Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?
Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Mobil yang baru saja berhenti itu masih menyisakan suara mesin yang berat. Nathan keluar dari mobil dengan langkah cepat. Matanya langsung menangkap pemandangan di depan.
Andin yang sudah berada di dalam mobil mencoba untuk memberontak sekuat tenaganya, bahkan tangannya menggedor-gedor pintu mobil dengan cukup kuat.
"Tolong aku!" teriak Andin.
Dan Mark yang berlari mencoba mengejar, menggagalkan aksi mereka yang akan membawa Andin.
Dalam sekejap darah Nathan terasa mendidih, ia berlari cukup kencang menyalip langkah Mark yang sudah terlebih dahulu.
“Andin!” teriaknya keras.
Pria yang hendak mengemudi mobil langsung menoleh, sementara salah satu temannya yang berada di dalam mobil langsung memperingati.
"Ayo masuk saja!" teriak pria itu.
Namun Nathan tidak memberi mereka waktu untuk berpikir. Dengan langkah cepat ia langsung menerjang pria yang hendak membuka pintu mobil itu.
Bug!
Tinju Nathan menghantam wajah pria yang memegang Andin hingga orang itu terhuyung keras ke samping.
Nathan tidak membuang-buang waktunya, tatapannya menoleh ke jok belakang, tangannya dengan cepat membuka pintu yang masih belum terkunci.
Ia mulai merjang pria yang memegangi tangan Andin dengan sekali tendangan kaki saja.
Bug!
Cengkeraman pada tangan Andin langsung terlepas.
“Andin, keluar!” perintah Nathan cepat.
Andin yang masih gemetar langsung membuka pintu itu dengan cepat, napasnya tersengal karena panik.
Namun satu pria diantara mereka yang masih tersisa tidak tinggal diam.
“Brengsek!” salah satu dari mereka mengumpat.
Ia langsung menyerang Nathan dari samping.
Nathan menghindar, tapi pukulan kedua mengenai bahunya cukup keras. Mark yang baru saja sampai langsung ikut masuk ke dalam pertarungan.
“Berani juga kamu!” bentaknya sambil menghantam pria itu dari belakang.
Gang kecil itu kembali dipenuhi suara benturan, dua orang yang tadi tumbang kini mulai bangkit kembali.
Nathan menahan pukulan yang datang lalu membalas dengan tinju keras ke perut lawannya.
Pria itu mengerang dan mundur.
Namun pria bertubuh besar yang tadi memukul Mark kini kembali bangkit. Wajahnya merah penuh amarah.
Ia langsung menyerang Nathan dengan pukulan brutal.
Bug!
Pukulan itu mengenai pipi Nathan hingga kepalanya sedikit terlempar ke samping.
Andin menutup mulutnya.
“Nathan!”
Namun Nathan justru menyeringai tipis. Ia menghapus darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan.
“Kalau kalian pikir aku akan membiarkan kalian menyentuh dia…” suaranya rendah namun penuh ancaman.
Nathan langsung menghantam rahang pria itu dengan pukulan yang jauh lebih keras.
Pria bertubuh besar itu jatuh terduduk di jalan. Sementara itu Mark berhasil melumpuhkan satu orang lainnya. Melihat keadaan mulai tidak menguntungkan, pria yang tersisa segera mundur.
“Masuk mobil!” teriaknya panik.
Mereka buru-buru menarik temannya yang terluka lalu berlari ke mobil hitam. Mesin mobil langsung menyala. Ban mobil berdecit keras saat kendaraan itu melaju keluar dari gang.
Suasana tiba-tiba kembali sunyi. Hanya terdengar napas berat dari beberapa orang yang masih berdiri di sana.
Nathan berdiri dengan bahu naik turun. Matanya masih menatap ke arah jalan tempat mobil itu menghilang.
Mark berjalan mendekat.
“Brengsek… orang-orang itu serius mau menculik dia,” gumamnya.
Nathan tidak menjawab. Perlahan ia menoleh ke belakang. Andin masih berdiri beberapa langkah dari mereka. Wajahnya pucat, tubuhnya masih gemetar.
Tatapan mereka bertemu. Beberapa detik tidak ada yang berbicara Nathan akhirnya melangkah mendekat.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya pelan.
Andin tidak langsung menjawab. Matanya justru menatap luka di sudut bibir Nathan.
“Kamu… terluka.”
Nathan menggeleng ringan. “Tidak seberapa.”
"Tidak lukamu harus dibersihkan," sahut Andin.
"Gak perlu, karena ada tang pentin dari sekedar ini," jelas Nathan.
Pria itu menatap jalan gang yang mulai kembali sepi. Lampu rumah warga satu per satu kembali padam setelah mereka memastikan keributan sudah mereda.
Namun Nathan tahu satu hal dengan sangat jelas. Tempat ini sudah tidak aman lagi.
Ia lalu menoleh pada Andin yang masih berdiri di dekat Mark. Wajah perempuan itu terlihat pucat, rambutnya sedikit berantakan setelah sempat diseret pria tadi.
“Nathan… aku baik-baik saja,” kata Andin pelan, seolah mencoba meyakinkan.
Nathan menggeleng pelan.
“Kamu tidak bisa tinggal di sini lagi.”
Andin mengerutkan kening. “Aku tidak punya tempat lain.”
Nathan terdiam beberapa detik. Rahangnya tampak mengeras seolah sedang memikirkan sesuatu.
Lalu akhirnya ia berkata tegas.
“Aku tahu tempat yang aman.”
Mark langsung menoleh. “Tempat yang tidak akan diketahui Papi kamu?”
Nathan mengangguk singkat.
“Ya.”
Ia lalu kembali menatap Andin. Kali ini tatapannya tidak sekeras tadi, namun tetap serius.
“Kemasi barang yang penting saja.”
Andin terlihat ragu. “Nathan… aku tidak ingin merepotkanmu.”
Nathan menghela napas pelan, lalu berkata dengan nada lebih rendah. “Ini bukan soal merepotkan.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Ini soal keselamatanmu.”
Kalimat itu membuat Andin terdiam. Untuk beberapa detik mereka hanya saling menatap dalam diam. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin mereka katakan, tetapi tidak ada yang benar-benar berani memulainya.
Akhirnya Andin menunduk pelan.
“Baik.”
Nathan lalu menoleh pada Mark. “Tolong bantu dia ambil barang.”
Mark mengangguk. “Siap.”
Beberapa menit kemudian mereka bertiga masuk ke dalam kontrakan yang pintunya sudah rusak akibat didobrak tadi.
Andin hanya mengambil beberapa pakaian, ponsel, dan beberapa barang kecil lainnya. Tidak butuh waktu lama karena memang tidak banyak yang ia miliki di tempat itu.
Nathan berdiri di dekat pintu sambil memperhatikan keadaan sekitar. Sesekali matanya menatap jalan gang dengan waspada.
Ia tidak ingin mengambil risiko. Beberapa menit kemudian Andin keluar dari kamar dengan tas kecil di tangannya.
“Aku sudah selesai.”
Nathan mengangguk.
“Ayo.”
Mereka berjalan keluar dari kontrakan. Mark menutup pintu yang sudah rusak itu sebisanya.
“Nanti kita urus lagi tempat ini,” katanya pada Andin.
Andin hanya mengangguk pelan. Mereka lalu berjalan menuju mobil, Nathan membuka pintu kursi penumpang depan untuk Andin.
“Masuk.”
Andin sempat ragu beberapa detik, namun akhirnya ia duduk di dalam mobil itu.
Mark duduk di kursi belakang, ia sempat menelpon anak buahnya untuk membawa mobilnya, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk ikut ke Nathan.
Mesin dinyalakan. Mobil perlahan keluar dari gang sempit itu. Selama beberapa menit pertama, tidak ada yang memulai pembicaraan.
Hanya suara mesin mobil dan jalan malam yang lengang. sementara itu Andin menatap keluar jendela.
Lampu-lampu kota terlihat berkelebat di kaca mobil. Pikirannya masih penuh dengan kejadian tadi.
Beberapa saat kemudian ia berkata pelan.
“Terima kasih.”
Nathan tidak langsung menjawab. Tangannya tetap fokus pada kemudi. Akan tetapi beberapa detik kemudian ia berkata tanpa menoleh.
“Kamu tidak perlu berterima kasih.”
Andin langsung menoleh padanya.
Nathan masih menatap lurus ke jalan.
“Aku yang seharusnya minta maaf.”
Kalimat itu membuat Andin terdiam.
“Kalau bukan karena keluargaku…” lanjut Nathan pelan, “kamu tidak akan berada dalam situasi seperti ini.”
Andin menggeleng pelan. “Ini bukan salahmu.”
Nathan akhirnya meliriknya sekilas, ia tidak membantah dan beberapa menit kemudian mobil itu keluar dari pusat kota dan mulai memasuki kawasan yang jauh lebih tenang.
Rumah-rumah di sekitar terlihat jarang. Mark yang sejak tadi diam akhirnya bertanya, “Kita ke mana, Bro?”
Nathan menjawab singkat. “Rumah lama.”
Mark langsung mengerti.
“Oh… tempat itu.”
Andin menatap Nathan bingung. “Rumah lama?”
Nathan mengangguk pelan. “Itu rumah yang dulu aku beli sebelum semuanya berubah.”
Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, “Tidak ada yang tahu tempat itu. Bahkan Papi.”
Mobil terus melaju menembus jalan malam sejak kejadian tadi, Andin mulai merasa sedikit lebih tenang, namun ia tidak menyadari satu hal.
Di balik semua keputusan Nathan malam ini ada sesuatu dalam dirinya yang perlahan mulai berubah.
Dan mungkin malam ini adalah awal dari hubungan mereka yang kembali menemukan jalannya.
Bersambung ....