NovelToon NovelToon
BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Kebangkitan pecundang / Ahli Bela Diri Kuno / Balas Dendam
Popularitas:768
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"

Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.

Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: PENGGUSURAN DAN ULAR DARI MASA LALU

Pagi di Jalan Sudirman, Kota Batu, biasanya dihiasi oleh aroma bakso dan udara dingin yang turun dari perbukitan.

Tiba-tiba... VREEEUUUMMM... BUMMM!

Raungan mesin ekskavator bersahutan dengan deretan mobil SUV hitam yang berhenti mendadak di depan ruko-ruko tua. CIIIIIIITTTT!

Arka sedang menyapu teras toko bukunya, "Pustaka Senyap". Ia mengenakan kaos oblong hitam pudar dan celana pendek, tampak seperti pemuda lokal biasa yang sedang malas-malasan.

Di sampingnya, Dafa asyik bermain mobil-mobilan di atas ubin semen yang retak.

"Mas Arka! Gawat, Mas!" teriak Pak RT dengan napas tersengal. HAAH... HAAH...

Arka berhenti menyapu, menyandarkan sapu lidinya ke dinding kayu. "Ada apa, Pak RT? Kok sepertinya dikejar setan?"

"Bukan setan, Mas! Tapi orang-orang dari Adiningrat Property Group! Mereka bawa surat tugas pengosongan lahan."

"Katanya ruko-ruko di blok ini sudah dibeli dan mau dihancurkan buat jadi mall mewah!" Pak RT menunjuk ke arah sekumpulan pria berjas yang sedang berdebat dengan warga di ujung jalan.

Arka terdiam sejenak. Nama itu... Adiningrat. Sebuah nama yang seharusnya sudah terkubur bersama kehancuran Siska dan ayahnya di Jakarta.

Rupanya, ular-ular kecil dari keluarga itu masih mencoba menggeliat, menggunakan sisa-sisa aset mereka di daerah untuk membalas dendam atau sekadar bertahan hidup.

"Sudah ada surat resminya, Pak?" tanya Arka tenang, suaranya sangat sopan, tipikal warga yang taat aturan.

"Sudah, Mas! Tapi ini mendadak sekali. Katanya mereka punya ijin dari pusat. Mas Arka kan punya toko buku, buku-buku itu banyak lho Mas, kalau disita gimana?"

Pak RT tampak sangat khawatir karena Arka adalah warga yang paling jarang berbuat onar.

Arka tersenyum kecil, menenangkan. "Tenang saja, Pak RT. Biar saya bicara dengan mereka."

***

Di ujung jalan, Rendra Adiningrat berdiri angkuh. KLIK. Ia membetulkan letak kacamata Ray-Ban miliknya.

Di belakangnya, empat debt collector bertato berdiri tegap. KRETEK... KRETEK... (Suara buku jari mereka yang sengaja dibunyikan).

"Besok pagi, ekskavator ini akan meratakan ruko kumuh ini! BRAKK!" seru Rendra sambil menggebrak map cokelat ke kap mobil.

Warga mulai berkerumun, ada yang menangis, ada yang memaki. Rendra hanya tertawa meremehkan. Baginya, warga Batu ini hanyalah kerikil yang bisa ia tendang kapan saja dengan kekuasaan uangnya.

Tiba-tiba, kerumunan itu terbelah. Arka melangkah maju dengan santai, tangan kirinya menggendong Dafa. TAP. TAP. TAP.

Penampilan Arka yang sangat "rakyat jelata" membuat Rendra tidak mengenalnya sama sekali.

"Permisi, Mas," ucap Arka dengan nada yang sangat rendah hati. "Saya pemilik toko buku di ujung sana. Bisa saya lihat surat perintah pengosongannya? Sepertinya ada yang keliru dengan prosedurnya."

Rendra menoleh, menatap Arka dari atas sampai bawah dengan pandangan menjijikkan.

"Siapa kamu? Tukang rongsok? Jangan sok tahu soal hukum. Ini tanah Adiningrat Group. Pergi sana sebelum anakmu saya buat menangis!"

Arka tidak mundur. Ia tetap tersenyum. "Nama saya Arka. Hanya penjual buku. Tapi setahu saya, lahan ini adalah lahan cagar budaya yang tidak boleh dialihfungsikan tanpa ijin dari kementerian kebudayaan dan... pemilik asli tanahnya."

"Hahaha! Pemilik asli? Saya adalah Adiningrat! Kakek saya yang menguasai tanah ini sejak jaman dulu!" Rendra mendekati Arka, mencoba mengintimidasi dengan tinggi badannya.

"Dengar ya, 'Mas Penjual Buku', orang-orang miskin seperti kalian ini hanya menghambat kemajuan. Kota Batu butuh mall, bukan toko buku berdebu yang isinya sampah!"

Salah satu pengawal Rendra mencoba mendorong bahu Arka. DUG!  "Heh, dibilangin jangan ngeyel! Cabut!"

Namun, saat tangan itu menyentuh Arka... DZZZT!  Sesuatu seperti sengatan listrik statis menjalar. Tangan pengawal itu mendadak lunglai. KOPLOK... (Suara tangan yang jatuh lemas).

Arka hanya memiringkan kepalanya sedikit. "Jangan kasar, Mas. Ada anak kecil di sini."

Rendra yang tidak menyadari apa yang terjadi, semakin geram. "Berani kamu ya? Seret dia! Hancurkan tokonya sekarang juga sebagai contoh!"

Baru saja mereka bergerak... NGOOOONNGGG!

Sebuah sedan mewah hitam dengan plat nomor militer membelah kerumunan. CIIIT! Pintu terbuka. DEBUM!

Jenderal Wironegoro turun dengan seragam lengkap. DAP! DAP! Langkah sepatunya berbunyi tegas di atas aspal. Rendra mendadak membeku. DEG! (Detak jantung Rendra yang memburu).

"Ada keributan apa?" suara Wironegoro menggelegar.

Rendra segera berlari menghampiri Wironegoro, membungkuk sedalam-dalamnya.

"J-Jenderal! Kehormatan besar Anda ada di sini! Saya Rendra dari Adiningrat Property. Kami sedang membersihkan lahan untuk pembangunan proyek strategis daerah..."

Wironegoro tidak menatap Rendra. Matanya tertuju pada Arka yang masih berdiri santai menggendong Dafa. Wironegoro ingin bersujud, namun ia melihat isyarat mata Arka yang melarangnya menonjolkan identitas aslinya.

"Lahan apa yang kau maksud?" tanya Wironegoro dingin.

"Lahan ruko-ruko tua ini, Jenderal. Kami sudah punya suratnya," Rendra menunjukkan map cokelatnya dengan tangan gemetar.

Wironegoro mengambil map itu, membacanya sekilas... SREEET... KRAAAKKK!  Ia merobek surat itu menjadi dua di depan wajah Rendra yang pucat pasi.

"J-Jenderal?! Kenapa?!" Rendra terperangah.

"Surat ini palsu. Dan perusahaanmu, Adiningrat Property, baru saja dibekukan oleh Pusat Intelijen Keuangan karena dugaan pencucian uang hasil korupsi mantan keluarga Adiningrat di Jakarta," ucap Wironegoro datar.

"Mulai detik ini, seluruh lahan di blok ini berada di bawah perlindungan Nirwana Nusantara Foundation untuk kepentingan riset budaya."

BRUK!

Rendra jatuh terduduk. Lututnya lemas. Ia tidak menyangka aset terakhir keluarganya akan hancur begitu saja di tangan seorang Jenderal.

"Tapi... siapa yang membeli hutang kami? Siapa pemilik Nirwana Foundation itu?!"

Wironegoro melirik Arka sekilas. Arka hanya mengangguk kecil, memberikan izin "sedikit" kejutan.

"Pemiliknya adalah orang yang tidak akan pernah bisa kau beli dengan uangmu, Rendra. Dia adalah seseorang yang kau hina barusan sebagai 'penjual buku'," bisik Wironegoro, cukup keras untuk didengar oleh Rendra.

Rendra menoleh ke arah Arka dengan mata melotot. "Tidak... tidak mungkin! Dia... dia Arka? Mantan suami Siska yang sampah itu?! Bagaimana mungkin?!"

Arka berjalan mendekati Rendra yang sedang gemetar di tanah. SREEET... Ia berjongkok, menatap mata Rendra dengan pandangan yang sangat tenang, namun terasa seperti pedang yang menghunus sukma.

"Dunia ini luas, Mas Rendra. Jangan melihat orang hanya dari kaos yang dipakainya," ucap Arka pelan.

"Oh ya, sampaikan salam pada Siska jika kau bertemu dengannya nanti di penjara. Katakan padanya... buku yang dia buang dulu, ternyata berisi rahasia yang menghancurkan seluruh dunianya."

Arka berdiri, menoleh ke arah Pak RT dan warga yang masih bengong.

"Bapak-bapak, silakan kembali beraktivitas. Ruko ini tidak akan digusur. Malah, Nirwana Foundation akan memberikan dana renovasi untuk setiap ruko agar lebih layak huni."

HOREEE!

Sorak-sorai warga pecah. Mereka mengerumuni Arka, memujinya sebagai pahlawan.

Arka hanya tersenyum malu-malu, pura-pura tidak enak hati dipuji, tetap menjaga profil rendahnya sebagai "Mas Arka yang beruntung punya kenalan Jenderal".

Setelah kerumunan bubar, Arka dan Wironegoro berdiri di dalam toko buku yang remang-remang. Reyna Viyanita muncul dari belakang membawa tiga cangkir teh.

"Kau terlalu lembut pada mereka, Arka," ucap Reyna sambil meletakkan teh.

"Rendra itu hanya pion kecil. Dia bekerja untuk The Architect cabang lokal. Penggusuran ini bukan buat mal, tapi karena mereka mendeteksi adanya getaran Segel Bumi di bawah ruko ini."

SRUPTTT...

Arka menyesap tehnya. "Aku tahu. Rendra hanyalah umpan untuk melihat apakah aku masih berada di sini atau tidak. Dan sekarang mereka tahu aku ada di sini."

Wironegoro mengangguk serius lalu menunjukkan radar satelit. BIP... BIP...

"Gusti, satelit kami mendeteksi pergerakan aneh di Selat Malaka. Beberapa kapal kargo misterius sedang menuju ke arah Jawa Timur."

"Mereka membawa peralatan pengeboran laut dalam yang sangat canggih. Sepertinya mereka mengincar sesuatu di dasar Laut Selatan."

Arka menatap ke arah peta besar di dinding tokonya. "Segel Ketujuh memang sudah menyatu, tapi keseimbangan elemen di dunia ini sedang goyah."

"Jika 'The Architect' berhasil membuka titik-titik meridian bumi tanpa ijin, Nusantara akan tenggelam sebelum fajar baru tiba."

"Lalu apa rencana Anda, Gusti?" tanya Wironegoro.

Arka berdiri, menatap Dafa yang sudah tertidur di kursi rotan. "Aku akan tetap di sini sebagai penjual buku. Biarkan mereka yang datang padaku."

"Reyna, siapkan jamuan. Kita akan kedatangan tamu dari pusat 'The Architect' minggu depan. Dia akan menyamar sebagai kolektor buku langka."

Arka berjalan ke jendela, menatap bintang-bintang. Ia tahu, ini bukan lagi soal membalas dendam pada keluarga mantan istrinya. Itu sudah terlalu kecil.

Ini adalah soal perang bayangan antara peradaban kuno Nusantara melawan tatanan dunia baru yang serakah.

"Mereka ingin melihat Satria Piningit?" gumam Arka, matanya berkilat ungu tajam, membelah kegelapan malam.

"Akan kutunjukkan... bahwa terkadang, rahasia yang paling berbahaya adalah rahasia yang berada tepat di depan mata mereka."

Satu kilometer dari sana, Rendra diseret masuk mobil polisi. BLAM! Suara pintu menutup mengakhiri kejayaannya yang semu.

Ia menangis histeris, menyadari bahwa pria yang ia injak-injak tadi adalah pemilik sah dari seluruh tanah yang ia pijak.

Tapi penyesalannya sudah tidak berguna. Badai besar sudah mulai bergerak, dan Arka Nirwana adalah pusat dari badai tersebut.

***

Dukung perjalanan Arka Nirwana dengan Like dan Komen. Update setiap hari. Terima kasih.

1
anggita
ikut like👍iklan☝aja thor.
Dedik Januari: Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!