NovelToon NovelToon
TUKAR JODOH (SUAMIKU KAYA)

TUKAR JODOH (SUAMIKU KAYA)

Status: tamat
Genre:CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:103.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_va

Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.

Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.

Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.

Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.



Simak cerita selengkapnya 🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

"Diangkat, Mas. Siapa tahu penting, ada hal yang ingin disampaikan." Nara meraih kantong belanja berisi buah.

"Duduk dulu di situ...." Menunjuk bangku di pinggiran taman. Nara berjalan ke sana.

Ponsel berdering untuk kedua kalinya. Rama mengikuti Nara seraya menerima panggilan masuk. Helaan napasnya terdengar berat.

"Halo." Rama duduk di sebelah Nara yang mengupas kulit buah jeruk

"Halo.... " Suara Radit terdengar jelas.

"Apa kabar?"

"Baik, sehat, dan bahagia. Ada apa?" Rama rada-rada ketus.

Nara yang mendengar intonasi suara suaminya yang datar-datar dan terkesan dingin, mencium pundak suaminya.

"Aku senang mendengarnya. Maafkan aku."

Rama menghela napas. "Maaf untuk apa?"

"Karena aku dulu tidak mau mendengar mu. Aku sangat gegabah. Tolong maafkan kakakmu ini."

Rama mendengar suara perempuan yang cukup familiar. Suara Bianca yang berkata, "Papa, Nindy ingin tidur di sebelahmu."

"Aku tutup dulu...." Radit mengakhiri panggilan telepon.

Kembali Rama menarik napas dalam-dalam. Mendadak kakaknya minta maaf, dulu dia paling kasar dan ingin segera menyingkirkan dirinya demi Bianca. Tertawa terbahak-bahak saat Rama menarik koper keluar rumah. Tawa itu masih terngiang-ngiang sampai detik ini. Tawa kebencian.

"Mas...." Nara menepuk paha suaminya.

"Ada apa?"

"Minta maaf, Nara. Kakakku minta maaf. Mungkin dia menyesal atau tahu sesuatu," sahut Rama.

Nara menyuap buah jeruk. "aaakk... manis banget kayak aku."

Rama membuka mulutnya. Menerima suapan buah dari sang istri.

"Aku pikir, Kak Radit mengetahui sesuatu tentang istrinya, Mas," kata Nara.

"Minta maaf karena tahu telah salah menuduh mu melecehkan Bianca."

"Ya, aku berpikiran seperti itu. Mas Radit menutup telepon saat Bianca ada di dekatnya. Memang ada sesuatu," timpal Rama.

"Nanti aku telepon mama."

Rama menoleh ke samping. Istrinya itu membuka buah jeruk yang ketiga. Nafsu makan istrinya kadang bagus, kadang bikin puyeng karena tidak mau makan.

"Laper apa doyan?" gurau Rama.

"Dua-duanya, Mas." Nara menyuapi Rama lagi.

"Aku lihat-lihat kamu agak berisi badannya," ucap Rama hati-hati. Biasanya perempuan sensitif jika berkaitan dengan berat badan.

"Iya kah?" Nara terlihat senang. Karena dari dulu susah naik berat badannya.

"Mudah-mudahan bisa berat badan proposional, Mas. Biar agak semelehoy."

"Aku suka tubuhmu. Nggak perlu dengerin orang," tegas Rama.

Nara mengulum senyum. "Kebanyakan cowok suka yang besar."

"Nggak semuanya, Nara. Aku salah satunya. Ayo, pulang. Bisa-bisa jeruknya habis di sini." Rama beranjak dari bangku taman. Meraih kantong belanja yang terbuat dari kain tebal.

Nara menggandeng lengan suaminya. Rasanya sangat menyenangkan walaupun hanya jalan membeli buah. Masa pacaran setelah menikah.

"Mas, mampir ke minimarket. Mau bel roti tawar," kata Nara.

"Pingin bikin roti bakar di rumah."

Rama mengangguk. "Sekalian beli selai kalau mau."

Nara mendorong pintu minimarket, melangkah masuk ke dalam. Rama hanya mengekori istrinya, dari mengambil roti beralih ke rak lain.

"Mau mens...?" tanya Rama karena Nara mengambil satu pack pembalut.

"Masih empat harian lagi."

"Pantes moodnya naik turun."

"Dimaklumi ya, Pak Suami." Nara menggamit lengan suaminya.

"Bayarin...."

Rama membayar roti dan pembalut tanpa mengantre. Lantas keduanya pulang ke rumah kontrakan.

...****************...

Radit memandangi bayi kecil di tengah tempat tidur. Jemari telunjuk Radit menyusup di telapak tangan Nindy.

"Bagaimana kalau kita foto keluarga?" Bianca yang berbaring di sebelah kanan memandang Radit.

"Terserah kamu," sahut Radit, yang tersenyum sendiri karena melihat Nindy menguap.

"Baiklah, aku yang akan mengurusnya. Tadi telepon siapa??"

Radit mengalihkan tatapannya. "Maksudnya?"

Bianca menjelaskan waktu masuk kamar tadi, melihat Radit memegang ponsel dan bicara.

Radit menggelengkan kepalanya. "Aku nggak ingat. Kamu tahu aku nggak bisa ingat apa yang aku lakukan sebelumnya."

Ponsel Radit di bawah bantal. Ingin sekali Bianca mengambilnya, mengecek riwayat panggilan keluar.

Sekar memasuki kamar, membawa sepiring buah potong apel dan kiwi juga buah anggur.

"Kami bertiga ingin foto bersama, Ma," ucap Bianca.

"Ide yang bagus," tukas Sekar menaruh piring di meja.

"Supaya Nindy punya foto kenangan bersama orang tuanya sewaktu bayi."

Sekar membantu Radit duduk. Menumpuk beberapa bantal sebagai sandaran.

"Bia, mama pingin lihat fotomu waktu bayi. Pasti selucu dan secantik Nindy," ucap Sekar yang lalu meminta Orie mendekatkan overbed table yakni meja makan pasien yang sering digunakan di rumah sakit.

"Foto-fotoku waktu bayi hilang semua, Ma. Waktu itu rumah kami kebanjiran sampai atap," ucap Bianca seraya mengangkat tubuh Nindy.

"Oh, gitu." Sekar memindahkan piring buah di atas overbed table.

"Satu pun nggak ada?"

"Nggak ada, Ma. Foto waktu sekolah SD dan TK juga hilang," imbuh Bianca.

Tidak lama berselang, Desi memberitahu kalau Firdaus dan Karina datang. Bianca bergegas keluar kamar.

Selama ini, Sekar tidak pernah mempermasalahkan kedua orang tuanya Bianca yang sering datang. Bisa seminggu sekali. Selama ini berpikiran positif, hal yang lumrah karena putri satu-satunya. Tetapi sekarang banyak sekali kecurigaan.

"Sepertinya Nina tidak berminat lagi bekerja. Seharusnya kemarin sore datang, kan?" Sekar memandangi Radit yang sedang makan buah.

"Apa maksud Mama?"

Sekar membuang napas. Mengambil buku catatan kecil di meja lampu. Memperlihatkan catatan Radit.

"Mungkin sudah menemukan pekerjaan lain," ucap Radit.

"Kenapa tidak kau carikan pekerjaan lain saja, Dit?" Buku diletakkan di tempat semula.

"Aku ingin dia bekerja untukku."

"Dia pembohong."

"Aku hanya ingin memberikan kesempatan kedua."

Sekar masih menatap Radit. Kadang putranya itu ingat, kadang tidak ingat. Dengan mengatakan memberikan kesempatan kedua, Radit tidak perlu diingatkan tentang Nina yang memalsukan ijazah.

"Selamat sore, Pak."

Sekar dan Radit melihat ke arah pintu. Nina berdiri di sana.

"Apakah belum terlambat?" tanya Nina.

"Belum. Kamu boleh bekerja," jawab Radit tersenyum samar.

"Aku harap, kamu bisa membuktikan sebagai perempuan yang baik dan tidak berbohong lagi," kata Sekar.

"Alasan ekonomi tidak boleh dijadikan kambing hitam."

"Iya, Nyonya. Maafkan saya. Saya akan membuktikannya." Nina tidak berani memandang sang Nyonya.

"Baguslah." Sekar keluar kamar, sempat menepuk pundak Nina ketika melewati pintu.

Sekar ke kamar Bianca, menyapa kedua besannya. Kalau dilihat-lihat, Bianca mirip dengan Karina. Sekar tidak sabar menunggu hasil tes DNA.

"Bia berencana membuat foto keluarga bersama Nindy dan Radit. Semoga fotonya tidak hilang seperti foto Bia," kata Sekar.

"Iya, foto-foto Bia hilang karena tanah longsor. Waktu itu kami tinggal di daerah pegunungan," timpal Karina.

Bianca mendecak pelan. Tidak berani melihat Sekar.

"Banjir, Ma. Bukan longsor. Kita sudah pindah ke kota deh waktu itu. Aku ingat, main air yang setinggi pinggangku. Terus makin tinggi dan kita ngungsi."

"Iya kah? Mama lupa...." Karina meringis. Lalu berdehem pelan. Tampak sekali gugup.

Sekar tersenyum penuh arti. Sedangkan Firdaus tampak tenang-tenang saja.

...****************...

Dewa hari itu tidak bekerja. Bangun pukul sembilan pagi. Bahkan tidak tahu kapan istrinya berangkat kerja. Dia mendengar suara dua perempuan yang sedang mengobrol. Mungkin pembantunya ada tamu.

Pembantu baru yang sudah paruh baya. Cukup sopan dan masakannya lumayan. Gita masih enggan memasak. Padahal Dewa masih berharap istrinya itu mau menuruti keinginannya.

Dewa turun dari pembaringan. Melangkah pelan keluar kamar. Suara obrolan terdengar makin jelas. Membicarakan tentang uang kuliah dan laptop yang rusak.

"Nanti kalo gajian ibu bayar. Laptop bisa nyewa dulu...."

"Lama gajiannya."

Dewa melihat Septi sedang membersihkan lantai menggunakan vacum cleaner. Seorang perempuan lain berdiri membelakanginya. Tubuh perempuan itu mirip tubuh Nara. Ramping.

"Eh, Pak Dewa. Mau dibuatkan teh atau jus?" tanya Septi.

"Jus wortel saja. Tolong buatkan sarapan," kata Dewa.

"Baik, Pak. Ayo, Aini ...."

Aini adalah anak perempuan Septi yang berusia sembilan belas tahun.

Dewa memperhatikan Aini yang sempat tersenyum dan mengangguk sopan. Lumayan cantik. Mata Dewa tidak lepas dari Aini yang memakai celana jeans pendek dan kaus kebesaran. Dewa meneruskan langkahnya ke kamar mandi.

Waktu hendak memasak, Septi menerima panggilan telepon yang memberitahu saudara dari kampung sudah sampai di depan rumah. Septi menyuruh Aini membuat jus dan memasak nanti akan segera kembali.

Dewa yang keluar dari kamar mandi, menuju dapur. Melihat Aini sendirian sedang memotong wortel di talenan.

"Ibumu di mana?"

"Pulang sebentar, Pak. Ada saudara yang datang. Rumah terkunci," jawab Aini memasukkan wortel ke blender. Suara blender agak berisik.

Segelas jus diletakkan di meja makan, Aini agak grogi melihat Dewa.

"Masih kuliah?"

"Iya, Pak."

Dewa mengambil gelas jus, berjalan ke teras belakang. Membuka pintu kaca. Dia duduk di kursi malas.

Tiga puluh menit kemudian, Aini memberitahu makanan sudah siap. Dewa bangkit dari kursi, masuk kembali ke area dapur dan ruang makan.

"Semoga Pak Dewa suka. Saya masak yang ada kulkas. Kebetulan ada ayam ungkep beku. Tinggal goreng," kata Aini.

Dewa melihat tumis pakcoy campur bakso dan ayam goreng di meja.

"Kamu sudah makan?"

"Sudah, Pak. Saya ke belakang dulu."

Dewa hanya mengangguk. Mengambil nasi hangat di rice cooker lalu duduk di kursi meja makan. Masakan Aini ternyata pas di lidahnya.

Selesai makan, Dewa mencari keberadaan Aini, Perempuan muda itu sedang duduk sambil menelepon ibunya, menanyakan kapan segera balik.

"Bu, ada jadwal kuliah nanti siang. Lama banget. Iya, aku tunggu. Buruan." Aini menurunkan ponsel.

"Kamu butuh laptop?" tanya Dewa.

Aini agak terkejut. Lekas berdiri dan malu-malu menceritakan kondisi keuangan keluarganya sedang tidak baik. Ayahnya meninggalkan keluarga demi janda muda.

"Saya kalau sore bekerja di warung makan. Supaya bisa menyelesaikan kuliah," kata Aini.

"Kalau mau pake laptopku dulu," ucap Dewa.

"Oh, nggak perlu, Pak. Saya nggak ingin merepotkan," tolak Aini basa-basi.

"Nggak apa-apa. Bentar aku ambilkan." Dewa membalikkan badan.

"Ayo, ikut ke kamar."

"Eh, iya, Pak."

Aini mengikuti Dewa. Gadis itu menyukai tubuh gagah Dewa. Pasti istrinya sangat bangga mempunyai suami ganteng dan seorang tentara. Aini berhenti di ambang pintu, sungkan masuk ke kamar.

"Ini gunakan dulu." Dewa memberikan laptop warna abu-abu tua.

"Terima kasih, Pak."

"Sama-sama."

"Kuliah di mana?"

"Di Universitas XX. Administrasi perkantoran."

"Boleh tahu nomer hapemu...." Dewa tersenyum miring saat Aini memberitahu nomor ponsel.

...****************...

Rama demam tinggi. Menggigil kedinginan di balik selimut. Nara yang khawatir hanya bisa duduk di sisi tempat tidur. Suaminya belum mau periksa karena baru setengah hari demam.

"Mas...."

"Nggak apa-apa ini. Cuma kecapekan, Nara," sela Rama.

Rama yang terbiasa terlihat segar, kuat, dan kokoh mendadak seperti daun layu. Nara khawatir juga gemas, karena suaminya mengeluh ini itu. Bisa dibilang cerewetnya muncul saat sakit.

"Mau aku buatkan bubur atau sop?" Nara bertanya karena sang suami belum makan.

"Sop ayam. Tolong gosok dulu punggungku."

"Balsem atau minyak kayu putih?"

"Nggak perlu itu, usap-usap saja kayak ngusap bayi. Punggung pegel," keluh Rama, tubuhnya miring membelakangi Nara.

Nara duduk bersila. Tangan kiri mengusap-usap punggung Rama sekitar lima menit.

"Bayi besarku sudah tidur," gumam Nara turun perlahan dari tempat tidur. Dia ke belakang, mengambil persediaan ayam beku di kulkas. Juga wortel, buncis, dan daun seledri.

Nara memotong-motong dada ayam yang kemudian dimasukkan ke panci. Dahinya mengernyit karena mencium aroma ayam. Padahal bukan bau anyir.

"Huek...." Nara meludah ke wastafel yang lantas disiram dan dibersihkan menggunakan sabun cuci.

Nara menarik napas dalam-dalam, aroma bawang goreng membuat moodnya lebih baik. Sop matang dan dibiarkan di panci.

"Sayang....."

Nara bergegas ke ruang tengah. "Ada apa, Mas?"

"Teh hangat campur dikit jahe dan madu," pinta Rama.

"Tunggu." Nara balik ke dapur. Mengambil cangkir dan teh celup. Irisan tipis jahe ditaruh di dasar cangkir. Ditambah madu.

Nara membawa cangkir itu ke kamar. Suaminya tampak duduk bersandar. Menerima cangkir yang diberikan Nara.

"Makasih...." ujar Rama, menyesap teh perlahan.

Nara menyentuh dahi Rama. Masih terasa panas.

"Nggak kedinginan?"

Rama menggeleng. Setelah minum teh, memberikan cangkir pada istrinya yang masih ada sisa separuh. Rama berbaring lagi di balik selimut tipis.

"Mau makan sop nya?"

"Nanti saja."

Nara meletakkan cangkir di meja. Lama-lama capek juga mengurus suami yang sakit. Nara tidur di sebelah sang suami.

"Pingin nen...."

Nara mendelik tajam. "Mas itu sakit kok ya mesum."

Rama tertawa kecil. "Biar kamu ngamuk." Lalu menarik napas panjang. Kepalanya terasa berdenyut karena tertawa. Rama memejamkan matanya.

"Katanya mau nen, kok malah merem," goda Nara.

"Nggak minat. Untuk sekarang. Nggak ada tenaga, gumam Rama pelan.

Nara membiarkan suaminya terlelap lagi. Kedua matanya menatap langit-langit. Sementara tangan kanannya mengusap payudara yang agak mengeras dan membesar.

Karena tidak bisa tidur, Nara memilih menonton televisi. Menonton siaran reality show. Tertawa sendiri karena ada adegan lucu.

"Istriku... Yang...." panggil Rama pelan.

"Sayang!" ulangnya lebih keras.

Nara beranjak dari sofa. Berjalan ke kamar. "Apa, Mas?"

"Tolong, tengkukku dipijet. Bentar aja," suruh Rama.

"Baik, suamiku." Nara naik ke atas tempat tidur.

"Sehat aja deh. Jangan sakit demam. Rewel kayak bayi."

"Aku, kan anak pertamamu...." Rama menyahut pelan.

*

*

*

*

*

Cerita ini konflik ringan aja + greget 🤣🤣🤣

1
A.R
kayak pernah baca deh di aplikasi sebelah,apa author yg sama yhh
Komsiyah Komsiyah
Rama kok berubah ubah namanya jadi Panji
Shiro Oni Weapon Master
baru mampir
Teh Yen
aku udh otw Thor 😁 seru critanya
Teh Yen
trim kasih othor 🙏🤗 sukses.trus ke depannya yah
Teh Yen
yaah udh tamat aj itu anknya Radit blom brojol.thor.cwok.apa.cewek.tuh hehe 😁
Teh Yen
Alhamdulillah Nina udh Hamil.yah
Teh Yen
c Gita mah engg ada kapoknya masa iya satpam apartemen jg d embat yah astagfirullah
Teh Yen
itu pasti.c Gita wah mukanya.hancur.dong eng cantik lagi kena pecahan kaca mobil yah iih ngeri
Teh Yen
sabar yah Nina baru jg nikah berpa.minggu hehe usah aj terus Nina
Teh Yen
lah.mobilnya d curi orang git ,, padahal itu harta terakhir kamu yg paling mewah yah sayang sekali 🥺
Teh Yen
Nina biasa kerja keras skrng jd istri seorang.ceo malah bingung kagak ngapa"in yah Nina 🤭
Teh Yen
haha engg pa pa mas Rama biar membulat bersama kan adil 🤭🤭
Uthie
Baca sedikit cerita nya aja pasti gak kalah bagus dehhh sama yg sekarang sy baca 👍👍👍😘😘😘😘🤩
Uthie: 😘😘😘😘😘😘
total 2 replies
Uthie
Terimakasih atas karyanya yg senang banget bacanya 👍👍👍🤩🤩🤩

Aslii lohhhh.. ini sedari awal mampir langsung maraton dan gak pindah ke lain hati dulu, sampai pada akhir cerita ini 👍👍👍🤩🤩🤩🤩🤩🤗🤗
Tri Wahyuni: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
Uthie
Yaaa....udahan 🤩🤩🤩🤩
Uthie
senang nya 👍👍👍
Uthie
nyebelin cowok banci macam si Andre yg adem ayem sama selingkuhan nya dan gak inget sama anak yg dulu dia buat pada mendiang istrinya 😡😡
Uthie
sukkkkaaa BANGETTT 👍👍👍
Uthie
😂😂😂😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!