NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Pelakor / Tamat
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.

Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~

Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.

Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.

Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.

Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.

Rana tahu.

Rana melihat.

Ia menyadari.

Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.

Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?

Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26

Selamat membaca
please komen, subscribe, vote, dan like🫶

°°°°°

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pucuk 34

Malam itu, Dipta pulang telat. Langit masih menyisakan jejak hujan. Aspal halaman rumah memantulkan bias lampu taman, berkilau seperti kaca yang baru dipoles. Udara dingin menyusup pelan, membawa aroma tanah basah yang menenangkan. Berbanding terbalik dengan riuh kepala Dipta sejak sore tadi.

Jarum jam di pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul sembilan malam ketika mobil hitam yang di tumpangi Dipta berhenti sempurna di halaman rumah.

Mesin mobil telah di matikan. Akan tetapi Dipta masih enggan untuk keluar dari dalam mobil. Kedua tangannya masih memegang setir mobil erat, pandangannya kosong, lurus menatap gelap pekat di depan sana, tetapi pikirannya justru terjebak pada satu kalimat yang sejak sore terus berdengung seperti gema yang tidak mau pergi.

"Aku pernah menggugurkan anakmu, Dipta."

Ucapan Laras itu terus menancap seperti pisau tumpul meskipun tidak langsung membunuh, tapi menyiksa perlahan.

Dadanya masih terasa berat.

Amarah, kecewa, bingung, juga sesal bercampur menjadi racun yang memabukkan. Di tambah beberapa gelas whiskey bersama Galang barusan di sebuah bar, kepalanya kini terasa pening, dunia di sekelilingnya sedikit berputar.

Dipta terlihat menyandarkan kepala ke jok, memejamkan mata dengan harapan agar kepalanya bisa lebih tenang.

Apa yang harus aku katakan pada Rana? Batinnya meraung keras.

Hening, tak ada jawaban sama sekali.

Tok

Tok

Tok

Di balik kaca yang sedikit berembun, Rana berdiri mengenakan piyama panjang berwarna krem dengan kardigan tipis yang membungkus tubuhnya dari udara malam yang dingin. rambutnya di gelung asal, beberapa helai rambutnya jatuh membingkai wajah cantik yang penuh kekhawatiran.

"Mas," sapanya.

Dipta membuka pintu mobil dengan susah payah, saat pintu mobil itu terbuka, aroma alkohol langsung menyeruak keluar.

Rana mengernyit kecil, bukan jijik. Melainkan karena heran.

"Mas habis minum, ya?"

Dipta tidak menjawab, lelaki itu justru nyaris kehilangan keseimbangan saat hendak turun. Refleks saja Rana cepat-cepat menahan lengan kekar pria itu.

Meskipun tubuh suaminya lebih tinggi dan berat, tapi Rana menopangnya dengan sabar. Ia merangkul pinggangnya, menuntun langkahnya satu per satu masuk ke dalam rumah.

"Pelan-pelan... hati-hati..." gumam Rana.

Sepanjang perjalanan menuju kamar, Dipta hanya diam. Setengah sadar, setengah tenggelam dalam mabuk dan kekacauan pikirannya.

Sesampainya di kamar, Rana mendudukkan suaminya di tepi ranjang. Lalu Rana berjongkok di hadapan Dipta. Tangannya mulai bekerja dengan telaten. Pertama, ia melepas jam tangan mahal di pergelangan tangan suaminya, meletakkannya di atas nakas dengan hati-hati.

"Lain kali kalau Mas mabuk jangan bawa mobil sendirian. Bahaya, Mas." Ucap Rana lembut.

Jemarinya yang lentik mulai bergerak ke arah dasi yang sudah longgar. Ia perlahan membuka simpulnya. Setelah itu ia perlahan membuka kancing jasnya satu-satu. Dipta bergerak akan membuka kancing blazer namun karena mabuk Dipta hanya menyentuh kancing-kancing itu dan Rana lah yang membukanya.

"Di kantor ada masalah, ya?" tanya Rana.

"hmmm, nggak..." gumam Dipta.

Lelaki itu akhirnya limbung dan berbaring di ranjang. Rana menghela napas, lalu membenarkan posisinya untuk membuka kancing kemeja suaminya.

Saat Rana menyentuh kancing kemeja, Dipta bergumam membuat Rana menghentikan gerakannya.

"Jangan, Laras! Rana menungguku di rumah," gumamnya dengan mata terpejam.

Deg!!!

Jantung Rana seolah berhenti sejenak ketika nama wanita itu meluncur mulus dari lisan suaminya.

"Maafkan aku...Laras.." gumam Dipta.

Rana menelan ludahnya, ia melihat cairan bening keluar dari dua sudut mata suaminya.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Rana kembali meneruskan pekerjaannya. "Ini aku, Mas. Rana, istrimu."

Setelah kemeja itu terlepas, Rana berjongkok membuka kedua sepasang sepatu kulit dan kaos kakinya. Perempuan itu membenarkan posisi kedua kaki suaminya agar tidak menggantung di ranjang.

"Mas tadi sama Mbak Laras, ya.." gumam Rana seraya memijat telapak kaki suaminya sebentar agar otot yang tegang sedikit rileks.

Rana bangkit, sedangkan Dipta meringkuk di atas kasur. Rana gegas menuju kamar ruang ganti dan membawa kaus longgar untuk suaminya.

Setelah semuanya selesai, wanita itu pergi dari kamar dan gegas menuruni tangga. Menuju dapur untuk membawa air hangat dan handuk kecil untuk mengusap wajah dan leher suaminya.

Setelah selesai, Rana membangunkan Dipta kembali dan menyodorkan segelas air putih.

"Minum dulu sedikit, Mas. Kalau ndak minum nanti kepalamu makin pusing."

Dalam keadaan setengah mabuk, kedua netranya menatap istrinya.

"Rana," gumamnya.

Alih-alih meraih gelas, Dipta malah merangkul istrinya.

"Maafkan aku, Ran..." gumamnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Keesokan paginya, Dipta terbangun pukul sembilan pagi. Kepalanya berdenyut pelan. Sisa alkohol masih meninggalkan rasa pahit di tenggorokan dan rasa berat di pelipisnya.

Namun yang paling mengganggu bukan mabuk semalam, melainkan potongan-potongan ingatan yang kembali utuh begitu matanya terbuka.

Tentang Laras. Tentang pengakuan wanita itu mengenai anak yang pernah di gugurkan karena restu. Dipta mengusap wajah kasar, dadanya terasa sesak ketika suara lembut memanggilnya.

"Sudah bangun, Mas?"

Ia menoleh, mendapatkan Rana yang berdiri sembari membawa nampan berisik mangkuk, asap tipis terlihat mengepul dari sana.

"Kepalamu masih pusing?" tanyanya.

"...Lumayan," jawab Dipta singkat.

Rana meletakkan nampan di meja kecil samping ranjang.

"Minum dulu, biar lambung kamu nggak kaget."

"Ya," jawab Dipta seraya meraih mangkuk berisikan sup hangat.

Rana memperhatikan, tidak seperti biasanya Dipta akan menurut tanpa jawaban. Biasanya Dipta akan membantah dirinya.

 Ada jeda hening yang terasa asing.

"Ponsel Mas, dimana?" tanya Dipta pada akhirnya.

Rana melangkah menuju lemari kecil dimana ponselnya tergeletak di atas wireless charger. Rana meraih ponsel suaminya, ada beberapa pesan. Salah satunya dari Laras. Rana sempat melihatnya.

{ Maafkan aku soal...}

Rana tidak ingin tahu, wanita itu gegas menyodorkan ponsel milik suaminya kepada Dipta.

Rana duduk di ranjang, menatap suaminya yang sibuk menggulir kontak nama di ponselnya.

"Apa ada yang mau kamu bilang, Ran?" tanya Dipta, ia masih menatap layar ponsel mencari nama Alfian.

"Semalam...Mas sama Mbak Laras, ya?" tanya Rana.

Dipta menoleh ke arah istrinya sejenak, namun kembali ke layar ponselnya dan menghubungi sekretarisnya.

"Aku sama Galang," jawab Dipta cepat.

Tak butuh lama, panggilan itu tersambung.

"Selamat pagi, Pak Dipta," suara pria di seberang terdengar sigap.

"Saya tidak ke kantor hari ini."

Ada jeda singkat, lalu Alfian segera menjawab profesional. "Baik, Pak. Agenda hari ini akan saya atur ulang. Untuk rapat direksi pukul sepuluh, apakah tetap berjalan?"

"Tetap. Minta direktur operasional yang pimpin. Semua laporan penting kirim ke email saya."

"Siap, Pak."

"Dan, Alfian..."

"Ya, Pak?"

"Hari ini jangan sambungkan panggilan siapa pun kecuali yang benar-benar mendesak."

"Baik, Pak Dipta."

Sambungan terputus, kini tinggallah Dipta yang tengah di perhatikan oleh istrinya.

"Semalam..., kenapa Mas nangis sambil nyebut terus nama Mbak Laras?" tanya Rana membuat Dipta menoleh. Tatapannya jatuh ke arah dua bola mata bulat almond istrinya.

...****************...

Guys, bantu Yehppee vote, komen, dan likenya dong☺️

Bersambung...

1
Gemuruh riuh
akhirnya happy ending 😍
Gemuruh riuh
pelakor pelakor😄
Gemuruh riuh
idih si najis
Gemuruh riuh
Laras laras🤣
Gemuruh riuh
bab ini dikit banget
Gemuruh riuh
untung belum sempat hujat Mas Dipta 😭
Ma Em
Akhirnya Rana bahagia dgn Dipta setelah melalui banyak cobaan yg menimpa rumah tangganya , dan Laras serta Bram menuai hasil yg dia tanam sekarang Laras dan Bram dapat hukum penjara karena sdh menyebarkan fitnah dan melakukan kecurangan , yg berbuat baik berakhir dgn kebahagiaan dan yg selalu berbuat jahat seperti Laras dan Bram berakhir dihotel prodeo.
Ma Em
Rana langsung saja terima permintaan maaf Dipta hrs biar saja dulu agar Dipta benar2 menyesal dan tdk akan mengulang lagi .
Ma Em
Dipta tdk cinta sama Laras tapi dia bilang menyesal dan mau menebusnya pada Laras dan bilang pada Laras bahwa Dipta tdk mencintai Rana .
Gemuruh riuh
hadeuh, aku jdi penasaran
mama
tau km dipta,buka mata mu lebar2 klu km itu jdi brebgsek semenjak laras muncul.. klu rana yg deket sm arsen aj km lngsung emosi.. to klu km jln dan dekat sm laras okee2 aj gituuuu. enk bner km mau menang sendiri.suami macam dipta buang aj lah kering sampah kelaamaa n km rana..jgn hanya demi ank2 sakit hati trs.. ank2 klu dijlsn pelan ngerti lah
Ma Em
Rana tdk usah dipertahankan lagi Dipta untuk apa pertahankan kamu hanya untuk disakiti .
Ma Em
Rumah tangga Rana dgn Dipta sepertinya malah semakin parah keributan terus saja berlanjut dan Laras semakin berani terang2 an untuk melawan Rana .
Gemuruh riuh
di tunggu thor
ana
lanjut thor
Gemuruh riuh
sebenarnya Dipta ini selingkuh gak sih sama si Laras?
Gemuruh riuh
duh apa nih
mama
kelaaam km rana,mau ngancurin suami dan jalang ny aj lamaa amat,harusnya sat set🤣
Ma Em
mungkin yg asli yg dipake Laras yg imitasi yg ada dirumah agar Rana tdk curiga .
Gemuruh riuh
gara-gara pelakor Laras
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!