NovelToon NovelToon
SPION KIRI

SPION KIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: nhatvyo24

Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.

Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.

​Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.

​Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.

​Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.

Ada sesuatu yang ikut berboncengan.

"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"

​"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"

​Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Rahasia Kedai Koh Alung

​Kota Sukabumi masih diselimuti kabut tipis sisa hujan semalam saat mereka memasuki daerah pusat kota. Jalanan sepi, hanya ada satu-dua pedagang sayur yang mulai beraktivitas. 

Namun, bagi Della, pemandangannya berbeda. Lewat mata peraknya, setiap sudut ruko tua yang mereka lewati terlihat seperti memiliki "penghuni" yang sedang mengintip dari balik gorden yang rapat.

​Si Creamy berhenti tepat di depan sebuah kedai tua dengan papan nama kayu yang sudah kusam bertuliskan "Kedai Mie Alung - Sejak 1960".

​"Ger, bantuin Papa turun," bisik Della. Badannya terasa berat, seolah ada beban tak kasat mata yang nangkring di pundaknya sejak dari Karang Hawu.

​Geri menurunkan Koh Adnan yang masih koma dengan susah payah. Begitu kaki mereka menginjak teras kedai, pintu kayu yang berat itu terbuka lebar sebelum sempat diketuk.

​SRAAAKKK!

​Seketika, butiran-butiran keras menghantam wajah mereka. Koh Alung berdiri di ambang pintu, tangannya memegang mangkuk tanah liat berisi beras merah yang sudah dicampur dengan garam kasar dan potongan daun kelor.

​"Ulah asup heula! (Jangan masuk dulu!)" teriak Koh Alung dengan suara bariton nya. Matanya yang sipit menatap tajam ke arah Si Creamy, bukan ke arah Della.

​Ia berjalan memutari motor Della sambil menaburkan beras merah itu melingkar. Saat butiran beras menyentuh ban Si Creamy, terdengar suara mendesis ssssst... seperti air jatuh ke atas setrika panas. Asap hitam tipis keluar dari sela-sela mesin.

​"Koh, tolongin Papa..." pinta Della lemas.

​Koh Alung menatap Della, lalu menghela nafas panjang. Ia melihat mata perak Della dan mengangguk pelan. "Geus kasep (Sudah terlambat), tapi urang usahakeun. Bawa Adnan ka jero, tunda di luhur samak (bawa Adnan ke dalam, letakkan di atas tikar)."

​Kedai Koh Alung baunya sangat khas; campuran kaldu ayam, minyak wijen, dan... wangi kemenyan yang disembunyikan. Di sudut ruangan, ada sebuah altar kecil dengan foto leluhur dan hio yang masih berasap.

​Koh Alung membawa mereka melewati area makan menuju dapur belakang. Ia menggeser sebuah meja kayu besar, memperlihatkan sebuah ubin lantai yang berbeda sendiri ubin itu terbuat dari batu hitam legam dengan ukiran naga yang melilit sebuah kunci.

​"Dulu, kakek kamu sama saya itu satu guru di daerah Suryakencana," Koh Alung mulai bercerita sambil mengoleskan minyak berbau menyengat ke dahi Koh Adnan. "Keluarga Tan itu pemegang 'Wadah', sedangkan saya pemegang 'Kunci'. Tapi bapak kamu ini serakah. Dia mau punya wadah sendiri, makanya dia nekat bikin perjanjian buat ngunci Mei di mesin."

​Sasha yang sejak tadi gelisah, mencoba menenangkan diri dengan duduk di dekat tungku besar tempat Koh Alung biasa merebus mie. Ia melihat ke dalam kuali besar yang airnya masih tenang.

​Tiba-tiba, permukaan air itu bergetar. Sasha melihat pantulan wajahnya di air, tapi perlahan wajahnya berubah. Di dalam kuali, muncul wajah Bibi Mei yang sedang megap-megap minta tolong, tangannya yang pucat tiba-tiba keluar dari permukaan air dan mencekik pergelangan tangan Sasha!

​"LUKAS! TOLOOONG!" jerit Sasha spontan (ia memanggil nama tengah Geri karena saking paniknya).

​Geri langsung menendang tutup kuali hingga menutup rapat.

 BRAAAK! 

Suara gedoran terdengar dari dalam kuali yang tertutup, seolah ada orang hidup yang terperangkap di dalamnya.

​"Jangan bengong di sini! Darah kalian itu wangi buat mereka!" bentak Koh Alung.

​Koh Alung mengambil sebuah linggis kecil dan mencongkel ubin batu hitam tadi. Di bawahnya, terdapat sebuah kotak besi kecil yang sudah karatan. Begitu dibuka, isinya adalah sebuah Kunci Emas berbentuk kuno yang ujungnya tumpul.

​"Ini yang dicari Bibi Mei dan Sinden Karang Hawu itu, Del. Dengan kunci ini, kamu bisa mutusin batin kamu sama Si Creamy. Tapi syaratnya berat," Koh Alung menatap mata perak Della.

​"Apa syaratnya, Koh?" tanya Della mantap.

​"Kamu harus 'puasa mata'. Selama tiga hari kedepan, kamu harus tutup mata kiri kamu pake kain kafan hitam. Jangan sekali-kali dibuka, meskipun kamu dengar suara Papa kamu nangis minta tolong. Kalau kamu buka... mata itu bakal diambil selamanya sama penghuni Karang Hawu."

​Baru saja Koh Alung selesai bicara, lampu kedai mendadak mati total. Dari arah pintu depan, terdengar suara mesin Si Creamy yang menyala sendiri, dan suara langkah kaki yang berat mendekat ke arah dapur.

​Klek... klek... klek... Suara langkah kaki itu terdengar seperti besi yang beradu dengan lantai ubin.

​Lampu kedai yang tadinya mati total mendadak berkedip-kedip redup, mengeluarkan bunyi tek... tek... tek... yang seirama dengan detak jantung Della. Bau mie goreng yang gurih di kedai itu kini kalah telak oleh bau hangus kabel dan aroma tanah kuburan yang lembab.

​"Geri! Jagain Sasha!" teriak Della sambil meraba dinding, mencari pegangan. Mata peraknya berdenyut hebat, seolah-olah ingin meledak dari rongganya karena melihat terlalu banyak energi hitam di ruangan itu.

​Koh Alung dengan sigap mengambil selembar kain hitam dari balik altarnya. Tanpa banyak bicara, dia langsung melilitkan kain itu ke kepala Della, menutup mata kirinya rapat-rapat.

​"Inget, Del! Tiga hari! Ulah dibuka sanajan aya nu maot di hareupeun manéh! (Jangan dibuka meskipun ada yang mati di depanmu!)" bisik Koh Alung dengan suara berat yang penuh penekanan.

​Suara langkah kaki besi itu makin dekat. KLEK... KLEK... KLEK... Bukan cuma satu, tapi terdengar seperti belasan orang yang berjalan menyeret kaki. Geri mengambil posisi di depan pintu dapur, memegang kunci pipa besarnya dengan tangan yang gemetar.

​"Del, mereka di depan pintu! Banyak banget!" suara Geri pecah.

​Tiba-tiba, daun pintu kayu itu mulai dicakar dari luar. Tapi bukan cakar kuku biasa, melainkan bunyi logam yang menggores kayu. Lewat celah bawah pintu, masuk cairan hitam pekat yang mulai menggenangi lantai dapur. Cairan itu bergerak, membentuk tangan-tangan kecil yang mencoba meraih kaki Sasha.

​"GERI! TOLONG! KAKINYA TERASA DINGIN BANGET!" Sasha menjerit sambil loncat ke atas meja kayu tempat Koh Alung biasa memotong daging.

​Geri mencoba mengusir cairan itu dengan sisa oli dan garam, tapi tiba-tiba dari arah rak piring di belakangnya, terdengar suara piring yang bergeser. Sreeek...

​Sesosok pria tanpa kepala yang mengenakan celemek berlumuran darah persis seperti pelayan kedai zaman dulu muncul dari balik tumpukan mangkok. Sosok itu tidak menyerang, tapi dia sedang memegang sebuah piring berisi bola mata manusia yang masih segar dan berkedip.

​Sosok itu menyodorkan piring nya ke arah Geri. Dari lehernya yang  buntung, keluar suara desisan yang menyerupai bisikan: "Ieu mata Néng Della... dipenta deui ku Bibi... (Ini mata Neng Della... diminta lagi sama Bibi...)"

​"PERGI LO SETAN!" Geri menghantamkan kunci pipanya ke arah rak piring.

 PRANG! 

Mangkuk-mangkuk pecah berantakan, dan sosok itu hilang menjadi asap hitam yang bau amis.

​Koh Alung menyerahkan Kunci Emas itu ke tangan Della. Begitu tangan Della menyentuh logam dingin itu, ia merasakan sebuah penglihatan (meskipun mata kirinya ditutup). Ia melihat jembatan tua di Sukaraja di tahun 1960. Di sana, seorang pria tua sedang mengubur sesuatu di bawah pondasi jembatan sambil menangis.

​"Itu kunci buat ngelepasin Bibi Mei dari Si Creamy secara permanen, Del," jelas Koh Alung sambil menahan pintu dapur yang makin keras digedor dari luar. "Tapi kunci itu cuma bisa dipake pas malam ketiga nanti. Sekarang, kalian harus bertahan di dalem kedai ini. Jangan ada yang keluar lewat pintu depan!"

​Della merasakan tangannya panas. Kunci Emas itu seolah menyatu dengan kulitnya. Di saat yang sama, ia mendengar suara lemah dari arah tikar.

​"Della... haus... kasih Papa minum..."

​Itu suara Koh Adnan. Suaranya terdengar sangat nyata dan menyedihkan. Della nyaris refleks membuka ikatan kain di matanya untuk melihat keadaan ayahnya.

​"JANGAN DIBUKA, DEL! ETA LAIN BAPA MANÉH! (JANGAN DIBUKA, DEL! ITU BUKAN BAPAKMU!)" teriak Koh Alung sambil melempar segenggam beras merah ke arah Koh Adnan yang sedang terbaring.

​Begitu beras itu mengenai tubuh Koh Adnan, sosok yang berbaring itu mendadak berubah menjadi tumpukan jerami yang dibungkus kain kafan yang sudah busuk.

​Lampu kedai mati total. 

Sekarang mereka hanya mengandalkan cahaya dari hio di altar Koh Alung. Di luar, suara mesin Si Creamy makin menggila, raungannya terdengar seperti tangisan wanita yang sedang disiksa.

​Della terduduk di lantai, memeluk Kunci Emas itu erat-erat. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang sedang berjalan merayap di langit-langit dapur, tepat di atas kepalanya. Sesuatu yang menjatuhkan lendir dingin ke pundaknya.

​"Ger, Sha... jangan jauh-jauh dari gue," bisik Della dengan suara bergetar.

​Malam pertama dari tiga malam "Puasa Mata" baru saja dimulai. Dan mereka baru menyadari, bahwa Kedai Koh Alung ternyata sudah dikepung oleh ribuan "penumpang" yang selama ini mengikuti Si Creamy dari Karang Hawu.

1
Ma Vin
bagus ceritanya,, semangat up date nya yaa kak😄😍
nhatvyo24: terimakasih ka 🙏☺️
semoga suka
total 1 replies
falea sezi
)bakar.lah motornya goblok amat della
falea sezi
sasa ne ngeyel. amat harusnya biarin aja mati biar gk jd beban aja temen goblok
falea sezi
di blg ngeyel sih kapok di tempelin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!