tahun di kamar ini bersamamu dan tidak akan merasa bosan sedetik pun. Kamu adalah duniaku sekarang, Laila. Untuk apa aku keluar kalau duniaku sudah ada di depan mata?"
Laila tersenyum, pipinya merona. "Tapi Zayn, orang tuamu pasti mencari kita. Mama Rosa dan Papa Frank pasti berpikir kita sudah diculik alien karena tidak ada kabar."
"Tenang saja. Aku sudah mengirim pesan singkat pada Mama kemarin. Aku bilang, 'Jangan ganggu, kami sedang membuatkan cucu untukmu'. Dan tahu apa balasannya? Dia mengirimkan emoji jempol dan doa restu," Zayn tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Laila yang langsung menutupi wajahnya dengan bantal karena malu.
Setelah tiga hari "masa isolasi" yang penuh gairah dan tawa di hotel, Zayn akhirnya luluh. Ia membiarkan Laila bersiap-siap untuk pulang ke kediaman orang tuanya. Mansion mewah keluarga Malik menyambut mereka dengan kemegahan yang biasanya terasa intimidasi bagi Laila, namun kali ini terasa berbeda. Ini adalah rumahnya sekarang.
Begitu mobil Bentley hitam milik Zayn berhenti di lobi depan, pintu mansion langsung terbuka lebar. Mama Rosa berlari kecil dengan gaun sutranya yang elegan, disusul Papa Frank yang berjalan tenang namun dengan senyum lebar yang jarang diperlihatkan.
"Anak-anakku sayang! Akhirnya kalian pulang!" seru Mama Rosa langsung memeluk Laila dengan erat, seolah Laila adalah putri kandungnya yang sudah pergi bertahun-tahun. "Laila, lihatlah dirimu. Kamu terlihat sangat... bercahaya. Zayn pasti menjagamu dengan sangat baik, ya?"
Laila melirik Zayn yang hanya menaikkan alisnya dengan wajah penuh kemenangan. "Sangat baik, Ma. Terlalu baik sampai Laila tidak diberi izin melihat pintu keluar," sindir Laila halus yang disambut tawa renyah dari Mama Rosa.
"Sudah, sudah. Ayo masuk. Papa sudah menyiapkan sesuatu untuk kalian di ruang keluarga," ajak Papa Frank sambil menepuk bahu Zayn bangga.
Di dalam ruang keluarga yang harum aroma bunga lili segar, mereka duduk melingkar. Suasana terasa begitu hangat, jauh dari kesan kaku keluarga konglomerat yang pernah Laila bayangkan sebelumnya.
"Laila, Zayn," Mama Rosa memulai pembicaraan sambil memegang sebuah amplop emas. "Mama tahu kalian baru saja menghabiskan waktu di hotel. Tapi itu kan hanya pemanasan. Sebagai hadiah pernikahan dari Mama, kalian harus melihat dunia luar."
Mama Rosa menyodorkan amplop itu. Dengan tangan sedikit gemetar, Laila membukanya. Matanya membelalak lebar saat melihat dua tiket pesawat first class menuju Swiss, lengkap dengan reservasi resort privat di tepi pegunungan Alpen.
"Satu minggu di Swiss. Tanpa gangguan bisnis, tanpa telepon kantor. Hanya kalian berdua dan salju yang dingin agar kalian bisa terus berpelukan," bisik Mama Rosa dengan kerlingan nakal.
"Mama... ini terlalu mewah," gumam Laila tak percaya.
"Tidak ada yang terlalu mewah untuk kebahagiaan kalian, Sayang," sahut Papa Frank. Pria paruh baya yang berwibawa itu kemudian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil yang terbungkus kotak beludru hitam.
Ia meletakkannya di telapak tangan Laila. "Jika Mama memberimu perjalanan, Papa ingin memberimu tempat untuk pulang," ucap papa Frank.
Laila membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah kunci emas dengan gantungan kristal berbentuk inisial 'L&Z'.
"Itu kunci untuk rumah baru kalian di kawasan perbukitan elit. Rumah itu sudah selesai didekorasi sesuai dengan selera yang Zayn katakan pada Papa. Itu rumah atas namamu, Laila. Sebuah tempat di mana kamu adalah ratunya, dan Zayn adalah pengawal setiamu," ujar Papa Frank dengan nada tulus. Berharap putra tunggal dan menantunya bahagia.
Air mata haru menggenang di pelupuk mata Laila. Ia menatap kunci itu, lalu menatap Zayn yang tersenyum lembut padanya. Dari seorang wanita yang pernah dikhianati dan merasa tak punya arah, kini ia memiliki segalanya: cinta yang tulus, keluarga yang menerima, dan masa depan yang cerah.
"Terima kasih, Pa... Ma... Aku tidak tahu harus berkata apa," isak Laila pelan.
"Harusnya kami bisa untuk tinggal bersama kalian," ucap Laila lagi, seperti merasa berat hati jika mereka diinginkan untuk tinggal berjauhan.
Sebab baru saja Laila berpikir begitu sempurnanya kehidupannya saat ini. Mendapatkan mertua yang sangat mengasihi dirinya seperti putri kandung sendiri.
Zayn merangkul bahu istrinya, mengecup pelipisnya dengan sayang. "Kamu tidak perlu berkata apa-apa, Sayang. Kamu hanya perlu bahagia. Karena kalau kamu bahagia, tugasku di dunia ini selesai."
Laila menyandarkan kepalanya di bahu Zayn, menggenggam erat kunci rumah baru mereka. Di dalam hati, ia berjanji akan menjaga kebahagiaan ini selamanya. Pengkhianatan masa lalu hanyalah awan mendung yang kini telah berganti dengan pelangi yang indah.
"Zayn, sepuluh anak itu sepertinya harus segera terealisasi kalau rumahnya sebesar ini," canda Mama Rosa sambil mengedipkan mata, membuat suasana ruang keluarga pecah oleh tawa. Laila hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah di ceruk leher Zayn, merasa sangat dimanjakan oleh keluarga barunya. Rasanya belum ingin segera pindah ke rumah baru mereka.
Zayn mempererat pelukannya, membisikkan janji setia yang hanya bisa didengar oleh Laila. "Ini baru permulaan, Sayang. Aku akan memastikan setiap hari dalam hidupmu terasa seperti bulan madu." Laila mengangguk pelan, menyadari bahwa luka lama benar-benar telah sirna, digantikan oleh cinta yang begitu megah dan tulus.
"Bisakah untuk sementara kita masih bisa tinggal bersama mommy Rosa dan papa Frank?"
Tanya Laila pelan, menahan air mata yang sebentar lagi akan tumpah.