NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tidak Seharusnya Terjadi Oleh Gadis Yang Datang Dari Masa Depan

Cinta Yang Tidak Seharusnya Terjadi Oleh Gadis Yang Datang Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Terlarang / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:517
Nilai: 5
Nama Author: TOKOPAIJO

UPDATE SETIAP HARI JAM 12 SIANG.

Nara tidak pernah benar-benar memahami ayahnya.

Baginya, ayahnya hanyalah pria dingin yang hidup seperti bayangan di rumah yang terlalu sunyi. Tidak pernah menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga mereka, dan tidak pernah mencoba memperbaiki hubungan yang telah retak.

Suatu malam, setelah pertengkaran lama yang akhirnya meledak, Nara menemukan sebuah jam tua misterius di gudang rumah. Ketika ia memutar jarumnya… Dunia berubah. Nara terbangun di tahun 1995, di kota yang sama namun jauh berbeda.

Di sana ia bertemu seorang pria muda yang santai, karismatik, dan penuh mimpi.

Namanya Raka.

Pria itu menolongnya, berjalan bersamanya di kota malam, dan perlahan membuat Nara merasa nyaman di dunia yang bukan miliknya. Sampai suatu hari Nara menemukan fakta dan menyadari bahwa Raka… adalah ayahnya.

Sekarang Nara harus menghadapi kenyataan yang mustahil, Ia jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia cintai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TOKOPAIJO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Ia Korbankan

Hujan badai yang sedari tadi mengamuk akhirnya mereda menjadi gerimis tipis saat Vespa biru Raka berhenti tepat di depan pagar besi kosan putri.

Langit magrib menyisakan warna ungu kelabu yang suram, jalanan aspal memantulkan cahaya lampu neon dari tiang listrik yang berkedip pelan.

Sinta turun dari boncengan dengan kaku.

Tubuhnya menggigil ringan dari balik jaket denim milik Raka yang masih membalut bahunya. Ia merogoh ke balik kemejanya yang sedikit basah, lalu mengeluarkan map plastik bening dengan sangat hati-hati.

"Ini," Sinta menyodorkan map itu ke dada Raka. "Proposal kalian. Tintanya aman, kertasnya nggak basah sedikit pun. Simpan baik-baik, jangan sampai mapnya ditaruh di dekat kopi atau asbak teman-temanmu."

Raka menerima map itu seolah menerima benda pusaka.

Ia tersenyum, mengusap embun di permukaan plastiknya. "Aman, Nona Kalkulator. Besok pagi-pagi buta proposal ini bakal langsung mendarat di meja panitia. Makasih ya, Sinta. Tanpa otakmu, impian anak-anak jalanan cuma bakal jadi bungkus gorengan."

Sinta membuang muka, menyembunyikan senyum tipisnya. "Cepat pulang, mandi pakai air hangat, jangan sampai kamu mati konyol sebelum festivalnya dimulai."

Sinta melepas jaket denim itu dari bahunya dan menyerahkannya kembali pada Raka. Pemuda itu menerimanya dengan kekehan pelan, lalu menyampirkannya asal-asalan ke stang Vespa. Di punggung Raka, gitar akustik kesayangannya yang terbungkus sarung kulit imitasi tampak basah kuyup, namun Raka tampaknya sama sekali tidak peduli.

"Aku balik dulu, sampai ketemu besok di kampus," pamit Raka santai. Ia menginjak sela Vespanya, memanaskan mesinnya yang berderak kasar.

Sinta mengangguk, lalu berbalik membuka gembok pagar. Langkahnya terasa ringan, untuk pertama kalinya dalam hidup, udara basah Bandung tidak membuatnya merasa kesal. Ada letupan kecil di dadanya yang terasa hangat, menetralkan rasa dingin yang menusuk tulang.

Sinta berjalan menyusuri lorong kosan yang sepi, teman-teman kosnya pasti sedang berlindung di balik selimut masing-masing. Ia merogoh kunci dari sakunya dan membuka pintu kamarnya yang sedikit tergeser.

"Nar, aku bawa baso cuanki..."

Ucapan Sinta terputus, matanya terpaku pada pemandangan di depannya.

Kantung plastik berisi baso cuanki yang ia tenteng jatuh terlepas dari tangannya, kuah panasnya tumpah membasahi sepatu dan lantai, bercampur dengan genangan cairan lain yang berwarna jauh lebih pekat dan mengerikan.

Darah.

Lantai ubin kamarnya dipenuhi bercak merah segar, dan di tengah genangan itu, Nara terbaring tengkurap dengan tubuh meringkuk kaku. Wajah gadis itu sepucat kertas HVS, bibirnya membiru, dan darah segar masih mengalir lambat dari sela bibir dan hidungnya. Tidak ada pergerakan pada dadanya, ruangan itu berbau apotik tua yang dicampur dengan bau karat besi.

Sinta berhenti bernapas.

Dunia di sekelilingnya tiba-tiba menjadi hampa udara, suara rintik hujan di luar lenyap. Otak Sinta yang selalu dibanggakannya karena mampu memproses rumus ekonomi paling rumit dan memecahkan logika probabilitas tersulit kini mengalami malfungsi total.

Sirkuit di kepalanya terbakar habis.

"N-nara...?" suara Sinta keluar seperti cicitan tikus. Lututnya melemas, membuatnya ambruk menabrak meja belajar. "Nara!"

Sinta beringsut maju, tangannya gemetar hebat saat menyentuh bahu Nara.

Dingin.

Kulit gadis itu sedingin es batu.

Sinta membalikkan tubuh Nara, dan saat melihat darah yang melumuri wajah serta leher temannya, Sinta menjerit histeris. Kepanikan yang buta mengambil alih kesadarannya, ia tidak tahu harus melakukan apa.

Pertolongan pertama? Mengecek denyut nadi? Memanggil ambulans? Semua teori itu menguap tak bersisa. Sinta hanya bisa menangis keras, merengkuh kepala Nara ke pangkuannya dengan tangan gemetar.

"Tolong! Tolong! Siapapun!" jerit Sinta parau.

Dari luar pagar, suara mesin Vespa yang baru saja akan melaju tiba-tiba mati secara paksa.

Brak!

Suara standar motor yang ditendang kasar terdengar, disusul suara langkah kaki yang berlari kencang menghantam genangan air, mengabaikan segala aturan jam malam kosan putri.

Pintu kamar didorong kasar hingga membentur dinding.

Raka berdiri di ambang pintu.

Napasnya memburu, air menetes dari rambutnya.

Mata Raka langsung menangkap genangan darah di lantai dan sosok Nara yang tak berdaya di pangkuan Sinta yang menangis histeris. Dalam sepersekian detik, Raka yang selalu humoris, santai, dan urakan itu menghilang. Wajahnya mengeras, rahangnya terkatup rapat. Matanya berubah tajam, memancarkan aura ketegasan murni.

Tanpa membuang waktu satu detik pun untuk bertanya apa yang terjadi, Raka melangkah masuk. Ia tidak peduli sepatu kotornya menginjak ubin bersih Sinta, ia tidak peduli darah itu akan mengotori pakaiannya.

"Sinta, minggir," perintah Raka. Suaranya rendah, berat, dan absolut.

Sinta yang masih menangis terisak menatap Raka dengan mata memerah. "Ra-raka... darahnya... dia nggak napas... darahnya banyak banget..." Sinta meracau tidak jelas, benar-benar kehilangan akal sehatnya.

Raka berlutut, menyingkirkan tangan Sinta dengan lembut namun kuat, ia menempelkan dua jarinya ke leher Nara. Denyutnya ada, tapi sangat lemah dan tidak beraturan.

"Dia masih hidup, ambil dompetmu, kita ke klinik 24 jam di pertigaan depan, sekarang!" ucap Raka cepat, tangkas, dan sangat fokus.

Raka menyelipkan satu tangannya di bawah lutut Nara, dan satu lagi di punggungnya. Dengan satu tarikan napas, Raka mengangkat tubuh Nara dengan mudah. Darah dari pakaian Nara langsung menempel ke kaus oblong Raka, tapi pemuda itu tidak bergeming.

"Raka... motor..." Sinta tergagap, bingung.

"Motor terlalu bahaya buat dia sekarang, badannya lemas total. Jarak kliniknya nggak sampai lima ratus meter, aku gendong lari. Kamu lari di belakangku bawa payung, amankan dompetmu. Paham?!" Raka menatap mata Sinta tepat di pupilnya, menarik Sinta dari jurang kepanikannya.

Sinta mengangguk patah-patah, ia menyambar payung dan tas selempangnya dengan tangan gemetar, lalu berlari mengikuti Raka.

Malam itu, warga di sekitar Jalan Supratman disuguhi pemandangan yang mencekam. Di tengah gerimis dingin, seorang pemuda berambut gondrong berlari sekuat tenaga membelah jalanan, menggendong seorang gadis yang berlumuran darah. Di belakangnya, seorang mahasiswi berlari terisak sambil berusaha memayungi mereka, meski air tetap membasahi ketiganya.

Raka tidak mengeluh.

Napasnya memburu, tapi pelukannya pada tubuh Nara sangat erat.

* * *

Klinik Pratama itu sepi, bau karbol menyengat hidung saat Raka menendang pintu kaca lobi hingga terbuka.

"Dokter! Suster! Ada pasien gawat darurat!" teriak Raka hingga suaranya menggema di lorong.

Dua orang perawat jaga yang sedang terkantuk-kantuk langsung melompat dari kursinya. Melihat banyaknya darah, mereka segera mendorong brankar ke arah Raka. Raka meletakkan Nara di atas brankar dengan hati-hati, para perawat langsung mengambil alih, mendorong brankar itu masuk ke Ruang IGD. Pintu ganda tertutup rapat di depan wajah mereka.

Sinta merosot di kursi tunggu berbahan besi, tangannya menutupi wajahnya, bahunya bergetar hebat. Ia menangis tertahan, logikanya masih lumpuh. Bagaimana bisa temannya tiba-tiba muntah darah sebanyak itu? Penyakit apa yang disembunyikan Nara selama ini?

Raka berdiri di depan pintu IGD, dada pemuda itu naik turun dengan cepat. Kausnya bernoda darah pekat, namun ia tidak panik, ia mengatur napasnya dalam diam.

Seorang petugas administrasi menghampiri mereka membawa papan clipboard.

"Keluarga pasien?" tanya petugas itu. "Mohon maaf, karena ini tindakan gawat darurat yang membutuhkan obat-obatan intensif dan transfusi, kami butuh deposit awal. Administrasinya lima puluh ribu rupiah untuk penanganan pertama malam ini."

Sinta mengangkat wajahnya yang sembab, ia membuka tas selempangnya dengan tergesa-gesa. Tangannya mengais-ngais bagian dalam tas, mengeluarkan buku catatan, lipstik, bedak... namun benda kotak berbahan kulit itu tidak ada di sana.

Mata Sinta membelalak.

Wajahnya pias.

Dompetnya tertinggal, ia meninggalkannya di laci meja belajarnya saat tadi panik melihat genangan darah Nara. Dan sisa uang sakunya yang lain? Sudah habis terpakai untuk menebus fotokopi proposal dan materai sore tadi.

"Saya... dompet saya ketinggalan di kosan, Sus," suara Sinta bergetar putus asa. "Tolong tangani dulu teman saya, saya akan ambil secepatnya..."

"Maaf, Mbak. Ini prosedur klinik, obat-obatan untuk pendarahan dalam harus dibayar di muka karena pihak apotek..."

"Saya yang bayar."

Suara berat itu memotong kalimat perawat.

Raka melangkah maju.

Ia menoleh pada Sinta, menatap wajah kalut perempuan itu dengan tatapan menenangkan yang membuat dada Sinta terasa diremas.

"Kamu duduk aja di sini, tungguin dokter keluar. Biar aku yang urus administrasinya."

"Tapi Raka, uang dari mana..."

Raka tidak menjawab.

Ia berbalik dan berjalan cepat keluar dari klinik menembus gerimis malam.

Lima menit berlalu seperti berjam-jam bagi Sinta, dokter belum juga keluar dari IGD. Sinta meremas tangannya sendiri, berdoa pada Tuhan untuk hal yang paling tidak rasional sekalipun, asalkan Nara selamat.

Pintu depan klinik terbuka.

Raka masuk.

Rambutnya semakin basah kuyup.

Ia berjalan menuju meja administrasi, merogoh saku celananya, dan meletakkan beberapa lembar uang kertas dua puluh ribuan dan sepuluh ribuan yang terlipat kusut ke atas meja.

Jumlahnya pas.

"Ini depositnya, Sus. Tolong kasih yang terbaik buat dia," ucap Raka tegas, petugas itu mengangguk dan segera mencetak kuitansi.

Raka berjalan menghampiri Sinta, lalu menjatuhkan dirinya di kursi besi tepat di sebelah perempuan itu. Raka menyandarkan kepalanya ke dinding, memejamkan mata. Ia terlihat sangat lelah, tapi entah bagaimana, keberadaannya memancarkan rasa aman yang absolut.

Sinta menatap Raka lekat-lekat, matanya turun menyapu tubuh pemuda itu.

Kaus berdarah.

Sepatu basah.

Dan sesuatu yang kurang.

Sinta melebarkan matanya.

"Raka... mana gitarmu?" tanyanya pelan, gitar dengan sarung kulit imitasi yang selalu melekat di punggung Raka seperti bagian dari organ tubuhnya sendiri, gitar yang selalu dirawat Raka dan menjadi alatnya mencari makan, tidak ada di sana.

Raka membuka satu matanya, menatap Sinta, lalu tersenyum tipis sebuah senyum yang terlihat sedikit dipaksakan, namun ikhlas.

"Kugadai ke Bang Jali di pangkalan depan," jawab Raka ringan. "Cuma gitar tua, Sin. Nyawa temanmu lebih penting dari kayu bersenar."

Sinta tertegun.

Napasnya tercekat di tenggorokan.

Gitar itu adalah satu-satunya harta berharga milik Raka, alat yang menafkahinya. Alat yang akan digunakannya untuk tampil di Pesta Rakyat yang proposalnya baru saja mereka buat dengan susah payah hari ini. Dan Raka melepaskannya begitu saja dalam waktu kurang dari lima menit, demi menyelamatkan nyawa seseorang yang baru ia kenal beberapa minggu, tanpa ragu, tanpa menuntut ganti rugi.

Sinta menatap pemuda urakan di sebelahnya ini.

Saat logika Sinta hancur lebur di hadapan krisis, saat teori ekonomi dan manajemen bencananya tidak bisa diaplikasikan, Raka hadir sebagai tembok beton yang menahan segalanya agar tidak runtuh. Raka tidak membutuhkan kemeja rapi, tidak membutuhkan jabatan manajer, dan tidak membutuhkan rekening bank yang menggunung untuk bisa menjadi pria yang bisa diandalkan.

Raka sudah memiliki segalanya di dalam dadanya.

Air mata Sinta menetes perlahan, namun kali ini bukan karena panik, ia menyadari sebuah kebenaran mutlak yang menghantam batinnya tanpa ampun di koridor klinik malam itu.

Ia, Sinta, si Nona Kalkulator yang selalu memperhitungkan untung-rugi kehidupan, telah jatuh cinta pada seorang musisi jalanan yang bahkan tidak memiliki uang untuk membeli baju baru. Dan ia mencintai pria ini tepat dengan segala apa adanya dirinya.

Tidak kurang, tidak lebih.

Tepat pada saat itu, lampu di atas pintu IGD mati. Pintu berderit terbuka, menampilkan seorang dokter berwajah lelah yang keluar dengan raut muka tegang.

Sinta dan Raka sontak berdiri dari kursi mereka.

Babak baru dari takdir ini baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!