NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Tuan Muda

Menjadi Istri Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romantis / Nikah Kontrak
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.

Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.

*

Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Sesampainya di apartemen, Naya dan Rebecca segera duduk untuk makan malam, sambil sesekali bercakap-cakap ringan tentang beberapa hal.

“Kamu beneran mau sembunyi dari semua orang? Maksudku, mungkin Lucio bisa membantumu,” kata Rebecca di sela-sela suapan makanannya. “Dia memang menakutkan, tapi dari apa yang aku lihat, dia bukan tipe orang yang akan menyakitimu.”

Naya mengunyah makanannya dengan pelan, menelan sebelum akhirnya menjawab dengan nada datar.

“Kamu tidak bisa meyakini hal itu. Bahkan ayahku sendiri ingin membunuhku. Mengapa orang lain seharusnya berbeda?”

Rebecca menatap Naya dengan sorot mata penuh prihatin. Trauma yang dialami Naya begitu dalam, meninggalkan luka yang membuatnya sulit percaya pada siapapun, bahkan pada orang-orang yang mungkin berniat baik padanya.

Suasana makan malam itu menjadi hening sejenak, hanya terdengar suara sendok dan garpu, sementara pikiran mereka berdua sibuk mencerna beratnya kata-kata yang baru saja terucap.

Setelah menyelesaikan makan malam, Naya dan Rebecca bergegas merapikan meja dan membersihkan sisa-sisa makanan.

“Ayo pergi.” Kata Naya.

“Kemana?” Tanya Rebecca, namun tangannya tetap mengambil tasnya.

“Ke suatu tempat.”

Mereka keluar dari apartemen dengan hati-hati. Di luar, malam sudah hampir larut. Lampu jalan menyala redup, angin malam membawa kesejukan yang menusuk kulit. Rebecca dan Naya masuk mobil, dan mereka meluncur menyusuri jalanan kota yang hampir sepi. Kali ini Naya yang menyetir.

“Aku penasaran, kemana kita akan pergi?” tanya Rebecca, matanya terus memeriksa sekitar.

“Kamu akan lihat nanti. Aku akan mengambil sesuatu yang penting,” jawab Naya sambil menatap jalan di depan.

Mobil itu terus melaju ke arah pinggiran kota, menuju sebuah gedung lama yang terlihat terbengkalai dan suram. Rebecca mengerutkan dahinya, jelas ia mengenali tempat itu.

“Ini kan dulunya gedung milik mamamu, bukankah om Tuqman sudah menjualnya?” Tanya Rebecca, sebagai sahabat satu-satunya Naya, ia memang tahu beberapa properti milik mendiang ibu Naya. Beberapa tahun lalu, gedung ini pernah digunakan sebagai gudang penyimpanan hasil panen dari kebun milik ibu Naya.

“Ya, papa hanya tidak mau menggunakannya lagi. Tapi nggak dijual, dibiarkan begitu saja, terbengkalai.” Jawab Naya sambil turun dari mobil setelah memarkirnya rapi.

Rebecca ikut turun, menatap gedung itu dengan sedikit rasa takut dan penasaran. Pikirannya mulai berkelana, membayangkan kemungkinan-kemungkinan bagaimana kalau ada sesuatu yang menyeramkan di dalam sana?

“Memangnya kamu lagi mikirin apa?” tanya Naya santai, melirik sekilas ke arah Rebecca. “Di dalam sana nggak ada hantu atau makhluk aneh.”

Ia mengucapkannya dengan nada acuh tak acuh, seolah sudah sangat paham apa yang sedang berputar di kepala sahabatnya.

“Hehehe… beberapa hari lalu aku nonton film horor,” jawab Rebecca dengan cengiran kikuk. “Jadi otakku refleks langsung membayangkan ada hantu di dalam gedung ini.”

Naya menggeleng pelan, nyaris tersenyum tipis. “Ayo masuk.”

Ia melangkah lebih dulu tanpa ragu.

“Tungguin, Nay!” Rebecca buru-buru menyusul, tangannya refleks mencengkeram ujung baju Naya, seolah itu satu-satunya pegangan yang bisa menenangkan dirinya.

Di seberang jalan, seseorang memperhatikan mereka dengan saksama.

Mario.

Pria itu mengerutkan kening saat melihat kedua wanita itu masuk ke dalam gedung terbengkalai tersebut. Ada rasa curiga yang langsung muncul di benaknya.

“Apa yang mereka lakukan di dalam sana?” gumamnya pelan. “Jangan bilang mereka paranormal yang hobi mendatangi tempat angker.”

Meski terdengar tidak masuk akal, tetap saja ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Tanpa membuang waktu, Mario turun dari mobilnya dan memutuskan untuk mengikuti mereka.

Ia sempat melirik jam tangan di pergelangan kirinya. Jarum jam hampir menunjukan pukul sebelas malam.

“Jangan-jangan mereka memang sengaja cari hantu,” gumamnya lagi, kali ini dengan nada setengah serius.

Dengan langkah hati-hati, Mario masuk ke dalam gedung itu. Setiap pijakan kakinya menimbulkan suara samar yang menggema di dalam bangunan kosong. Sesekali ia juga mengirimkan pesan singkat kepada Lucio, memberi laporan singkat tentang pergerakan kedua wanita itu.

Sementara itu, Naya dan Rebecca yang sudah lebih dulu berada di dalam.

Mereka menaiki tangga menuju lantai dua, tangga tua yang dipenuhi debu tebal dan berderit setiap kali diinjak.

Tidak lama kemudian, mereka tiba di lantai dua yang ternyata tidak sekotor lantai satu. Debu masih ada, tetapi tidak setebal di bawah.

Naya melangkah pelan menuju jendela di ujung ruangan. Sebagian kaca jendela itu sudah pecah, menyisakan celah yang membuat angin malam masuk dengan bebas.

Netranya menatap jauh ke luar, menembus pekatnya malam, seakan sedang menerawang sesuatu atau mengingat sesuatu.

“Apa yang kita lakukan di sini?” tanya Rebecca pelan, suaranya nyaris berbisik. Ia berdiri di samping Naya dengan wajah tegang. Keheningan menyelimuti tempat itu, membuat imajinasinya liar membayangkan hal-hal yang tidak seharusnya.

“Menunggu seseorang,” jawab Naya singkat, tanpa mengalihkan pandangannya. Ia menurunkan topinya sedikit lebih dalam, lalu merapikan maskernya memastikan wajahnya benar-benar tersembunyi.

“Siapa?” tanya Rebecca lagi, kini semakin penasaran.

“Kamu akan tahu nanti,” balas Naya.

Setelah itu, keheningan kembali mengambil alih.

Hanya ada suara angin yang menyelinap melalui celah jendela, serta detak jantung Rebecca yang terasa semakin keras di telinganya sendiri.

Hingga tiba-tiba—

Suara langkah kaki terdengar dari arah tangga.

Tap… tap… tap…

Naya dan Rebecca langsung menoleh bersamaan, seseorang datang.

...***...

1
saptonah dppkad
Naya yg bodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!