Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Harus Tetap Berlangsung
Sementara itu, di sebuah hotel bintang lima yang telah disewa seluruh areanya demi alasan keamanan di kawasan Jakarta Selatan, Gavin Wirya Aryaga berdiri di depan jendela kaca besar kamarnya yang menghadap langsung ke arah kerlip lampu kota.
Wajahnya yang biasanya tenang dan berwibawa kini nampak sangat lelah. Lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya yang memerah karena kurang tidur selama berhari-hari. Di atas meja kerjanya, bertumpuk berkas laporan dari tim intelijen swasta yang ia sewa untuk melacak Aris, bersanding dengan tumpukan undangan pernikahan mewah yang sudah siap disebar.
Pernikahan Gavin dan Devina Maharani tinggal menghitung hari lagi. Semua persiapan fisik sudah mencapai 100 persen. Gedung, katering, gaun, hingga dekorasi bunga lili putih kesukaan Devina sudah dipesan dengan biaya yang fantastis. Namun, di balik kemewahan yang sedang dipersiapkan itu, sebuah teror raksasa sedang mengintai dari balik bayang-bayang.
Pintu kamar hotel diketuk perlahan. Pak Pamuji dan Bu Ines, orang tua Devina, masuk dengan wajah yang tidak kalah tegangnya. Mereka duduk di sofa dengan helaan napas yang berat.
"Gavin..." Pak Pamuji membuka suara, suaranya terdengar ragu namun penuh kekhawatiran seorang ayah. "Bapak dan Ibu mengerti betapa besarnya cintamu pada Devina. Kami juga tahu persiapan ini sudah menghabiskan banyak hal. Tapi... melihat Aris yang begitu nekat sampai menyerang Bu Imroh kemarin di desanya, apakah bijaksana jika kita tetap melangsungkan pernikahan ini sesuai jadwal?"
Bu Ines mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Ibu takut, Gavin. Ibu sangat takut. Bagaimana jika Aris menjadikan hari pernikahan kalian sebagai tempat pertumpahan darah? Dia sudah bersumpah tidak akan membiarkan kalian bahagia."
Gavin membalikkan badannya. Ia menatap kedua orang tua Devina dengan tatapan mata yang sangat tajam, namun dipenuhi dengan determinasi yang tidak tergoyahkan. Ia berjalan mendekat dan berlutut di depan kedua calon mertuanya itu, menggenggam tangan mereka dengan erat.
"Bapak, Ibu... dengarkan Gavin," ucap Gavin dengan suara yang rendah namun penuh dengan penekanan emosional yang kuat. "Setahun yang lalu, kita semua lari. Kita bersembunyi di rumah aman, kita menghentikan hidup kita, dan apa hasilnya? Aris tetap bisa menjangkau kita. Dia tetap bisa meneror kita karena dia tahu kita ketakutan."
Gavin menarik napas dalam-dalam, dadanya bergemuruh oleh amarah dan cinta yang bercampur menjadi satu. "Jika kita menunda pernikahan ini lagi, itu artinya kita membiarkan Aris menang. Kita membiarkan monster itu mendikte bagaimana kita harus hidup! Pernikahan ini bukan sekadar tentang perayaan cinta saya dan Devina lagi. Pernikahan ini adalah simbol perlawanan kita! Ini adalah bukti bahwa cahaya tidak akan pernah mengalah pada kegelapan."
Gavin berdiri tegak, rahangnya mengeras. "Saya sudah memutuskan. Pernikahan akan tetap dilangsungkan pada tanggal yang sudah kita siapkan! Tidak akan ada penundaan barang satu hari pun!"
"Tapi bagaimana dengan keselamatannya, Gavin?" tanya Bu Ines dengan suara yang mulai terisak.
"Saya akan mengubah hotel ini menjadi benteng pertahanan yang paling tidak bisa ditembus di Jakarta," jawab Gavin dengan mata yang berkilat penuh tekad. "Saya sudah menyewa perusahaan keamanan militer swasta internasional terbaik. Setiap tamu yang datang akan diperiksa sidik jarinya dan dipindai dengan teknologi pengenalan wajah biometrik. Tidak akan ada satu pun celah yang bisa dimasuki Aris. Jika dia berani menampakkan wajahnya di hari pernikahan kami... maka hari itu juga akan menjadi hari pemakamannya."
****
Di kamar lain yang terletak di lantai yang sama, Devina sedang duduk di tepi tempat tidur mewahnya. Di depannya, manekin yang mengenakan gaun pengantin putih gadingnya berdiri anggun. Gaun yang beberapa hari lalu membuatnya menangis bahagia di butik, kini justru nampak seperti kain kafan yang mendinginkan jiwanya setiap kali ia menatapnya.
Devina mendengar pembicaraan Gavin dengan orang tuanya dari balik pintu yang sedikit terbuka. Ia tahu keputusan keras yang diambil Gavin. Ia tahu betapa besarnya pria itu berkorban demi melindunginya dan harga dirinya.
Namun, di dalam hatinya, sebuah ketakutan yang teramat sangat terus mengakar. Ia teringat kiriman paket sepatu koki yang berlumuran darah itu. Ia teringat replika janin bayi yang hancur tercabik-cabik. Setiap kali ia memejamkan mata, ia selalu melihat wajah Aris yang menyeringai dengan belati berdarah di tangannya.
Devina memeluk lututnya sendiri di atas tempat tidur. Air matanya kembali tumpah membasahi seprai sutra hotel. Ia merasa sangat bersalah pada Gavin. Di saat Gavin sedang berjuang sekuat tenaga untuk menyusun strategi perang melawan Aris demi pernikahan mereka, Devina justru merasa jiwanya rapuh berkeping-keping.
"Kenapa harus seperti ini, Tuhan..." isak Devina dalam kesunyian kamarnya. "Kenapa kebahagiaan kami harus selalu dibayar dengan ketakutan dan air mata darah?"
Ia berjalan perlahan mendekati manekin gaun pengantinnya. Ia menyentuh lembut kain sutra halus itu. Di dalam cermin besar di hadapannya, ia melihat pantulan dirinya yang nampak sangat pucat dengan mata yang bengkak karena terlalu banyak menangis.
Devina tahu, ia tidak boleh lemah. Ia adalah alasan mengapa Gavin terus berjuang. Ia adalah alasan mengapa Bu Imroh terus mendoakannya di desa. Jika ia menyerah pada ketakutannya sekarang, maka seluruh perjuangan mereka selama setahun ini akan sia-sia.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Devina menghapus air matanya. Ia menatap lurus ke arah cermin, mencoba memanggil kembali keberanian yang pernah ia miliki saat menghadapi Aris dengan tepung dan mentega di villa dulu.
"Aku akan memakai gaun ini, Aris," bisik Devina pada bayangannya sendiri di cermin, suaranya terdengar serak namun penuh dengan kekuatan baru yang mulai tumbuh di balik kerapuhannya. "Aku akan berjalan menuju pelaminan bersama Gavin. Dan jika kamu berani datang... aku sendiri yang akan memastikan bahwa tangan kotor pencabut nyawa milikmu itu tidak akan pernah bisa menyentuh gaun pengantin ini."
****
Malam terus merangkak menuju pagi di Jakarta. Di dalam sel gelap yang entah di mana lokasinya di sudut kota metropolitan ini, Aris Wicaksana sedang duduk bersila di lantai sebuah bangunan kosong. Ia sedang mengoleskan minyak pelumas pada laras senjata api raksasa yang baru saja ia dapatkan dari pasar gelap menggunakan sisa-sisa perhiasan berharga yang ia rampas.
Aris mendengarkan berita di radio kecil bertenaga baterai yang menyala redup di sampingnya. Berita itu menyiarkan pernyataan resmi dari juru bicara keluarga Aryaga bahwa pernikahan Devina dan Gavin akan tetap dilangsungkan sesuai jadwal yang direncanakan.
Mendengar berita itu, sebuah tawa yang sangat pelan, kering, dan mengerikan keluar dari tenggorokan Aris. Matanya yang cekung dan merah berkilat di dalam kegelapan pekat.
"Bagus, Gavin... bagus sekali," desis Aris sambil mencium ujung senjata apinya yang dingin. "Tetaplah sombong di atas benteng megahmu itu. Karena tidak ada kepuasan yang lebih tinggi bagi seorang pemburu, selain meruntuhkan sebuah benteng yang paling kokoh dan melihat para penghuninya bersujud memohon ampunan di bawah kakiku."
Aris melihat kalender kecil yang ia coret dengan darahnya sendiri. Hitung mundur menuju hari pernikahan itu tinggal menyisakan beberapa lembar lagi. Dan di dalam kegelapan yang pekat, sebuah rencana pembantaian massal yang paling rapi dan paling berdarah sedang matang di dalam kepala sang monster yang haus darah tersebut.