NovelToon NovelToon
Kamu Selingkuh Kunikahi Abang Angkatmu

Kamu Selingkuh Kunikahi Abang Angkatmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Orang Disabilitas
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mila julia

Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Ingatan Devon

Devon mengerutkan kening saat ingatan demi ingatan menyerbu kepalanya tanpa ampun. Ia memegangi pelipisnya erat, seolah berusaha menahan sesuatu yang hendak meledak dari dalam sana. Rasa nyeri itu menusuk, berdenyut, seperti ribuan pecahan kaca yang dipaksa menyatu kembali di dalam otaknya. Namun ingatan-ingatan itu tak berhenti—justru semakin jelas, semakin penuh, mengisi ruang kosong yang selama ini terasa hampa.

Potongan masa lalu itu akhirnya menemukan bentuknya.

Ia berdiri di ruang kerja dengan napas memburu, matanya memerah oleh amarah yang tak lagi bisa ia kendalikan. Sebuah map tebal melayang dari tangannya, menghantam wajah Donni tanpa ampun.

“Aku tidak peduli denganmu yang selingkuh dengan wanita tua itu, tapi sekarang kamu dan wanita tua itu justru berani-beraninya menggelapkan uang perusahaan. Aku tidak akan tinggal diam untuk ini, Donni. Aku pastikan kamu akan mendekam di penjara atas perbuatanmu ini bersama dengan jalangmu itu.”

Suasana ruangan seketika membeku.

Donni yang biasanya tampak percaya diri, kini jatuh berlutut di hadapan Devon. Tubuhnya gemetar, wajahnya pucat pasi. Ia meraih kaki Devon, seolah itu satu-satunya harapan yang tersisa.

“Aku akan mengembalikannya, tolong jangan lakukan ini kepadaku…”

Devon menatapnya dengan dingin. Tak ada lagi sisa belas kasihan di sana, hanya kekecewaan yang berubah menjadi kemarahan yang membatu.

“Mengembalikan dengan apa akan kamu kembalikan? Kamu hanya menumpang di sini. Tidak ada yang bisa kamu lakukan selain saham lima persen yang dimiliki Sinta. Aku akan menjebloskanmu ke penjara. Laki-laki seperti kamu seharusnya tidak bertingkah.”

Suaranya tajam, menghujam tanpa ragu. Ia lalu mengangkat sebuah flashdisk, memperlihatkannya tepat di depan wajah Donni yang semakin pucat.

“Aku sudah mengumpulkan semua bukti tentang kejahatanmu. Arsip keuangan, dan berapa miliar yang sudah kamu gelapkan. Tunggu saja sampai polisi mengangkutmu.”

Donni semakin panik. Tangannya mencengkeram kaki Devon lebih erat, seolah takut pria itu benar-benar pergi.

“Tolong berikan aku waktu. Aku akan menggantinya… tolong…”

Dengan satu hentakan kasar, Devon melepaskan cengkeraman itu.

“Aku akan memberikan waktu dua hari untuk kamu mengembalikan semua uang yang sudah kamu curi dari perusahaan ini. Jika dalam waktu dua hari kamu tidak bisa mengembalikannya, aku pastikan tanganku sendiri yang akan mengangkutmu ke kantor polisi.”

Tanpa menoleh lagi, Devon berbalik dan meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Donni yang terpuruk dalam ketakutan dan keputusasaan.

Ingatan itu bergeser.

Dua hari berlalu, dan seperti yang sudah ia duga, Donni gagal mengembalikan uang yang telah ia gelapkan.

Malam itu, Devon membawa semua berkas dan flashdisk berisi bukti kejahatan tersebut. Ia berniat menyerahkannya kepada pengacara handal, kepercayaan keluarga Morrix. Tidak ada sedikit pun rasa curiga di dalam dirinya. Ia tidak tahu, bahwa seseorang telah merancang sesuatu untuk menghentikannya.

Sebelum berangkat, seorang OB menghampirinya dan memberikan sebotol air minum. Tanpa berpikir panjang, Devon menerimanya dan langsung meneguknya.

Kesalahan kecil yang berakibat fatal.

Beberapa menit kemudian, saat mobilnya melaju di jalanan malam yang lengang, pandangannya mulai kabur. Kelopak matanya terasa berat, seolah ditarik paksa untuk terpejam.

Ia menggenggam setir lebih erat.

Tidak… tidak sekarang…

Namun tubuhnya mulai mengkhianatinya. Rasa kantuk itu terlalu kuat. Ia mencoba menahan, mencoba tetap sadar, mencoba menepikan mobilnya—

Tapi belum sempat.

Sebuah truk besar tiba-tiba menyalip di depannya. Devon terkejut, refleks membanting setir ke kanan. Dalam hitungan detik, semuanya terjadi begitu cepat.

Mobilnya menghantam pagar pembatas.

Dan terjun bebas ke dalam jurang.

“Aakkkhhh… AKKKHH—!”

Suara teriakan itu seakan menggema, bercampur dengan suara besi yang remuk dan kaca yang pecah.

Lalu gelap.

Semuanya gelap.

“Devon… Devon…”

Suara itu samar, jauh, seperti datang dari dunia lain.

Lora berdiri di samping ranjang, tangannya gemetar saat mengguncang tubuh pria itu yang terbaring lemah. Wajah Devon terlihat kesakitan, napasnya berat, keningnya berkerut dalam.

“Epon… hikss… hiks… hiks…”

Tangis Gian pecah, suaranya kecil namun penuh kepanikan.

“Epon bangun…” Gea ikut menggenggam tangan Devon, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Suara tangis dan kepanikan itu perlahan menarik Devon kembali ke kesadaran. Kelopak matanya bergerak pelan, lalu terbuka.

Tatapannya kosong sesaat.

Namun kemudian—

Berubah.

Untuk beberapa detik yang terasa begitu panjang, ia menatap Lora. Tatapan itu… berbeda. Dalam. Penuh kesadaran. Sama seperti delapan tahun lalu.

Lora terdiam.

Jantungnya berdegup kencang, begitu kencang hingga ia bisa merasakannya di ujung jarinya.

Tatapan itu… tatapan pria yang ia cintai.

“Devon… apa kamu…”

Harapan itu hampir saja keluar dari bibirnya.

Namun—

“QUEEENNN!”

Suara itu menghancurkan segalanya.

Devon tiba-tiba berteriak dengan wajah polos, senyum lebar menghiasi bibirnya seperti anak kecil yang baru bangun dari mimpi buruk.

“Epon pikir Epon sudah mati tadi… aakkhhh kepala Epon terasa cenat cenut, queen… huhuhuhu sakit, queen…”

Ia kembali mengoceh tanpa henti, merintih dengan nada manja yang begitu kontras dengan tatapan barusan.

Lora terdiam.

Harapan yang sempat tumbuh, hancur seketika.

Padahal… ia baru saja berpikir bahwa pria itu telah kembali.

“Ada apa denganku… kenapa aku mengharapkannya kembali normal…”

Ia menunduk, menepis perasaan asing yang tiba-tiba menyeruak di dadanya.

“Queen lihat, tangan Epon juga biru-biru… huhuhu ini semua gara-gara nenek sialan itu. Harusnya dia tidak menarik tangan Gian hingga jatuh…”

Devon terus mengeluh sambil menunjukkan lengannya yang memar.

“Gian, kamu baik-baik saja, kan?” tanyanya, menoleh ke sisi ranjang dengan wajah penuh kekhawatiran.

“Iya, Gian baik-baik saja berkat Epon,” jawab Gian, mengusap air matanya.

Gea mendekat, menggenggam tangan Devon dengan hati-hati.

“Maafkan Gea, ini salah Gea. Gara-gara Gea, Epon jadi kesakitan…”

Devon langsung menggeleng cepat, lalu menggenggam tangan kecil itu dengan lembut.

“Tidak. Ini semua salah nenek lampir jelek itu. Princes yang cantik tidak boleh menyalahkan dirinya terhadap apa yang bukan salahnya.”

Senyumnya polos, hangat… terlalu tulus untuk seseorang yang baru saja hampir kehilangan nyawanya.

Namun kemudian, tatapannya beralih ke arah David.

“Benarkan, kepala pelayan? Kamu sering mengatakannya kepadaku saat menjalani sesi terapi.”

David menatapnya, mencoba menyembunyikan keterkejutan yang sempat muncul di wajahnya.

“Sangat benar, Tuan.”

Namun di balik sikap tenangnya, ada kecurigaan yang perlahan tumbuh. Terlebih setelah ia melihat tatapan Devon beberapa saat yang lalu—tatapan yang tidak mungkin dimiliki oleh “Epon”.

Devon lalu kembali menoleh ke arah Lora.

“Queenn…”

Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, wajahnya berbinar penuh kebanggaan.

“Queen, Epon hebat, kan? Epon baru saja menjadi penyelamat untuk Gian.”

Nada suaranya begitu ceria, seperti anak kecil yang meminta pujian.

“Ayo peluk Epon, queen.”

Lora terdiam sejenak, namun akhirnya melangkah mendekat. Ia memeluk Devon perlahan.

"Epon sangat hebat Queen sangat berterimakasih dengan Epon karna sudah menyelamatkan Gian."ucap Lora.

''Tentu saja Epon harus menyelamatkannya karna Epon adalah tim penyelamat super seperti super wings "ucapnya berceloteh panjang seperti biasanya menceritakan serial kartun yang biasa ia tonton Akir - Akir ini.

"Iya Epon memang seperti super wings,bahkan Epon lebih keren di bandingkan dia."puji Lora mengusap punggung laki- laki itu.

Yeaayy Epon hebat ,Epon sangat penyelamat."ucapnya tertawa ceria masih memeluk tubuh Lora Erat.

Namun di saat yang sama—Devon melirik ke arah David.Tatapannya berubah,Dingin, Tajam, Penuh kesadaran.

Sebuah tatapan yang hanya berlangsung sepersekian detik… namun cukup untuk membuat David terkejut bukan main.Tatapan saat Devon sadar barusan bukanlah tatapan kebetulan tapi Devon benar-benar sudah kembali .

Jantungnya berdetak lebih cepat,namun ia tetap diam.Dia berusaha bersikap seolah tidak melihat perubahan apa-apa di saat Lora melepas pelukannya dari Devon.

.

.

.

💐💐💐Bersambung 💐💐💐

Kira - kira apa hubungan Steven dan Delia ya kali ini???

Lanjut Next Bab ya guys😊

Lope lope jangan lupa ya❤❤

Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like

1
Allea
kamu ogah2an upnya thor 😅
Mila Julia: maklum KK masih suasana lebaran sodara2 belum pada minggat🤣🤣🤣
total 1 replies
Mila Julia
kasih tau cintaa biar lora sadarrrr😅😅😅
Allea
good steven 🤭🤭🤭 masih edisi sebel ma lora thor 😅
Allea
senang sih lora lengah terlalu nyantay soalnya udah tau banyak musuh ga gercep 🤭🤭🤭
Mila Julia: iyaaa lagiiuu🤭🤭
total 1 replies
Allea
akhirnyaaaaaa ingatan Epon kembali tetap pura2 y Epon buat membumi hanguskan kuman2😁
Mila Julia: uuuuhhhh sayang bangett sama kakak iniii😘😘😘
siap kakak
total 1 replies
Allea
mo balas dendam tapi kewaspadaan kurang piye toh thor 🤭
Mila Julia: mo bikin kesel duluuu mbak eee
total 2 replies
Allea
👍👍👍👍👍
Allea
heyyyy Epon kamu ga lelah pura2 terus 🤭
Wulan Azka
dealer beras ? baru kali ini dengar istilah dealer beras 🤔..dealer itu cuma buat kendaraan..kalau beras mah distributor
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: klo disini namanya kilang padi, yang mengeluarkan beras dgn beberapa merk
total 3 replies
Allea
Devon kamu pura2 kembali ke usia anak2 kan 😁
Mila Julia: aduhhh bener ngk yaaa🤭🤭
total 1 replies
Allea
jgn2 Devon pergi ninggalin Lora krn Devon kecelakaan y
Mila Julia: iyaa ngk yaaa🤭😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!