Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan Timah di Langit Naples
Matahari belum sempat menyentuh cakrawala saat jet pribadi Gulfstream G650 milik Maximilian membelah awan di atas Laut Tirrenia. Di dalam kabin yang remang-remang, suasananya jauh dari kesan mewah. Meja mahoni yang biasanya menyajikan sampanye kini tertutup oleh peta topografi wilayah industri Gianturco di pinggiran Naples.
Rebecca berdiri tegak di depan monitor digital, mengenakan tactical jumpsuit hitam dengan pelindung dada Kevlar. Di pinggangnya, Glock 17 kesayangannya bersanding dengan deretan magasin tambahan. Ia tidak lagi tampak seperti gadis yang galau akan statusnya; matanya memancarkan ketenangan yang mematikan, tipe ketenangan yang biasanya hanya dimiliki oleh Maximilian.
"Target kita adalah depot distribusi logistik d'Angelo di Sektor C-4," suara Rebecca bergema di kabin, memberikan instruksi kepada Vargo dan Liam melalui interkom. "Ini adalah jantung ekonomi mereka. Semua transaksi pencucian uang dan distribusi senjata ke Eropa Timur berpusat di sini. Jika kita menghancurkan tempat ini, Lorenzo d'Angelo akan lumpuh secara finansial sebelum dia sempat memakai sepatu botnya."
Maximilian, yang duduk di kursi utama sambil memeriksa senapan runduk kaliber .50 miliknya, mendongak. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang penuh kebanggaan. "Vargo akan memimpin tim darat melalui jalur drainase utara. Aku akan masuk dari pintu belakang untuk memastikan Lorenzo tidak punya jalan keluar."
Ia menatap Rebecca lurus-lurah. "Dan kau, Tesoro, kau memegang kunci udara. Jangan biarkan satu pun kendaraan keluar dari perimeter itu."
Rebecca mengangguk. "Aku akan menjadi malaikat maut mereka dari langit."
Dua puluh menit kemudian, helikopter serbu ringan milik Moretti yang telah dimodifikasi—hitam, senyap, dan tanpa tanda pengenal—melepaskan diri dari pangkalan rahasia di pesisir. Rebecca duduk di ambang pintu helikopter yang terbuka, kakinya menggantung di udara sementara tubuhnya terikat aman oleh tali pengaman rappel. Di depannya terpasang senapan runduk semi-otomatis dengan teropong termal.
Angin kencang Naples menghantam wajahnya, membawa aroma garam laut dan jelaga industri. Di bawah sana, kompleks depot d'Angelo tampak seperti benteng baja yang dijaga ketat oleh puluhan pria bersenjata.
"Tim darat sudah di posisi. Tiga... dua... satu... Eksekusi!" suara Vargo terdengar di earpiece.
BOOM!
Ledakan pertama menghantam gerbang utama, sebuah pengalihan yang sempurna. Sementara perhatian penjaga teralihkan ke bawah, Rebecca mulai bekerja. Melalui teropongnya, ia melihat dua penembak jitu d'Angelo di atas menara pengawas sedang bersiap membidik tim Vargo.
Puff! Puff!
Rebecca menarik pelatuk dua kali. Dari jarak empat ratus meter, peluru-peluru itu menemukan sasarannya dengan presisi yang mengerikan. Tubuh-tubuh di atas menara itu jatuh seperti boneka kain yang putus talinya.
"Menara utara bersih. Maju, Vargo!" perintah Rebecca.
Helikopter itu bermanuver rendah, miring ke kiri agar Rebecca mendapatkan sudut tembak yang lebih luas. Di bawah sana, kekacauan pecah. Maximilian dan timnya menyerbu masuk seperti badai, melepaskan tembakan beruntun yang merobek pertahanan d'Angelo. Cahaya dari moncong senjata dan ledakan granat menghiasi kegelapan subuh di Naples.
Rebecca memfokuskan pandangannya pada sebuah sedan lapis baja yang mencoba meluncur keluar dari hanggar belakang. Itu adalah kendaraan evakuasi tingkat tinggi.
"Pilot, tahan posisi! Target bergerak di pukul empat!" teriak Rebecca.
Ia menahan napas, menghitung kecepatan angin dan laju kendaraan. Jarinya menarik pelatuk dengan lembut. Tembakan pertama menghantam mesin mobil, memicu percikan api. Mobil itu melintir, menghantam deretan kontainer baja. Saat pintu mobil terbuka dan beberapa pria mencoba keluar sambil menembak ke arah helikopter, Rebecca menyapu mereka satu per satu.
Setiap tembakan yang ia lepaskan bukan hanya tentang tugas; itu adalah pembersihan diri. Dengan setiap selongsong peluru yang jatuh ke lantai helikopter, Rebecca merasa sisa-sisa keraguan dan bayang-bayang ayahnya, Arthur Sinclair, semakin menjauh. Ia bukan lagi sekadar nama di belakang Maximilian; ia adalah eksekutor kehendak Moretti.
"Rebecca! Lorenzo tidak ada di depot!" suara Maximilian terdengar melalui radio, diiringi suara desingan peluru di latar belakang. "Ini jebakan informasi! Dia sedang menuju pelabuhan fery pribadi di Sektor Delta! Dia mencoba melarikan diri ke Sisilia!"
"Aku melihatnya, Max! Helikopter akan mengejarnya!" balas Rebecca.
Ia menepuk bahu pilot. "Kejar yacht hitam di dermaga pribadi Sektor Delta! Sekarang!"
Helikopter itu menukik tajam, melesat melintasi atap-atap gudang menuju laut lepas. Di dermaga, sebuah yacht mewah berkecepatan tinggi baru saja melepaskan tali tambatnya. Lorenzo d'Angelo, sang arsitek kehancuran, sedang mencoba melarikan diri dari konsekuensi perbuatannya.
"Berhenti!" teriak Rebecca ke udara, meskipun suaranya tertelan raungan mesin.
Ia membidik tangki bahan bakar cadangan di bagian belakang yacht. Namun, ombak laut membuat bidikannya bergoyang. Musuh di atas kapal mulai membalas tembakan dengan senapan mesin berat. Peluru-peluru menghantam badan helikopter, menciptakan suara dentuman logam yang memekakkan telinga.
"Nona! Kita terlalu dekat! Mereka akan menjatuhkan kita!" teriak pilot.
"Tetap di jalur!" perintah Rebecca. Ia melepaskan senapan runduknya dan meraih peluncur granat yang tergeletak di sampingnya.
Ia berdiri di tepi pintu helikopter, hanya bergantung pada tali pengamannya. Dengan satu gerakan yang sangat berisiko, ia membidik tepat ke arah dek utama yacht tempat Lorenzo berdiri dengan wajah pucat pasi.
THUMP!
Granat itu melesat, meledak tepat di depan ruang kemudi yacht. Ledakan itu membuat kapal itu kehilangan kendali dan menghantam bebatuan pemecah ombak dengan kecepatan tinggi. Kapal itu hancur separuh, asap hitam membubung tinggi ke langit Naples yang mulai terang.
Rebecca mengatur napasnya. Adrenalinnya masih mendidih. "Pilot, turunkan aku di dermaga. Max sedang menuju ke sini."
Begitu helikopter mendarat darurat di semen dermaga, Rebecca melompat turun. Ia tidak menunggu Maximilian. Ia berjalan menuju puing-puing yacht yang terbakar dengan senjata terhunus.
Lorenzo d'Angelo merangkak keluar dari puing-puing, wajahnya berlumuran darah, setelan jas mahalnya kini sobek-sobek. Ia menatap Rebecca dengan kebencian murni, namun juga dengan rasa takut yang tak terlukiskan.
"Kau... jalang Sinclair..." rintih Lorenzo.
Rebecca berdiri di depannya, menodongkan moncong Glock-nya tepat di antara kedua mata Lorenzo. "Namaku Rebecca Moretti. Dan hari ini, bisnismu ditutup secara permanen."
Maximilian tiba beberapa saat kemudian dengan mobil taktisnya, melompat keluar dan berlari ke arah Rebecca. Ia berhenti saat melihat Rebecca berdiri tegak di atas pemimpin sindikat d'Angelo yang sudah tak berdaya. Max melihat pemandangan itu—gadisnya, istrinya, berdiri di tengah kehancuran musuh mereka dengan otoritas penuh.
"Dia milikmu, Max," ucap Rebecca tanpa mengalihkan pandangan dari Lorenzo. "Tapi aku ingin dia tahu, bahwa yang menghancurkan seluruh sistem finansialnya semalam... adalah aku."
Maximilian mendekat, meletakkan tangannya di bahu Rebecca, menariknya sedikit ke belakang agar ia bisa menghadapi Lorenzo. "Kau dengar itu, Lorenzo? Kau kalah karena kau meremehkan wanita yang seharusnya kau takuti lebih dari kematian."
Max menatap Rebecca dengan tatapan yang sangat dalam, sebuah pengakuan tanpa kata bahwa mulai hari ini, tidak akan ada lagi keputusan yang dibuat tanpa suara Rebecca.
"Bawa dia, Vargo," perintah Maximilian. "Kita punya pernikahan yang harus dirayakan di atas reruntuhan ini."
Serangan ke Naples itu berakhir dengan kemenangan total. Moretti tidak hanya menghancurkan fisik d'Angelo, tapi juga menghapus reputasi mereka. Saat matahari benar-benar terbit di atas Teluk Naples, Rebecca dan Maximilian berdiri di tepi dermaga, menatap laut yang tenang.
"Ini baru permulaan, bukan?" tanya Rebecca.
"Ya," sahut Maximilian, menggenggam tangan Rebecca yang masih terasa hangat karena panasnya senjata. "Tapi mulai sekarang, tidak ada lagi yang berani menyebutmu sebagai 'aset'. Kau adalah Moretti. Dan dunia harus bersiap untuk apa yang akan kita lakukan selanjutnya."
Malam itu, di Naples, legenda tentang Ratu bersafir biru lahir dalam hujan timah dan api. Rebecca telah lulus dari ujian terakhirnya. Ia tidak lagi membutuhkan validasi dari siapa pun; ia telah menuliskan statusnya sendiri di atas debu musuh-musuhnya.
𝐠𝐞𝐦𝐞𝐬 𝐚𝐪 𝐤𝐨𝐤 𝐦𝐬𝐭𝐢 𝐧𝐲𝐚𝐫𝐢 𝐦𝐮𝐬𝐮𝐡 🥺🥺🥺
𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙡𝙝 1 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙮𝙜 𝙘𝙚𝙧𝙙𝙖𝙨
𝙞𝙨𝙩𝙞𝙡𝙖𝙝2 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙣𝙞𝙨 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙛𝙞𝙖 𝙮𝙜 𝙩𝙖𝙙𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙦 𝙜𝙠 𝙣𝙜𝙧𝙩𝙞 𝙨𝙠𝙧𝙣𝙜 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙖𝙪
𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖 𝙤𝙩𝙝𝙤𝙧 🦾🦾🦾🦾😘😘😘