Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Langkah kaki Elvano terdengar berat saat menyusuri lorong marmer menuju ruang kerjanya. Meski wajahnya tetap tenang seperti permukaan danau, ada ketegangan yang tersembunyi di balik rahangnya yang mengeras. Pertemuan dengan tim produksi tadi seharusnya berjalan lancar, namun fokusnya sedikit terganggu oleh bisik-bisik yang ia dengar di lobi gedung.
Baru saja pintu jati ruangannya tertutup, Darian sudah berdiri di sana dengan tablet di tangan. Ekspresi asistennya itu sulit diartikan, antara cemas dan serba salah.
“El, kau harus lihat ini,” ujar Darian tanpa basa-basi sambil menyodorkan layar tabletnya.
Elvano melirik sekilas. Sebuah portal gosip ternama memajang fotonya dengan sudut pengambilan gambar yang sangat menyesatkan. Di sana, ia tampak masuk kafe berbarengan dengan aktris lawan mainnya, seolah-olah mereka baru saja turun dari mobil yang sama untuk kencan rahasia.
“Narasi yang mereka bangun benar-benar liar, El. Netizen mulai menjodoh-jodohkan kalian,” tambah Darian hati-hati.
Elvano mengembuskan napas panjang, jarinya memijat pelipis. Dulu, ia tidak akan ambil pusing jika digosipkan dengan siapa pun—itu bagian dari industri. Namun sekarang, ada satu nama yang terus berputar di kepalanya: Selena.
“Aku tidak peduli apa kata netizen, Darian. Tapi ada hati istriku yang harus kujaga,” desis Elvano dengan suara rendah namun penuh penekanan. “Urus berita ini. Tarik semua foto itu dan berikan klarifikasi bahwa itu pertemuan resmi tim produksi. Aku tidak mau Selena melihat omong kosong ini lebih lama lagi.”
“Siap, El. Aku akan segera menghubungi tim legal dan humas,” jawab Darian cepat.
Setelah Darian keluar, Elvano segera meraih ponselnya. Tangannya sedikit ragu, ada ketakutan yang tidak biasa menyusup di dadanya—takut jika Selena, yang bukan berasal dari dunia penuh intrik ini, akan percaya begitu saja pada apa yang ia lihat di layar ponsel.
Ia mendial nomor Selena. Nada sambung ketiga barulah suara lembut itu terdengar.
“Halo, El?” sapa Selena. Suaranya terdengar tenang, namun Elvano merasa ada sedikit nada lelah di sana.
“Kamu sudah selesai di rumah sakit?” tanya Elvano berusaha menetralkan suaranya.
“Baru saja melepas jas putih. Ada apa?” tanya Selena balik.
“Malam ini, jangan masak. Kita makan malam di luar, aku sudah memesan tempat di restoran biasa. Aku ingin bicara,” ujar Elvano lembut.
Selena terdiam sejenak di ujung telepon. “Baiklah. Kita bertemu di restoran saja ya? Aku akan langsung ke sana setelah ini,” jawab Selena.
“Aku tunggu di sana. Hati-hati di jalan, sayang,” pungkas Elvano.
Malam itu, restoran private di kawasan eksklusif Jakarta itu tampak sunyi. Hanya ada beberapa meja yang terisi, dipisahkan oleh sekat-sekat tanaman hias yang rimbun, memberikan privasi absolut bagi pelanggan mereka. Elvano sudah duduk di sana lebih dulu, menatap lilin kecil di tengah meja yang menari ditiup pendingin ruangan.
Tak lama kemudian, sosok yang ia tunggu muncul. Selena tampak anggun dengan gaun minimalis berwarna pastel, senyumnya tetap hangat meski matanya tak bisa menyembunyikan sisa-sisa hari yang panjang.
Begitu Selena sampai di meja, Elvano segera berdiri. Ia menyambut istrinya dengan pelukan hangat dan sebuah kecupan singkat di kening.
“Terima kasih sudah datang,” bisik Elvano sambil menarikkan kursi untuk Selena.
“Sama-sama, El. Kamu terlihat sedikit tegang malam ini,” komentar Selena sambil memperbaiki posisi duduknya.
Tak lama setelah mereka memesan, hidangan pembuka pun datang. Namun, sebelum Selena sempat menyentuh sendoknya, Elvano menggeser sebuah kotak persegi panjang berlapis beludru hitam ke arahnya.
Selena menatap kotak itu dengan dahi berkerut, lalu beralih menatap suaminya dengan bingung.
“Ini untuk apa, El? Bukankah hari ini bukan ulang tahunku?” tanya Selena.
Elvano meraih tangan Selena, menggenggamnya dengan lembut namun erat. “Anggap saja ini kado permintaan maafku atas berita sampah yang beredar hari ini. Aku tidak ingin kamu merasa tidak nyaman karena ulah media,” jelas Elvano dengan tatapan mata yang sangat jujur.
Selena terdiam, menatap kotak itu kembali. “Aku memang melihatnya tadi di sela-sela jam istirahat,” gumamnya pelan.
“Semua yang kamu lihat itu tidak seperti kenyataannya, Sugar. Kami memang berada di lokasi yang sama untuk urusan naskah, tapi kami datang terpisah. Sudut kamera itu sengaja dibuat seolah-olah kami turun dari mobil yang sama. Aku tidak akan pernah melakukan itu padamu,” papar Elvano panjang lebar, seolah ia sedang membela diri di depan hakim paling adil di hidupnya.
Selena mengulas senyum kecil, sebuah senyum yang membuat ketegangan di bahu Elvano luruh seketika.
“Terima kasih karena kamu mau menjelaskan semuanya, El. Sejujurnya, melihat fotomu dengan wanita secantik itu sempat membuatku sedikit cemas, tapi aku lebih memilih mempercayaimu daripada media,” jawab Selena tulus.
Elvano membawa tangan Selena ke bibirnya, mencium punggung tangan itu dengan khidmat. “Kamu adalah istriku, Selena. Prioritas utamaku adalah menjaga hatimu. Aku tidak ingin kamu sedih hanya karena pekerjaan gilaku ini,” ujar Elvano pelan.
Mereka pun mulai menikmati makan malam dengan suasana yang jauh lebih ringan.
**
Sisa aroma wine dan steak premium masih tertinggal di indra penciuman saat Elvano bangkit dari kursinya. Ia tidak langsung mengajak Selena pulang. Alih-alih menuju lobi depan yang penuh risiko, pria itu menarik jemari Selena menuju pintu keluar staf di bagian belakang restoran.
Di sana, sebuah mobil SUV hitam yang tidak mencolok sudah menunggu. Elvano meraih sebuah hoodie besar berwarna gelap dan masker dari dalam mobil, menutupi identitas mahalnya dengan gerak-gerak yang sangat terbiasa.
“Kita tidak langsung pulang? Ini sudah hampir tengah malam, El,” tanya Selena, menatap suaminya yang kini nyaris tak dikenali di balik balutan pakaian kasual.
“Jakarta terasa lebih manusiawi jam begini, Sayang. Temani aku jalan sebentar saja,” jawab Elvano, suaranya teredam masker namun tetap terdengar dalam.
Ia menggandeng tangan Selena, menyusup ke area trotoar yang mulai sepi di sekitar kawasan Menteng. Langkah kaki mereka beradu dengan sunyi. Elvano yang biasanya bicara seperlunya, malam ini membiarkan benteng pertahanannya sedikit runtuh.
“Menjadi CEO Zenithra itu terkadang seperti berdiri di atas panggung tanpa naskah. Semua orang mengharapkan keajaiban dariku, tapi jarang yang bertanya apakah aku lelah memutar otak setiap detik agar ribuan orang di bawahku tetap punya penghasilan,” ujar Elvano tiba-tiba. Ia menarik napas panjang, menatap lampu jalan yang berpendar kuning.
Selena mempererat genggamannya, memberikan kehangatan yang selama ini tidak pernah didapatkan Elvano dari rekan bisnis manapun.
“Kamu terlalu banyak memikirkan orang lain hingga lupa kalau dirimu sendiri juga butuh bernapas, El.”
“Mungkin itu sebabnya aku selalu ingin pulang cepat belakangan ini. Energi Sunshine-mu itu... entahlah, seperti obat yang dosisnya selalu pas untuk kepalaku yang berisik,” aku Elvano jujur. Ia menoleh, menatap Selena dengan binar mata yang tidak lagi dingin.
Mereka hampir saja sampai di ujung jalan saat Elvano mendadak menarik tubuh Selena masuk ke balik bayangan pilar sebuah gedung tua. Napas pria itu memburu, matanya menatap tajam ke arah seberang jalan.
Di sana, dua orang pria dengan kamera lensa panjang tampak sedang berdiskusi di samping motor mereka. Salah satunya terlihat sedang memeriksa hasil jepretan di layar kamera.
“Sial, itu paparazzi dari media yang sama dengan tadi siang,” desis Elvano, suaranya sangat rendah.
Selena menahan napas, tubuhnya merapat ke dada Elvano. Ia bisa merasakan detak jantung suaminya yang berpacu cepat.
“Apa mereka melihat kita?”
“Aku tidak yakin, tapi sepertinya mereka sudah mengintai restoran tadi sejak sore. Jika mereka mendapatkan foto kita berpegangan tangan seperti ini, hancur sudah kesepakatan rahasia kita,” gumam Elvano.
Ponsel Elvano di saku celananya bergetar hebat. Ia merogohnya dengan satu tangan sementara tangan lainnya tetap memeluk pinggang Selena, melindungi wanita itu dari jangkauan pandangan orang luar. Pesan dari Darian muncul di layar.
“El, gawat! Berita baru naik. Foto kencanmu dengan aktris tadi siang dikontraskan dengan foto kabur seorang pria ber-hoodie yang terlihat menggandeng wanita lain di dekat restoran private malam ini. Publik mulai gila, mereka menyebutmu playboy yang mengencani dua wanita berbeda dalam sehari. Mereka sedang mencoba melacak pelat nomor mobil cadanganmu!”
Wajah Elvano menggelap. Ia tahu ini bukan sekadar gosip biasa. Ini adalah upaya pembunuhan karakter yang terstruktur.
“Kita harus pergi sekarang juga melalui pintu darurat gedung ini. Darian sedang mengirim tim pengalih untuk memancing mereka menjauh,” perintah Elvano cepat.
Namun, baru saja mereka hendak bergerak menuju pintu besi di samping pilar, sebuah lampu flash kamera menyambar dari arah yang tidak terduga—tepat dari lantai dua gedung di seberang mereka.
Seorang pria dengan ponsel di tangan berteriak ke arah bawah, “Woi! Itu Elvano! Dia ada di pilar bawah gedung!”
Dalam sekejap, kedua paparazzi di seberang jalan langsung memacu motor mereka, melompati pembatas jalan untuk mengejar posisi Elvano dan Selena. Suara raungan mesin motor dan sorotan lampu depan menghujam tepat ke arah wajah Selena yang kini sudah terekspos karena tudung hoodie-nya tidak sengaja merosot.
“Tutup wajahmu, Selena! Jangan lihat ke arah kamera!” teriak Elvano panik. Ia segera menarik Selena masuk ke dalam lorong gelap yang sempit, sementara suara langkah kaki para pengejar itu terdengar semakin mendekat dengan teriakan-teriakan yang menuntut penjelasan.
Selena tersandung, kakinya yang masih mengenakan heels membuatnya sulit untuk berlari cepat. Saat mereka sampai di ujung lorong yang ternyata adalah jalan buntu, Elvano membalikkan tubuhnya, menyandarkan Selena ke dinding dan menutupi seluruh tubuh istrinya dengan badannya sendiri yang tinggi tegap.
Suara langkah sepatu bot itu berhenti tepat di depan mulut lorong yang gelap. Cahaya senter mulai menyapu dinding, perlahan mendekati posisi mereka.
“Tadi aku lihat mereka masuk ke sini! Elvano Alvendra, kami tahu itu Anda! Siapa wanita yang Anda sembunyikan malam ini? Apakah benar dia adalah selingkuhan Anda di belakang publik?” suara salah satu wartawan terdengar begitu dekat, hanya berjarak beberapa meter dari persembunyian mereka.
Selena memejamkan mata, tangannya meremas kemeja Elvano dengan sangat erat. Ia bisa merasakan amarah yang memuncak dari tubuh Elvano. Namun, sebelum senter itu berhasil menemukan mereka, sebuah suara ledakan kecil terdengar dari arah jalan raya, diikuti dengan kepulan asap putih yang tiba-tiba memenuhi area tersebut.
Dalam kekacauan itu, sebuah mobil van perak berhenti tepat di depan lorong. Pintu gesernya terbuka cepat. Darian muncul dari dalam dengan wajah tegang.
“Masuk! Cepat!” teriak Darian.
Elvano segera menarik Selena masuk ke dalam mobil. Mobil itu melesat menjauh, meninggalkan keributan di belakang mereka.
***
bagus gambarnya selina cantik sekali