NovelToon NovelToon
Dendam Maharani

Dendam Maharani

Status: tamat
Genre:Horor / Iblis / Dendam Kesumat / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.

cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.

maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.

maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.

akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ritual yang menakutkan

Pak Herman dan bu Ratih terus berjalan kedalam hutan.

Meski keduanya lelah, namun tujuan mereka jauh lebih utama.

Tubuh yang tak lagi muda dipaksa tangguh.

Ini semua demi putra kesayangan mereka.

Walaupun Andre telah dinyatakan bersalah namun sebagai orangtua, pak Herman dan bu Ratih tetap mengasihinya dan berupaya menyelamatkannya dari dendam Maharani.

Biarlah Andre diadili hukum dunia tapi setidaknya mereka masih bisa melihatnya daripada pergi dengan cara yang cukup sadis yakni jadi persembahan untuk iblis.

Tidak!

Bu Ratih tak bisa membayangkannya.

"Pak... Ibu capek... Kita istirahat dulu" ujar bu Ratih yang membungkuk memegang kedua lututnya.

Nafasnya terengah.

Biasa naik mobil mewah kemana-mana kini dia dipaksa untuk berjalan kaki menapaki setiap jengkal hutan lebat dengan akar yang mencuat diatas tanah.

Pak Herman menepuk punggung istrinya pelan.

"Kita harus cepat sampai... Bapak juga tidak mungkin ninggalin ibu disini.. Terlalu beresiko " tutur pak Herman.

Malam sudah tiba.

Suara-suara hewan malam kini mendominasi seluruh hutan.

"Pak.. Lihat, disana ada cahaya" tunjuk bu Ratih yang diikuti oleh pak Herman.

"Jangan-jangan, ini tempatnya " gumam bu Ratih.

"Ayo kita kesana bu... Apa ibu masih sanggup?"

"Masih.. Ayo...!"

Kedua suami istri itu kembali melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.

Dan benar saja, dalam jarak dekat terdengar suara riuh seperti pasar.

Ada juga suara-suara gamelan yang dipukul berirama lengkap dengan nyanyian dari sinden.

Bu Ratih merapatkan diri pada suaminya.

"Jangan lirik kemana-mana bu.. Jangan terpengaruh oleh apapun yang nanti kita temui" bisik pak Herman.

Keduanya sampai disebuah tempat dimana terdapat seperti pemujaan.

Obor mengelilingi tempat tersebut.

Dan tepat ditengah-tengah, ada meja panjang sebagai tempat pemujaan.

Aroma menyengat amis darah mendominasi.

"Andree....!" teriak bu Ratih hingga membuat semuanya menoleh kesumber suara.

Maharani yang tadi sedang duduk bersimpuh menghadap tempayan yang berisi kemenyan dan alat pemujaan sontak membuka kedua matanya.

Senyumnya tipis tapi cukup mengerikan.

"Rupanya ada yang bersuka rela datang untuk menyerahkan diri" sinisnya.

Bu Ratih menarik ujung kemeja suaminya.

Binar matanya memancar ketakutan.

"Ibu.. Ayaah..." cicit Andre menangis menoleh kepada kedua orangtuanya.

Rindu menyergap hatinya.

"Andre... Kami datang nak..." isak bu Ratih.

"Waahh... sebuah reuni yang cukup menarik... Apa kita korbankan saja mereka mbah, biar mereka semua berkumpul jadi budak kita..." ujar Maharani menoleh pada mbah Djani.

"Baiklah... " tutur mbah Djani setuju.

Pak Herman menggenggam erat kepala tongkatnya.

Dia tahu wanita tua itu.

"Apa kabar Herman...? Kau masih ingat aku kan?" sapa mbah Djani seperti menyapa kawan lama.

Pak Herman bergeming.

Mbah Djani terkekeh pelan seolah menikmati ketakutan dimata pria tua itu.

"Kau kaget ya aku masih hidup...?"

"Apa kau masih ingat peristiwa berpuluh tahun lalu Herman?" mbah Djani berdiri dihadapan kedua pasutri itu.

Matanya cukup tenang bagi seseorang yang memiliki dendam.

"Karena ulah kalian aku kehilangan suamiku... Dan kalian juga membakar gubukku... Hanya karena aku membantu seorang perempuan hamil dan bayinya meninggal sewaktu dilahirkan... Padahal kalian tahu itu bukan kesalahanku... Aku sudah memaksa kalian untuk membawanya ke rumah sakit di kota karena pendarahannya cukup hebat... "

Mbah Djani diam sejenak.

Matanya memperhatikan setiap ekspresi pak Herman.

"Tapi kau dan keluargamu justru bersikeras ingin dia melahirkan secara normal dan perempuan itu beserta bayinya jadi tak tertolong... Lalu dengan fitnah kejam kau beserta keluarga mu menuduhku yang membunuhnya karena ilmu hitam...!"

"Mbah... Aku minta maaf..." cicit pak Herman bersimpuh dihadapan mbah Djani.

Mbah Djani berdecih.

"MINTA MAAF?"

Pak Herman menggangguk cepat.

"SETELAH SEMUA YANG AKU LALUI?"

"ENAK SEKALI KALIAN PARA MANUSIA DURJANA!"

"Pak... Kenapa? Ada apa sebenarnya?" tanya bu Ratih menuntut penjelasan.

"HOI RATIH...! SUAMIMU INI BUKAN LAKI-LAKI BAIK! DIA SEWAKTU MUDA TELAH MENGH*M*LI SEORANG GADIS PUTRI DARI TUKANG KEBUN ORANGTUANYA... DAN SAAT KEHAMILAN ITU SEMAKIN BESAR, DIA MENYEMBUNYIKAN DIGUDANG DIBELAKANG RUMAHNYA... MEREKA TIDAK INGIN AIB INI MENYEBAR MAKANYA DIA DAN KELUARGANYA MEMFITNAH KU YANG TELAH MEMBUN*H PEREMPUAN ITU BESERTA JANINNYA!"

Maharani mendengus.

"Ternyata sifat ayah dan anak sama saja!"desisnya menatap nyalang kearah Andre yang nampak syok akan cerita yang baru saja didengarnya.

" Bu..." panggil pak Herman pada istrinya yang hanya diam.

"JANGAN SENTUH AKU MAS!"

Bu Ratih menepis tangan suaminya.

Kesedihannya kini terasa berkali-kali lipat didadanya.

Sebuah plot twist yang tak pernah dia duga baru saja didengar dan ini jauh lebih menyakitkan dibanding hal lain.

Suami yang dia puja selama ini rupanya tak lebih daripada seorang pengecut dan pendosa.

"Kini saatnya kau harus menerima karmamu Herman!!"

Mbah Djani tanpa aba-aba langsung menekan leher pak Herman dan kuku-kukunya yang tajam mencabik-cabik seluruh tubuh pak Herman.

"Pakkk...."

"Ayaaahhhhhh.."

Bu Ratih menjerit bersamaan dengan Andre juga melakukan hal yang sama.

Mbah Djani mengeluarkan jantung pak Herman dan memakannya sendiri.

D*rah berlumuran dibibirnya.

Bu Ratih dan Andre meringis karena menyaksikan hal yang mengerikan terjadi tepat didepan mata mereka sendiri.

"Mas Herman..." tangis bu Ratih tergugu.

Sedih dan takut bercampur dalam dirinya.

Apalagi melihat tatapan mbah Djani yang mengerikan .

Bu Ratih beringsut mundur.

Tangannya gemetar tapi tubuhnya terasa kaku.

Airmata ketakutan mengalir deras dipipinya.

"Jangan bunuh aku... Ampuni aku...." cicitnya.

Mbah Djani mengeram seperti hewan buas yang haus d*rah.

Tak mengindahkan permohonan dari bu Ratih.

Tepat sesaat bu Ratih akan jadi korban berikutnya, tiba-tiba saja tubuh mbah Djani mental kebelakang.

Mbah Djani memegangi dadanya yang terasa sakit.

Setitik darah mengalir di sudut bibirnya.

*Sialan!!" rutuknya.

"HENTIKAN DJANI!!" teriak eyang Darsih.

"Maharani" lirih pak Rahman dan bu Sukma.

Maharani hanya menatap dingin orang-orang yang dulu pernah ada dalam hidupnya.

"Rani putri ibu..." bu Sukma berjalan mendekat pada Maharani yang tetap tegak berdiri diposisinya semula.

"Kamu kemana saja nak? Ibu merindukanmu... Ibu tahu semuanya... Ibu tahu apa yang kamu alami nak... Ayo pulang Maharani... Kami merindukanmu" isak bu Sukma.

"DIAM KAU SUKMA!" bentak Maharani.

Langkah bu Sukma terhenti seolah kembali diingatkan jika putri mereka telah berubah.

"SATU LANGKAH LAGI KAU MENDEKAT, MAKA KAU JUGA AKAN BERAKHIR SAMA SEPERTI MEREKA!"

"MAHARANI SUDAH MATI... AKU BUKAN PUTRI KALIAN!!"

"Kamu tetap putri kami... Kamu putri kecil kami yang selalu kami sayangi... Lawan iblis dalam jiwamu nak... Kembalilah..." bu Sukma tak menyerah.

Dia masih berusaha menyadarkan Maharani.

"Cah ayu... Gadis manis putri ibu... Putri kecil ibu yang selalu jadi kebanggaan kami...." senandung bu Sukma.

"Aaaaaa...."

Maharani berteriak histeris.

Sesuatu dalam dirinya mencoba untuk keluar.

"HENTIKAN..!!! AKU BILANG BERHENTI!!!" teriaknya semakin kencang.

Ujang dan Hasan yang baru saja tiba merasa ketakutan terlebih melihat jasad pak Herman yang tergeletak dengan kondisi yang mengenaskan.

Hasan bahkan mual seketika.

Bu Sukma terus bersenandung, mengulang kata-kata itu.

"AKU BILANG HENTIKAN....!!! KU BUNUH KAU SUKMA!!"

"Kau yang berhenti wahai iblis... Kembalikan jiwa putriku yang kau tahan...! Ini bukan duniamu!" teriak bu Sukma yang bahkan tak gentar.

"Aaaaaaaa..."

"KALIAN SEMUA HARUS MATI!! AKU TIDAK AKAN MELEPASKAN JIWA MAHARANI...! DIA AKAN TERUS MENJADI PENGIKUTKU...!"

Sosok hitam legam muncul dibalik tubuh Maharani yang kini terkulai lemah ditanah.

Bersambung.....

1
Wawan
Hadir
Astuti Puspitasari
Mbahe iku jahat apa ngga ya kok makan janin /Grimace/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!