NovelToon NovelToon
Hutang Yang Harus Kubayar

Hutang Yang Harus Kubayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

"Nadia,"panggil Galang sembari mencekal wanita itu.

"Selamat malam."

Cekalan tangan laki-laki itu terlepas dengan paksa. Punggung mungil wanitanya tertelan pintu, tak terlihat lagi.

"Apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkanku?" Pertanyaan Galang tak mendapatkan sambutan apapun. Nadia terus melangkah, sebelum akhirnya duduk diatas ranjang miliknya.

Entah apa pun alasannya, Nadia tahu satu hal dengan sangat pasti ia tidak akan pernah bisa memaafkan perselingkuhan. Tidak sekarang, tidak nanti, tidak dalam kondisi apa pun. Baginya, cinta yang ternodai oleh kebohongan bukan lagi cinta, melainkan pengkhianatan yang dibungkus kata-kata manis. Ia bisa memaafkan kemiskinan, memaafkan keterbatasan, bahkan memaafkan kerasnya hidup yang memaksanya menikah tanpa cinta. Namun perselingkuhan terlebih dengan orang yang ia anggap berharga adalah garis yang tidak bisa ditawar.

Yang membuat luka itu terasa berlipat ganda bukan hanya karena Galang mengkhianatinya, tetapi karena perempuan yang menjadi rekan biadab kekasihnya adalah Clara.

Clara.

Nama itu bergema di kepalanya seperti dentuman palu yang tak henti-hentinya memukul kesadarannya. Clara, perempuan yang dulu ia tolong. Clara, yang pernah ia anggap seperti saudara nya sendiri. Clara, yang pernah ia dorong untuk bangkit, untuk percaya diri, untuk berani bermimpi. Clara, yang ia usulkan sebagai model agar bisa mendapatkan pekerjaan, penghasilan, dan kehidupan yang lebih baik.

Ironis.

Ternyata uang, ambisi, dan hasrat telah menjelma menjadi sekutu paling kejam. Mereka bekerja sama dengan keserakahan, menggerogoti nurani, dan menjadikan seseorang yang pernah diselamatkan berubah menjadi pengkhianat tanpa rasa bersalah.

Nadia duduk di lantai kamarnya yang sempit. Lampu redup menggantung di langit-langit, memantulkan bayangan tubuhnya yang tampak rapuh di dinding. Tangannya menggenggam ponsel, dadanya naik turun tidak beraturan. Kepalanya terasa berat, seolah dipenuhi kabut tebal yang membuatnya sulit bernapas.

Getaran ponsel tiba-tiba mengalihkan perhatiannya.

Nadia menunduk, menatap layar yang menyala. Sebuah nomor tak dikenal muncul, tanpa nama, tanpa pesan pembuka. Hanya satu hal yang dikirimkan sebuah video berdurasi dua menit.

Alis Nadia berkerut. Jantungnya berdegup lebih cepat, firasat buruk menyusup tanpa permisi. Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol putar.

Detik pertama, layar masih buram. Detik kedua, suara mulai terdengar.

Suara manja seorang perempuan.

Suara napas seorang laki-laki yang sangat ia kenal.

Nadia mencelos. Napasnya seolah berhenti di tenggorokan. Dunia di sekelilingnya terasa runtuh perlahan, seperti bangunan tua yang kehilangan satu tiang penyangga lalu ambruk tanpa ampun.

Itu Galang.

Itu Clara.

Tidak ada lagi ruang untuk menyangkal. Tidak ada lagi celah untuk berpura-pura tidak tahu. Video itu tidak perlu vulgar untuk menyampaikan kebenaran yang telanjang. Nada suara, potongan gambar, keintiman yang tak bisa dipalsukan semuanya cukup untuk menghancurkan sisa harapan yang masih tersisa di hati Nadia.

Tangannya gemetar hebat. Ponsel itu terasa panas, seolah membakar kulitnya. Dadanya sesak, matanya perih, dan kepalanya berdengung.

“Tidak…” bisiknya lirih, meski ia tahu penyangkalan itu sia-sia.

Dalam satu gerakan impulsif, Nadia membanting ponselnya ke lantai. Benda itu terlempar, pecah menjadi beberapa bagian, suaranya memekakkan telinga. Layar retak, casing terlepas, serpihannya berceceran seperti sisa-sisa hatinya yang juga hancur.

Tubuh Nadia luruh. Ia terduduk lemas, punggungnya bersandar pada ranjang. Air mata akhirnya tumpah, deras dan tak terbendung. Tangisnya pecah, bukan lagi isakan tertahan, melainkan ratapan sunyi yang keluar dari kedalaman jiwa.

Bersamaan dengan itu, rasa cintanya pada Galang ikut runtuh.

Bukan memudar. Bukan berkurang. Tetapi hancur.

Video itu adalah bukti terakhir. Bukti bahwa pengkhianatan Galang dan Clara bukan sekadar prasangka atau kesalahpahaman. Mereka nyata, kejam, dan dilakukan dengan kesadaran penuh.

Namun di tengah kepedihan itu, ada sesuatu yang lain tumbuh di dada Nadia.

Tekad.

Ini belum berakhir.

Nadia mengusap wajahnya kasar, menyeka air mata yang masih mengalir. Dadanya masih terasa sakit, tetapi matanya kini menyimpan sorot berbeda. Ia tidak boleh menyerah. Tidak boleh terus menjadi korban. Jika rasa sakit ini dibiarkan berlalu begitu saja, maka pengkhianatan itu akan menang.

Dan Nadia tidak rela.

Ia bangkit dengan langkah mantap. Tanpa ragu, ia mengambil jaketnya dan melangkah keluar dari kamar kos. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi pelan, namun maknanya tegas ia tidak akan kembali sebagai perempuan yang sama.

Di luar, Galang masih berdiri di dekat mobilnya. Wajahnya tampak kusut, matanya sembab, tubuhnya kaku seolah menunggu keajaiban yang tidak akan datang. Ketika melihat Nadia keluar, matanya berbinar sesaat, namun cahaya itu langsung meredup begitu melihat ekspresi dingin di wajah Nadia.

Pandangan mereka bertemu sekilas.

Galang merasa dadanya diremas. Ia ingin menyusul, ingin memanggil, ingin menjelaskan atau setidaknya memohon. Namun kakinya terasa terpaku. Ia tahu diri. Ia tahu, apa pun yang ia lakukan sekarang hanya akan ditolak.

Nadia melewatinya tanpa sepatah kata pun.

Tidak ada teriakan. Tidak ada makian. Keheningan itu justru jauh lebih menyakitkan.

Galang menelan ludah, dadanya sesak. Ia tahu, kali ini ia benar-benar kehilangan.

Setelah Nadia pergi, Galang kembali ke mobilnya dengan langkah gontai. Begitu pintu dibuka, ia terkejut mendapati Clara sudah duduk di kursi penumpang depan. Perempuan itu tersenyum, senyum yang terlalu santai untuk situasi yang baru saja terjadi.

“Kamu dicampakkan?” tanya Clara ringan, bahkan terdengar puas.

Galang menatapnya tajam. “Keluar!”

Clara mengangkat alis. “Kenapa aku harus pergi?” katanya tenang. Tangannya mengusap perutnya pelan. “Meskipun aku ingin, tapi anak ini tidak ingin pergi. Dia ingin menemui ayahnya. Apa itu salah?”

Ucapan itu seperti bensin yang disiramkan ke api.

“Diam!” bentak Galang. Amarahnya meledak. “Karena kamu, Nadia pergi!”

Clara terkekeh kecil. “Jangan jadikan aku tersangka utama,” katanya dingin. “Kamu juga menikmatinya, Galang. Jangan munafik.”

Galang mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras. “Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan?”

Clara menoleh, menatapnya tanpa rasa bersalah. “Yang aku tahu, Nadia sudah mencampakkanmu. Jadi sekarang, tidak ada lagi yang bisa kamu lakukan.”

Itu adalah kalimat terakhir yang memutus sisa kendali Galang.

Tanpa peringatan, ia menyalakan mesin dan menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil melaju kencang, membuat Clara terhuyung di kursinya.

“Galang! Hentikan!” teriak Clara panik. “Kamu gila?!”

Namun Galang tidak menggubris. Matanya fokus ke jalan di depan, sorotnya gelap, napasnya memburu. Kecepatan mobil semakin tinggi, jarum speedometer merangkak naik tanpa ampun.

Lampu merah di depan diabaikannya begitu saja.

“Kamu mau mati?!” Clara berteriak histeris, tangannya mencengkeram dashboard.

Galang membanting setir ke samping untuk menghindari tabrakan, bannya berdecit keras. Mobil oleng sesaat sebelum kembali melaju lurus. Clara terdiam, ketakutan membuatnya kehilangan kata-kata. Niatnya memisahkan Nadia dan Galang justru membuka sisi iblis laki-laki itu sisi yang selama ini tersembunyi di balik senyum dan kata manis.

Beberapa menit kemudian, mobil berhenti mendadak di depan sebuah gedung tinggi. Gedung itu menjulang gelap, lampu-lampunya menyala dingin.

Galang keluar, wajahnya penuh amarah. Ia membuka pintu penumpang dan menarik Clara dengan kasar.

“Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!” Clara memberontak, berusaha melepaskan diri.

Namun Galang tidak peduli. Tangannya mencengkeram pergelangan Clara kuat-kuat, menyeretnya menuju pintu gedung.

"Bukankah ini yang kamu inginkan?" Galang mulai membuka bajunya dan membuangnya ke sembayang arah, dia akan membuat perhitungan dengan wanita yang sudah menghancurkan hubungannya.

"Tidak! Aku tidak mau." Clara menolak laki-laki itu, ia tau jika Galang akan menyiksanya.

"Apakah kamu takut?" Galang menunjukkan wajah yang begitu mengerikan.

Clara terus menggeleng. Dan dia harus menyelematkan diri sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Dengan sisa kekuatan yang dia miliki, Clara berlari ke arah pintu, siap untuk kabur.

"Mau kemana sayang?" Galang kembali mendekat, menahan pinggang wanita yang kini berusaha kabur itu.

"Jangan mendekat! Kamu gila!"

Galang tertawa. " Gila?" Galang menatap Clara dengan pandangan meremehkan."kita lihat bisa Shakira apa seorang pria pada wanita yang telah menjebaknya."

Galang menggila, menyerang Clara dengan membabi buta.

"Jika kamu benar-benar hamil, aku akan melakukan berbagai cara untuk menghilangkan kandungan itu." Tatapan tajam laki-laki itu memaku mata Clara yang kini menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.

"Tapi, jika kamu tidak benar-benar hamil. Aku akan menyingkirkan mu dari dunia ini."

Ancaman Galang membuat Clara ketakutan, tubuhnya bergetar hebat di balik selimut. Clara menarik selimut, bersembunyi dari tatapan laki-laki yang seolah ingin membunuhnya detik itu juga.

Apa yang harus dilakukan? Clara merasa semakin gusar ketika mendengar  debaman pintu di luar sana. Galang pergi meninggalkannya setelah perlakuan kasarnya.

Clara menggigit bibir bawahnya, dia tidak tahu bagaimana harus meluruskan masalah ini. Jika benar dia hamil, ada kemungkinan keluarga mengesakan menerimanya menjadi menantu. Tapi bagaimana jika yang terjadi justru sebaliknya?

Clara tidak bisa diam saja, dia harus mencari solusi terbaik. Tampaknya Nadia juga tidak akan banyak membantu.

"Aku harus segera pergi." Clara orang meyakinkan dirinya sendiri. Melihat Galang yang begitu murka, membuatnya tidak bisa berdiam diri di tempat ini lagi, dia masih menyayangi nyawanya.

Clara yang berprofesi sebagai model negara membenahi pakaiannya. Tak lupa membereskan barang-barangnya yang sempat tercecer di lantai.

Nama kakak pengen berhenti seketika di belakang pintu. Sekali lagi dia menegang ke belakang, tidak rela meninggalkan semua kemewahan unit apartemen mewah milik Galang. Bahkan berarti dari rumahnya sendiri.

"Galang, selamat tinggal," pamit Clara memang bikin bibir bawah. Dia harus pergi sekarang juga aku belum Galang menghancurkan hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!