NovelToon NovelToon
Lentera Di Balik Luka

Lentera Di Balik Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Matahari pagi menyinari gedung baru Yayasan Lintang Kasih yang tampak asri dengan cat putih bersihnya.

Jati sudah berangkat ke kantor sejak pukul tujuh, memberikan kecupan hangat di kening Lintang dan berpesan agar ia tidak terlalu lelah.

Lintang, yang merasa semangatnya sedang meluap, memutuskan untuk mampir sebentar ke kantor yayasannya guna mengecek kesiapan staf admin.

Namun, di balik deretan pohon peneduh di seberang jalan, sepasang mata licik terus mengawasi setiap geraknya.

Maya, dengan kerudung yang ditarik rendah untuk menutupi wajahnya, menunggu saat Lintang keluar dari mobil tanpa pengawalan ketat Jati.

Begitu Lintang melangkah menuju pintu masuk, Maya segera mencegatnya.

"Lintang! Tunggu!" teriak Maya dengan nada yang dibuat-buah seperti orang yang sedang panik dan tertekan.

Lintang tersentak, ia mengenali suara itu. "Mbak Maya? Sedang apa Mbak di sini? Bukankah Mas Dery masih..."

"Lupakan soal Dery sebentar!" Maya memotong cepat, wajahnya dipasang sedemikian rupa agar terlihat penuh simpati yang palsu.

Ia menarik tangan Lintang ke sudut teras yang sepi.

"Aku datang ke sini karena aku merasa bersalah. Aku tidak bisa membiarkanmu dibodohi terus oleh pria kaya itu."

Lintang mengerutkan kening, mencoba melepaskan tangannya dengan sopan.

"Apa maksud Mbak?" tanya Lintang.

Maya mengeluarkan sebuah map cokelat yang sedikit lecek dari tasnya.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas dengan kop surat rumah sakit ternama—dokumen palsu yang telah ia siapkan semalam.

"Kamu pikir Jati itu pria sempurna yang mencintaimu tanpa syarat? Kamu salah, Lintang! Jati itu sebenarnya pura-pura kalau dia mandul. Dia sengaja mendekatimu, membiayai pengobatanmu, bahkan menikahimu hanya karena dia tahu rahimmu subur. Dia hanya butuh ahli waris untuk mengamankan hartanya dari sepupu-sepupunya yang gila kuasa!"

Lintang terdiam sejenak, menatap kertas-kertas itu tanpa minat untuk membacanya.

Kemudian ia menggelengkan kepalanya dengan mantap, sebuah senyuman tenang tersungging di bibirnya.

"Tidak mungkin, Mbak. Mas Jati bukan orang seperti itu. Saya mengenal suami saya lebih dari siapa pun," jawab Lintang tegas.

"Jangan naif, Lintang! Lihat dokumen ini! Ini hasil tes kesuburan Jati yang asli dari dua tahun lalu. Dia membayar dokter untuk memalsukan hasil tes yang baru agar kamu percaya dia bisa sembuh bersamamu. Begitu bayi dalam perutmu itu lahir, Jati sudah menyiapkan dokumen hak asuh tunggal. Kamu akan dibuang seperti sampah, persis seperti Mila!" Maya terus memprovokasi, suaranya naik satu oktav.

Lintang menarik napas panjang, menatap Maya dengan tatapan kasihan.

"Mbak Maya, jika Mas Jati hanya menginginkan anak, dia bisa mencari wanita mana pun dengan uangnya yang melimpah. Tapi dia memilih saya, wanita yang bahkan pernah dihina oleh keluarga Mbak sebagai wanita mandul. Cinta Mas Jati adalah penyembuh saya, dan saya tidak akan membiarkan kertas palsu ini merusak apa yang kami miliki."

Maya tertegun, tidak menyangka Lintang akan sekuat itu.

"Kamu akan menyesal, Lintang! Kamu akan sadar kalau kamu hanya mesin pencetak anak baginya!"

"Cukup, Mbak. Sebaiknya Mbak pergi sebelum saya memanggil keamanan," ucap Lintang dingin.

Ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam kantornya, meninggalkan Maya yang berdiri mematung dengan amarah yang membuncah karena rencananya gagal total di tahap awal.

Namun, meskipun Lintang terlihat kuat di depan Maya, di dalam hatinya ada secuil rasa tidak nyaman yang mulai merayap.

Ia mencoba menepisnya, namun bayangan dokumen itu terus membekas di ingatannya.

Siang itu, udara di dalam kantor yayasan yang biasanya terasa sejuk mendadak menjadi sesak bagi Lintang.

Meski di depan Maya ia tampak begitu kokoh, kata-kata "mesin pencetak anak" dan "dokumen hak asuh tunggal" terus terngiang-ngiang di telinganya seperti dengungan lebah yang menyakitkan.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, Lintang meraih ponselnya.

Ia tahu Jati baru saja menyelesaikan rapat besar dengan jajaran direksi, namun ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Rasa sesak di dadanya harus segera diredakan.

Satu nada sambung, dua nada sambung...

"Halo, Sayang? Ada apa? Aku baru saja keluar dari ruang meeting," suara Jati terdengar lembut namun penuh energi, kontras dengan suasana hati Lintang yang mendung.

"Mas..." suara Lintang tercekat. Ada jeda yang cukup lama sebelum ia mampu melanjutkan kalimatnya.

"Apa benar, Mas pura-pura ke aku?"

Di seberang telepon, Jati seketika menghentikan langkahnya di koridor kantor.

Wajahnya yang tadi berseri-seri langsung berubah tegang.

Ia memberikan isyarat kepada asistennya untuk menjauh.

"Sayang, apa maksud kamu? Pura-pura tentang apa?" tanya Jati, suaranya kini penuh kecemasan yang tulus.

"Kamu di mana sekarang? Kenapa suaramu gemetar begitu?"

"Tadi, Mbak Maya datang ke yayasan," Lintang mulai terisak pelan, pertahanannya runtuh.

"Dia membawa dokumen, Mas. Dia bilang Mas sebenarnya tahu kalau Mas mandul dan Mas hanya memanfaatkan aku untuk mendapatkan ahli waris. Dia bilang Mas sudah menyiapkan surat hak asuh anak tanpa nama aku di dalamnya. Apa itu benar, Mas?"

Jati memejamkan matanya rapat-rapat, rahangnya mengeras menahan amarah yang meledak—bukan kepada Lintang, melainkan kepada keluarga Dery yang tidak juga berhenti menebar racun.

"Lintang, dengarkan aku baik-baik," ucap Jati dengan nada rendah namun sangat tegas.

"Jangan bergerak dari sana. Tetap di dalam kantor, kunci pintunya. Aku akan sampai di sana dalam sepuluh menit."

"Tapi Mas—"

"Tidak ada 'tapi', Lintang. Semua yang dikatakan wanita itu adalah sampah. Aku mencintaimu jauh sebelum aku tahu ada nyawa kecil di perutmu. Kamu adalah penyembuhku, bukan mesin pencetak anak. Tunggu aku, Sayang. Aku akan buktikan semuanya padamu."

Jati mematikan telepon dan langsung berlari menuju lift pribadi.

Ia tidak peduli lagi dengan jadwal kantornya yang padat.

Di dalam lift, ia segera menghubungi kepala keamanannya.

"Cek CCTV Yayasan Lintang Kasih sepuluh menit yang lalu. Cari wanita bernama Maya, kakak Dery. Tangkap dia sekarang juga, jangan biarkan dia lolos dari area itu!" perintah Jati dengan suara yang dingin dan mematikan.

Sementara itu, Lintang duduk bersandar di kursi kerjanya, memeluk perutnya.

Di tengah keraguan yang ditiupkan Maya, ia mencoba mengingat kembali setiap tatapan memuja Jati, setiap malam Jati memijat kakinya yang pegal, dan bagaimana Jati menangis haru saat pertama kali mendengar detak jantung bayi mereka.

“Mas Jati tidak mungkin sejahat itu. Dia tidak mungkin,” batin Lintang menguatkan diri.

Mobil mewah Jati berhenti dengan derit ban yang tajam di depan kantor yayasan.

Tanpa menunggu dibukakan pintu oleh sopirnya, Jati langsung melesat masuk ke dalam gedung.

Ia menemukan Lintang terduduk lemas di sofa ruang tamunya, wajahnya pucat dengan sisa air mata yang masih menggenang.

"Sayang," panggil Jati lembut namun tegas.

Ia segera berlutut di depan Lintang, menggenggam kedua tangan istrinya yang dingin.

"Ikut aku sekarang. Kita selesaikan keraguan ini sampai ke akarnya."

Tanpa banyak bicara, Jati membimbing Lintang kembali ke mobil.

Tujuannya bukan pulang ke apartemen, melainkan ke Rumah Sakit Internasional tempat dokter pribadi keluarga Jati, Dokter Gunawan, berpraktik.

Jati ingin Lintang mendengar kebenaran langsung dari sumber medis yang paling tepercaya, bukan dari mulut penuh racun seperti Maya.

Sesampainya di ruang praktik yang serba putih dan tenang, Dokter Gunawan menyambut mereka dengan senyum profesional.

Jati langsung meletakkan map rekam medis miliknya di atas meja.

"Dokter, tolong jelaskan pada istri saya. Sejelas-jelasnya.

Tentang kondisi saya dulu, dan bagaimana kondisi saya sekarang," pinta Jati dengan tatapan yang sangat serius.

Dokter Gunawan mengangguk pelan, ia membuka layar monitor yang menampilkan grafik medis Jati selama dua tahun terakhir. Ia menatap Lintang dengan penuh empati.

"Ibu Lintang, saya adalah dokter yang menangani Pak Jati sejak kecelakaan itu terjadi. Saya bisa menjamin dengan sumpah profesi saya bahwa apa yang Ibu dengar dari orang luar itu tidak benar," ujar Dokter Gunawan sambil menunjuk pada hasil laboratorium lama.

"Dulu, 'senjata' Pak Jati memang benar-benar tidak berfungsi.

Secara medis, saraf motorik dan sensoriknya mengalami blokade total akibat trauma tulang belakang.

Kami sudah mencoba berbagai terapi medis konvensional, namun hasilnya nihil.

Pak Jati bahkan sempat berada di titik depresi karena merasa masa depannya sebagai pria sudah berakhir."

Dokter Gunawan kemudian menggeser kursor ke hasil pemeriksaan terbaru, setelah Lintang masuk ke kehidupan Jati.

"Namun, sejak Ibu Lintang melakukan terapi pijat saraf dan memberikan ramuan herbal itu secara rutin, terjadi keajaiban medis. Stimulasi saraf yang Ibu lakukan tepat sasaran. Aliran darah yang semula beku mulai mengalir kembali. Jadi, Pak Jati tidak pernah pura-pura mandul. Dia benar-benar sembuh karena Ibu. Ibu adalah penyembuh tunggal bagi suaminya sendiri."

Lintang menutup mulutnya, air matanya jatuh—kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa bersalah telah meragukan suaminya.

"Dan soal hak asuh?" tanya Lintang dengan suara bergetar.

Jati langsung mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan draf akta lahir yang sudah disiapkan pengacara keluarga.

"Lihat ini, Lintang. Di sini tertulis nama kita berdua sebagai orang tua sah. Bahkan, aku sudah mendaftarkan namamu sebagai ahli waris utama dari seluruh aset pribadiku, bukan hanya untuk anak kita. Jika terjadi sesuatu padaku, kamulah pemegang kendali segalanya."

Jati menarik Lintang ke dalam pelukannya di depan Dokter Gunawan yang tersenyum maklum.

"Aku mencintaimu karena kamu adalah Lintang, wanita yang membangkitkan hidupku. Anak ini adalah bonus terindah dari Tuhan atas ketulusanmu merawatku."

Lintang menangis sesenggukan di dada Jati. "Maafkan aku, Mas. Maafkan aku karena sempat mendengarkan kata-kata Mbak Maya."

"Sshhh... sudah, Sayang. Sekarang kamu sudah tahu kebenarannya. Tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita," bisik Jati sambil mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh proteksi.

1
tiara
udah Mila urus saja hidupmu jangan mengganggu Jati kalau ga mau dipenjarain sama dia tau rasa kamu
tiara
nah kan Mila sepertinya kali ini nasibmu lebih buruk lagi ya
tiara
apakah akan berhasil Mila mila kirain udah insyaf eh tetap saja ga betubah.aoa kamu mau lebih hancur lagi karena rasa iri dengki mu itu
tiara
berbahagialah Lintang sekarang dikelilingi orang tulus menyayangimu
tiara
bagus Ria tinggalin aja keluarga derry yang ga punya hati nurani.biar mereka usaha sendiri kalau mau hidup enak
tiara
lanjuut thor semangat upnya
tiara
semoga keluarga Deri tidak datang lagi mengganggu ketenangan Lintang dan keluarganya
tiara
Karyawan butik yang ga berakhlak akhirnya menyesal sudah berlaku meremehkan orang lain hanya karena penampilanya.ga salah juga sih kadang juga ada yang datang cuma buat foto juga jadi bingung juga ya
tiara
sabar papa Jati demi si buah hati 🤭🤭🤭
tiara
selamat pa Jati dan Lintang atas kehamilan Lintang sehat selalu bumil
my name is pho: 🥰🥰 terima kasih kak
total 1 replies
tiara
nikmatilah hasilnya Mila, menyesal pun sudah tiada arti semua orang meninggalkanmu termasuk pacarmu
tiara
ceriitanya menarik tidak terlalu menguras emosi
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
tiara
rasain kamu Mila gatau diri sih, masih syukur dikasih uang masih aja kurang
Dessy Lisberita
bukan emas tpi logam mas kawinya
tiara
lanjuut thor
Dessy Lisberita
kenapa masih nungu unk membuang baju kotor
Dessy Lisberita
semoga normal kembali kejantanan jati
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sweat/ "dramanya pasti akan semakin intens"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Hey/ "cowok sejati emang harus berani untuk bertanggungjawab"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Scare/ "tanda-tandanya nih..."
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!