Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TWENTY TWO
Aksa menghentikan ketukan jarinya. Ia menatap Hendrik dengan senyum miring yang teramat dingin. "Lalu... menurutmu, Pak Hendrik... siapa orang yang kau anggap paling pantas untuk menggantikan posisi saya di kursi ini?"
Hendrik menelan ludah, namun ia melirik ke arah Emily yang masih duduk dengan wajah pucat di sudut meja, mencoba mengangkat kembali sekutunya. "Siapa lagi? Semua karyawan, jajaran manajer, dan dewan direksi yang ada di gedung ini tahu benar jika Ibu Emily memiliki etos kerja yang sangat besar selama Anda tidak ada! Dia bekerja dengan sangat baik, melakukan penetrasi pasar, dan membuat Herlos Grup bisa bertahan serta tetap berdiri tegak hingga detik ini! Jika bukan Ibu Emily, lalu siapa lagi?!"
Mendengar namanya disebut sebagai kandidat, Emily mendongak dengan secercah harapan yang tersisa di matanya yang sembap, meskipun ketakutan akan jerat hukum masih membayanginya.
Dayaksa menarik napas panjang, lalu mengembuskannya secara perlahan melalui hidung. Ketegangannya begitu tinggi hingga Zacky yang berdiri di belakangnya sudah memegang baki pulpen besi, bersiap bertindak jika Aksa lepas kendali.
"Baiklah," ucap Aksa mengejutkan semua orang. Suaranya terdengar sangat tenang, terlalu tenang untuk situasi sekritis ini. "Jika menurut dewan direksi sekalian, Ibu Emily memang dinilai pantas dan memiliki kapabilitas yang jauh lebih tinggi daripada saya..."
Aksa bangkit dari kursinya, merapikan kancing jas hitamnya dengan gerakan yang sangat elegan. "Minggu depan, kita adakan voting saja secara terbuka di hadapan seluruh pemegang saham tanpa terkecuali. Voting itu akan didasarkan pada rancangan kerja dan strategi korporasi untuk lima tahun ke depan. Siapa pun di antara kita yang memiliki proposal kerja yang lebih baik, lebih visioner, dan paling mudah untuk direalisasikan secara finansial, maka itulah yang berhak menduduki takhta Direktur Utama Herlos Grup yang sesungguhnya."
Aksa menatap Hendrik dan Emily bergantian dengan tatapan meremehkan yang mematikan. "Rapat hari ini ditutup."
Tanpa menunggu jawaban atau reaksi dari jajaran komisaris, Dayaksa membalikkan tubuhnya dan melangkah lebar keluar dari ruang rapat utama, meninggalkan kegemparan dan bisik-bisik histeris yang langsung pecah di dalam ruangan tersebut.
BRAKK!
Pintu ruang kerja pribadi Direktur Utama di lantai tiga puluh enam itu ditutup dengan bantingan keras oleh Aksa. Begitu berada di dalam ruangannya yang luas dan kedap suara, topeng ketenangan yang ia kenakan sepanjang rapat langsung retak berantakan.
Aksa menghempaskan tubuhnya ke atas kursi kerja besar di balik meja ek eksekutifnya. Kedua tangannya langsung naik memeluk kepalanya sendiri. Ia memijit pelipisnya yang berdenyut-denyut dengan sangat kencang, seolah-olah ada ribuan jarum yang sedang ditusukkan ke dalam otaknya. Napasnya memburu, memekikkan rasa sakit yang luar biasa di bagian belakang kepalanya akibat menahan amarah yang teramat sangat selama dua jam penuh di ruang rapat.
Zacky masuk dengan terburu-buru, langsung mengunci pintu ruangan dari dalam. Ia melangkah cepat mendekati meja kerja dengan gurat kecemasan yang mendalam di wajahnya.
"Tuan Muda... Anda tidak apa-apa?" tanya Zacky, suaranya bergetar melihat tubuh kekar Aksa yang kini gemetar hebat menahan beban mentalnya.
"Zacky... obatku... di mana obatku?!" geram Aksa dengan suara serak, hampir menyerupai bisikan monster. Ia mendongak, memperlihatkan sepasang matanya yang kini dipenuhi oleh urat-urat merah yang mengerikan. "Aku butuh obat itu untuk saat ini juga! Kepalaku... kepalaku mau meledak, Zacky!"
Zacky mengepalkan tangannya, berdiri kokoh di depan meja. "Tapi Tuan... obat penenang saraf dosis tinggi dari Dokter Leon itu hanya boleh diminum sekali dalam waktu dua puluh empat jam. Anda sudah meminumnya pagi tadi sebelum berangkat bersama Nyonya Muda Della. Jika Anda meminumnya lagi sekarang, efek sedasinya bisa merusak jaringan saraf otonom Anda!"
"Berisik sekali kamu, Zacky!" bentak Aksa, ia memukul permukaan meja kaca hingga menimbulkan suara berdentum yang nyaring. "Cepat ambilkan obatnya! Aku tidak peduli dengan sarafku! Ambil sekarang juga!"
"Maaf, Tuan Muda. Tidak bisa!" jawab Zacky tegas, menolak perintah tersebut demi keselamatan jiwa majikannya. "Saya sudah berjanji kepada Nyonya Muda Della untuk menjaga dosis Anda tetap aman hari ini."
Mendengar nama Della disebut, Aksa menggeram frustrasi. Ia bangkit berdiri dengan sentakan kasar, mendorong kursi kerjanya hingga membanting ke lantai marmer dengan suara yang keras. Tubuhnya yang tinggi tegap berjalan limbung ke arah dinding kayu bernuansa klasik di sisi kanan ruang kerjanya.
Aksa menekan sebuah tombol tersembunyi yang tersamar di balik ukiran kayu jati. Seketika itu juga, mekanis dinding bergeser tanpa suara, membuka sebuah pintu rahasia yang menghubungkan ruang kerja itu ke sebuah bilik peristirahatan pribadi yang terisolasi sepenuhnya. Di dalam bilik remang-remang itu, terdapat sebuah ranjang berukuran cukup besar yang dilapisi seprai sutra abu-abu tua.
Tanpa memedulikan jas mahalnya yang kusut, Aksa membanting tubuhnya ke atas ranjang tersebut. Ia meringkuk, menarik bantal untuk menutupi wajahnya, mencoba memblokir semua sisa-sisa suara dengungan dan bisikan hitam yang berputar-putar di dalam kepalanya akibat provokasi Hendrik tadi.
Di tengah kegelapan bilik itu, Aksa mulai memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir bayangan ruang rapat yang memuakkan dan menggantinya dengan satu-satunya jangkar waras di dalam hidupnya, wajah Fradella. Ia membayangkan senyuman tipis Della pagi tadi, kehangatan jemari istrinya saat melilitkan dasi di lehernya, dan wangi bunga melati yang menguar dari rambut basah gadis itu. Perlahan, demi perlahan, bayangan Della bertindak bagai air es yang menyiram kobaran api di otaknya, menuntun Dayaksa masuk ke dalam tidur paksa yang sangat melelahkan.
Sementara itu, jarum jam dinding di dapur kediaman Herlos telah menunjukkan pukul lima sore. Cahaya matahari barat yang berwarna jingga keemasan masuk menembus celah jendela kaca besar, menyinari sosok Della yang sedang sibuk di depan kompor.
Della baru saja menyelesaikan masakan terakhirnya untuk sore ini. Di atas meja makan bersih telah tersaji semangkuk sup iga sapi yang mengepulkan aroma gurih rempah, sepiring gurame asam manis dengan saus yang mengkilat, dan tumis sayuran segar kegemaran Aksa. Setelah membersihkan tangannya dengan kain lap, Della berjalan menuju lobi depan, berdiri di dekat pintu kaca besar, siap menyambut suaminya pulang bekerja. Di dalam hatinya, ada rasa cemas yang tak kunjung surut sejak mobil Aksa meninggalkan rumah pagi tadi.
Tepat pukul lima lewat lima belas menit, suara deru mesin mobil SUV hitam terdengar memasuki halaman mansion. Pintu mobil dibuka, dan Dayaksa melangkah turun.
Della menatap suaminya yang berjalan mendekat. Penampilan Aksa tidak lagi serapi pagi tadi. Jas hitamnya kini disampirkan di lengan kirinya, kemeja putihnya sudah tidak dikancingkan di bagian kerah, dan simpul dasinya sudah ditarik longgar. Wajah tampan itu tampak sangat kusut, dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya yang menyiratkan kelelahan fisik dan mental yang luar biasa setelah bertarung habis-habisan di kantor pusat.
Della langsung membuka pintu depan, melangkah maju menyambut suaminya. "Aksa... kamu sudah pulang?" tanya Della lembut, matanya menelisik setiap inci wajah Aksa untuk memastikan pria itu tidak terluka.
Begitu melihat sosok Della berdiri di depannya, seluruh ketegangan di tubuh kekar Aksa seolah menguap begitu saja. Ia menjatuhkan jas di tangannya ke atas sofa lobi tanpa peduli, lalu melangkah maju mendekati Della. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Aksa langsung melingkarkan kedua lengannya di pinggang Della, menarik tubuh ramping istrinya ke dalam pelukan yang sangat erat, menyembunyikan wajah kusutnya di ceruk leher Della yang hangat.
"Aku lelah sekali, Della... Ruangan itu penuh dengan serigala liar," bisik Aksa, suaranya terdengar sangat serak dan letih di telinga Della.
Della membalas pelukan itu, mengusap punggung lebar Aksa dengan gerakan yang menenangkan. "Aku tahu, Zacky sudah menceritakan semuanya lewat pesan singkat. Kamu melakukannya dengan sangat baik hari ini, Aksa. Kamu hebat."
Aksa perlahan melepaskan pelukannya, namun kedua tangannya tetap bertumpu di pinggang Della. Ia menundukkan kepalanya, menatap bibir Della dengan pandangan mata yang mendadak berubah menjadi manja, kontras dengan matanya yang ingin membunuh Hendrik beberapa jam lalu.
"Della... aku sudah menuruti semua kata-katamu hari ini di kantor. Aku menahan emosiku, aku tidak mengamuk, dan aku meminum obatnya dengan patuh," ucap Aksa dengan nada suara yang bergetar penuh tuntutan kekanak-kanakan. "Sekarang, aku meminta sebuah hadiah ciuman darimu. Boleh?"
Della tertegun sejenak, melihat bagaimana monster yang ditakuti oleh seluruh dewan komisaris Herlos Grup kini sedang mengemis sebuah ciuman darinya dengan wajah memelas. Sebuah senyum tulus akhirnya terbit di bibir Della.
"Tentu saja boleh, Suamiku," bisik Della.
Della berjinjit sedikit, menangkup rahang tegas Aksa dengan kedua tangannya, lalu menempelkan bibirnya ke atas bibir Aksa dalam sebuah ciuman yang lembut, hangat, dan penuh dengan rasa terima kasih karena pria itu telah berjuang mempertahankan kewarasannya demi dirinya. Aksa memejamkan matanya, menikmati setiap detik kehangatan yang disalurkan oleh Della, merasakan kedamaian sejati akhirnya kembali merengkuh jiwanya yang sempat koyak.
Lucu deh kalian berdua