Jangan lupa follow Ig noer_azzura16 for visualnya ya.
Diandra menjadi sugar baby seorang pria dingin selama tiga tahun lebih ketika dia berada di luar negeri. Selain nama dan nomor ponselnya, Diandra sama sekali tidak tahu apapun tentang pria itu.
Namun, tiba-tiba ayahnya menyuruhnya kembali, setelah mengasingkannya selama 7 tahun, ketika adik tirinya akan bertunangan.
Diandra yang memang punya dendam pada ayahnya dan keluarga baru ayahnya itu. Memutuskan kembali, ada dendam yang harus dia tuntaskan.
Namun, siapa sangka. Jika tunangan sang adik tiri, ternyata adalah seseorang yang mengenal Diandra luar dan dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34- MCI 34
Pranggg
Kamarnya sudah hancur, beberapa barang bahkan sudah dikeluarkan dari kamarnya karena memang sudah rusak.
Dan barusan, vas bunga yang ada di meja dekat sofa di kamar tamu itu juga pada akhirnya tak luput dari sasaran amukan Genelia. Dia mengikuti media sosial Raez. Dan dia melihat sendiri bagaimana pria yang selama bertahun-tahun menjadi pujaannya itu malah memposting foto cincin pernikahan di depan catatan sipil.
"Agkkhhhh!"
Brakk
Bahkan ponselnya dia banting ke lantai sampai mental beberapa kali sebelum akhirnya terlihat ada goresan di beberapa sisi. Bantingan yang sangat keras, sampai ponsel itu benar-benar mental beberapa kali.
Genelia menutupi kepalanya dengan dua tangannya lalu perlahan jatuh ke lantai.
Brukk
Suara itu menunjukkan kalau Genelia benar-benar jatuh dengan tanpa usaha untuk mempertahankan dirinya tetap berdiri. Memang jatuh lemas begitu saja.
"Aghhhhh!"
Teriakan itu lagi yang terdengar. Seseorang yang sedang mengalami kepiluan yang begitu dalam. Dia sudah berusaha menjadi seseorang yang bahkan bukan dirinya selama bertahun-tahun hanya untuk menjadi istri Raezwell Dave Mahendra. Tapi, pada akhirnya pria itu memposting, mengabarkan paga semua orang kalau dia sudah menikah.
Hancur, remuk, semuanya bercampur menjadi satu. Rasa sakit, kesal, menyayangkan sesuatu yang menyakitkan. Semua itu saat ini berbaur menjadi satu di dalam hati Genelia. Membuatnya semakin frustasi.
Di luar kamar, pelayan yang diminta menjaga Genelia juga kebingungan.
"Gimana ini Bi, nona ngamuk lagi!"
"Bibi gak tahu, gak berani masuk. Nanti yang ada kita yang di lempar barang. Tunggu tuan dan nyonya datang saja!"
"Aduh, mana tuan dan nyonya ini pulangnya juga lama sekali sih?"
Baru juga mereka bicara seperti itu. Sebuah mobil sudah masuk ke pekarangan.
"Nah itu nyonya pulang..."
Kamila turun dari dalam mobil dengan ekspresi wajah tidak puas. Ya, dia memang sangat tidak puas dengan hasil pembicaraannya di rumah sakit tadi. Dia ingin pertunangan itu dilakukan di lain waktu. Tapi, keduanya malah sama sekali tidak merespon baik.
Keduanya hanya bilang, menunggu Raez menangani semaunya.
"Aku akan kembali ke kantor, beberapa hari ini masalah keluarga benar-benar...!"
"Ini semua kan ulah anakmu itu, mas. Diandra itu benar-benar keterlaluan! apa-apaan dia mengaku hamil di depan banyak orang. Pokoknya kalau dia di tuntut oleh nak Dave dan keluarga Mahendra nanti, kamu tidak usah bantu dia! dia sendiri yang cari masalah!"
Romi menghela nafas berat.
"Ya sudah..."
"Tuan, nyonya!"
Kamila yang sudah mau masuk pintu, terkejut karena pelayannya berteriak memanggilnya. Romi yang mau masuk mobil juga sampai mengurungkan niatnya itu.
"Ada apa?" celetuk Kamila yang sedikit ketus pada pelayan yang sudah mengagetkannya itu.
"Nyonya, itu... nona mengamuk lagi!"
Kamila langsung khawatir, dia kira setelah mengatakan akan mengupayakan pertunangannya lagi dengan Raez. Genelia sudah tenang, kenapa malah mengamuk lagi?
Kamila berlari masuk ke dalam rumah. Romi yang juga khawatir pada Genelia segera menutup pintu mobil dan malah ikut berlari masuk ke dalam rumah mengikuti Kamila.
Ceklek
Kamila membuka pintu kamar tamu di lantai bawah itu dengan cepat. Dan dia tertegun sejenak, ketika melihat kondisi kamar tamu yang tak jauh berbeda dari kamar anaknya di lantai dua.
"Genelia!"
Kamila segera menghampiri anaknya dan merangkulnya. Genelia masih terduduk, dengan kedua tangan di atas kepalanya. Selayaknya orang yang memang sedang mengalami guncangan dalam dirinya. Seseorang yang tak bisa menerima kenyataan, berusaha untuk mengelak tapi dia sadar juga kalau itu memang kenyataan yang terjadi. Kondisi Genelia saat ini sedang ada di fase dimana kewarasan dan batas antara mampu menerima kenyataan itu berada.
"Genelia, sayang kamu kenapa?" tanya Kamila.
Romi yang baru masuk ke dalam kamar Genelia juga sangat terkejut.
"Genelia..."
"Ibu dan ayah sudah pergi ke rumah sakit. Bicara pada nyonya Siska. Semuanya akan baik-baik saja..."
Brakk
Tapi Kamila malah di dorong oleh Genelia sampai terjengkang ke belakang.
"Genelia!"
Romi masuk dan membantu Kamila bangkit.
"Kamu kenapa?"
"Kalian berbohong! kalian tidak akan bisa membuat semuanya baik-baik saja. Kak Dave sudah menikah dengan wanita sialann itu!" pekik Genelia dengan mata yang merah dan sudah sangat basah.
"Menikah? menikah apa? kamu bicara apa Genelia?" tanya Kamila.
Masalahnya kan mereka memang baru kembali dari rumah sakit. Hanya mampir sebentar untuk membeli makanan karena mereka datang pagi-pagi sekali tadi. Tidak lama, apa yang bisa berubah dalam waktu kurang dari 2 jam pikir mereka kan?
"Kalian memang tidak becus! ibu yang selalu bilang aku harus jadi wanita baik. Wanita paling sopan di kota ini. Harus jadi satu-satunya orang yang di pandang baik oleh bibi Siska. Tapi apa? tapi apa?" pekik Genelia.
"Ayah tidak mengerti? bagaimana bisa nak Dave menikah...!"
Genelia memindai sekeliling, dia kembali mencari ponselnya yang tadi dia banting. Dan begitu dia melihat ponselnya, Genelia langsung bangkit dan berlari ke arah ponselnya itu.
Genelia meraih ponselnya dengan cepat, lalu menunjukkan postingan Raez.
"Lihat itu!" pekiknya yang melemparkan ponselnya itu di depan ayah dan ibunya.
Kamila mengambil ponsel itu perlahan. Dan matanya melebar, Raez sendiri yang sudah mengatakan kalau dia memang sudah menikah dengan Diandra.
"Mas..." lirih Kamila.
Kamila shock, lebih ke marah sebenarnya. Lalu dia menoleh ke arah Genelia yang benar-benar tampak hancur.
"Genelia..."
"Aku benci kalian! kalian selalu bilang aku bisa menikah dengan kak Dave. Kenapa wanita sialann itu yang aku menikah dengannya?" pekik Genelia yang kembali menarik meja sofa dan membaliknya, meski dengan sangat susah payah.
"Agkkhhhh!"
"Genelia!"
Air mata Kamila menetes, anaknya benar-benar sangat terpukul. Terlihat Genelia bahkan seperti seseorang yang nyaris depresi.
"Agkkhhhh!"
"Mas, lakukan sesuatu! anak kita mas!"
"Tenangkan dia, aku akan panggil dokter!"
Kata Romi yang langsung keluar untuk menghubungi dokter. Kamila berusaha menenangkan Genelia. Tapi wanita paruh baya itu juga sampai berkali-kali karena Genelia yang terus mendorongnya.
Kamila mengepalkan tangannya kuat. Satu-satunya orang yang saat ini dia pikir bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada putrinya itu adalah Diandra.
Rahangnya mengeras dan matanya yang sudah berderaian dengan air mata itu, menatap sedih bercampur dendam ke arah Genelia.
'Diandra, aku akan menghabisimu!' pekiknya dalam hati.
Saat ini Kamila menyalahkan seseorang yang sebenarnya bukan satu-satunya penyebab anaknya depresi. Justru, penyebab utamanya sebenarnya adalah dirinya sendiri. Dia yang terlalu mengekang Genelia, menjadikannya seorang wanita yang bahkan tidak bisa melakukan apa yang dia sukai, demi menjadi calon istri seorang pria yang terpandang seperti Raezwell Dave Mahendra. Karena sudah yakin dengan segala upayanya itu, Genelia bahkan merasa sangat patah dan hancur, ketika semua keyakinannya tak sesuai dengan kenyataan.
***
Bersambung...
Oleh dunia yang fana sebagai tempat ujian bagi kita
Dunia sementara akhirat selama lamanya
Orang kaya mati
Orang miskin mati
Raja raja mati
Rakyat biasa mati
Semua pergi menghapap Illahi
Dunia yang dicari
Tak ada yang berarti.. 🎶🎤
Genelia mati..
Kamila mati..
Romi gila..
Diandra bahagia..
Terimakasih Kak Noer untuk updatenya.. ❤❤❤❤❤
cepat sekali sudah tamat...
aku kira masih ada cerita selanjutnya...
GK taunya udah endingnya 😭😭😭