NovelToon NovelToon
Menjadi Cantik

Menjadi Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga / Romansa
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.

Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.

Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.

Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.

Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?

Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Capek

Hujan masih turun, meski tidak sederas tadi.

Suara tetesannya kini lebih halus—jatuh di atap, di daun, di pagar luar. Rumah tetap sunyi, hanya diisi oleh suara itu… dan napas kecil dari kucing di pangkuan Hana.

Hana masih duduk di lantai.

Punggungnya bersandar ke sofa, tangannya bergerak pelan mengusap bulu kecil yang kini mulai mengering. Kucing itu terlihat jauh lebih tenang dibanding saat pertama kali masuk.

“Mau tidur beneran ya…” gumam Hana pelan.

“Miew…”

Hana tersenyum tipis. Ia menunduk sedikit, memperhatikan wajah kecil itu. Matanya mulai berat. Tubuhnya meringkuk lebih dalam di atas handuk. Hangat. Setidaknya untuk saat ini.

Hana menarik napas kecil. Dadanya masih belum benar-benar ringan, tapi… tidak seberat tadi. Lalu— klik. Suara kunci pintu depan. Hana langsung menoleh. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Udara dingin dari luar masuk bersamaan dengan suara langkah kaki.

“Ih, hujannya belum berhenti juga…” suara ibu Hana terdengar, sedikit lelah.

Di belakangnya, suara lain menyusul.

“Ya bagus dong, adem,” suara kakak Hana santai.

Hana refleks menegakkan badan sedikit. Kucing di pangkuannya bergerak kecil.

“Miew…”

Langkah kaki mendekat. Lalu— berhenti. Hening satu detik. Dua detik.

“Itu apa?”

Nada suara ibu Hana berubah. Bukan kaget berlebihan. Lebih ke… langsung tidak setuju.

Hana menelan ludah pelan.

"Kucing, Ma,” jawabnya hati-hati.

Ibu Hana menatap ke arah pangkuannya. Alisnya sedikit mengernyit.

“Kucing dari mana?”

“Di depan rumah… kehujanan,” jawab Hana pelan.

“Sendirian.”

Hening. Tatapan ibu Hana turun ke kucing itu lagi. Basah. Kecil. Dan sekarang ada di dalam rumah.

“Kamu bawa masuk?”

Hana mengangguk kecil. “Iya…”

Nada suaranya makin pelan. Kakak Hana yang tadi berdiri di belakang, sekarang melangkah mendekat.

“Mana?” katanya santai, lalu sedikit membungkuk.

“Oh…” ia mengangkat alis. “Kecil banget.”

Kucing itu mengeluarkan suara kecil lagi. “Miew…”

Kakak Hana tersenyum tipis. “Lucu juga.”

Ibu Hana langsung menoleh ke arahnya.

“Lucu bukan berarti boleh dibawa masuk.”

Nada suaranya tegas. Tidak keras. Tapi jelas. Kakak Hana menghela napas kecil.

“Ma… itu kucing doang.”

“Bukan soal ‘doang’-nya,” balas ibu Hana cepat. “Itu kotor. Kamu nggak tahu dia dari mana, sakit apa, ada kutu atau nggak.”

Hana otomatis memeluk kucing itu sedikit lebih dekat. Tangannya bergerak refleks. Seolah melindungi.

“Tadi aku udah keringin,” katanya pelan.

Ibu Hana menatapnya.

“Bukan cuma soal basah, Hana.”

Hana diam. Kakak Hana menyandarkan bahu ke dinding. “Ya tinggal dibersihin lagi nanti,” katanya santai. “Nggak harus langsung diusir juga.”

Ibu Hana menggeleng kecil.

“Kamu terlalu gampang.”

“Apanya yang gampang?” kakaknya menoleh.

“Kasihan,” jawab ibu Hana. “Semua dilihat dari kasihan. Nanti yang repot siapa?”

Hening sebentar. Kakak Hana mengangkat bahu.

“Ya kita bantu lah.”

“Kita?” ulang ibu Hana. Nada suaranya sedikit naik.

“Kamu aja belum tentu pegang,” lanjutnya. “Nanti ujung-ujungnya siapa? Mama lagi.”

Kakak Hana tersenyum miring sedikit.

“Ya kalau gitu jangan semua diambil alih juga, Ma.”

Ibu Hana langsung menatap tajam. “Maksud kamu?”

“Ya… biarin aja sekali-sekali,” jawab kakaknya. “Nggak semua harus langsung ditolak.”

Hana diam. Matanya berpindah dari satu ke yang lain. Tangannya masih di kepala kucing itu. Mengusap pelan. Berulang.

Ibu Hana kembali melihat ke arah Hana.

“Kamu sendiri aja sudah banyak yang harus dipikirin,” katanya. Nada suaranya lebih rendah sekarang. Tapi justru lebih terasa. “Sekolah, tugas… sekarang mau nambah lagi?”

Hana menunduk sedikit. “Aku cuma—”

“Kamu yakin bisa urus?” potong ibu Hana.

Hana terdiam. Kata-katanya berhenti di tenggorokan.

Kakak Hana langsung menyela.

“Ma, dia nggak bilang mau pelihara langsung juga kali.”

“Tapi dia bawa masuk,” balas ibu Hana.

Hening. Kalimat itu jatuh tepat. Hana menelan ludah. Tangannya menguat sedikit.

Kucing itu bergerak kecil. “Miew…”

Suara kecil itu terdengar jelas di tengah diam.

Hana menunduk. Menatapnya.

“Aku cuma nggak tega,” katanya pelan.

Suaranya hampir tidak terdengar. “Tadi dia di luar… dingin… sendirian…” Ia berhenti sebentar. Napasnya tertahan. “…aku pikir… ya udah… masuk dulu aja.”

Hening. Kakak Hana melirik ibunya.

“Ya itu,” katanya pelan. “Masuk dulu aja.”

Ibu Hana tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap ke arah Hana. Lebih lama. Lebih dalam.

“Kamu gampang kebawa perasaan,” katanya akhirnya.

Kalimat itu tidak keras. Tapi— kena. Hana tidak menjawab. Matanya berkaca-kaca.

“Bukan gitu, Ma,” gumamnya pelan.

“Tapi hasilnya sama,” balas ibu Hana. “Kamu selalu bertindak tanpa mikir panjang.”

Hana terdiam. Kata-kata itu seperti… nyambung ke hal lain. Ke sesuatu yang tadi ia baca. Yang tadi ia pikirkan.

“Kenzo bisa dapet yang lebih…”

“Yang ini biasa aja…”

Tangannya sedikit gemetar. Ia menggenggam kucing itu lebih erat. Seolah butuh pegangan. Kakak Hana memperhatikan itu. Alisnya sedikit mengernyit.

“Ma,” katanya lebih serius. “Udah, jangan sekarang.”

Ibu Hana melirik. “Kenapa?”

“Dia capek,” jawab kakaknya singkat.

Hening. Ibu Hana menatap Hana lagi. Beberapa detik. Lalu menghela napas.

“Bukan berarti Mama jahat,” katanya, nada suaranya lebih pelan sekarang. “Mama cuma nggak mau nanti jadi masalah.”

Hana mengangguk kecil. "Iya.”

Jawabannya cepat. Terlalu cepat. Seolah ingin menghentikan percakapan.

Kakak Hana melihat itu. Lalu menoleh ke kucing. “Mau kamu taruh di mana?” tanyanya lebih santai.

Hana sedikit mengangkat wajah. “Aku bawa ke kamar aja.”

Ibu Hana langsung bereaksi. “Di kamar?”

“Cuma sementara,” jawab Hana cepat. “Sampai hujannya berhenti… atau sampai aku tahu harus gimana.”

Hening.

Ibu Hana berpikir sebentar. Lalu— “Jangan di kasur,” katanya tegas. “Dan pastikan bersih.”

Hana mengangguk. “Iya, Ma.”

Kakak Hana tersenyum tipis. “Tuh kan,” gumamnya pelan.

Ibu Hana meliriknya.

“Kamu jangan senang dulu.”

"Kakaknya mengangkat tangan sedikit. “Siap.”

Hana perlahan berdiri. Masih menggendong kucing itu. Langkahnya pelan.

“Aku ke atas dulu ya, Ma.”

“Iya,” jawab ibu Hana singkat.

Hana berjalan melewati mereka. Saat melewati kakaknya, ia sempat berhenti sedikit.

“Makasih,” gumamnya pelan.

Kakaknya hanya mengangguk kecil.

“Nggak usah dipikirin,” balasnya.

Hana melanjutkan langkah. Naik tangga. Pelan. Setiap langkah terasa ringan— tapi juga berat. Sesampainya di depan kamar, ia membuka pintu. Masuk. Menutupnya pelan. klik. Hening lagi.

Ia berdiri sebentar di dalam. Menatap kamar itu. Lalu menatap kucing di tangannya.

“Kita di sini aja ya,” katanya pelan.

Kucing itu mengedip. “Miew…”

Hana tersenyum tipis. Ia berjalan ke dalam. Menaruh kucing itu di atas handuk di lantai.

Duduk di sampingnya. Mengusap kepalanya lagi. Pelan. Di luar, suara hujan masih ada. Di bawah, suara percakapan ibu dan kakaknya masih samar terdengar. Tapi di dalam kamar itu— hanya ada dia. Dan satu makhluk kecil yang tidak bertanya apa-apa.

Meski tidak sepenuhnya tenang,

setidaknya ia punya tempat kecil untuk bertahan.

1
Bunga Ros
maaf thoooorrr kurang berbobot judulnya apa isinya apa 😄😄😄
Night Watcher
coba mampir
Ran
sepertinya menairk
Ran
keren Thor, udah buat cerita baru aja nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!