NovelToon NovelToon
Dinikahi Pak Dokter Tampan

Dinikahi Pak Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Sci-Fi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:49.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.

Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Perjalanan ke supermarket terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Mereka baru pulang dari supermarket setelah Dzuhur, namun sepanjang jalan hingga sampai di halaman rumah, Arka masih terkesan cuek dan lebih banyak diam.

Sesampainya di garasi, Lilis baru saja hendak meraih beberapa kantong belanjaan yang penuh dari jok belakang mobil. Namun, Arka dengan cepat mendahuluinya dan mengambil alih kantong-kantong besar tersebut.

"Sini Mas bawa ke dalam belanjaannya," ucap Arka.

Melihat perubahan sikap suaminya yang masih berlanjut sejak pagi tadi, Lilis hanya menurut. Ia menarik kembali tangannya, lalu berjalan mengekor di belakang Arka masuk ke dalam rumah sambil terus bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya membuat suaminya itu mendadak berubah dingin.

Sambil mulai mengeluarkan sayuran dan bahan makanan dari kantong belanjaan, Lilis bertanya, "Mas mau makan apa?"

Arka yang sedang mencuci tangannya di wastafel menjawab tanpa menoleh, "Mas mau shalat Dzuhur dulu, kamu makan duluan saja."

Mendengar itu, Lilis hanya mengangguk paham. Kebetulan, Lilis memang sedang tidak shalat karena sedang berhalangan. Namun karena ingin menjaga kebersamaan mereka, Lilis menyahut.

"Aku tunggu saja, Mas."

"Terserah kamu saja," ucapnya singkat.

Setelah merapikan sebagian belanjaan dengan pikiran yang berkecamuk, Lilis akhirnya memilih duduk di meja makan, menunggu suaminya selesai menunaikan ibadah shalat Dzuhur.

Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekat. Arka datang dengan wajah yang tampak lebih segar setelah berwudhu. Tanpa bersuara, ia dan langsung duduk di kursi seberang Lilis.

Melihat suaminya sudah berada di depan mata, Lilis tidak tahan lagi untuk terus memendam rasa penasarannya. Lilis langsung bertanya, "Mas kenapa?"

Arka yang baru saja hendak meraih sendok tertegun sejenak. Ia menatap Lilis datar, lalu menyahut dengan nada acuh tak acuh.

"Kenapa apanya?"

Lilis menghela napas panjang, merasa gemas sekaligus sedih dengan respons tersebut.

"Kok malah nanya balik? Mas kenapa diamin aku?"

Arka terdiam beberapa saat, menaruh kembali sendoknya ke atas meja. Ketegangan di antara mereka makin terasa pekat saat Arka balik menatap Lilis dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Memangnya Mas diamin kamu?" tanya Arka lagi, suaranya terdengar berat dan datar.

"Mas cuma lagi capek saja, Lis."

"Capek nggak begini, Mas," sanggah Lilis.

"Dari pagi setelah Mas masuk dari pintu belakang, sikap Mas langsung berubah drastis. Kalau aku ada salah, tolong diomongin, Mas. Jangan didiamin kayak gini. Aku bingung."

Arka menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu mengembuskan napas kasar. Kilasan pesan dari Pak Elham di ponsel Lilis tadi pagi kembali berputar di kepalanya, memicu rasa sesak yang sejak tadi ia tahan mati-matian.

"Kamu benar-benar nggak tahu, atau pura-pura nggak tahu, Lis?" sindir Arka pelan, namun kalimat itu terasa begitu menusuk.

Lilis menatap suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia berusaha menarik napas dalam-dalam, menahan gejolak emosi yang mulai membakar dadanya agar tetap bisa berbicara dengan kepala dingin.

"Maksud Mas apa?" tanya Lilis, masih berusaha bertanya baik-baik dengan suara yang bergetar.

"Pura-pura nggak tahu tentang apa? Tolong jelasin, Mas. Jangan bikin aku tebak-tebakan begini."

Arka tidak langsung menjawab pasti. Ia justru memalingkan wajahnya ke arah lain, enggan menatap mata Lilis, dan hanya diam membisu seolah mengunci rapat mulutnya. Sikap abai Arka itu justru menjadi pemantik yang membakar habis sisa-sisa kesabaran Lilis.

"Kalau diam-diaman begini, Mas, nggak akan selesai masalah kita. Bukannya Mas bilang kita harus terbuka satu sama lain? Aku nggak lupa itu."

"Udahlah, nanti saja kita bicarakan. Mas sudah lapar," potong Arka ketus, berusaha mengalihkan pembicaraan.

Aku nggak mau makan dalam kondisi hati yang digantung begini. Sekarang jujur sama aku, ada apa sebenarnya? Apa yang bikin Mas berubah sejak keluar dari pintu belakang pagi tadi? Tolong tatap aku dan jawab, Mas!" seru Lilis.

"Sudah, lupakan saja. Nggak penting juga," ucap Arka.

Mendengar kalimat acuh tak acuh itu, Lilis benar-benar kecewa dan marah-marah. Air matanya yang sejak tadi ditahan kini luruh semakin deras. Dadanya naik turun menahan rasa sesak yang luar biasa melihat suaminya menganggap sepele perasaan bingung yang menyiksanya sejak pagi.

"Nggak penting kata Mas?!" seru Lilis dengan suara bergetar hebat karena amarah yang memuncak.

"Mas berubah dingin dari pagi, diamin aku seharian tanpa alasan, dan sekarang Mas bilang itu nggak penting? Mas egois tahu nggak!"

"Aku juga nggak berharap Mas nikahin waktu itu, kalau ujungnya gini! Biarpun aku sekeluarga harus menanggung malu karena pernikahan ini batal atau apa pun, aku rela! Aku lebih memilih itu daripada setelah menikah Mas justru menyiksa aku dengan sikap diam dan cuek kayak begini!" tangis Lilis pecah seketika.

"Aku capek, Mas!" Lilis langsung bangkit dari kursi meja makan dan melangkah lebar-lebar meninggalkan dapur, lalu masuk ke dalam kamar utama sembari menutup pintunya dengan keras.

Di meja makan, Arka terpaku di tempatnya duduk. Kata-kata Lilis barusan benar-benar menampar kesadarannya.

Arka mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan kedua telapak tangan. Penyesalan hebat seketika merayap di dadanya. Dia baru sadar akan kesalahannya yang kekanak-kanakan, mendiamkan sang istri hanya karena rasa cemburu buta tanpa mau meminta penjelasan terlebih dahulu.

"Bodoh!" ucapnya merutuki diri sendiri dengan suara lirih.

Tidak mau membiarkan masalah ini berlarut-larut hingga menyakiti hati istrinya lebih dalam, Arka langsung bangkit dari kursi dan menyusul Lilis ke dalam kamar.

Saat pintu kamar dibuka perlahan, Arka melihat Lilis sedang berbaring menyamping membelakangi pintu. Lilis tidur dengan bahu yang berguncang hebat, menahan isak tangis yang masih enggan reda. Pemandangan itu membuat hati Arka berdenyut nyeri.

Arka melangkah pelan, lalu naik ke atas ranjang tanpa menimbulkan banyak suara. Ia mengikis jarak di antara mereka, mendekat hingga tubuhnya berada tepat di belakang Lilis. Dengan perasaan bersalah yang teramat sangat, Arka mengulurkan tangannya menyentuh bahu Lilis yang bergetar.

"Sayang..." panggil Arka dengan nada suara yang teramat lembut dan penuh penyesalan.

Arka mendekatkan wajahnya pada Lilis, menempelkan keningnya di bahu sang istri yang masih bergetar.

Arka perlahan menggeser duduknya, lalu dengan lembut memaksa tubuh Lilis agar berbalik menghadapnya. Meskipun Lilis sempat memberontak kecil dan enggan menatapnya, Arka tetap menangkup kedua pipi istrinya yang sudah basah oleh air mata, memaksa manik mata mereka untuk saling bertemu.

"Mas minta maaf. Mas benar-benar minta maaf karena sudah kekanak-kanakan dan diamin kamu dari pagi," ucap Arka jujur, menatap langsung ke dalam mata Lilis yang kemerahan.

Arka menarik napas dalam-dalam, bersiap menjelaskan akar masalah yang sejak tadi ia sembunyikan.

"Tadi pagi, waktu kamu lagi di kamar mandi, Mas lewat nakas dan nggak sengaja lihat ponsel kamu menyala. Ada pesan masuk dari Pak Elham namanya."

Mendengar nama itu disebut, tangis Lilis agak mereda, digantikan oleh rasa bingung.

"Pria itu nge-chat kamu, nanyain file yang dia minta semalam," lanjut Arka dengan nada suara yang melunak, kini terdengar lebih seperti aduan seorang suami yang cemburu.

"Mas tahu itu urusan pekerjaan, Lis. Mas tahu banget. Tapi waktu Mas gulir chat-nya ke atas, Mas lihat dia sering banget kirim pesan ke kamu. Mas... Mas cuma cemburu, Sayang. Mas kesal dan egois karena merasa pria lain terlalu sering menghubungi istri Mas, biarpun itu buat kerjaan."

Arka mengusap sisa air mata di pipi Lilis dengan ibu jarinya, lalu mengecup kening istrinya itu dengan sangat lama.

"Jadi tolong jangan pernah bilang kalau kamu nggak berharap Mas nikahin kamu waktu itu. Demi Allah, Mas nggak pernah menyesal sedikit pun memilih kamu jadi istri Mas. Mas cuma bodoh karena bukannya nanya baik-baik, Mas malah turutin gengsi dan diamin kamu. Maafkan Mas ya, Sayang?"

Sambil sesenggukan, Lilis menepis pelan tangan Arka yang menangkup pipinya, lalu menyeka air matanya sendiri.

"Mas tahu sendiri, kan, aku nggak pernah respon chat-nya lebih dari itu?" ucap Lilis.

"Aku balas cuma seperlunya, Mas. Kalau dia nanya kerjaan, ya aku jawab soal kerjaan. Nggak pernah ada obrolan lain di luar itu," lanjut Lilis dengan suara yang masih bergetar, membela diri karena merasa kesetiaannya diragukan.

"Harusnya Mas tanya langsung ke aku, bukan malah diamin aku seharian kayak gini. Aku bingung, aku pikir aku ada salah apa sampai Mas berubah dingin. Jangan kayak gini lagi, Mas... aku takut," bisik Lilis.

"Iya, Sayang... Mas tahu. Mas tahu kamu nggak pernah merespons lebih dari masalah pekerjaan,"

Arka mengusap punggung Lilis dengan gerakan naik-turun yang lembut, berusaha menyalurkan rasa hangat demi menenangkan tubuh istrinya yang masih gemetar karena sisa tangis.

"Mas yang salah, Sayang. Mas yang terlalu bodoh dan dikuasai ego sampai nggak bisa berpikir jernih. Tolong maafin Mas, ya? Mas janji nggak akan pernah kayak gini lagi. Mas nggak akan pernah diamin kamu lagi kalau ada masalah," ucap Arka berulang kali.

1
sitanggang
terlalu lebay dan bodoh ceritanya
Siti Masriati
Arka lohhhh, berkali-kali bikin salah yg sama, maaf thor jd kesel 🤭
Nice1808
trnyata arka bukan hnyq dokter tapi pemilik minimarket👍👍👍mantap lis km brhenti jadi gurupun gak akan kelaparan🤣🤣🤣
Melki
semangat 💪💪
Melki
next kak
Melki
tegas juga Lilis....👍
Sri Supriatin
tks up 2 babnya Thor 🙏🙏💪💪
Nice1808
Arka mah aneh baca pesan cemburu sampai diam kyk gitu, ditanya baik2 ke lilis atai gmna buka langsung diam😃
Melki
kok sedih rasanya.....
Aidil Kenzie Zie
berarti cinta Kirana sama mending suaminya lebih besar y dari pada k Yuda 🤔🤔🤔
Wardah Saiful
bagus ceritanya semamgat thor❤️💪
Sri Supriatin
tks upnya thor n sehat selalu 🙏🙏🙏
Melki
next
Arin
Hati-hati dokter Arka..... itu udah ada bibit wanita penggoda...... Yang mulai mendekat. Awal memberi perhatian dengan membuatkan kopi..... Lama-lama kalau tidak menolak dan membiarkan seolah memberi harapan. Kasih tau dia kalau dirimu tidak sendiri lagi.... udah beristri
Melki
next....
Arin
Iya tuh firasat suami..... harus hati-hati Lis dengan anak Pak Yasir si Elham.... Kayaknya dia ada perasaan kepadamu 😁😁😁😁
Shabrina Darsih
blm upfate lg cerita nya ya
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴢʜͫᴀᷴɴͫɢᷴ ᴊɪᴊᴜɴ²◌ᷟ⑅⃝ͩ●
syafa kamu kasian sekali
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴢʜͫᴀᷴɴͫɢᷴ ᴊɪᴊᴜɴ²◌ᷟ⑅⃝ͩ●
mereka pasangan yang serasi, satu lembut satunya perhatian🤗
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🧡⃟ᴢʜᴇͫɴᷲɢ ʜᴜɪ³𖤍ᴹᴿ᭄
rama pria brengseeekk ternyataaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!