Dituduh Cinta karena kesalahan. Rama membuktikan kalau cintanya bukan kesalahan, murni rasa dari mata turun ke hati. Usaha mendapatkan cintanya seolah didukung oleh jagat raya meski berawal dari kesalahpahaman.
“Nggak masalah nikah karena digrebek, yang penting sah.”
“Siapa kamu, berani mencintai seorang Bimantara.”
“Di dunia ini, Rama jodohnya Gita.”
Kisah cinta Rama Purwangga dan Gita Putri Bimantara, jadilah saksi seberapa darurat cinta mereka.
Spin off Bosku Perawan Tua dan Diam-diam Cinta
=== Mohon dengan sangat agar tidak baca dengan melompat bab dan ikuti sampai akhir ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Rencana Arya
Bab 33
“Hah, gobl0k!” pekik Arlan.
Melempar ponselnya mengenai gelas lalu berguling dan menumpahkan isinya. Dua rekan yang selalu mengekor kemana pun pria itu pergi menoleh heran, bahkan perempuan-perempuan yang menemani terkejut.
“Kenapa sih, bro. Tadi happy sekarang murung, kayak cewek lagi pms aja.”
“Sayang, kenapa sih? Apa kita pindah aja, aku bisa service kamu seperti biasa,” bisik perempuan di samping Arlan sambil memeluk manja.
“Hah. Bubar kalian,” teriaknya.
Salah satu rekan Arlan memberi kode agar para perempuan itu meninggalkan mereka. Suara dentuman musik terdengar saat pintu ruangan itu terbuka dan kembali senyap saat tertutup lagi.
“Ada apa sih?”
“Bangs4t. Bisa-bisanya kerja receh gitu aja nggak berhasil,” cetus Arlan sambil menahan geram bahkan rahangnya mengeras.
“Kerja apaan?”
“Gue ngerjain laki-laki itu, pacarnya Gita.”
“Astaga. Lo kerjain apa? Jangan bilang lo jebak dia?”
“Kasih peringatan. Masuk rumah sakit, tapi orang gue ketahuan. Ck, dasar beg0.” Keluh Arlan lagi lalu mengambil ponsel yang tadi dilempar. “Paling gue bayar beres semua.”
“Namanya Rama ‘kan? Lo udah tahu latar belakang dia?”
“Halah, latar belakang apaan. Cuma kerja jadi perawat doang, banyak gaya. Dia tuh nggak pantes sama Gita, gue lebih pantes. Gita belum tahu aja power keluarga gue, menolak seorang Arlan.”
Mengutak atik ponselnya menghubungi seseorang. “Halo, pah. Aku butuh uang.”
***
“Nggak betah ya?” Rama mengusap kepala Gita yang menelungkupkan wajah di sisi ranjang.
Gita menggeleng.
“KAlau mau pulang dulu, aku nggak pa-pa kok.”
“Ih, aku bukan mau pulang,” sahut Gita lalu kembali menegakkan tubuhnya. Tangan Rama berpindah mengusap wajah istrinya yang terlihat sendu.
“Terus kenapa?”
“Nggak tega lihat abang. Mau gerak susah, mau geser sakit. Turun juga sulit.”
Rama terkekeh, meraih tangan Gita dan mengusapkan telapaknya ke sisi wajah. Gadis manja putra Arya ini bisa seperhatian dan semanis itu. Ternyata ia tidak salah pilih pendamping hidup.
“Aku nggak pa-pa. Cuma lecet doang. Justru aku sakit kalau lihat kamu sedih dan murung begini. Jangan sedih ya neng cinta, nanti cantiknya luntur.” Rama melirik ke arah toilet yang pintunya masih tertutup. “Mendekat dong!”
“Kenapa, abang mau duduk?”
“Bukan, mau cium kamu.”
“Ish, nggak boleh. Nanti kepergok Ibu atau ada yang datang.”
“Nggak bakal. Ayo, cepat.” Meski sebagian tubuhnya masih terasa nyeri dan perih, untuk hal me sum Rama masih juara. Tenaganya masih ada untuk menarik Gita mendekat dan menyosor melakukan pagutan yang cukup panas di pagi itu. Terbawa suasana seakan lupa merasa berada di mana dengan kondisi apa.
Pintu toilet terbuka dan ....
“Pagi semua. Rama, waktunya diseka ya. Ya ampun,” gumam Lisa baru beberapa langkah.
“Ya Tuhan, Rama.”
“Abang yang minta bu, aku udah nolak tadi,” tutur Gita menahan malu. Sedangkan Rama malah tergelak karena aksinya kepergok Lisa dan Ibu.
Lisa ikut tertawa mendorong troli berisi air hangat.
“Ada handuknya?”
Gita membuka laci bed side cabinet, membuka tas dan mengeluarkan handuk bersih.
“Nanti ganti dal4man sama Gita aja ya, aku hanya seka badan aja.”
“Hah, aku?”
“Biar ibu kalau Gita masih malu.” Ibu menengahi karena tahu putra dan menantunya belum macam-macam meski sudah resmi suami dan istri.
Lisa menatap Rama seolah bertanya, kalian belum melakukan itu. Rama tersenyum sambil menggeleng. Lisa sempat terkejut lalu kembali fokus dengan tugasnya. Menarik tirai dan menaikan kepala ranjang.
“Gita bantu Rama untuk duduk ya,” titah Lisa.
“Bantu yang, harus di peluk nih.”
Ibu meletakan underwe4r di sisi ranjang di atas handuk bersih. Drama menyeka tubuh Rama sempat heboh karena ibu beberapa kali menegur Rama yang mencuri kesempatan dan Gita tersipu malu.
“Dasar bayi besar,” ejek Lisa. “Nanti dokter Oka visit untuk cek luka, ya. Karena ada yang harus diganti rutin perbannya,” tutur Lisa lalu pamit membawa linen dan kimono kotor keluar.
“Sarapan dulu, Ram!" ibu sudah menggeser nampan ke hadapan putranya.
“Kalian sarapan apa? Aku minta Sapri beli ya. Mau makan apa?”
Terdengar ketukan pintu, ternyata Sarah dan Moza yang datang bahkan membawa serta dua anaknya.
“Wah, kesayangannya onti,” pekik Gita.
Sarah dan Mira saling sapa dan memberi pelukan, menyapa Rama lalu menempati sofa. Sementara Gita sibuk dengan kedua bocah keturunan Moza dan Dewa.
“Hadeuh, jagoan bisa gini," ejek Moza dan Rama hanya tersenyum.
“Uji nyali, mbak.”
“Orang mah honeymoon ke mana gitu, ini malah di rumah sakit.”
“Kita nanti honeymoon ya bang, kalau udah sehat. Aku mau ke Bali atau jogja aja.”
“Kita ikut ya onti, mami sama papi juga oma dan opa. Semuanya aja biar seru.”
“Ish, mana seru honeymoon bareng krucil. Aku ‘kan mau sama abang aja.”
Sedangkan di sofa, Sarah terlibat pembicaraan dengan Mira. Menawarkan wanita itu untuk istirahat di rumah dan Rama akan didampingi oleh orang kepercayaannya.
“Nggak apa, saya temani Rama sampai dia boleh pulang. Tinggal Rama keluarga yang saya punya, nggak bisa saya pulang sementara dia di sini.”
Sarah meraih jemari Mira dan menggenggamnya. “Sabar ya bu, kita berikan pengobatan terbaik untuk Rama.”
Sedangkan di tempat berbeda.
“Arlan Sebastian,” ucap Arya.
“Hm. Putra dari Tegar Sebastian, Tirta corp,” jelas Doni.
Arya tersenyum sinis mendapati siapa lawannya kini. Anak kemarin sore cari masalah,merasa hebat karena background keluarganya.
“Mau diapain pah?” tanya Mada. saat ini mereka berkumpul di ruang kerja Arya.
“Jalur hukum saja. Tidak lama lagi, Tegar akan mengemis agar mencabut laporan. Jangan terpengaruh, keselamatan keluargaku lebih utama. Berani dia mengusik seorang Arya.”
“Oke, aku hubungi pengacara kita.”
“Libatkan juga Darma Mandala. Semalam dia menghubungiku,” titah Arya lalu mengirim kontak Darma pada Doni.
“Dua keluarga hebat bersatu, bukan kaleng-kaleng ini urusan.”
Mada terkekeh. “Kukira cupu ternyata suhu.”
***
...Tim Pencari Kitab Suci🤸...
Lisa Kanaya : Demi apa, pagi-pagi mataku sudah ternoda
S4pri : Waduh, kenapa Mbak?
Yuli Imut : Dokter Oka, Lisa diapain sih? 🤭
Beni Ganteng : Curiga bukan persoalan dengan suaminya. Mandiin biang kerok ya, si Rama
Asoka Harsa : Kenapa Yang? Siapa yang berani ganggu kamu di SM?
Lisa Kanaya : Ada yang me sum 🫣🤣
Asoka Harsa : Siapa yang berani me sum di rumah sakit?
Yuli imut : Serius sa?
S4pri : Siapa pelaku itu? Bertanya dengan nada tinggi setinggi harapan orangtua pada anaknya
Beni Ganteng : Hm, udah ketebak dah. Nggak bakalan salah
Lisa Kanaya : Penghuni kamar VIP, yang kemarin kecelakaan
Yuli Imut : Njirr, Rama lo ngapain sama Gita
Rama P. : apa sih masih pagi udah berisik. Suruh siapa Lisa datang pas gue cip0k neng Gita
S4pri : Udah kebelet kayaknya. Kalau Mbak Lisa nggak datang, mungkin udah ….
Beni Ganteng : Ne nen ya, Sap
Asoka Harsa : 😄
gita itu anak kesayangan nya papih arya, keturunan nya Bimantara, tau kagak?? g bakalan tau lah orang maenannya di sawah sih😂
sabar ram, ora g sabar kan tanah luas