Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Sore itu Adinda tidak langsung pulang. Di tengah perjalanan, mobil yang ia tumpangi tiba-tiba melambat, lalu berhenti di depan sebuah kafe. Tempat itu tidak asing. Bahkan terlalu familiar untuk diabaikan begitu saja.
Naya mengernyit heran. “Ndin, kok berhenti di sini?”
Adinda tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju ke arah bangunan di depannya sebelum akhirnya ia membuka pintu mobil.
“Aku pertama kali ketemu dia di sini,” ucapnya pelan.
Ia melangkah masuk tanpa ragu, matanya langsung menyapu seluruh ruangan, mencari satu sosok kecil itu.
Namun semakin lama ia berdiri di sana, semakin jelas—yang ia cari tidak ada. Kursi itu kosong, ternyata dia tidak datang lagi.
Adinda menghela napas pelan, langkah yang tadinya begitu yakin kini perlahan mengendur. "Ah... ternyata aku terlalu berharap."
Hatinya terasa aneh. Bukan sedih yang meledak, tapi kosong… seperti kehilangan sesuatu yang belum sempat ia pahami sepenuhnya.
“Udah kita pulang saja,” ucapnya akhirnya.
Naya tidak banyak bertanya. Ia bisa melihat sendiri—ada yang berubah, meski Adinda tidak mengatakannya.
Mobil kembali melaju, ke arah pulang, di dalam perjalanan sedari tadi pikirannya dipenuhi dengan bayangan anak kecil itu, dan entah kenapa. Tanpa sadar ucapan Pak Arbani tadi ada kaitannya.
"Ndin, aku berhenti di sini saja," ucap Naya saat sampai di mini market dekat rumahnya.
"Kamu yakin mau berhenti di sini," sahut Adinda.
"Iya karena ada yang mau aku beli," sahutnya.
Tanpa basa-basi Adinda langsung meminggirkan mobilnya, lalu keduanya berpisah ditempat ini.
"Terima kasih Ndin...!" seru Naya.
"Sama-sama, seharusnya aku yang banyak berterima kasih padamu," sahut Adinda.
Mobil melaju kembali, kali ini ia benar-benar menuju arah pulang.
☘️☘️☘️☘️☘️
Malam itu, rumah tidak menyambutnya dengan tenang.
Baru saja pintu terbuka, langkah Adinda langsung terhenti. Di ruang tengah, Arya berdiri dalam keadaan yang tidak biasa. Wajahnya kusut, matanya merah, dan sikapnya jauh dari sosok yang selama ini ia kenal.
“Dinda…”
Suaranya serak. Ia melangkah mendekat, seperti seseorang yang sudah kehabisan arah.
“Aku salah… aku benar-benar salah…”
Adinda diam. Tatapannya lurus, tidak goyah. Ia tidak mendekat, juga tidak mundur. Hanya berdiri dan melihat seseorang yang dulu ia percaya… kini berdiri dalam keadaan runtuh.
“Aku gak tahu apa-apa soal ini… aku cuma—”
“Cukup,” potong Adinda pelan.
Arya terdiam. Kalimatnya berhenti di tenggorokan.
Di sisi lain, Luna dan Airin yang sejak tadi memperhatikan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Tatapan mereka berpindah-pindah antara Adinda dan Arya, sampai akhirnya satu fakta itu benar-benar terdengar jelas.
"Sebenarnya ini ada apa?" tanya Airin sedikit mendengus.
Adinda menoleh ke arah Airin yang seolah menuntut jawaban darinya. "Kau tanyakan saja sendiri pada kakakmu."
Airin semakin tersulit, bukan itu jawaban yang ia inginkan. "Mbak sudah jangan banyak drama katakan saja apa yang sebenarnya terjadi."
Sintia terdiam tapi tatapannya semakin tajam. "Aku banyak drama," katanya pelan. "Yang ada tuh keluargamu sendiri yang sejak dulu bermain culas."
"Maksudnya apa! Jangan berbelit jadi orang!" tuduh Airin.
"Berbelit," ulang Adinda "Atau jangan-jangan kamu sudah tahu dengan semua ini."
Airin tertunduk tatapannya yang tadi nyalang mulai turun perlahan tanpa suara. Dari situ Adinda sudah bisa menyimpulkan meskipun Airin tidak memberikan penjelasan apapun.
"Benarkan kamu sudah tahu," tebak Adinda dengan senyum masamnya. "Baiklah kalau begitu, sekalian saja, aku kasih tahu," jedah sebentar.
“Ibu… ditahan,” lanjut Adinda.
Airin terkejut tatapannya memanas, tangannya perlahan mengepal kuat. "Mana mungkin Ibu di penjara jangan ngada-ngada."
"Aku tidak pernah mengada-ngada, dan asal kamu tahu, ibumu terlalu menyembunyikan semua kejahatannya padaku," cetus Adinda.
Tangan airin melayang ke udara hampir saja mengenai wajah Dinda, tapi dengan cepat Arya menangkasnya. "Sudah jangan memperkeruh suasana ... Ibu memang salah."
Suasana langsung berubah. Tidak ada lagi suara tinggi, tidak ada lagi sindiran. Yang tersisa hanya ketegangan yang menggantung, dan rasa tidak percaya yang belum sepenuhnya bisa diterima.
Adinda tidak berkata apa-apa lagi. Ia melangkah melewati Arya begitu saja, meninggalkan semua penjelasan yang terlambat itu di belakangnya.
☘️☘️☘️☘️
Pagi datang seperti biasa, tapi tidak dengan suasana yang sama.
Adinda kembali ke kantor, mencoba menenggelamkan pikirannya dalam pekerjaan. Berkas demi berkas ia selesaikan, meski sesekali pikirannya masih terlempar ke hal-hal yang belum selesai. Namun kali ini ia tidak berhenti. Ia memilih tetap bergerak.
“Heh!”
Suara temannya tiba-tiba muncul di sampingnya.
“Bos pusat datang!”
Adinda tidak langsung menoleh. “Terus?” sahutnya singkat, masih fokus pada pekerjaannya.
“Ya jelas penting lah! Jarang banget dia ke sini,” lanjut temannya.
Belum sempat Adinda menanggapi, suasana ruangan berubah. Beberapa orang mulai berdiri. Suara langkah terdengar dari arah pintu utama. Teratur dan tegas
Adinda akhirnya menoleh.
Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, saat matanya bertemu dengan suara langkah yang semakin dekat dari hadapannya.
Bersambung ....
maaf sedikit telat