Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 31
Amelia membeku di tempat. Untuk beberapa saat, ia tidak bisa mengeluarkan suara. “A-apa maksudmu?” tanyanya pelan setelah bisa bersuara. “Kenapa kau berkata begitu?”
“Nona Cammeron, kita hanya pernah bertemu sekali. Jadi, kurasa kita tidak bisa dikatakan dekat sehingga kau harus merawatku sampai sembuh. Kecuali, kau adalah perawat, tapi seingatku kau bukan perawat,” jawab Caelan.
“Bertemu sekali? Apa maksudnya itu? Kau tidak mengingatku?” Amelia menoleh pada Anna yang tidak bisa berkata-kata. Lalu menatap Marie yang terlihat sedih.
“Aku mengingatmu.”
Amelia kembali menatap Caelan.
“Tentu saja, karena pertemuan pertama kita tidak biasa,” ujar Caelan. “Apa kau sudah melakukan tes DNA itu? Bagaimana hasilnya?”
Amelia tidak bisa berkata-kata, ia semakin bingung dengan apa yang terjadi. Pertemuan pertama? Tes DNA? Mengapa Caelan berkata seolah asing dengan Amelia?
“Tante Anna, kau harus menjelaskan apa yang terjadi pada Amelia. Kasihan, dia terlihat bingung.”
Amelia baru menyadari kalau Clara juga berada di sana. Bahkan Clara lah yang mendorong kursi roda Caelan. Amelia geram melihat Clara yang memegangi pegangan kursi roda Caelan.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Amelia dengan nada tidak ramah.
“Aku di sini untuk menjemput Caelan. Dia bisa pulang hari ini, aku akan mengantarnya ke rumah.” Clara menjawab dengan nada ramah yang dibuat-buat.
“Kami tidak memerlukan bantuanmu,” sahut Amelia lalu berusaha menggeser posisi Clara. Namun, Clara tidak mau bergeser sehingga Amelia yang masih lemah justru jatuh terduduk di lantai.
Clara bergerak cepat membantu Amelia sambil berkata, “Maafkan aku, aku tidak sengaja. Tubuhmu masih lemah, seharusnya kau beristirahat di kamar.”
Marie dan Anna ikut membantu Amelia. “Kita kembali dulu, Mama akan jelaskan padamu,” bisik Anna.
Amelia menggeleng. “Aku tidak mau dia ada di sini.” Amelia menunjuk Clara. Hatinya benar-benar panas melihat Clara yang dekat dengan Caelan sementara Caelan malah seperti tidak mengenalinya.
“Aku hanya ingin membantu,” ujar Clara berpura-pura lemah.
“Jangan ber-“
“Hentikan keributan ini, Nona Cammeron.” Caelan memotong kalimat Amelia. Pandangan Amelia terpaku pada Caelan. “Aku tidak tahu mengapa kau bersikap seperti ini, tapi coba tenanglah. Kau membuat kita semua jadi tontonan.”
Caelan hanya sedikit menaikkan suara, tapi tidak sampai memarahi Amelia. Hanya saja, itu cukup membuat Amelia terkejut.
“Kau memanggilku apa?” tanya Amelia pelan, tapi masih bisa didengar oleh Caelan.
“Nona Cammeron. Bukankah itu namamu?” Caelan terlihat bingung.
Amelia menoleh pada Anna. “Ma?”
“Ma? Kenapa kau memanggil ibuku seperti itu?” Caelan bertanya.
“Karena dia adalah ibu mertuaku,” sahut Amelia.
“Kau istri Henry?”
Amelia terduduk lemas. “Aku istrimu,” jawabnya lemah.
“Apa?!” Caelan terkejut. “Kau istriku? Jangan bercanda!”
“Sebaiknya, kita kembali ke kamar. Aku akan coba menjelaskannya pada kalian,” ujar Anna.
Tak ada kata yang bisa keluar dari mulut Amelia setelah mendengar penjelasan Anna mengenai kondisi Caelan. Ia terdiam mencerna informasi bahwa suaminya mengalami amnesia selektif, di mana seseorang kehilangan sebagian ingatan. Dan dalam kasus Caelan, ingatan yang hilang adalah tentang Amelia.
Caelan hanya mengingat Amelia sebagai wanita yang datang ke kantor pria itu untuk menuntut paternitas atas keponakannya, Emi. Caelan lupa bahwa Amelia sekarang berstatus istri Caelan yang bisa dibuktikan dengan akta nikah.
Amelia menatap Caelan. Pria itu sama terkejutnya dengan Amelia. Sebab sebelum ini tidak ada yang memberitahu Caelan mengenai kondisi amnesia tersebut. Setelah sadar satu hari yang lalu, Caelan terlihat normal. Ketidaknormalan muncul ketika Anna menyebutkan Amelia dan Emi. Caelan mengenali dua nama itu sebagai seorang wanita dan bayi yang datang ke kantor untuk menuntut tanggung jawab Caelan atas Emi, karena Amelia berkeras kalau Caelan adalah ayah Emi.
“Mama pasti bercanda,” ujar Caelan yang masih tidak bisa menerima paparan kenyataan dari Anna.
Amelia hanya memandangi Caelan ketika pria itu beradu argumen dengan Anna, sebab masih tidak percaya kalau sudah memiliki istri yaitu Amelia.
“Lalu apa alasanku menikahinya, karena ingin membesarkan putri Henry?” tanya Caelan. “Bukankah itu tidak masuk akal? Aku bisa saja membesarkan anak itu tanpa harus menikahi bibinya.”
“Kalian menikah karena cinta,” sahut Anna.
“Apa?!” Caelan tidak percaya. Caelan menatap Amelia, dan Amelia membalas tatapan itu. Lalu Caelan kembali memandang Anna. “Itu sedikit sulit kupercaya.”
“Kau sendiri yang mengatakan pada Mama kalau kau mencintai Amelia. Kalian menikah karena saling mencintai.” Anna masih sabar untuk mencoba membantu Caelan mengembalikan ingatan.
“Aku jatuh cinta, lalu menikah, itu sesuatu yang sulit dipercaya,” ujar Caelan lemah. “Aku baru mengenalnya belum begitu lama. Apalagi pertemuan pertama kali kami seperti itu.”
Amelia lagi-lagi menggali ingatan tentang pertemuan pertama dengan Caelan. Jika mengingat hari itu, Amelia sendiri tidak akan percaya bahwa dirinya dan Caelan akan berakhir menjadi pasangan suami istri.
Amelia datang dengan semua tuduhannya dan Caelan bertahan dengan keyakinan. Mereka berdua berseberangan sehingga hampir tidak mungkin bisa bersama. Namun, pada akhirnya mereka bisa bersama.
“Ada buktinya kalau kalian sudah menikah,” ujar Anna. “Bahkan Clara datang di acara pernikahan kalian. Benar kan, Clara?”
Clara terkejut ketika Anna bertanya sehingga gelagapan ketika menjawab. “I-iya, aku juga datang.”
Clara menatap Amelia lagi. Tatapan putus asa itu membuat hati Amelia sakit.
“Maaf, tapi aku benar-benar tidak mengingatnya,” ucap Caelan. “Dan aku merasa ini …” Kalimat Caelan menggantung.
“Tidak mungkin?” Amelia melanjutkan.
Caelan menggeleng, bahu pria itu turun menunjukkan keputusasaan.
Amelia menghela napas. Ia berdiri, lalu dengan langkah tertatih keluar dari kamar.
“Amelia?” Anna mencoba menahan langkah Amelia, tapi Amelia menggeleng dan Anna memberi jalan.
Marie masih menunggu di luar kamar dengan kursi roda. Amelia duduk di kursi roda. “Tolong antar aku ke kamar,” pinta Amelia.
Tanpa kata Marie mendorong kursi roda kembali ke kamar rawat Amelia. Marie membantu Amelia naik ke ranjang rawat, memasang kembali infus ke tangan kiri Amelia.
“Ada lagi yang perlu saya bantu?” tanya Marie.
Amelia menggeleng, lalu ia teringat Emi. “Aku ingin melihat keponakanku,” jawab Amelia lirih.
Marie beranjak ke nakas samping ranjang rawat, menarik laci teratas, lalu menyerahkan sebuah ponsel pada Amelia. “Mertua Anda meninggalkan ponsel di sini untuk jaga-jaga jika Anda bangun dan membutuhkannya.”
“Terima kasih,” jawab Amelia sambil menerima ponsel itu. Itu adalah ponsel Amelia, bagian pelindung layarnya retak, tapi masih bisa digunakan.
“Saya akan pergi sekarang,” ujar Marie. “Jika Anda butuh bantuan, bisa tekan tombol ini.” Marie menunjukkan tombol darurat di bagian atas di kepala ranjang rawat.
Amelia mengangguk. “Terima kasih.”
Marie lalu keluar dari kamar.
Amelia membuka ponsel yang baterainya masih terisi penuh, lalu menghubungi nomor telepon Sandra. Setelah bertukar kabar dengan Sandra, Amelia meminta panggilan suara diubah menjadi panggilan video. Amelia menangis ketika melihat Emi yang juga menangis ketika melihat dirinya.
“Mama … Mama …”