NovelToon NovelToon
Sang Mempelai Pengganti

Sang Mempelai Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu_Fikri

Hanya satu hari sebelum hari pernikahan, Bayu Andarsono harus kehilangan sang mempelai dalam kecelakaan yang merenggut nyawa Annisa, belahan jiwanya. Keluarga besar dari kedua pihak tidak bisa menanggung malu, maka dengan keputusan tanpa perasaan mempelai wanita diganti, Andin, adik kandung Annisa. Bayu dan Andin menikah tanpa cinta, keduanya membuat kontrak hitam di atas putih. Andin setuju karena hatinya sudah dimiliki Bian Wijaya, kekasihnya yang setia. Bayu pun tak keberatan, sebab baginya, Andin hanyalah pengganti sementara. Namun, dibalik kehidupan pernikahan yang dingin, misteri mulai terkuak, sedikit demi sedikit. Bayu Andarsono bukanlah pria biasa. Ia adalah Alpha dari klan werewolf tertua di Tanah Jawa. Semakin lama kehidupan pernikahan antara Bayu dan Andin, semakin kuat pula ikatan gaib yang tak terlihat. Benarkah gadis yang ia anggap hanya pengganti itu sebenarnya adalah Mate sejati yang ditakdirkan oleh Bulan untuknya? Bisakah pernikahan palsu itu berubah menjadi ikatan a

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Festival Panen dan Bayang-bayang Kehancuran

Seminggu berlalu begitu saja, membawa ketenangan rapuh bagi Red Moon Pack. Sementara penyelidikan Bian masih terus dilakukan oleh orang-orang suruhan Bayu. 

Sebagai CEO Andarsono Grup, Bayu juga telah menugaskan beberapa orang kepercayaannya—detektif swasta dan Ksatria Gamma berpengalaman. Untuk mengawasi setiap gerak gerik lelaki itu.

Beberapa bahkan ditugaskan untuk mengikuti Bian diam-diam, memantau pertemuannya dengan keluarga Wijaya, aktivitas di kafe dan bahkan kunjungan ke rumah sakit tempatnya bekerja. 

Sampai saat ini, belum ada bukti kuat yang menghubungkan Bian langsung dengan penculikan Radit atau mantra kutukan, tapi Bayu merasa ada yang tidak beres. Liontin aneh itu masih menjadi misteri, dan setiap malam, ia memeriksa laporan pengawasan dengan mata yang semakin cekung.

Dan beruntungnya, kondisi pack saat ini sudah lebih baik. Setelah penangkapan Nenek Sumi dan peningkatan pengawasan ketat, ancaman langsung dari luar berkurang drastis. 

Rakyat Red Moon Pack sudah bisa kembali ke rutinitas awal mereka, tanpa perlu terlalu waspada.

Anak-anak mulai kembali bermain di lapangan rumput lagi, para petani kembali lagi ke hari-hari sibuk mengurus sawah, dan para ibu rumah tangga berkumpul di pasar kecil pack sambil mengobrol ringan. 

Suasana yang sempat dingin dan penuh curiga perlahan mencair, meski bekas luka saling curiga masih tersisa di hati sebagian anggota.

Musim panen sebentar lagi tiba. Udara mulai terasa lebih segar, daun-daun di hutan perbatasan mulai menguning keemasan dan aroma tanah basah setelah hujan seperti membawa harapan baru. 

Biasanya, setelah panen selesai, Red Moon Pack akan mengadakan festival meriah yang menjadi tradisi turun-temurun.

Festival itu bukan sekedar perayaan hasil bumi biasa. Tetapi juga momen yang tepat untuk memperkuat ikatan antar sesama anggota Pack, memberikan persembahan pada Moon Goddess—Dewi Bulan. Dan yang terpenting merupakan waktu yang tepat untuk mengadakan  upacara penobatan Luna, yang memang sudah sejak lama ditunda terus.

Hari itu, matahari sore menyinari ruang rapat utama di rumah Alpha dengan cahaya keemasan yang hangat. 

Bayu duduk di meja panjang yang terbuat dari kayu jati berukuran bulan sabit, aura Alpha-nya yang kuat dan berwibawa memenuhi seluruh ruangan. 

Di hadapannya, para petinggi Pack berkumpul. Ada Beta utama Pack, Rafa, beberapa ksatria Gamma termasuk Dafi, serta para tetua pack yang berusia lanjut dengan wajah penuh kerutan dan pengalaman.

“Terima kasih telah datang semua,” Bayu membuka Rapat dengan suara khasnya yang rendah namun tegas.

“Kita sudah melewati minggu yang berat. Radit masih belum ditemukan, tapi pack kita mulai pulih. Hari ini, kita akan membahas dua hal penting, yautu persiapan Festival Panen dan upacara penobatan Luna yang sudah terlalu lama ditunda.”

Rafa, sang Beta yang memang tubuh gagah dan berpostur tegap itu mengangguk setuju. 

“Alpha, festival tahun ini harus lebih besar. Rakyat butuh alasan untuk tersenyum lagi. Kita bisa adakan pasar malam di lapangan utama, pertunjukan tari bulan, dan persembahan massal di danau suci. Hasil panen jagung dan padi tahun ini cukup melimpah berkat cuaca yang mendukung.”

Salah seorang tetua berumur seribu tahun lebih, yang biasa dipanggil dengan Pak Tua Harun, mengusap janggut putihnya. 

“Itu benar sekali, anak muda. Tetapi, lebih dari itu, kita harus tetap mengutamakan keamanan orang-orang kita. Kejadian penculikan itu tidak boleh terjadi lagi. Dan tambahkan juga patroli di sekitar area festival. Jangan sampai ada penyusup.”

Dafi menambahkan, “Saya setuju. Gamma akan membagi shift patroli lebih ketat. Saya juga ingin sedikit menambahkan ide Alpha. Bahwa festival kali ini merupakan kesempatan bagus untuk menunjukkan kekuatan pack kita kepada sekutu dari pack lain. Harap undang mereka juga, dengan tetap menjaga kewaspadaan kita.”

Bayu mendengarkan dengan saksama, sesekali mencatat di buku catatannya. Pikirannya terbagi dua. Disatu sisi ia berdiri sebagai pemimpin pack. 

Disisi lain lelaki itu terus memikirkan istrinya. Andin telah menjadi pilar kekuatannya selama beberapa minggu ini. 

Meski sibuk dengan kuliah kedokteran tingkat akhir, ia tetap menyempatkan diri membantu persiapan festival, seperti mengkoordinasikan dekorasi dengan para wanita pack, bahkan belajar resep masakan tradisional untuk acara makan bersama.

“Festival Panen akan kita laksanakan dua minggu lagi,” putus Bayu. 

“Raka, kamu urus logistik dan undangan. Dafi, tangani keamanan. Para tetua, tolong berikan masukan soal ritual persembahan kepada Moon Goddessagar sesuai tradisi.”

Pembicaraan mengalir lancar. Para hadirin mulai antusias membahas berbagai detail, seperti panggung untuk pertunjukan, stan makanan khas bangsa serigala, permainan tradisional seperti lomba lari bulan purnama, dan api unggun besar di tengah lapangan. 

Suasana rapat mulai hangat, tawa kecil sesekali terdengar saat membahas kenangan festival tahun-tahun sebelumnya.

Namun, topik kedua membawa ketegangan baru.

“Yang lebih penting adalah upacara penobatan Luna,” lanjut Bayu, suaranya sedikit melembut saat menyebut nama istri kecilnya itu.

“Andin sudah menjadi istriku secara resmi, tapi pack ini butuh pengakuan publik. Ia telah membuktikan diri dengan membantu banyak keluarga, mendengarkan keluhan rakyat, dan tetap tegar meski banyak yang meragukannya karena ia hanya manusia biasa.”

Salah seorang tetua perempuan, Bu Siti, menghela napas. 

“Alpha, saya menghormati keputusan anda. Walaupun Luna yang sekarang adalah mate yang diberikan dewi Bulan. Namun, sebagian rakyat masih ragu. Manusia biasa sebagai Luna… itu belum pernah terjadi dalam sejarah Red Moon pack.” Jelasnya.

Bayu rahangnya mengeras. 

“Aku paham kekhawatiran kalian. Dalam sejarah panjang Pack, manusia memang memiliki andil dalam keberlangsungan keturunan kita. Banyak bangsa kita yang menikah dengan manusia karena ras ini pernah hampir punah ratusan tahun lalu. 

Namun, seorang Luna dari klan manusia… ini adalah pertama kalinya. Namun, lebih baik kita tetap berpikir positif untuk semua hal yang diluar kendali kita. Sebab, hanya Moon Goddess yang tahu, makna dibalik semua ini. Upacara penobatan Luna akan dilakukan pada malam puncak festival, saat bulan purnama paling terang bersinar. Aku harap kalian menyetujunya.” Bayu menjelaskan panjang lebar.

 

Raka mendukung dengan tegas. 

“Saya setuju, Alpha. Lagipula, selama ini, walaupun banyak yang terang-terangan tidak menyukai Luna, namun beliau tidak pernah membalas sekalipun. Beliau selalu tersenyum dan tampil apa adanya. Beliau bahkan membantu mengobati beberapa anggota Gamma yang terluka saat patroli.  Rakyat seharusnya melihat hal itu.”

Diskusi berlanjut hampir satu jam. Ada yang mengusulkan ritual khusus untuk “mengikat” Andin dengan pack melalui darah bulan sabit, ada yang khawatir soal biaya dan keamanan di tengah ancaman penculikan Radit. Bayu memimpin dengan bijaksana, mendengarkan semua masukan tapi tetap tegas pada keputusannya.

Di tengah rapat, pintu ruang rapat terbuka pelan. Andin masuk dengan membawa nampan teh hangat dan kue tradisional yang baru dibuatnya. 

Senyumnya lembut, meski ada lingkar hitam samar di bawah matanya. 

Akibat mimpi buruk yang masih menghantuinya setiap malam. Mimpi yang belum berani diceritakannya pada Bayu.

“Maaf mengganggu,” ucap Andin pelan. 

“Saya pikir kalian butuh penyegar.”

Para petinggi tersenyum hormat. Beberapa yang dulu sinis kini mulai melunak melihat ketulusan Andin. Bayu langsung berdiri, menarik kursi di sampingnya untuk sang istri.

“Duduklah, sayang. Ini juga rapatmu sebagai calon Luna.”

Andin tersipu, tapi tetap duduk dengan anggun. Ia ikut mendengarkan diskusi, sesekali memberikan ide segar, seperti stan kesehatan gratis untuk anak-anak pack selama festival, atau sesi cerita rakyat tentang Moon Goddess yang melibatkan generasi muda.

Rapat berakhir saat matahari mulai terbenam. Bayu menutup dengan semangat. 

“Kita akan bangkit lebih kuat. Festival ini bukan hanya perayaan panen, tapi kebangkitan Red Moon Pack. Persiapkan semuanya dengan baik.”

Para petinggi keluar satu per satu, meninggalkan Bayu dan Andin berdua di ruangan yang kini diterangi lampu temaram. Bayu menarik istrinya ke pangkuannya, memeluknya erat dari belakang.

“Kamu tidak lelah, hm?” Bayu bertanya lembut, bibirnya menyentuh puncak kepala istrinya tak kalah lembut.

Andin menggeleng pelan, mencoba menghalau kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya akibat ulah Bayu. 

“Aku baik-baik saja, Mas. Senang melihat pack mulai pulih. Upacara penobatannya… aku agak gugup.”

Bayu memutar tubuh mungil itu agar menghadapnya. 

“Kamu akan menjadi Luna terbaik yang pernah dimiliki pack ini. Aku yakin akan itu.”

Andin tersenyum, tapi di dalam hatinya, mimpi buruk tentang kehancuran pack masih membayangi. 

Sementara itu, di tempat lain, Bian Wijaya sedang duduk di ruang kerjanya, tak sadar bahwa bayang-bayang pengawasan Bayu semakin dekat. 

Di ruang bawah tanah keluarga Wijaya, eksperimen gelap terus berlangsung, dan Radit masih berjuang untuk bertahan.

Malam itu, angin musim panen berhembus lembut, membawa harapan sekaligus bisikan ancaman yang belum terungkap sepenuhnya. Red Moon Pack bersiap melakukan perayaan, tapi kegelapan masih setia mengintai di balik sudut-sudut kegelapan.

1
merdi Yanto
villain nya mulai nampak
merdi Yanto
Mana Update nya thor
merdi Yanto
kisah manusia serigala yang fresh banget
merdi Yanto
semangat Update thor🙏
Kim Borahae
hi, saya pembaca baru. Semangat terus ya buat novelnya.

btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya. hanya tekan profile, terima kasih 🤭/Grin/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!