Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.
Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Matahari pagi kembali bersinar terang, menyapa kota Surabaya dengan hangatnya. Kehidupan pun berjalan seperti biasa.
Nurlia sudah siap dengan seragam kerjanya. Gadis cantik dan rendah hati itu berangkat menuju tempat ia bekerja, sebuah restoran yang cukup terkenal. Seperti hari-hari biasanya, begitu sampai di sana, Nurlia langsung sigap menjalankan tugasnya sebagai pelayan.
Restoran itu cukup ramai dari pagi hingga siang hari. Nurlia berlalu lalang dengan senyum manis yang selalu terukir di wajahnya. Ia melayani setiap pelanggan dengan ramah, sopan, dan sangat teliti.
"Mbak, pesan satu nasi campur sama es jeruk ya!"
"Siap Mas, tunggu sebentar ya..."
"Bu, ini makanannya Ibu. Silakan dinikmati."
Nurlia bekerja dengan hati yang tenang dan bahagia. Beban pikirannya jauh lebih ringan dibandingkan hari-hari sebelumnya, berkat bantuan yang diterimanya beberapa waktu lalu. Ia melayani pembeli satu per satu dengan penuh senang, membuat para tamu pun merasa nyaman dilayani oleh gadis sebaik dia.
Waktu terus berjalan, pagi berganti siang, dan akhirnya matahari mulai condong ke barat menandakan sore telah tiba. Jam kerjanya pun usai sudah.
Nurlia membereskan barang-barangnya, berpamitan pada rekan kerja, lalu segera pulang menuju rumah kecilnya.
Sesampainya di rumah, Nurlia tidak langsung beristirahat. Ia ingat betul akan satu janji penting yang harus ia tepati pada adik tersayangnya.
"Del... Adelia!!" panggil Nurlia seraya meletakkan tasnya dan mengganti baju dengan pakaian santai yang nyaman.
Dari dalam kamar, munculah Adelia, adik perempuannya yang kini duduk di Kelas 3 SMA. Gadis itu tampak cantik dengan wajah polosnya, sedang memegang buku pelajaran.
"Ada apa Kak Nur?" tanya Adelia sambil mendekat.
Nurlia tersenyum lebar, matanya berbinar penuh kasih sayang.
"Del, ingat nggak janji Kakak?" kata Nurlia sambil mengeluarkan dompetnya. "Kan Kakak bilang kemarin, aku mau belikan seragam baru buat kamu. Seragam kamu kan lengannya robek yang kamu tunjukkan kemarin."
Mata Adelia langsung membelalak tak percaya, lalu berseri-seri penuh kegembiraan.
"Beneran Kak?? Horee!!" seru Adelia melompat kecil kegirangan. Ia langsung memeluk erat kakaknya. "Makasih banyak Kakak! Kakak paling baik di dunia!"
"Iya beneran dong. Ayo cepet ganti baju, kita pergi ke toko seragam sekarang sebelum tokonya tutup. Kita beli yang lengkap, yang bagus dan nyaman buat kamu sekolah nanti," ajak Nurlia lembut.
"Siap Kakak!! Tunggu sebentar ya!"
Adelia pun berlari masuk ke kamar dengan semangat luar biasa. Tak butuh waktu lama, ia pun sudah siap dengan pakaian terbaiknya. Kemudian mereka berdua berjalan beriringan keluar rumah.
"Yuk Del, jalan aja dulu sampai halte, nanti kita naik angkot," ajak Nurlia sambil menggandeng tangan adiknya.
"Iya Kak," jawab Adelia ceria.
Mereka berdua berjalan kaki menyusuri trotoar menuju halte terdekat. Tidak perlu menunggu lama, angkot berwarna hijau yang lewat pun segera mereka tumpangi. Suasana di dalam angkot cukup ramai, tapi mereka tidak keberatan. Bagi mereka, naik angkot adalah hal yang biasa dan terasa menyenangkan karena tujuan mereka kali ini sangat spesial.
Perjalanan pun ditempuh dengan obrolan ringan penuh tawa. Tak lama kemudian, mereka pun sampai di kawasan pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di Surabaya.
Di hadapan mereka berdiri sebuah toko pakaian yang sangat besar dan megah. Bangunannya luas, tampilannya modern, dan parkirannya selalu penuh. Toko ini memang sangat terkenal, pemiliknya adalah orang Tionghoa yang sudah lama berjualan di sini, sehingga orang-orang sering menyebutnya sebagai tokonya "Koko-koko China". Reputasinya sangat bagus karena menjual barang lengkap dengan kualitas terbaik dan harga yang bersaing.
"Wah... gede banget ya Kak tokonya!" seru Adelia takjub melihat bangunan itu dari luar.
"Iya nih, ini memang toko paling lengkap di daerah sini. Katanya seragam sekolahnya bagus-bagus bahannya," jawab Nurlia sambil tersenyum melihat antusiasme adiknya.
Mereka pun masuk ke dalam toko.
Ting... tong...
Bel pintu berbunyi saat pintu kaca didorong. Suasana di dalam sangat sejuk ber-AC, dan rak-rak pakaian tersusun rapi memanjang ke mana-mana. Benar saja, toko ini benar-benar lengkap. Mulai dari kain meteran, baju jadi, pakaian muslim, pakaian China, hingga seragam sekolah dari mulai SD, SMP, sampai SMA semuanya ada di sini.
Ramai sekali pengunjung yang datang memilih-milih, terutama para orang tua dan pelajar yang sedang mempersiapkan kebutuhan sekolah.
"Silakan Mbak, mau cari apa? Seragam kan ya?" sapa seorang penjaga toko yang ramah.
"Iya Mas, kami cari seragam SMA lengkap buat adik saya," jawab Nurlia sopan.
"Oh silakan ke arah sana saja Mbak, yang warna putih abu-abu semua lengkap di rak nomor 5," tunjuk penjaga itu.
"Yuk Del, kita pilih yang paling bagus," ajak Nurlia.
Mata Adelia berbinar-binar melihat tumpukan seragam yang rapi dan masih berbau baru. Dia menyentuh bahannya, merasakan tekstur kain yang tebal dan halus, jauh lebih bagus daripada seragam lamanya yang sudah tipis dan lusuh.
"Kak... ini bahannya enak banget ya," kata Adelia sambil memegang sebuah kemeja putih.
"Iya, pilih yang ukurannya pas sama badan kamu. Jangan yang kekecilan, jangan juga yang kegedean," pesan Nurlia lembut.
Adelia pun mulai sibuk memilih. Dia mengambil satu set lengkap, kemeja putih, rok abu-abu, hingga dasi dan atribut lainnya. Dia mencobanya sebentar di ruang ganti, dan saat keluar, penampilannya langsung berubah total. Terlihat sangat rapi, sopan, dan cantik sebagai siswa kelas 3 SMA.
"Wah... cocok banget Del! Cantik sekali pakai seragam baru ini," puji Nurlia bangga melihat penampilan adiknya. Wajah Adelia terlihat semakin berseri dan percaya diri.
"Makasih ya Kak... aku suka banget!" seru Adelia bahagia, memutar badannya kecil menikmati seragam barunya yang nyaman.
Setelah memilih dan melipat rapi seragam baru yang sudah pasti menjadi milik mereka, Nurlia dan Adelia berjalan gembira menuju meja kasir di bagian depan toko.
"Sudah siap semua ya Kak?" tanya Adelia sambil memeluk bungkusan seragamnya.
"Siap dong. Yuk kita bayar," jawab Nurlia sambil tersenyum, tangannya sudah siap merogoh saku tas untuk mengambil uang yang sudah disisihkan khusus untuk keperluan ini.
Namun, saat mereka sampai di dekat meja kasir, perhatian Nurlia tertuju pada sosok pria tinggi besar yang sedang berdiri tidak jauh dari sana.
Pria itu tampak sangat gagah dan berwibawa. Memakai setelan kasual namun terlihat mahal, santai namun memancarkan aura orang kaya. Dia sedang menyerahkan kartu dan tanda tangan untuk melunasi pembayarannya.
Nurlia yang awalnya fokus menyiapkan uang, perlahan mengangkat wajahnya dan menatap pria itu. Matanya membelalak lebar, jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat.
"Iiih... Itu kan... Tuan Sulthan!!" batin Nurlia berteriak kaget.
Wajah itu tidak mungkin salah. Itu adalah pria yang sehari yang lalu datang makan di restoran tempatnya bekerja, dan yang memberinya tip sebesar 300 ribu rupiah secara tiba-tiba. Pria baik hati yang sudah menolong keuangannya saat itu.
Sulthan sepertinya juga merasakan ada yang menatapnya. Dia menoleh perlahan ke arah sumber suara.
Tatapan mereka bertemu.
Sulthan mengerutkan kening sebentar, seolah mengingat-ingat di mana pernah melihat wajah gadis pelayan yang manis ini. Namun tak lama, dia pun tersenyum tipis, sangat tipis, lalu menganggukkan kepala sebagai tanda sapaan dan pengakuan.
Tidak ada kata-kata yang terucap, tidak ada panggilan nama. Hanya tatapan mata dan anggukan singkat yang penuh makna. Setelah itu, Sulthan pun berbalik badan dan berjalan keluar toko dengan santai menuju mobilnya yang sudah menunggu.
Nurlia masih terpaku di tempatnya, jantungnya berdegup kencang campur aduk antara kaget, malu, dan kagum. Dunia ini sempit sekali, bisa bertemu lagi di tempat yang tak terduga.
"Mbak," panggil kasir membuyarkan lamunan Nurlia.
"Oh i-iya Mas, ini uangnya..." Nurlia segera menyodorkan selembar uang besar.
Namun, kasir itu justru mengangkat tangannya menolak, wajahnya tersenyum ramah. "Eh, tidak usah Mbak. Pembayaran untuk belanjaan Mbak dan adiknya sudah lunas dibayar kok," kata kasir itu santai.
Mata Nurlia membelalak tak percaya. "Hah? Maksudnya gimana Mas? Siapa yang bayar?"
"Tadi itu Tuan Sulthan Mbak. Beliau baru saja transfer lewat M-Banking ke rekening toko, dan bilang kalau semua belanjaan yang dipegang Mbak ini biayanya masuk ke tagihan beliau. Sudah lunas seratus persen," jelas kasir itu menjelaskan.
Nurlia ternganga. Mulutnya terbuka lebar, tangannya gemetar memegang uang di tangannya. Jadi... Tuan Sulthan tahu kalau kita yang beli? Dia sengaja bayarin semuanya tanpa bilang apa-apa? batin Nurlia.
"Be-benar saja Mas?" tanya Nurlia lagi memastikan, wajahnya sudah memerah padam karena terharu.
"Benar kok Mbak, ini bukti transfernya juga sudah masuk. Silakan bawa saja barangnya, terima kasih," jawab kasir meyakinkan.
Adelia yang berdiri di samping kakaknya juga ikut kaget dan bahagia. "Wah... murah banget ya Kak? Atau ada yang baik hati ngasih hadiah?"
Nurlia menghela napas panjang, matanya sedikit berkaca-kaca. Dia menoleh ke arah pintu keluar, di mana sosok mobil hitam mewah itu baru saja melaju pergi.
"Ya... ada orang baik yang bantu kita lagi, Del," bisik Nurlia lirih, hatinya dipenuhi rasa syukur dan haru yang tak terhingga pada kemurahan hati sang CEO muda itu.
•••
Mobil mewah yang dikemudikan Pak Didik tidak pulang ke rumah besar keluarga Aditama. Setelah meninggalkan area toko pakaian tadi, Sulthan memberikan instruksi singkat.
"Pak Didik, langsung ke kantor pusat saja," ucap Sulthan santai sambil menatap layar ponselnya.
"Siap Tuan," jawab Pak Didik sigap, lalu setir diputar menuju arah gedung perkantoran Aditama Group.
Sebenarnya, kedatangan Sulthan ke toko pakaian besar milik orang Tionghoa tadi bukan tanpa alasan. Toko itu memang sudah sangat terkenal di Surabaya, dan pemiliknya adalah seorang pengusaha sukses yang akrab disapa Koko Ling.
Hubungan Sulthan dan Koko Ling bukan sekedar penjual dan pembeli. Mereka sudah berteman dekat sejak lama. Koko Ling adalah salah satu rekan bisnis yang paling dipercaya, dan Sulthan adalah pelanggan VIP nomor satu di sana. Hampir semua kebutuhan pakaian keluarga besar Aditama, mulai dari seragam kantor, pakaian dinas, hingga baju pribadi keluarga, selalu dipasok dari toko milik Koko Ling.
Tadi, Sulthan memang sengaja datang untuk bertemu dan berbincang soal pesanan seragam baru untuk seluruh karyawan toko emas cabang baru yang sedang dibangun di Mojokerto. Mereka membahas bahan, model, dan jumlah pemesanan dalam skala besar.
Obrolan mereka berjalan akrab dan santai layaknya teman lama.
"Jadi seragamnya pakai bahan yang sama seperti tahun lalu ya, Ko? Yang tebal dan tidak mudah kusut," kata Sulthan saat sedang menandatangani nota pembayaran untuk pesanan kantor itu.
"Siap Mas Sulthan, pasti bahan terbaik. Nanti saya kirimkan ke gudang," jawab Koko Ling ramah.
Dan saat itulah, secara tidak sengaja mata tajam Sulthan menangkap sosok dua gadis yang sedang memilih-milih baju di sudut lain toko.
"Hm? Bukankah itu gadis pelayan restoran kemarin?" batin Sulthan mengenali wajah Nurlia.
Dia melihat bagaimana gadis itu dan adiknya terlihat begitu bahagia memegang seragam SMA putih abu-abu. Terlihat dari cara mereka memilih, mereka sangat membutuhkan dan menghargai barang itu.
Hati Sulthan yang lembut tergerak lagi. Tanpa perlu berpikir panjang, saat kasir mencatat total tagihan pesanan kantornya, Sulthan pun berbisik.
"Itu belanjaan yang dipegang sama dua cewek, masukkan saja ke tagihan saya. Transfer saja totalnya sekarang," perintah Sulthan santai.
Kasir hanya mengangguk paham, "Siap, dimasukkan semua."
Itulah sebabnya kemudian Sulthan hanya menoleh, tersenyum tipis dan mengangguk sopan pada Nurlia sebelum pergi. Dia tidak perlu menunggu ucapan terima kasih atau basa-basi. Baginya, membantu orang yang sedang berusaha keras adalah hal yang biasa dan membuat hatinya senang.
Sekarang, setelah urusan dengan Koko Ling selesai dan tagihan Nurlia pun lunas, mobil pun melaju menuju kantor untuk melanjutkan pekerjaan sebagai CEO Aditama Group yang sesungguhnya.