NovelToon NovelToon
SELAMATKAN AKU

SELAMATKAN AKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romantis / Selingkuh / Cintamanis / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Gurania Zee

Acara perayaan ulang tahun Rachel, Sang Keponakan yang berusia empat tahun, keponakan dari si kembar Seza dan Sazi. Yang seharusnya menjadi hari paling menyenangkan dan membuat happy semua orang tapi tidak untuk Sazi adik dari Seza. Dunianya seolah runtuh karena tragedi tenggelam saat itu.
Antara hidup dan mati yang ia rasakan saat itu, keduanya tenggelam bersamaan. Namun cara diselamatkan oleh kedua pria berbeda usia itu yang jauh berbeda juga dari adegan romantis seperti drama film pada umumnya. hal itu yang dirasakan oleh Sazi adik dari Seza.
jika Seza ditolong dengan cara digendong ala bridal seperti ala drama romantis, tapi berbwda dengan pria ngeselin yang bikin kesal Sazi sepanjang sejarah ia baru ditolong dengan cara menyebalkan yaitu dengan cara dijambak dan diseret.
dan yang lebih memalukan lagi sazi hampir saja diberi nafas buatan oleh pria itu. namun saat bibir itu sudah mulai mendekat ia langsung memaksakan diri untuk sadar. dari situ ia sadar akan satu hal, apa itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34

Diarea depan rumah mendadak sunyi hanya tersenyum suara jangkrik malam itu. Sazi Masi memegang kertas tanda terima itu matanya berbinar penuh ketulusan dan tawa riang, tapi tidak dengan Fadli saat itu yang hanya terdiam membeku.

"Bang" panggil Sazi pelan namun Fadli fokus pada lamunannya ya g sedang berfikir keras saat itu.

"Abang woelah dipanggil malah bengong" panggil Sazi sekali lagi sedikit menaikan oktaf suaranya. Fadli menoleh saat tersadar dari lamunannya saat itu.

"Iya, Zi ada apa?." namun tatapannya langsung menghindar tidak berani menatap Sazi sama sekali apalagi harus menatapnya terlalu lama sungguh Fadli tidak sanggup rasanya saat itu.

"Ini beneran Abang yang belikan untuk Sazi kan?." tanya Sazi penasaran sambil tersenyum dan membaca lagi surat tanda terimanya ingin memastikan sekali lagi sebelum membuka pita motor listrik tersebut.

Fadli menelan ludahnya dengan susah payah, bukan membenarkan bukan juga sengaja ingin berbohong apalagi melihat ekspresi istrinya yang begitu senang sungguh tidak tega rasanya Fadli menghancurkan kebahagian istrinya saat itu.

"Iya" sahutnya singkat sambil mengangguk mengiyakan walaupun dengan berat hati. Sazi langsung tersenyum lebar dan memeluk Fadli erat dan mengucapkan terimakasih.

grep! Pelukan. Hangat yang tiba tiba Namin berhasil membuat fadli mematung seketika. Namun tak lama satu tangannya membalas pelukannya itu.

"Makasih ya bang, Sazi kira Abang lupa, ternyata Abang pergi lama tuh buat kasih kejutan Zi, Sazi seneng banget makasih suamiku."

Mendengar hal itu meski kata kata yang terlontar begitu sederhana namun begitu menusuk didada Fadli saat itu.

"Warnanya lucu banget bang, Sazi suka, Abang kok tau Sazi paling suka warna ini?."

"Benarkah, bagus kalau kamu suka." ucapnya dengan berat hati tak ingin merusak moment kebahagiaan istrinya itu. Meskipun dirinya masih sangat penasaran siapa kira kira yang membeli motor tersebut.

Jika memang ayahnya atau Sadewa mengapa tidak bilang dulu, padahal mereka jelas tau bahwa fadlilah yang akan membelikannya, Fadli hanya mengepal tangannya erat, jikapun bukan keduanya jantungnya berdebar begitu cepat semakin ia mengepalkan tangannya kuat.

Ia menoleh lagi pada istrinya dan memberikan senyuman tipis, "Seneng banget kamu Zi."

"Iyalah kan Zi, baru bang dibelikan kayak gini seumur umur." celetuk Sazi dengan polosnya.

"Bang besok Sazi mau langsung pake ah ke sekolah biar enggak jalan kaki lagi, boleh ya?."

"latihan dululah Zi, ntar kalo enggak bisa ngeri jatoh gimana."

"Yah si Abang mah enggak percayaan nih Sazi coba ya."

"Nanti saja cobanya besok ya, sekarang sudah malam, Abang sudah ngantuk yuck tidur." ajak Fadli meraih tangan istrinya mengajaknya ke kamar.

"ish si Abang mah, yasudah kalo Abang sudah ngantuk besok saja Sazi coba, yuck." Fadli mengangguk dan merangkul pundak istrinya seraya mengecup kening Sazi saat itu.

"Ciee motor baru,..seneng banget istri Abang, dari tadi senyum mulu."

"Hehe bahagia itu sederhana bang, asal pemberian apapun dari suami sendiri ya harus disyukuri dong mau mahal mau murah kan bukan karena harganya tapi niatnya aja udah bagus bang"

Deg.

Lagi dan lagi kata yang sederhana tapi menusuknya sampai ke dasar Fadli yang terdalam. Fadli hanya diam membeku tak bisa menjawab lagi alias buntu entah harus jawab apa tiba tiba saja kehilangan kata kata untuk menjawabnya.

Sebelum masuk kamar tak lupa Sazi membuka pitanya lebih dulu dan mencobanya sebentar saking penasarannya masih mengusap motor pertamanya itu sambil tersenyum kelewat senang saat itu.

Ia tak menyangka ternyata dibalik cuek suaminya tapi masih mau berusaha untuk membahagiakan dirinya, begitulah pikiran Sazi saat itu.

Berbeda hal dengan Fadli rahangnya mulai mengeras dan mengepalkan tangannya erat ketika kecurigaan terlintas diotaknya saat itu.

Dan malam itu saat Sazi tertidur lebih cepat Engan senyum kecil diwajah polosnya yang sederhana tidur dengan begitu pulasnya.

Fadli dengan tangannya yang terangkat untuk menyentuh rambut istrinya yang berada disampingnya itu sambil memeluk istrinya "Zi maafin Abang, harusnya Abang yang buat kamu seneng dan sehappy ini bukan orang lain" bisiknya dalam batinnya.yanh merasa bersalah karena saat itu ia malah sedang bersama cinta pertamanya yaitu Nadia.

Sementara di kamar lain, bunyi notifikasi pesan masuk terkirim ke ponselnya yang ia buka dan langsung membacanya dengan cepat "Bang kiriman barang sudah sampai ke tempat tujuan."

"Oke, thanks"

Sadewa berdiri didepan jendela dan menatap keluar melihat Sazi yang begitu happy mendapatkan kiriman motor yang di pesannya saat itu.

Sadewa tersenyum tipis dari kejauhan "Gue cuma pengen elo bahagia Zi, gue enggak tega liat elo jalan kaki terus tiap hari, gue bersyukur elo suka sama hadiah dari gue ini" Sadewa.

Dilain tempat

Nadia mencari keberadaan Fadli, yang ternyata sudah keburu pulang saat dirinya tertidur begitu pulasnya, sampai tidak menyadari Fadli sudah pergi dari kediamannya saat itu.

Ia hanya menatap langit atap kamarnya dengan sendu dan tersenyum tipis. "kamu berubah sekarang Fad, enggak kayak dulu lagi"

Esoknya tidak ada angin tidak ada hujan, tiba tiba saja Nadia yang begitu penasaran akan sosok Sazi saat itu, ia langsung mendatangi kediaman Sazi dan Fadli saat itu.

Kebetulan Fadli sedang mengajari Sazi mengendarai motor listriknya saat itu.

"Nah iya, gitu Zi, pinggulnya enggak goyang kesana sini, seimbangin nah iya gitu, Yee istriku bisa kan akhirnya" ucap Fadli saat melatih Sazi pagi itu dan keduanya saling bertos ria, setelahnya Sazi memeluk Fadli dan Fadli mengecup pipinya saat itu.

Dari kejauhan semua terekam pada penglihatan Nadia yang masih berada didalam mobil, dadanya merasakan sesak luar biasa. Namun ia mencoba tetap tenang. Tak lama ia melanjutkan perjalanan menuju rumah Sazi semakin dekat dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan.

Tin tin,..klakson ia sengaja bunyikan dan Fadli tersadar ada suara mobil yang mendatangi kediamannya saat itu, ia menoleh dan langsung terkejut dan mematung saat melihat siapa yang datang ke rumahnya itu.

tawanya luntur seketika, berubah dengan ekspresi tegang, sementara Sazi seperti biasa dengan pembawaan yang ceria tenang apa adanya.

Sazi menoleh pada tamu itu dan menoleh lagi pada Fadli, seolah ia tau siapa yang datang saat ini.

ia menundukkan kepalanya, "selamat pagi mbak, temannya bang Fadli ya?" tanya Sazi, ayo masuk." ucap Sazi menyuruhnya masuk dengan senyum ramah yang tidak dibuat buat.

Nadia hanya tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya, dan menoleh sebentar pada Fadli.

"Kamu Sazi kan?."

"Iya mba aku Sazi."

"Kenalin saya Nadia"

"Oh iya, salam kenal mba, saya sudah mendengar dari bang Fadli, silahkan diminum dulu airnya"

"Oh jadi Fadli sudah banyak cerita tentang saya ya?."

"Yah begitulah,"

"Kamu tidak marah saya kesini menemui kamu?."

"Untuk apa saya marah mbak, Oia saya tinggal dulu ya, mbaknya silahkan aja ngobrol sama bang Fadli, permisi"

"Zi, kamu mau kemana?" tanya Fadli heran.

"Mau mandi, liat nih Sazi lengket banget bentar lagi kan Sazi mesti berangkat sekolah takut telat, Abang temani mbak Nadia aja dulu."

Fadli langsung membeku, seolah badai sebentar lagi kan menghantam rumah tangganya sebentar lagi.

"Zi, jangan gini"

"Enggak apa apa santai bang"

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!