NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:853
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

‎Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.

Tapi dunia berkata lain.

‎Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.

‎Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.

‎Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.

‎Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Pulang ke Indonesia

Setelah menyelesaikan segala urusan di agency, akhirnya surat izin yang Nala ajukan untuk pulang ke Indonesia di-ACC oleh LYNX Entertainment, dengan aturan bahwa Nala hanya boleh cuti selama tujuh hari.

Nala tentu saja tidak keberatan—lebih baik tujuh hari daripada tidak sama sekali. Hari itu, ia sudah tidak masuk kerja karena tengah bersiap-siap untuk pulang; esok pagi pesawatnya akan lepas landas, jadi malam ini sepenuhnya ia gunakan untuk menyiapkan diri.

Udara malam itu lembut menelusup dari jendela apartemen yang setengah terbuka. Tirai putih tipis bergoyang perlahan, menyinggung pot-pot kecil di ambang jendela—yang dua hari lalu dibelikan Junho, "untuk memberi sedikit warna di antara kesibukan yang abu-abu," katanya waktu itu.

Nala baru saja menutup koper keduanya, memastikan semua sudah rapi dan tertata. Di meja, paspornya tergeletak di samping tiket penerbangan—tanda bahwa esok pagi ia akan benar-benar terbang meninggalkan Seoul, setidaknya untuk sementara waktu.

Senyum kecil muncul di bibirnya. Ada rasa lega bisa pulang, melihat kembali tanah air dan tentunya bertemu orang tuanya, meski hanya selama seminggu. Tapi di sisi lain, ada sesak yang perlahan merayap setiap kali pikirannya melayang pada seseorang yang kini begitu sulit ia lepaskan.

Bel apartemen berbunyi lembut. Sekali. Dua kali. Lalu tiga kali—dengan jeda yang khas. Hanya satu orang yang selalu menekan bel seperti itu.

Nala tersenyum samar sebelum melangkah ke pintu. Tanpa perlu menebak, ia sudah tahu siapa yang berdiri di seberang sana.

Begitu pintu terbuka, Junho muncul—hoodie hitam menutupi kepalanya, masker menutupi wajahnya. Namun kali ini, matanya tampak berbeda; redup, menyimpan sesuatu yang berat.

Sejak resmi menjalin hubungan, Junho memang sering datang ke apartemennya—entah hanya untuk makan bersama, membawakan beberapa buku, atau sekadar mengobrol santai.

Tapi malam ini ada sesuatu yang membuat Nala merasakan ketegangan halus di udara, sesuatu yang seakan berkata bahwa malam ini bukan seperti biasanya.

“Chagiya,” ucapnya lirih begitu pintu tertutup di belakang mereka.

Ia menurunkan maskernya, memperlihatkan wajah yang sedikit letih tapi tetap menawan dalam balutan cahaya temaram ruang tamu.

“Oppa, kamu datang juga, padahal aku pikir kamu akan sibuk latihan malam ini. Sebentar lagi proyek nya rampung bukan,” ucap Nala tersenyum, mencoba terdengar biasa.

Junho hanya diam sebentar. Ia menatap sekeliling apartemen—setiap sudut yang selama beberapa minggu terakhir menjadi tempat pelarian sunyinya. Lalu pandangannya kembali pada Nala.

“Bagaimana aku bisa latihan kalau tahu kamu akan pergi besok pagi?” suaranya serak, setengah berbisik, tapi cukup untuk membuat dada Nala menghangat.

Ia membawa sebuah paper bag besar dan meletakkannya di meja makan.

“Aku bawa sesuatu," kata nya pelan, Nala tersenyum kecil lalu melirik nya sekilas.

"Apa itu?" Tanya nya yang membuat Junho menatap nya lama.

"Sedikit oleh-oleh sebelum kamu pergi. Jangan lupakan aku,” ujar nya yang membuat Nala menatap penasaran.

Dari dalam paper bag itu, Junho mengeluarkan sebuah hoodie oversized berwarna abu muda dan topi rajut putih.

“Supaya kamu tidak lupa padaku aku di sana, kalau kamu pakai ini, anggap saja aku yang sedang melindungimu,” ujarnya.

Senyum tipisnya menggantung di bibir. Nala terkekeh lembut lalu mengambil hodie tersebut.

“Oppa, aku hanya seminggu. Nanti juga kembali lagi,” ujarnya sambil menatap Junho yang kini berjalan mendekat, jaraknya hanya sehelai napas dari wajahnya.

“Tapi tujuh hari itu lama, chagiya,” bisik Junho, nadanya nyaris seperti keluhan manja.

Ia menunduk sedikit, menatap Nala dalam diam. Ada sesuatu di matanya—campuran rindu, takut, dan cinta yang terlalu dalam untuk disembunyikan. Tangan Junho terangkat perlahan, menyelipkan helaian rambut di belakang telinga Nala sebelum jarinya berhenti di pipi gadis itu.

“Kalau kamu tidak kembali… aku harus apa?” ia berhenti sebentar, senyumnya pudar. "Aku tidak tahu di mana kamu, di sana," lanjut nya yang membuat Nala hanya bisa menatapnya.

Ia tahu Junho tidak sedang berlebihan. Dunia tempat Junho hidup bukanlah dunia yang mudah. Satu langkah kecil yang salah bisa jadi bencana. Dan kini, ia—seorang penulis biasa—menjadi satu-satunya tempat di mana Junho bisa jadi dirinya sendiri.

“Oppa…” Nala memanggilnya lembut tangan Nala terangkat menyentuh pipi pria itu. “Aku janji akan kembali. Aku hanya pulang sebentar, untuk urusan pekerjaan dan melihat keluarga ku. Kamu tahu aku tidak mungkin meninggalkan kamu,” ujar nya yang membuat Junho menarik napas panjang, seolah mencoba mempercayai kata-kata itu.

Namun bukannya menjawab, ia justru melangkah lebih dekat, hingga jarak di antara mereka benar-benar menghilang. Tanpa berkata apa-apa, ia menarik Nala ke dalam pelukannya.

Pelukan itu hangat. Bukan pelukan yang mendesak, tapi pelukan yang seolah ingin menahan waktu agar berhenti. Nala sempat tersentak—tidak siap dengan keintiman mendadak itu—namun tubuhnya tak mampu menolak.

Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam dekap Junho, mendengar detak jantungnya yang berat tapi lembut di telinganya.

“Oppa… aku tidak kemana-mana, aku hanya pulang sebentar, aku janji akan kembali,” bisiknya lirih.

Junho memejamkan mata, mengeratkan pelukannya sedikit.

“Aku tahu, tapi biarkan aku memelukmu sedikit lebih lama. Biar aku percaya kamu benar-benar akan kembali,” ujar nya lirih.

Hening kembali mengisi ruangan. Di luar, hujan rintik mulai turun, mengetuk jendela dalam ritme lambat yang nyaris puitis. Nala membalas pelukannya, menempelkan pipinya di dada Junho.

Keheningan itu bertahan cukup lama dan taada ucapan apapun hanya diisi keheningan dan deru nafas hangat kedua nya beberapa kemudian, Junho melepaskan pelukannya perlahan, menatap wajah Nala yang kini sedikit memerah karena hangat tubuhnya.

Ia tersenyum kecil, lalu mengusap lembut ujung hidung gadis itu.

“Kalau kamu tidak bisa tidur nanti malam, pakai hoodie itu ya. Supaya kamu merasa seperti aku sedang ada di sana,” ujar nya yang membuat Nala terkekeh kecil, menatapnya dengan mata yang lembut.

“Dan kamu, Oppa, jangan latihan berlebihan. Aku mau lihat kamu sehat saat aku kembali nanti,” ujar nya yang membuat Junho mengangguk pelan.

“Asal kamu kembali, aku janji.” Junho tersenyum lembut, tangan nya mengacak rambut Nala seperti kebiasaan yang baru dia mulai akhir-akhir ini.

Malam itu mereka menghabiskan waktu di ruang tamu apartemen itu—menonton film setengah jalan, tertawa pelan, berbicara tentang hal-hal sederhana seperti makanan Indonesia yang ingin Nala makan saat pulang, dan tentang bagaimana Junho ingin suatu hari mengunjungi tempat itu bersamanya.

Dan ketika jam menunjukkan pukul satu dini hari, Nala baru menyadari bahwa ia tidak ingin malam itu berakhir. Tapi setiap pertemuan selalu punya ujung, sama seperti setiap perjalanan selalu punya arah pulang.

"Oppa, sudah larut..." Ujar Nala sembari menguap, Junho mengangguk dia bahkan tidak sadar waktu berlalu secepat itu.

"Eumm... Aku pulang, hari ini menyenangkan aku harap hari-hari seperti ini selalu menyertai hidup ku," ujar nya yang membuat Nala terkekeh mata nya sudah berat.

Junho menatapnya sekali lagi kini lebih lama, sebelum akhirnya berkata dengan suara serak.

"Ayo tidur..." Ujar nya tanpa ragu.

Dia menggendong Nala seperti bayi, kaki panjang nya melangkah santai ke kamar milik Nala, sementara Nala hanya diam saja jelas sudah benar-benar mengantuk.

Saat sampai di kamar, Junho menurunkan Nala dengan lembut lalu menyelimuti nya, sebelum benar-benar pergi dia mencium kening Nala cukup lama seolah hal itu sebagai tanda perpisahan nya malam itu.

“Jaga dirimu, chagiya. Jangan buat aku menunggu terlalu lama,” ujar nya yang membuat Nala tersenyum, lembut tapi menenangkan.

“Aku akan pulang padamu, Oppa, selalu. Sudahlah pulang sana, hati hati di jalan, aku mencintaimu,” ujar Nala tulus.

Junho mengangguk sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamar tersebut, tak lupa mematikan lampu kamar dan menutup pintu.

Malam itu langkahnya tidak ringan. Ada kekhawatiran yang merayap di hati Junho, ketakutan yang tak bisa ia sembunyikan—takut jika wanita yang berhasil menembus pertahanan hatinya itu akan hilang dan tak kembali.

Pikirannya sejenak melayang pada masa lalu, saat ia pernah jatuh cinta pada seorang wanita, namun wanita itu pergi meninggalkannya tanpa jejak, meninggalkan luka yang tak mudah sembuh.

Namun, kehadiran Nala berbeda. Kehadiran wanita itu memberi ketenangan yang aneh sekaligus menegangkan; seolah dunia kembali masuk akal.

Junho merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sejak lama: seseorang yang benar-benar bisa melihatnya sebagai manusia biasa, lengkap dengan segala kekurangan dan kerentanannya, bukan hanya sosok idola yang tampak sempurna di mata publik.

Dalam hati kecilnya, ia bersyukur—bahwa di tengah sorotan lampu dan gemuruh sorak penggemar, masih ada Nala yang menatapnya dengan hangat, tanpa pamrih, tanpa penilaian.

☾ ── ❖ ── ☾

Pagi itu Seoul terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis menggantung rendah di antara gedung-gedung tinggi, membuat langit tampak redup meski matahari sudah terbit.

Di luar jendela apartemennya, jalanan mulai ramai dengan orang-orang yang bergegas menuju pekerjaan masing-masing. Tapi di ruang kecil itu, waktu seakan berjalan lebih lambat—menahan detik-detik terakhir sebelum kepergian.

Nala berdiri di depan cermin, mengenakan sweater lembut berwarna krem dan jaket panjang yang menutupi sebagian tubuhnya. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya nyaris tanpa riasan.

Di lehernya, tergantung kalung yang diberikan Junho—kecil, sederhana, tapi seolah menjadi jangkar yang menahannya agar tidak terlalu jauh hanyut dari kenangan semalam.

Koper besar sudah siap di dekat pintu. Paspor dan boarding pass terselip rapi di dompetnya. Ia menarik napas panjang, menatap sekeliling apartemen—ruang yang selama tujuh bulan menjadi rumah keduanya.

Di sudut meja masih ada hoodie abu-abu yang diberikan Junho tadi malam. Nala menatapnya lama, sebelum akhirnya melangkah mendekat, melipatnya perlahan, dan menyelipkannya ke dalam tas tangan.

“Untuk jaga-jaga,” gumamnya pelan, hampir seperti doa kecil agar jarak tidak terlalu terasa menyakitkan.

Perjalanan menuju bandara dilakukan dengan taksi. Jalanan pagi itu lengang, hanya sesekali suara klakson memecah kesunyian.

Nala menatap keluar jendela sepanjang jalan—melihat deretan pohon ginkgo yang mulai menguning di tepi trotoar, toko-toko kecil yang mulai buka, dan papan reklame besar menampilkan wajah-wajah idol yang tersenyum ramah. Salah satunya, wajah Junho dalam iklan parfum mewah.

Hatinya terasa mengerut seketika. Dunia Junho memang luas dan penuh cahaya, sedangkan dirinya hanyalah seseorang yang hidup di balik layar, di balik cerita. Tapi entah kenapa, dalam keheningan itu, ia merasa bahwa mereka sama-sama sedang berjuang di jalan yang berbeda—untuk saling percaya, untuk tetap bertahan.

Begitu tiba di Incheon, Nala menarik kopernya dengan hati-hati. Bandara itu begitu besar dan megah, tapi entah kenapa terasa asing hari itu. Ia menatap papan keberangkatan digital yang menampilkan jadwal penerbangan:

Masih ada waktu satu jam sebelum boarding. Ia mencari tempat duduk di dekat jendela, menatap pesawat-pesawat yang bergantian lepas landas.

Dari speaker bandara, suara pengumuman bergema dalam tiga bahasa, tapi suaranya terdengar seperti dengung jauh bagi Nala. Ia membuka ponsel, menatap pesan terakhir yang ia kirim tadi pagi:

“Aku sudah di taksi, Oppa. Jangan khawatir ya. Aku kabarin begitu sampai nanti.”

Dan di bawah pesan itu, balasan Junho datang beberapa menit kemudian:

“Chagiya, hati-hati di jalan. Jangan lupa makan di pesawat, ya. Aku sudah hitung hari sampai kamu kembali. Saranghae.”

Senyum kecil muncul di bibirnya, diiringi rasa getir yang sulit dijelaskan. Ia membaca pesan itu berulang kali, seolah mencoba menanamkan suara Junho dalam pikirannya agar tidak pudar selama tujuh hari ke depan.

Suara pengumuman memanggil penerbangan ke Jakarta. Nala berdiri, menarik kopernya pelan. Setiap langkah menuju gerbang keberangkatan terasa berat, seperti menapaki jarak antara dua dunia.

Di pos pemeriksaan imigrasi, petugas menyambutnya dengan senyum sopan sambil memeriksa paspor.

“Tujuan ke Indonesia untuk apa, Ms. Nala?” tanya nya sembari tersenyum lembut.

“Liburan sebentar, saya bekerja di LYNX Entertainment,” ujar nya.

Petugas itu mengangguk kecil, jarinya mengetik cepat di komputer sebelum mengembalikan paspor itu.

“Baik. Selamat jalan, semoga perjalanan Anda lancar,” ujar nya sedikit menunduk.

Nala hanya mengangguk sembari membalas dengan senyum tipis. Di halaman paspornya, stiker visa E-7 tampak jelas—bukti dari kerja keras yang ia jalani di negeri orang.

Kata selamat jalan dari petugas itu menimbulkan sesuatu yang hangat di dadanya. Entah kenapa, kalimat sederhana itu terdengar seperti janji kecil bahwa suatu hari ia benar-benar akan kembali.

Nala menunduk sopan, lalu melangkah menuju area keberangkatan. Begitu sampai di ruang tunggu, Nala menatap sekali lagi ke luar jendela besar. Langit mulai cerah perlahan.

Pesawat yang akan membawanya ke Indonesia sudah siap di landasan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berbisik pelan,

"Bagaimana ya keadaan di sana sekarang, wahh.. rasanya aku rindu orang tuaku,” ujar Nala dia merenung cukup lama memikirkan banyak waktu nya yang terbuang untuk bekerja.

Dan selama tujuh bulan terakhir dia hanya berkomunikasi dengan keluarga nya lewat layar. Bukan Nala tak ingin minta izin cuti dari dulu tapi dia tidak bisa melakukan itu tanpa alasan yang jelas.

Dan untungnya kali ini alasannya cukup jelas, ternyata benar kata orang bekerja di negeri asing itu sangat berbeda dengan di Indonesia, meskipun gaji jauh dari standar tapi tuntutan nya juga lebih di atas itu.

Di mana mereka menuntut kerja cepat dan kadang tidak mentolerir kesalahan sekecil apapun. Berbeda dengan di Indonesia yang jam kerja lebih fleksibel meskipun dalam hal gaji benar-benar mengkhawatirkan.

Sebelum beranjak, ia meraih hoodie abu-abu dari dalam tas dan memeluknya erat. Wangi khas Junho masih melekat di serat kain itu—halus, menenangkan, dan entah kenapa cukup untuk membuat air mata jatuh tanpa izin.

"Yaampun... Sekarang aku kekasih nya," lirih nya, bukan karena sedih, tapi karena cinta yang terlalu lembut untuk diucapkan.

Dan saat pengumuman boarding terakhir terdengar, Nala akhirnya melangkah masuk ke dalam pesawat, membawa pulang seluruh kenangan tentang malam-malam Seoul dan satu nama yang kini tak lagi bisa ia lepaskan.

Junho kim.

Lelaki yang membuatnya percaya bahwa bahkan di antara ribuan jarak dan batas negara yang ribuan mil jauhnya, hati yang saling menunggu akan selalu menemukan jalan pulang.

1
Ramapratama
ini mah bukan muka dua lagi, tapi cewek ular 😭😭 calon calon plakor kayaknya
Araya
drama banget sih orang' tuanya Junho 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ramapratama
Bau bau romansa nya udah kecium 🤣🤣🤣 tapi salut deh sama arc nya mind-blowing banget, biasanya kalau cerita idol idol gini arc nya paling mentok, ketemu tiba-tiba lalu jatuh cinta atau kalau gak. gak sengaja nabrak terus salah satunya suka, tapi Yan ini ada alasan logis nya. keren banget, semangat ya💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!