Andrean Wibisono dikenal sebagai jurnalis paling perfeksionis, disiplin, dan menegangkan —menurut para rekan kerjanya. Hidupnya diatur oleh data dan struktur berita yang rapi.
Masalah hidup Andrean muncul setiap kali dia harus berurusan dengan Alena Maharani yang santai, spontan, percaya insting, dan entah bagaimana selalu selamat meski hobi sekali mepet deadline. Bagi Andrean, Alena adalah clickbait berjalan yang selalu santai menghadapi apapun, sedangkan bagi Alena, Andrean adalah robot jurnalistik yang siap mengingatkan Alena tentang kode etik jurnalistik dalam situasi apapun.
Ketika sebuah proyek liputan spesial memaksa mereka menjadi partner, bencana pun dimulai. Bagaimana kelanjutan kisah dua jurnalis yang saling bertolak belakang ini? Simak dalam Hotnews: I Love You
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konferensi Pers Kejutan
Aji kembali dari meeting dengan klien besarnya —Sekda, Kadin Perdagangan dan Kepala Biro Komunikasi Pemda. Dia masuk ke ruang kerjanya di Phoenix Digital Group untuk mengambil laptopnya. Setelah memeriksa kesiapan ruang aula untuk acara esok hari, Aji memutuskan untuk pulang. Tubuhnya terasa begitu penat hari ini.
Berita pemalsuan minyak sudah mulai mereda. Entah bagaimana, Aji jadi ikut masuk ke dalam kasus ini. Semua bermula saat Rangga memintanya untuk menjembatani Sekda dan Kadin Perdagangan terkait wacana subsidi minyak goreng oleh pemerintah daerah setempat. Rangga mendapat permohonan dari Sekda untuk menjadi konsultan reputasi digital serta pengelola kampanye komunikasi untuk perusahaan milik keponakannya, PT Armada Food Nusantara, produsen minyak goreng Kita Sehat.
Pada awalnya semua bersih. Tapi, tiba-tiba, muncul ide untuk mengoplos bahkan memalsukan minyak goreng yang akan mereka subsidikan untuk rakyat agar dapat menghemat anggaran. Mereka memutuskan untuk melakukan uji coba terlebih dahulu sebelum benar-benar mendistribusikan minyak goreng palsu itu secara meluas.
Sialnya, salah satu pekerja mereka ada yang terlihat mencurigai pengolahan minyak oplos itu. Setelah pekerja yang dicurigai itu resign, Aji dengan cepat meminta Sekda untuk memindah tempat pengolahan minyak ke sebuah gudang di dermaga. Aji juga meminta Sekda untuk membersihkan tempat pengolahan minyak sebelumnya dan menggantinya sebagai tempat distibutor biasa dan mencampur stok minyak palsu dengan yang asli.
Namun sepertinya keberuntungan sedang tak berpihak pada Aji. Tempat pengolahan minyak palsu di dermaga berhasil terbongkar. PT. Armada Food Nusantara panik saat dimintai pernyataan resmi dari Hotnews.com terkait bukti yang mereka dapatkan di lapangan. Karena tak ada waktu lebih untuk membuat skenario yang elegan, Aji menyarankan pada PT. Armada Food Nusantara untuk mengatakan bahwa pihak mereka tak tahu apapun soal minyak palsu itu dan akan menarik peredaran minyak palsu itu dari kawasan di sekitar tempat pengolahan.
Aji juga meminta PT. Armada Food Nusantara untuk memberikan bukti pemalsuan kepada pihak berwenang. Namun sebelum itu, Aji meminta Sekda untuk menutup mulut komplotan pengolah minyak palsu agar tak mengkaitkan pihaknya dengan kegiatan ilegal tersebut dengan imbalan cepat terbebas dari jerat hukum dengan jaminan.
Semua berjalan lancar. Berita berhasil diredam. Artikel dari Hotnews.com berhasil di-takedown. Semua selesai. Begitu seharusnya.
Namun, Aji merasa ada yang masih mengganjal. Dia memutuskan untuk menyewa orang untuk memata-matai Alena dan emua aktifitasnya. Foto-foto Alena dikirimkan pada Aji. Ada beberapa foto Alena terlihat bersama seorang pria. Keduanya terlihat begitu akrab.
Aji menatap satu foto Alena sedang bersama pria itu tengah minum kopi di sebuah cafe. Keduanya terlihat serius. Keterangan di bawah foto mengatakan, Alena dan pria itu tengah membahas cara mendapatkan bukti dari PDX. Sebuah file audio percakapan keduanya juga terlampir. Meski tak begitu terdengar jelas, sesekali keduanya terdengar berdebat.
'Jadi, dia sekarang partner debat lo, Len?'
***
Aula Phoenix Digital Group
Ruang aula PDX kini dipenuhi awak media yang datang untuk meliput acara peluncuran platform terbaru PDX. Peluncuran P.O.A. (platform analitik opini publik berbasis AI) merupakan salah satu strategi Aji untuk mengalihkan perhatian publik dari berita pemalsuan minyak goreng.
Andrean dan Alena terlihat duduk di kursi yang memang disediakan oleh para wartawan. Alena, seperti biasa, disibukkan dengan settingan kameranya. Andrean dengan tegang mengamati sekeliling. Sejauh ini, Andrean tak merasakan sesuatu yang mencurigakan.
"Kenapa gue harus ikut lo?" tanya Andrean pada Alena. Alena menoleh ke arah Andrean, menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"Bukannya kita partner? Lo takut?" tanya Alena dengan nada berbisik.
"Gue kira lo bakal berani kesini sendirian," kata Andrean dingin sambil mengamati sekeliling. Alena kembali menatap Andrean dengan tatapan tak percaya.
"Sial lo!"
"Ngomong-ngomong, mana yang namanya Aji?" tanya Andrean. Alena menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Biasanya dia mantau dari belakang," kata Alena.
"Gue liat lo biasa aja masuk kesini lagi," komentar Andrean sambil menatap Alena.
"Lo berharap gue kek gimana? Tremor? Di mata lo, gue selemah itu?" tanya Alena, kesal.
"Ah! Gue lupa! Lo nggak mau dianggep cewek lemah,"
"Karena gue emang nggak selemah itu,"
"Ya, ya. Sudah teruji klinis. Bahkan gue nggak bisa bedain sebenernya lo cewek tulen atau cewek jadi-jadian," kata Andrean sambil mengamati sekitar. Alena mendengus kesal lalu kembali fokus pada kameranya.
Saat Alena sedang membidik ke arah podium tempat presentasi, Alena menangkap sosok yang sangat dikenalnya, tengah memperhatikannya dari arah pintu masuk menuju podium presentasi. Setiaji Darmawangsa. Alena menurunkan kameranya dan menatap langsung sosok yang dulu pernah membuatnya percaya bahwa dia bisa menjadi PR terbaik di PDX.
Andrean yang sudah berhenti mengamati keadaan sekitar, menangkap Alena yang tengah membeku menatap ke arah podium. Andrean mengikuti arah pandangan Alena. Disana, di depan pintu masuk menuju podium, berdiri sosok pria tinggi dengan garis wajah tegas dan sorot mata tajam, tengah menatap ke arah Alena.
'Apa dia Aji?'
"Fokus! Ngantuk lo? Atau laper? Mau gue beliin gado-gado? Tadi gue liat di bawah ada warung gado-gado," kata Andrean mencoba membuat Alena berhenti menatap Aji.
"Eh? Hah? Masa'? Ntar abis ini mampir dulu ah," kata Alena sambil kembali fokus pada kameranya.
"Lo aja, gue mau langsung balik kantor,"
"Dih! Nggak asik banget sih lo?"
"Lagian tiap hari makan gado-gado. Gue heran gimana cara kerja lidah lo," kata Andrean sambil melirik ke arah pintu masuk dekat podium. Tak ada siapa-siapa.
"Serah lo,"
"Terimakasih atas kehadiran rekan-rekan pers semua," suara Renald menghentikan perdebatan Andrean dan Alena.
"Pada kesempatan hari ini, ijinkan saya Renaldi Bagaskara, memperkenalkan platform terbaru kami, P.O.A, Public Opinion Analytic," Renald membuka konferensi pers hari itu.
"P.O.A merupakan platform berbasis AI yang dapat menganalisa apa yang sedang menjadi tren perbincangan publik secara rela-time," jelas Renald.
Andrean dan Alena menyimak penjelasan Renald terkait dengan platform PDX yang baru. Keduanya bertaruh pada saat ini untuk mendapatkan bukti hubungan antara PDX, pejabat pemerintahan, dan pemalsuan minyak.
"Langsung saja mari kita coba melihat apa yang sedang menjadi perbincangan terhangat publik saat ini," kata Renald sambil mengoperasikan P.O.A di hadapan awak media.
Saat Renald menekan tombol mulai, P.O.A dengan cepat memproses beberapa komentar publik yang sedang membahas apa yang sedang menjadi hot topic saat itu. Aji yang mengamati berjalannya konferensi pers terkejut. Kedua matanya membulat melihat apa yang terpampang di layar besar di depannya.
'Ini?! Mana mungkin? Sejak kapan? Gue yakin semua tentang hal ini udah di-takedown,'
***
ceritanya menarik, selalu dinanti.
🥰❤