NovelToon NovelToon
Lari Atau Jadi Mereka

Lari Atau Jadi Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Action / Anak Genius
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: ariyanteekk09

Di kota yang kecil damai, sebuah pabrik mochi terkenal meluncurkan produk terbaru mereka yaitu mochi viral yang dalam sekejap menjadi sensasi di media sosial.

namun tidak ada yang tahu ,di balik manis itu tersimpan hal yang mengerikan.

shila menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman nya yang makan mochi itu kejang-kejang dan hilang kendali. lalu berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia.

kota yang dulunya tenang berubah jadi neraka yang di penuhi oleh mereka.

terjebak di dalam sekolah dengan berapa teman nya yang selamat. shila harus mengambil keputusan :tetap sembunyi atau melarikan diri demi menemukan keluarga nya.

𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐫𝐢... 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐝𝐢 𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariyanteekk09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 29

“Kalian pasti tahu, kan, apa penyebab orang tua kalian dan penghuni apartemen ini berubah jadi zombie?” tanya Gibran pada April dengan nada serius.

April menarik napas sejenak sebelum menjawab.

“Iya, gue tahu… Tiap hari kami selalu diberikan obat, katanya sih vitamin untuk kekebalan tubuh. Orang-orang di sini percaya saja. Tapi orang tua gue melarang gue dan adik gue untuk meminumnya,” cerita April pelan.

Suasana menjadi sedikit hening. Semua mendengarkan dengan fokus.

“Apa setelah minum obat itu langsung bikin orang tua kalian berubah jadi zombie?” tanya Shila penasaran.

April menggeleng.

“Tidak… tapi mereka berubah jadi zombie setelah satu minggu mengonsumsi obat itu. Sehari saja tidak minum, mereka pasti gelisah,” lanjut April dengan wajah tegang, mengingat kejadian itu.

“Astaghfirullah… demi kekuasaan, mereka rela membuat orang-orang yang tidak bersalah jadi korban,” gumam Gibran dengan emosi yang mulai terpancing.

April menunduk, tangannya menggenggam erat tangan Airin.

“Tiap malam gue dan adik gue ketakutan di dalam kamar, dan kami bertaruh nyawa… Awalnya para zombie itu cuma di malam hari mereka mencari mangsa,” ucapnya lirih.

Shila menatap April dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Nasib kita sama, April. Bedanya, orang tua gue dibunuh dan mayatnya dibakar karena menolak ikut eksperimen seperti ini. Dan gue harus merawat adik gue yang umurnya masih satu tahun,” ucap Shila, mengingat kejadian satu tahun yang lalu.

Semua terdiam. Luka lama itu terasa kembali terbuka.

“Papi gue juga seorang ilmuwan. Kami datang ke sini karena disuruh sama dokter Rainal. Entah mengapa orang tua gue juga bisa jadi zombie,” ungkap April, suaranya mulai bergetar.

Shila menghela napas pelan, mencoba berpikir.

“Mungkin orang tua lo juga menolak ikut dalam hal ini, dan mereka berkorban untuk menyelamatkan kalian. Makanya lo dan adik lo dilarang minum obat itu,” tebak Shila.

April menatap Shila, lalu berkata dengan serius,

“Gue harap kalian tidak memberi tahu siapa pun asal usul gue dan adik gue. Tante Riska pun nggak tahu hal ini,” mohon April.

Shila langsung mengangguk meyakinkan.

“Lo tenang saja, gue dan suami gue bukan orang seperti itu,” ujarnya.

Namun, raut wajah April masih menyimpan keraguan.

“Jujur, gue masih belum percaya sepenuhnya dengan Tante Riska…”

Shila mengernyit.

“Kenapa lo nggak percaya?”

April menatap ke arah pintu , lalu berkata pelan namun penuh curiga,

“Karena dia baik-baik saja di sini. Setahu gue di sini, setiap unit pasti ditunggu untuk minum obat. Kalau belum minum, mereka tidak akan pergi. Nah, Tante Riska tinggal sendiri, kan? Mana mungkin dia nggak dikasih…”nUcapan itu membuat Shila terdiam.

Seketika pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.

“Apa Tante Riska punya hubungan sama Prof Teguh… makanya dia dilindungi?” batin Shila.

Tatapannya tanpa sadar berubah tajam.

Kini, bukan hanya zombie yang harus mereka waspadai…tapi juga manusia di sekitar mereka.

*******

Di sebuah ruangan tersembunyi di dalam gedung apartemen itu, suasana terasa dingin dan sunyi,tempat nya di dalam unit riska ada pintu rahasia yang membawa mereka keuangan itu. Hanya terdengar suara alat-alat yang terus bekerja tanpa henti.

Prof Teguh berdiri dengan tenang, menatap ke arah layar besar di depannya. Di layar itu, terlihat beberapa sudut gedung yang gelap… kosong… tanpa tanda-tanda kehidupan.

Di belakangnya, Riska berdiri dengan gelisah. Tangannya saling menggenggam, mencoba menenangkan diri.

“Riska…” panggil Teguh pelan.

Riska menoleh, wajahnya masih menyimpan keraguan.

“Iya, Pak…”

Teguh tersenyum tipis, lalu berjalan mendekatinya.

“Kamu satu-satunya yang masih bertahan dengan baik di tempat ini. Itu artinya… kamu spesial.”

Riska terdiam.

“Aku menjaga kamu sejak awal,” lanjut Teguh dengan suara lembut. “Aku pastikan kamu tidak terinfeksi… tidak seperti yang lain.”

Riska menelan ludah.

“Yang lain… itu semua penghuni apartemen ini…”

“Sudah tidak bisa diselamatkan,” potong Teguh santai.

Kalimat itu membuat hati Riska terasa berat.

Teguh kembali berbicara, suaranya kini lebih dalam, seolah menanamkan keyakinan.

“Selama kamu tetap di sini… kamu akan aman. Tidak akan ada yang menyentuhmu. Tidak akan ada yang mengganggumu.”

Riska menatapnya ragu.

“Kalau… aku pergi?”

Senyum Teguh perlahan menghilang.

“Kamu tidak perlu pergi,” jawabnya pelan, namun tegas. “Dunia di luar sana sudah hancur. Di sini… kamu punya tempat.”

Janji itu terdengar menenangkan… tapi juga mengekang.

“Aku juga sudah menyediakan semua kebutuhanmu, bukan?” lanjut Teguh.

“Makanan, tempat tinggal, perlindungan. Kamu tidak perlu takut apa pun.”

Riska terdiam cukup lama.

Di sudut ruangan, Rainal berdiri bersandar santai. Di sampingnya, seorang laki-laki lain hanya memperhatikan dengan senyum tipis, seolah menikmati percakapan itu tanpa ikut campur.

Rainal menyilangkan tangan di dada, lalu tersenyum kecil. Seolah yakin… Riska tidak punya pilihan lain.

“Kamu tidak sendirian, Riska,” ucap Teguh lagi, nada suaranya kembali lembut. “Aku di sini.”

Namun kata-kata itu justru membuat hati Riska semakin sesak.

Ia menunduk perlahan.

“Baik… Pak,” jawabnya lirih.

Senyum Teguh kembali muncul.

Sementara itu, Rainal dan laki-laki di sampingnya saling berpandangan… lalu tersenyum tipis.Bagi mereka Riska bukan sekadar penyintas.Melainkan…aset yang harus dijaga.

Suasana di ruangan itu masih terasa menekan. Riska berdiri diam, seolah tidak punya pilihan lain selain menerima semua yang dikatakan Prof Teguh.

Namun tiba-tiba—

“Menarik…” Suara Rainal akhirnya terdengar.

Ia melangkah maju perlahan dari sudut ruangan, wajahnya dihiasi senyum tipis yang sulit diartikan.

“Ternyata masih ada yang bisa bertahan tanpa bantuan penuh dari kita,” lanjutnya santai.

Riska menoleh ke arahnya. Tatapannya tidak suka, tapi ia menahan diri.

“Maksud Anda apa?” tanya Riska pelan.

Rainal terkekeh kecil.

“Kamu ini… spesial, Riska. Tidak semua orang bisa seperti kamu.”

Ia berjalan mengitari Riska, seperti sedang mengamati sesuatu yang berharga.

“Yang lain… butuh ‘vitamin’ itu untuk bertahan. Tapi kamu?” katanya lagi.

“Kamu tetap hidup… tanpa berubah.”

Riska mengepalkan tangannya.

“Bukan karena aku spesial… tapi karena aku tidak pernah minum obat itu,” jawabnya tegas.

Rainal berhenti, lalu tersenyum lebih lebar.

“Justru itu,” balasnya. “Dan kamu masih hidup sampai sekarang di tempat seperti ini… itu yang membuatmu menarik.”

rainal sengaja bilang seperti itu agar riska tidak pernah punya niat untuk pergi dari sana karena dia kini tahu rahasia nya.

Prof Teguh hanya memperhatikan, membiarkan Rainal melanjutkan.Rainal mendekat sedikit, menatap Riska lebih dalam.

“Kamu tahu nggak… kalau orang seperti kamu itu langka?” ucapnya pelan.

“Dan sesuatu yang langka… biasanya sangat berharga.”

Riska merasa tidak nyaman, tapi tetap berusaha tenang.

“Aku bukan bagian dari eksperimen kalian.”

Rainal tertawa kecil.

“Kita lihat nanti…”

Ia lalu melirik ke arah Teguh.

“Daripada hanya ‘menjaga’ dia,” lanjut Rainal, “kenapa tidak kita manfaatkan saja?”

Kalimat itu membuat Riska langsung menegang.

“Maksud kamu apa?” tanya Teguh, meski nada suaranya terdengar tertarik.

"bukan kan kita pernah bicara tentang ini" kata teguh.

Rainal menyilangkan tangan.

“Kita tidak tahu kenapa dia bisa kebal. Bisa jadi… tubuhnya punya sesuatu yang tidak dimiliki yang lain.”Ia tersenyum tipis.

“Dan kalau kita bisa menemukan alasannya…”

“Eksperimen ini bisa jadi jauh lebih sempurna.”

Ruangan mendadak hening.

Riska menatap mereka berdua dengan campuran takut dan marah.

“Jangan libatkan aku dalam hal gila kalian,” ucapnya.

Rainal hanya tersenyum.

“Kamu sudah terlibat… sejak kamu memilih tetap hidup di sini.”

Teguh terdiam sejenak, seperti mempertimbangkan.Lalu perlahan ia tersenyum. Sementara Riska…untuk pertama kalinya merasa janji manis tadi… mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

*padahal riska tidak berubah karena tidak pernah meminum vitamin itu dan tidak pernah keluar dari apartemen*.

1
Nurr Tika
shila ketemu ga ya sama aira
Nurr Tika
shila harus kuat demi adiknya
Nurr Tika
dasar hendro
Ani Jkt
ceritanya bagus tapi banyak tiponya tor
Nurr Tika
ikutan tegang
Nurr Tika
moga ja shila,adik dan temenya selamat
Nurr Tika
selamet ih bikin tegang aja
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
untung adiknya ga di lempar keluar rumah, lebih baik tiara yg di usir dari pada kalian keluar dari rumah
Nurr Tika
mona mona coba klau kmu ga jahat pasti ga kan di usir
Nurr Tika
mona di kasih zombie ja buat santapan
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
sebenarnya apa yg terjadi ya
Nurr Tika
nyimak thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!