“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
Tetap jadi musuh di kantor.
Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
Dilarang jatuh cinta!
Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Kecil Jingga
Minggu ini terasa seperti maraton tanpa garis finis bagi Sinta. Sebagai staf senior di divisi kredit, ia terjepit di antara dua tekanan besar: target akhir bulan yang mencekik dan intensitas Adrian yang semakin tidak masuk akal. Adrian, yang mulai mencium adanya jarak emosional dari Sinta, justru membalasnya dengan memberikan tumpukan pekerjaan tambahan—seolah dengan membuat Sinta sibuk, ia bisa memastikan wanita itu tetap berada dalam jangkauan radarnya.
Pukul delapan malam, Sinta baru saja melangkah keluar dari lobi kantor. Tubuhnya terasa remuk, dan kepalanya berdenyut karena terlalu lama menatap angka-angka di layar monitor. Angin malam Jakarta yang lembap menyambutnya, namun ia terlalu lelah bahkan untuk sekadar memesan taksi daring.
Sesampainya di depan pintu apartemen 12-B, Sinta menarik napas panjang sebelum menempelkan kartu aksesnya. Ia hanya ingin melempar tas, mandi air panas, dan tenggelam dalam tidur yang tanpa mimpi.
Klik.
Pintu terbuka, dan aroma yang sangat familiar menyambut indra penciumannya. Bukan aroma pembersih lantai atau parfum ruangan kimiawi, melainkan aroma jahe dan serai yang direbus, bercampur dengan uap hangat yang samar.
"Baru pulang?" suara rendah Jingga terdengar dari arah dapur.
Sinta mengerjap, matanya yang lelah mencoba fokus. Di sana, Jingga berdiri masih dengan kemeja kantor yang lengannya sudah digulung hingga siku, sedang menuangkan cairan berwarna keemasan dari panci kecil ke dalam sebuah cangkir keramik.
"Iya. Lemburan dari Mas Adrian nggak ada abisnya," keluh Sinta sambil melepaskan sepatu hak tingginya dengan gerakan lunglai. Ia berjalan menuju sofa dan menjatuhkan diri di sana tanpa tenaga.
Jingga berjalan mendekat, membawa cangkir itu. Tanpa sepatah kata pun, ia meletakkannya di meja kopi tepat di depan Sinta. "Minum itu. Teh jahe merah pake madu. Bagus buat kepala lu yang kayaknya mau meledak."
Sinta menatap cangkir itu, lalu menatap Jingga dengan bingung. "Lu... sengaja bikin buat gue?"
Jingga berdehem, tangannya sibuk merapikan tumpukan majalah di meja agar tidak terlihat canggung. "Gue tadi kebetulan lagi bikin buat gue sendiri. Porsinya kebanyakan, jadi daripada dibuang, ya buat lu aja."
Sinta tersenyum tipis. Ia sudah mulai paham bahasa "kebetulan" ala Jingga. Pria ini tidak akan pernah mengaku jika ia sengaja menunggu kepulangan Sinta hanya untuk memastikan wanita itu mendapatkan asupan hangat. Sinta menyesap teh itu perlahan. Rasa hangat yang pedas dan manis mengalir di tenggorokannya, perlahan meredakan ketegangan di bahunya.
"Makasih, Jingga. Pas banget rasanya," bisik Sinta.
"Jangan langsung tidur habis ini. Mandi air hangat dulu, biar otot lu nggak kaku besok pagi," ucap Jingga sambil berbalik menuju dapur.
Sejak insiden piring pecah, "sentuhan" perhatian Jingga mulai menjadi bagian dari rutinitas harian mereka. Awalnya terasa aneh, namun perlahan Sinta mulai terbiasa, bahkan—meski ia malu mengakuinya—mulai menantikannya.
Keesokan paginya, Sinta bangun dengan perasaan yang jauh lebih segar. Saat ia keluar dari kamar, ia mendapati tas kerjanya yang kemarin ia lempar sembarangan di sofa, kini sudah tertata rapi di atas meja dekat pintu. Bahkan, botol minumnya yang biasanya ia lupa isi, sudah terisi penuh dengan air mineral dingin dan irisan lemon di dalamnya.
Sinta menatap botol itu dengan perasaan hangat yang meluap. Infused water? Sejak kapan auditor kaku seperti Jingga tahu soal tren kesehatan seperti ini?
"Itu biar lu nggak dehidrasi pas adu mulut sama nasabah," suara Jingga muncul dari arah balkon, tempat ia sedang memanaskan mesin motornya. Suara deru mesin motor itu kini tidak lagi terdengar berisik di telinga Sinta, melainkan seperti musik latar yang menandakan bahwa dunianya sedang baik-baik saja.
Di kantor, Sinta mencoba menjaga jarak profesional seperti biasa. Namun, perhatian-perhatian kecil Jingga ternyata tidak berhenti di rumah.
Saat jam makan siang, Sinta mendapati sebuah kantong plastik kecil di atas mejanya yang diletakkan secara anonim saat ia sedang rapat. Di dalamnya ada satu pak cokelat hitam dengan persentase kakao tinggi dan sebuah vitamin C strip. Tidak ada catatan, tapi Sinta tahu persis siapa pelakunya dari cara cokelat itu dibungkus dengan rapi—sangat khas gaya auditor yang perfeksionis.
Sinta melirik ke arah kubikel audit yang jauh di seberang. Ia melihat Jingga sedang serius berbicara di telepon, namun sejenak pria itu melirik ke arahnya dan memberikan anggukan yang sangat tipis sebelum kembali fokus pada pembicaraannya.
Sinta memakan satu kotak cokelat itu, merasakan energi instan kembali ke tubuhnya. Ia menyadari bahwa perhatian Jingga adalah jenis perhatian yang "tidak menuntut". Berbeda dengan Adrian yang setiap jam mengirim pesan 'Sudah makan?' atau 'Sedang apa?' yang menuntut jawaban cepat, Jingga hanya memberikan apa yang dibutuhkan Sinta tanpa perlu dipuji atau dibalas secara verbal.
Perhatian itu kembali berlanjut di malam berikutnya. Sinta pulang membawa tumpukan dokumen fisik yang harus diperiksa secara manual. Saat ia sedang sibuk di meja makan, lampu gantung yang biasanya sedikit redup mendadak menjadi lebih terang.
Jingga berdiri di sana, baru saja mengganti bohlam lampu yang lebih terang. "Jangan ngerusak mata lu pake lampu kuning redup itu. Lu butuh white light kalau mau baca angka sekecil itu."
"Eh... makasih. Lu kok tahu bohlamnya cadangannya ada di mana?" tanya Sinta.
"Gue yang beli cadangannya bulan lalu. Lu kan cuma tahu cara pake, bukan cara ngerawat," sindir Jingga sambil membawa tangga lipatnya kembali ke gudang.
Sinta tertawa kecil. Ia mulai merasa bahwa hidup bersama Jingga adalah tentang menemukan "kejutan" dalam hal-hal yang paling biasa. Jingga tidak membawakannya berlian atau mengajaknya makan malam mewah, tapi ia memastikan jalan yang dilewati Sinta tidak gelap, memastikan tenggorokannya tidak kering, dan memastikan hatinya tidak merasa sendirian.
Puncaknya adalah di hari Jumat, saat hujan deras kembali mengguyur Jakarta tepat di jam pulang kantor. Sinta terjebak di lobi, menatap barisan mobil yang terjebak macet total. Ia sudah sangat lelah dan ingin segera sampai rumah.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar.
J: "Gue ada di basement B-2, di belakang pilar nomor 45. Gue dapet akses keluar lewat pintu samping yang nggak macet. Buruan turun kalau mau pulang cepet."
Sinta segera berlari menuju lift. Begitu sampai di mobil, ia disambut oleh suhu kabin yang sudah diatur hangat dan daftar putar lagu Lo-fi yang menenangkan.
"Kok lu bisa dapet jalan tikus?" tanya Sinta sambil memasang sabuk pengaman.
"Auditor itu kerjanya memetakan jalur, Sinta. Bukan cuma jalur uang, tapi jalur pelarian dari kemacetan juga," jawab Jingga datar, namun ada nada bangga dalam suaranya.
Dalam perjalanan pulang yang basah itu, mereka banyak diam, namun bukan diam yang menyesakkan. Sinta menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, memperhatikan profil samping wajah Jingga yang fokus menyetir. Ia merasa sangat aman.
"Jingga," panggil Sinta pelan.
"Hmm?"
"Makasih buat minggu ini. Teh jahenya, vitaminnya, lampu barunya... semuanya. Lu nggak perlu ngelakuin itu sebenernya."
Jingga terdiam sejenak, lampu merah di depan menyinari wajahnya. "Gue cuma ngelakuin apa yang logis dilakukan oleh orang yang tinggal satu atap. Biar hidup kita lebih efisien aja."
Sinta tersenyum, kali ini ia tidak membalas sindirannya. Ia tahu itu adalah cara Jingga melindungi egonya. Namun, ia juga tahu bahwa tidak ada "efisiensi" yang mengharuskan seseorang mencari pasar antik untuk piring pecah atau menyeduh jahe merah di tengah malam. Itu adalah kepedulian yang tulus.
Sinta mulai terbiasa dengan "sentuhan" emosional ini. Ia mulai merasa bahwa ikatan mereka bukan lagi soal kontrak yang dipaksakan oleh orang tua, melainkan sebuah kemitraan yang didasari oleh perhatian-perhatian kecil yang tulus. Ia mulai merasa bahwa Jingga adalah satu-satunya orang yang benar-benar "melihatnya"—bukan sebagai aset bank, bukan sebagai pacar pajangan, tapi sebagai manusia yang bisa lelah dan butuh dukungan.
Namun, di balik kenyamanan itu, Sinta juga menyadari satu hal yang menakutkan: semakin ia terbiasa dengan perhatian Jingga, semakin sulit baginya untuk melepaskan pria ini saat kontrak mereka berakhir nanti. Dan setiap kali ia melihat Adrian di kantor, rasa bersalahnya semakin bertumpuk, seolah ia sedang menjalani pengkhianatan yang paling manis.
"Kita sudah sampai," ucap Jingga, memecah lamunan Sinta.
Mereka turun dari mobil dan berjalan beriringan menuju lift. Saat di dalam lift yang sunyi, tangan mereka sempat bersentuhan sebentar. Jingga tidak menarik tangannya, dan Sinta pun tidak. Mereka membiarkan ujung jari mereka bersentuhan selama beberapa detik, sebuah pengakuan bisu bahwa ada sesuatu yang telah berubah di antara mereka.
Malam itu, sebelum tidur, Sinta mendapati sebuah lilin aromaterapi aroma lavender sudah diletakkan di atas meja nakasnya. Ada catatan kecil di bawahnya: "Biar mimpi lu nggak soal draf kredit terus."
Sinta menghirup aroma lavender itu dan tersenyum lebar. Ia menyadari bahwa menjadi barista pribadi Jingga setiap pagi adalah harga yang sangat murah dibandingkan dengan semua perhatian "tak logis" yang diberikan pria itu untuknya.
Dunia mungkin masih penuh dengan rumor dan sandiwara, tapi di balik pintu apartemen 12-B, Sinta telah menemukan rumah yang sesungguhnya dalam bentuk perhatian-perhatian kecil dari seorang pria yang ia panggil suami.