NovelToon NovelToon
The Dancing Soul

The Dancing Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

"Liana! Buka matamu, Liana!" teriak Adrian dengan suara yang pecah.

Ia tidak peduli lagi pada setelan jas mahalnya yang kini berlumuran darah.

Dengan kekuatan yang lahir dari rasa panik, Adrian mengangkat tubuh ramping Liana dari himpitan besi panas itu.

Air mata mengalir deras di pipi sang produser, membasahi wajah Liana yang pucat pasi.

Ia menggendongnya dengan protektif, berlari menembus kerumunan tamu undangan yang histeris menuju pintu keluar di mana sirine ambulans mulai meraung-raung.

Erwin berlari di sampingnya, wajahnya mengeras menahan amarah dan kesedihan, tangannya terus mencoba menekan luka di kaki Liana agar pendarahannya berkurang.

"Jangan tinggalkan aku, Sayang. Aku mohon," bisik Adrian parau di sela isak tangisnya saat ia meletakkan Liana di atas tandu medis.

Dunia yang baru saja memujinya sebagai pemenang, kini terasa runtuh seketika.

Di kejauhan, di sudut balkon studio yang gelap, dua pasang mata mengawasi kekacauan itu dengan kepuasan yang dingin.

Arum melipat tangannya di dada, senyum kemenangannya merekah saat melihat rivalnya terkapar tak berdaya.

Di sampingnya, Jordan menyimpan kembali alat pemotong kabel kecil ke dalam saku jasnya.

"Sempurna," desis Arum, suaranya nyaris tak terdengar di tengah kebisingan.

"Dia ingin menjadi bintang, kan? Sekarang biarkan dia menjadi bintang yang redup di ranjang rumah sakit."

Arum berbalik, tidak sudi melihat wajah hancur Adrian lebih lama lagi.

Ia menatap Jordan dengan tatapan yang penuh rencana baru.

Sabotase itu adalah pesan terakhirnya untuk Adrian: bahwa tidak ada yang bisa mencampakkannya tanpa membayar harga yang mahal.

"Ayo kita tinggalkan negara ini," ucap Arum dingin.

"Urusan kita di sini sudah selesai. Biarkan mereka membusuk dalam penyesalan masing-masing. Singapura sudah menunggu kita, Jordan."

Jordan terkekeh, merangkul bahu Arum dan menuntunnya menuju pintu belakang studio.

Mereka melangkah pergi dalam kegelapan, meninggalkan jejak kehancuran di malam yang seharusnya menjadi puncak kejayaan Liana.

Sementara itu, mobil ambulans melaju kencang membelah jalanan Jakarta, membawa separuh nyawa Adrian dan Erwin yang kini bersatu dalam ketakutan yang sama.

Lampu lorong rumah sakit yang putih pucat terasa menyilaukan bagi Adrian yang duduk tertunduk di kursi tunggu.

Jas mahalnya kini berantakan, ternoda bercak darah kering milik Liana yang mulai menggelap.

Di sampingnya, Erwin berdiri mematung, menatap pintu ruang operasi dengan rahang yang mengeras.

Keheningan di antara mereka bukan lagi karena permusuhan, melainkan ketakutan yang sama besar: kehilangan wanita yang menjadi pusat gravitasi hidup mereka.

Tiga jam berlalu seperti selamanya sebelum pintu itu akhirnya terbuka.

Seorang dokter paruh baya keluar dengan wajah lelah, melepaskan masker bedahnya.

Adrian dan Erwin serentak berdiri, menghampiri sang dokter dengan tatapan menuntut jawaban.

"Bagaimana keadaannya, Dok?" suara Adrian serak, nyaris tak terdengar.

Dokter menarik napas panjang, menatap kedua pria itu bergantian.

"Operasinya berjalan lancar. Kami berhasil menyambung jaringan otot yang rusak akibat hantaman besi itu. Namun..."

Dokter menjeda kalimatnya, membuat jantung Adrian seolah berhenti berdetak.

"Kerusakan pada saraf kaki kanannya cukup serius. Liana mungkin membutuhkan waktu rehabilitasi yang sangat lama untuk bisa berjalan normal kembali. Dan untuk menari, saya khawatir itu akan menjadi tantangan yang sangat berat baginya."

Erwin memukul dinding di sampingnya dengan kepalan tangan, meluapkan amarah yang menyesakkan dada.

Liana adalah penari; kakinya adalah jiwanya. Menghancurkan kakinya sama saja dengan merampas separuh hidupnya.

Namun, dokter itu belum selesai bicara. Tatapannya melembut, namun ada nada serius yang lebih dalam.

"Ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan. Sesuatu yang mungkin belum kalian ketahui."

Adrian menatap dokter itu tajam. "Apa itu, Dok?"

"Saat melakukan prosedur pembiusan dan pemeriksaan menyeluruh, kami menemukan bahwa pasien sedang dalam kondisi mengandung. Usia kehamilannya baru memasuki minggu keenam," ucap dokter itu tenang.

Dunia seakan berhenti berputar bagi Adrian. Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada besi penyangga yang jatuh di studio tadi. Enam minggu. Itu berarti, malam di Puncak.

Malam di mana ia membiarkan egonya menguasai segalanya, malam yang ia pikir hanya menjadi kenangan indah yang terluka, kini telah membuahkan kehidupan baru di dalam rahim Liana.

Adrian terduduk lemas di kursi tunggu, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Air matanya kembali jatuh, kali ini bukan hanya karena rasa bersalah, tapi karena rasa haru dan takut yang bercampur aduk.

Di rahim wanita yang hampir kehilangan kakinya demi menyelamatkannya, kini ada darah dagingnya.

Sementara itu, Erwin terpaku di tempatnya berdiri.

Tangannya yang mengepal perlahan melemas. Ia menoleh ke arah Adrian dengan tatapan yang sulit diartikan—ada amarah yang membara karena tahu Adrian adalah ayahnya, namun ada juga kesedihan yang mendalam menyadari bahwa harapannya untuk memiliki Liana sepenuhnya kini terhalang oleh ikatan darah yang tak terbantahkan.

"Enam minggu..." bisik Erwin lirih, suaranya sarat dengan kepedihan.

"Dokter," Adrian mendongak, matanya merah dan sembab.

"Tolong lakukan apa pun. Selamatkan dia dan selamatkan bayi itu. Saya akan memberikan apa pun yang dibutuhkan."

"Kami akan melakukan yang terbaik, Pak Adrian. Beruntung janinnya kuat meskipun terjadi trauma fisik yang hebat pada ibunya. Sekarang, mari kita berdoa agar Liana segera sadar," tutup dokter itu sebelum melangkah pergi.

Di lorong rumah sakit yang sunyi itu, dua pria itu kembali terdiam.

Mereka kini memikul rahasia besar yang akan mengubah segalanya.

Jakarta mungkin telah merenggut panggung Liana, namun takdir baru saja memberikan panggung baru yang jauh lebih berat bagi mereka bertiga.

Suasana di lorong rumah sakit yang sunyi itu mendadak mendidih.

Kata-kata dokter tentang kehamilan Liana seolah menjadi pemantik api di atas tumpukan bahan bakar yang sudah lama kering. Erwin, yang sedari tadi mencoba menahan diri demi martabat Liana, kini kehilangan seluruh kendalinya.

"Enam minggu?!" raung Erwin. Suaranya menggelegar, memantul di dinding-dinding lorong yang dingin.

"Binatang kamu, Adrian! Kamu merusaknya di Puncak? Kamu mengambil kesuciannya di saat dia begitu memujamu, lalu kamu membiarkannya dihina oleh tunanganmu di Jakarta?!"

BUGH!

Satu pukulan mentah mendarat telak di rahang Adrian.

Tubuh Adrian yang masih lemas tersungkur ke lantai, menabrak deretan kursi tunggu besi.

Sudut bibirnya pecah, mengalirkan darah segar yang baru, namun ia tidak melawan.

Ia justru bangkit perlahan, menatap Erwin dengan tatapan yang kosong namun menantang.

"Pukul aku, Win! Pukul lagi kalau itu bisa mengurangi rasa sakitmu!" teriak Adrian sambil merentangkan tangannya lebar-lebar, membiarkan dadanya terbuka untuk serangan selanjutnya.

"Hancurkan wajahku, tapi itu tidak akan mengubah kenyataan! Semuanya tidak akan berubah, Erwin. Di dalam rahimnya, Liana sedang mengandung anakku! Darah dagingku!"

Erwin menerjang lagi, mencengkeram kerah kemeja mahal Adrian hingga kainnya berderit robek.

Napasnya memburu, matanya merah padam karena amarah dan pedih yang luar biasa.

"Kamu pikir anak itu adalah tiketmu untuk memilikinya kembali?" desis Erwin tepat di depan wajah Adrian.

"Bajingan kamu, Adrian. Kamu pikir aku akan menyerah begitu saja?"

Erwin mendorong Adrian hingga punggung pria itu menghantam dinding dengan keras.

"Dengarkan aku baik-baik. Meskipun Liana hamil anakmu, meskipun ada darahmu yang mengalir di sana, aku tidak akan pernah membiarkanmu menyentuhnya lagi dengan cara yang menyakitkan. Aku akan tetap menjaganya. Aku akan menjadi dinding yang lebih tebal dari sebelumnya!"

Adrian terbatuk, ia mengusap darah di bibirnya dan tersenyum getir.

"Kamu mau jadi ayah dari anakku, Erwin? Kamu sesetia itu?"

"Aku mencintainya tanpa syarat, sesuatu yang tidak akan pernah dimengerti oleh pria ambisius sepertimu!" bentak Erwin. ia melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Adrian nyaris terjatuh lagi.

"Anak itu akan lahir, dan dia akan tahu siapa yang benar-benar ada saat ibunya berdarah-darah di lantai studio, dan siapa yang hanya bisa menangis meratapi kebodohannya sendiri."

Di tengah pertikaian panas itu, seorang suster keluar dari ruang ICU dengan wajah cemas.

"Tolong tenang, Pak! Pasien di dalam mulai sadar. Tolong jangan membuat keributan di sini!"

Seketika, kedua pria itu membeku. Amarah yang meledak-ledak tadi mendadak surut, digantikan oleh rasa takut yang mencekam. Liana sudah sadar. Ia akan segera mengetahui tentang kakinya yang lumpuh, dan tentang janin yang kini berdenyut di dalam dirinya.

1
Laila Isabella
awal cerita yg menarij
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
merry yuliana
hmmmmmm bioin si adrian bertekuk.lutit bucin abis sama liana kak
winpar
ceritanya seru
merry yuliana
hadir kak
ditunggu crazy upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!