NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tidak Seharusnya Terjadi Oleh Gadis Yang Datang Dari Masa Depan

Cinta Yang Tidak Seharusnya Terjadi Oleh Gadis Yang Datang Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Terlarang / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:517
Nilai: 5
Nama Author: TOKOPAIJO

UPDATE SETIAP HARI JAM 12 SIANG.

Nara tidak pernah benar-benar memahami ayahnya.

Baginya, ayahnya hanyalah pria dingin yang hidup seperti bayangan di rumah yang terlalu sunyi. Tidak pernah menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga mereka, dan tidak pernah mencoba memperbaiki hubungan yang telah retak.

Suatu malam, setelah pertengkaran lama yang akhirnya meledak, Nara menemukan sebuah jam tua misterius di gudang rumah. Ketika ia memutar jarumnya… Dunia berubah. Nara terbangun di tahun 1995, di kota yang sama namun jauh berbeda.

Di sana ia bertemu seorang pria muda yang santai, karismatik, dan penuh mimpi.

Namanya Raka.

Pria itu menolongnya, berjalan bersamanya di kota malam, dan perlahan membuat Nara merasa nyaman di dunia yang bukan miliknya. Sampai suatu hari Nara menemukan fakta dan menyadari bahwa Raka… adalah ayahnya.

Sekarang Nara harus menghadapi kenyataan yang mustahil, Ia jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia cintai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TOKOPAIJO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyuman Mereka adalah Luka Milikku

Suasana sore di kosan putri biasanya didominasi oleh keheningan, mahasiswi-mahasiswi akan duduk di teras atau di dalam kamar, sibuk dengan diktat tebal, mesin tik, atau sekadar mendengarkan siaran radio dari Prambors dengan volume rendah.

Namun, ketenangan itu hancur berantakan tepat pada pukul empat lewat lima belas menit.

Brummm... Prap... prap... prap...

Suara knalpot bising yang sangat tidak beradab membelah jalanan depan kosan, disusul dengan decitan rem yang terdengar seperti jeritan tikus terjepit pintu. Sinta, yang sedang menggarisbawahi buku ekonominya dengan penggaris besi, terperanjat hingga tintanya mencoret keluar jalur.

Sinta memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. Urat di pelipisnya berkedut, ia tahu betul suara mesin rongsokan itu.

"Sinta! Nona Kalkulator! Punten, ada orangnya nggak euy?!"

Teriakan lantang dari luar pagar besi kosan itu membuat beberapa mahasiswi lain yang sedang menjemur pakaian menoleh dengan tatapan terganggu sekaligus penasaran.

Nara, yang sedang berbaring menatap langit-langit kamar dengan wajah pucat, langsung terbangun, ia menyingkap tirai jendela sedikit dan mengintip keluar. Di balik pagar, Raka berdiri santai dengan kaus oblong band Nirvana yang sudah pudar, celana jeans belel, dan sebuah gulungan kertas kusam di tangannya. Senyumnya lebar tanpa dosa, memamerkan deretan giginya.

Sinta bangkit dari kursinya dengan kasar, ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan sebuah gerakan refleks yang tidak ia sadari sebelum menyadari apa yang baru saja ia lakukan dan langsung merutuki dirinya sendiri. Mengapa ia harus peduli pada penampilannya di depan gembel jalanan itu?

Dengan langkah menghentak penuh emosi, Sinta keluar dari kamar, menyusuri lorong kosan, dan membuka gembok pagar depan.

"Kamu bisa nggak sih pelankan suaramu?!" desis Sinta galak, matanya melotot tajam. "Ini area kosan putri, bukan terminal Cicaheum! Nanti ibu kos marah!"

Raka sama sekali tidak terintimidasi, ia malah menyandarkan sikunya di atas pagar besi, mencondongkan tubuhnya ke depan dengan gaya sok akrab.

"Ibu kosmu tadi lagi beli sayur di depan gang, udah kusapa duluan. Katanya, 'Eh, Raka, mau nyari Sinta ya? Masuk aja, neng Sintanya ada di kamar.' Tuh, ibu kos aja santai, masa kamu yang numpang malah galak."

Sinta ternganga.

Sejak kapan pemuda ini kenal dengan ibu kosnya yang terkenal galak bak ibu tiri Cinderella?

"Ada urusan apa kamu ke sini?" tembak Sinta cepat, melipat kedua tangannya di dada untuk menutupi kegugupannya. "Kalau motormu mogok lagi, aku bukan montir."

"Bukan." Raka menyodorkan gulungan kertas kusam di tangannya. Kertas itu lecek, ada bekas lipatan yang tidak simetris, dan parahnya lagi, ada noda kecap di sudut kirinya. "Aku butuh otakmu. Atau lebih tepatnya, aku butuh bahasamu yang kaku kayak kanebo kering itu."

Sinta mengerutkan kening, menatap kertas itu dengan jijik seolah Raka baru saja menyodorkan bangkai tikus. Dengan ujung dua jarinya, Sinta mengambil kertas itu dan membukanya.

Nara yang sedari tadi mengawasi dari balik tirai jendela kamar, perlahan membuka pintu dan ikut duduk di kursi teras, berpura-pura membaca majalah bekas padahal telinganya terpasang tajam.

Mata Sinta menyapu deretan tulisan tangan yang besar-besar, berantakan, dan sulit dibaca. Beberapa detik kemudian, napas Sinta tertahan.

"Raka..." Sinta mendongak perlahan, menatap pemuda di depannya dengan tatapan tidak percaya. "Ini proposal pengajuan dana festival atau surat ancaman pembunuhan?"

Raka tertawa ngakak. "Enak aja! Itu murni jerih payahku semalaman suntuk nulis di warung kopi, tahu!"

"Jerih payah?!" Suara Sinta naik satu oktaf, ia membacakan isi kertas itu dengan nada dramatis. "'Dengan hormat, buat Bapak-Bapak Panitia Pesta Rakyat Bandung yang terhormat pisan. Kami dari paguyuban musisi jalanan Braga mau ikutan manggung. Tolonglah dikasih izin, masa yang manggung band-band orang kaya doang. Kalau diizinin, kami janji nggak akan bikin rusuh. Sekian dan terima kasih, hatur nuhun.' Raka! Kamu mau ngirim ini ke panitia resmi dari pemerintah kota?!"

Raka menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, sedikit tersipu tapi tetap tidak mau kalah. "Ya intinya kan nyampe, Sin. Kita mau manggung, minta izin. Beres kan? Masalahnya, si Ujang tadi pagi bawa ini ke kelurahan buat minta cap, malah diusir sama satpam gara-gara katanya formatnya kayak surat cinta anak SD."

Sinta memijat pangkal hidungnya, logikanya yang selalu terstruktur rapi menjerit kesakitan melihat kekacauan di atas kertas ini.

"Dengar ya," Sinta menghela napas panjang, mencoba bersabar. "Proposal itu ada strukturnya, ada Latar Belakang, Tujuan Kegiatan, Rincian Acara, dan yang paling penting, Rencana Anggaran Biaya. RAB! Kamu nggak bisa cuma minta izin tanpa menjabarkan apa yang akan kalian lakukan dan butuhkan."

"Nah! Itu dia makanya aku ke sini!" Raka memetik jarinya, menunjuk Sinta dengan senyum kemenangan. "Aku butuh Nona Kalkulator buat nyulap bahasa alienku ini jadi bahasa dewa yang disukai pejabat. Anggap aja ini bayaran karena aku udah nyelamatin dompetmu di Palasari kemarin. Impas, kan?"

Skakmat.

Sinta tidak bisa menolak, ia paling benci memiliki utang budi pada siapa pun, apalagi pada Raka.

"Masuk," perintah Sinta ketus, membuka pagar lebih lebar. "Duduk di kursi teras, jangan berani-berani masuk ke area dalam kosan, atau aku siram kamu pakai air bekas pel."

Raka tersenyum sumringah, melangkah masuk seperti seorang raja yang baru memenangkan peperangan. Ia duduk di kursi rotan di teras, tepat di seberang Nara yang sedang pura-pura sibuk dengan majalahnya. Raka mengedipkan sebelah mata pada Nara, yang hanya dibalas Nara dengan putaran bola mata malas.

Sinta masuk ke kamarnya sejenak, lalu kembali ke teras membawa setumpuk kertas HVS putih bersih yang baunya masih segar, sebuah penggaris, pulpen tinta hitam, dan kalkulator besar. Ia meletakkan semuanya di atas meja bundar kecil di hadapan Raka dengan suara braak pelan yang mengintimidasi.

"Baik," Sinta duduk tegak, memegang pulpen seperti seorang hakim yang siap menjatuhkan vonis. "Aku yang mendikte, kamu yang menulis. Aku tidak mau tulisanku yang berharga ini tercemar namamu."

"Siap, Bos!" Raka mengambil pulpennya, bersiap di atas kertas HVS.

"Kita mulai dari Latar Belakang," Sinta mulai merangkai kata di kepalanya, otak encernya bekerja dengan cepat. "Tulis: 'Seni jalanan merupakan salah satu elemen kebudayaan urban yang memiliki potensi besar dalam memperkaya khazanah pariwisata Kota Bandung. Oleh karena itu...'"

Sinta berhenti ketika menyadari tidak ada suara goresan pulpen di atas kertas, ia menunduk, kertas HVS itu masih bersih tanpa noda, Raka menatapnya dengan mulut sedikit terbuka dan mata berkedip-kedip bodoh.

"Kamu ngomong apa barusan, Sin? Khazanah? Itu nama makanan Arab atau nama toko kain di Pasar Baru?" tanya Raka polos.

Sinta memejamkan mata, menarik napas lewat hidung dengan suara mendesis. "Khazanah itu perbendaharaan, Raka! Kekayaan! Astaga, kamu ini waktu sekolah pelajaran Bahasa Indonesia tidur di kolong meja ya?!"

Nara yang duduk tak jauh dari mereka harus menggigit bibir bagian dalamnya keras-keras agar tidak meledak tertawa, interaksi ini terlalu lucu untuk dilewatkan olehnya.

Selama satu jam berikutnya, teras kosan itu dipenuhi oleh omelan Sinta dan komentar-komentar konyol Raka. Sinta berulang kali memukul pelan tangan Raka dengan penggaris karena pemuda itu malah menggambar karikatur wajah Sinta yang sedang marah di sudut kertas HVS.

"Raka! Fokus!" Sinta memukul meja. "Kita masuk ke bagian anggaran, berapa biaya sewa alat musik yang kalian butuhkan?"

Raka meletakkan pulpennya.

Senyum usilnya perlahan memudar, digantikan oleh raut wajah yang sedikit lebih serius. Ia menopang dagu, menatap Sinta lama-lama.

"Sebenarnya, alat musik kita udah punya, Sin. Jelek-jelek juga masih bisa bunyi, yang kita butuhin itu... uang transport dan uang makan buat anak-anak selama latihan tiga hari."

Sinta mengerutkan dahi. "Hanya itu? Kenapa kalian tidak minta dana lebih untuk beli seragam atau memperbaiki gitar kalian?"

"Karena kalau kita minta terlalu banyak, panitia bakal mikir kita cuma sekumpulan gembel yang mau morotin uang negara," jawab Raka santai, tapi ada nada getir yang tersembunyi di balik suaranya.

Raka menoleh ke arah jalanan, matanya menerawang.

"Acara Pesta Rakyat ini penting banget buat anak-anak, Sin. Selama ini kita selalu dikejar-kejar Tramtib, dituduh bikin resah, dianggap sampah masyarakat. Kalau kita bisa manggung resmi di sana, pakai id-card panitia, dilihat banyak orang... seenggaknya buat satu hari aja, anak-anak itu akan ngerasa mereka diakui. Ngerasa mereka itu manusia yang punya karya, bukan cuma benalu."

Sinta terdiam.

Tangannya yang memegang pulpen perlahan turun.

Untuk pertama kalinya, Sinta melihat melampaui pakaian usang dan gaya urakan pemuda itu. Sinta melihat seorang pemimpin, Raka mungkin tidak peduli pada dirinya sendiri, ia mungkin kebal terhadap hinaan orang tentang status ekonominya, tapi ia sangat memedulikan harga diri teman-temannya. Ia rela merendahkan gengsinya sendiri dengan datang jauh-jauh meminta tolong pada Sinta, mendengarkan omelannya hanya demi memberikan satu hari yang layak bagi komunitasnya.

Tembok gengsi Sinta yang selama ini menjulang tinggi, tiba-tiba runtuh tak bersisa. Ia menyadari satu hal yang menghantam dadanya dengan lembut, pemuda ini tidak seburuk yang ia pikirkan. Di balik tawanya yang berisik, Raka memiliki hati yang jauh lebih luas daripada pria-pria berjas rapi yang selama ini Sinta puja.

"Oke," suara Sinta kini terdengar jauh lebih lembut, kehilangan nada galaknya. Ia menarik kertas HVS itu ke arahnya. "Kalau begitu, aku yang akan tulis. Aku akan buat rincian anggarannya terlihat sangat profesional, logis, dan tidak bisa ditolak oleh panitia mana pun. Kita masukkan pos biaya konsumsi dan operasional ke dalam nomenklatur yang sah."

Raka menoleh, menatap Sinta dengan binar takjub di matanya. "Beneran, Sin? Kamu mau nulisin?"

Sinta mendengus pelan, menutupi wajahnya yang sedikit bersemu merah dengan memfokuskan pandangan pada kertas. "Banyak omong. Sebutkan nama-nama temanmu, biar aku masukkan ke daftar susunan panitia internal."

Raka tersenyum sangat lebar.

Kali ini bukan senyum usil, melainkan senyum tulus yang membuat wajahnya terlihat jauh lebih tampan dari biasanya.

"Makasih ya, Sinta. Kamu emang Nona Kalkulator paling baik se-Bandung Raya."

Sinta tidak menjawab, tapi ia tidak bisa menahan sudut bibirnya yang melengkung membentuk senyuman tipis. Sangat tipis, namun cukup nyata. Mereka mulai berdiskusi dengan serius, kepala mereka saling berdekatan di atas meja kecil, mengabaikan dunia di sekitar mereka.

Dari sudut teras yang agak gelap, Nara menyaksikan semuanya.

Misi ini berjalan terlampau sempurna, dinamika mereka sangat natural. Sinta mulai menerima Raka apa adanya, dan Raka perlahan menemukan arahnya berkat bantuan Sinta. Ini adalah awal dari cinta yang nyata, cinta yang akan melahirkan keluarga yang hangat, bukan keluarga sedingin es yang Nara kenal di masa depan.

Nara tersenyum puas.

Namun, senyum itu lenyap secepat ia muncul.

Tiba-tiba, rasa dingin yang membekukan darah menjalar dari ujung kakinya.

Nara tersentak.

Ia menunduk menatap tangan kanannya yang berpegangan pada pinggiran kursi.

Tangannya mulai berkedip.

Bukan ilusi optik, daging dan tulangnya benar-benar kehilangan wujud selama sekian milidetik, menjadi transparan hingga ia bisa melihat serat kayu kursi di balik telapak tangannya.

Rasa sakit yang dahsyat menghantam pangkal kepalanya, membuat dunia berputar gila. Nara menggigit bibir bawahnya keras-keras hingga berdarah, menahan jeritan agar Sinta dan Raka tidak mendengarnya.

Alam semesta sedang murka.

Waktu meronta, menolak perubahan radikal ini.

Dengan membiarkan Sinta dan Raka jatuh cinta secara alami tanpa paksaan Raka menjadi pria kantoran, jalur takdir sedang terkoyak dari akar sejarah aslinya.

Eksistensi Nara sedang dihapus pelan-pelan.

Nara terhuyung bangkit dari kursinya dengan susah payah.

Kakinya terasa seperti agar-agar, ia memaksakan diri berjalan masuk ke dalam kosan, berpegangan pada dinding lorong yang terasa berputar.

Sesampainya di kamar mandi kosan yang sepi, Nara mencengkeram tepi wastafel. Ia menunduk, batuk dengan keras, dan merasakan cairan logam kental memenuhi mulutnya.

Ia memuntahkan seteguk darah segar ke dalam wastafel putih. Warnanya merah pekat, kontras dengan keramik yang bersih.

Nara menatap wajahnya di cermin.

Kulitnya pucat seperti mayat, dan bayangannya di cermin tampak berkedip, seolah ia adalah siaran televisi dengan sinyal yang buruk.

"Sialan..." bisik Nara parau, mencuci mulutnya dengan tangan gemetar. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan botol obat pereda nyeri berdosis tinggi, dan menelan tiga butir sekaligus tanpa air.

Ini adalah harga dari sebuah kebahagiaan yang tidak seharusnya ada.

Nara menatap tajam pantulan matanya yang lelah di cermin.

Jika rasa sakit ini, jika darah ini, adalah bayaran agar ayahnya tidak mati rasa dan ibunya tidak hidup dalam penyesalan di masa depan... maka Nara akan membayarnya sampai lunas.

Bahkan jika ia harus lenyap di akhir cerita.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!