Di tengah kaku dan dinginnya protokol Keraton Amarta, Arya Wijaya, sang Raja muda, merasa hidupnya hanyalah pengabdian tanpa warna. Segalanya berubah saat ia bertemu dengan Sekar, seorang guru taman kanak-kanak yang juga seorang pelukis berbakat. Sekar adalah perwujudan dari keanggunan yang bersahaja—lembut dalam tutur kata, ceria dalam bersikap, dan memiliki jiwa bebas yang dituangkannya ke atas kanvas. Bagi Arya, Sekar adalah jendela menuju dunia yang lebih manusiawi. Namun, bagi tembok keraton, Sekar hanyalah rakyat jelata yang dianggap tak layak bersanding dengan takhta. Saat Arya dihadapkan pada tuntutan perjodohan politik demi stabilitas kerajaan, ia harus memilih: mempertahankan mahkota yang hampa, atau memperjuangkan cintanya pada sang pelukis yang telah mewarnai kembali hatinya. Sebuah kisah tentang benturan antara tradisi yang kaku dan cinta yang tulus, di mana keanggunan seorang wanita biasa diuji di hadapan kemegahan istana yang penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detik yang Tercuri dari Maut
Flashback.
Keheningan malam Midodareni di Keputren terasa begitu magis. Sekar duduk bersimpuh di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang telah dibalut kain jarik putih tipis untuk ritual penyucian. Kepalanya terasa sedikit berat, bukan karena sakit, melainkan karena rentetan upacara adat yang menguras tenaga.
Di atas meja kecil, uap tipis mengepul dari gelas pualam yang berisi Wedang Melati yang baru saja diletakkan oleh Ningsih. Harumnya begitu kuat, manis, dan menenangkan—atau setidaknya, begitulah kelihatannya.
Sekar menjangkau gelas itu. Ia merasakan haus yang luar biasa setelah seharian berpuasa bicara. Tanpa curiga sedikit pun pada sosok Ningsih yang selama ini tampak setia, Sekar mendekatkan bibirnya ke pinggiran gelas.
Teguk.
Cairan hangat itu mengalir melewati kerongkongannya. Awalnya terasa manis, namun sedetik kemudian, ada sensasi getir yang aneh di pangkal lidahnya—sebuah rasa logam yang tajam dan dingin. Sekar mengerutkan kening, baru saja hendak menyesap untuk kedua kalinya seketika…
BRAKK!
Pintu jati kamar Sekar terbuka dengan hantaman yang dahsyat. Seno melompat masuk dengan mata merah dan wajah yang penuh kemurkaan.
“NIMAS, JANGAN!” Teriak Seno menggelegar.
Sekar tersentak, tangannya gemetar karena terkejut. Namun, sebelum otak Sekar sempat memproses apa yang terjadi, Seno sudah berada di depannya dalam satu gerakan kilat. Dengan gerakan yang kasar namun terukur, Seno menangkis pualam itu dari tangan Sekar.
PRANGG!!
Gelas itu terlempar ke lantai marmer, hancur berkeping-keping. Cairan bening itu tumpah, dan dalam hitungan detik, lantai marmer yang terkena tumpahan itu mulai mengeluarkan buih tipis kehitaman yang berbau menyengat.
Sekar terhuyung ke belakang. “Seno… apa yang—“
Kalimatnya terputus. Sekar tiba-tiba mencengkeram lehernya sendiri. Sesapan pertama tadi mulai bereaksi. Wajahnya yang semula berseri seketika memucat seputih kain kafan. Matanya membelalak, dan napasnya mulai tersengal-sengal seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik tenggorokannya.
“Racun… Upas Warangan,” desis Seno sambil menatap lantai. Ia segera menangkap tubuh Sekar sebelum gadis itu ambruk ke lantai. “Nimas! Bertahanlah! Jangan tutup matamu!”
Di luar kamar, terdengar teriakan histeris Ningsih yang mencoba melarikan diri namun berhasil diringkus oleh pengawal lain. Namun Seno tidak peduli. Fokusnya hanya pada Sekar yang kini mulai mengeluarkan keringat dingin dan tubuhnya mulai bergetar hebat.
“TABIB! PANGGIL SEMUA TABIB!” Raung Seno hingga suaranya terdengar ke seluruh penjuru Keputren.
Arya, yang baru saja tiba di pelataran Keputren karena firasat buruknya, berlari masuk dengan jantung yang serasa berhenti berdetak. Ia melihat Seno sedang memangku Sekar yang tak berdaya, dengan sisa-sisa pecahan gelas yang menjadi bukti kekejaman Nastiti.
“Sekar!” Arya jatuh berlutut di sampingnya, meraih wajah Sekar yang mendingin. “Tidak… tidak sekarang! Sekar, lihat aku! Ini aku, Arya!”
Sekar mencoba membuka bibirnya, namun hanya suara rintihan samar yang keluar. Pandangannya mulai mengabur, menatap wajah Arya yang penuh ketakutan sebagai bayangan terakhir sebelum kegelapan mulai merenggut kesadarannya. Malam yang seharusnya menjadi malam paling indah bagi calon Permaisuri, kini berubah menjadi medan tempur antara hidup dan mati, sementara racun itu mulai menjalar menuju jantung sang Melati Amarta.
Runtuhnya Langit Amarta
Derap langkah kaki Arya di koridor batu keraton terdengar seperti dentuman genderang perang yang tak beraturan. Jubah harian yang ia kenakan berkibar, sementara napasnya memburu. Ia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa dadanya yang sesak hanyalah akibat kecemasan menjelang hari besar.
“Hanya perasaanmu saja, Arya… Dia aman… Seno menjaganya,” Bisiknya berulang kali pada dirinya sendiri.
Namun, saat ia melintasi gerbang Keputren, keheningan malam yang sakral itu terkoyak oleh sebuah teriakan yang tak pernah ingin ia dengar seumur hidupnya.
“TABIB! PANGGIL SEMUA TABIB! SEKARANG!”
Suara Seno. Suara yang biasanya dingin dan tenang itu kini pecah oleh kepanikan yang luar biasa.
Arya menerjang masuk ke dalam peraduan Sekar tanpa memedulikan adat atau protokol. Pintu yang sudah rusak akibat dobrakan Seno ia dorong hingga membentur dinding.
Pemandangan di depannya adalah mimpi buruk yang menjadi nyata.
Sekar—Melatinya, calon Permaisurinya—tergeletak di lengan Seno. Wajah yang sore tadi masih tersenyum manis saat menyajikan masakan untuknya, kini tampak layu. Kulitnya berubah pucat pasi dengan rona kebiruan yang mulai muncul di ujung kuku dan bibirnya. Fragmen gelas pualam yang hancur dilantai tampak seperti nisan kecil yang meratapi tragedi itu.
“Sekar…” suara Arya tercekat di tenggorokan.
Ia jatuh berlutut, mengabaikan serpihan kaca yang menusuk lututnya. Ia mengambil alih tubuh Sekar dari dekapan Seno, merengkuhnya dengan tangan yang bergetar hebat. Tubuh Sekar terasa dingin, seolah-olah nyawanya sedang ditarik paksa oleh kegelapan yang tak terlihat.
“MANA TABIB?!” Raung Arya. Suaranya menggelegar, mengguncang langit-langit kamar yang megah itu. Matanya merah, menatap pintu dengan tatapan seekor singa yang terluka. “JIKA DIA TIDAK SELAMAT, AKAN KUHANCURKAN ISTANA INI DENGAN TANGANKU SENDIRI!! TABIB!!!”
Sekar merintih kecil. Kelopak matanya yang indah mencoba terbuka, namun berat. Ia menatap Arya dengan pandangan yang kosong dan meredup. Jemarinya yang lemah mencoba menggapai wajah Arya, meninggalkan jejak dingin di pipi sang Raja yang kini mulai basah oleh air mata.
“Mas… Ar… ya…” Bisiknya nyaris tak terdengar. Suara itu begitu rapuh, seolah-olah embusan napas terakhirnya sedang digunakan hanya untuk menyebut nama pria yang ia cintai.
“Jangan bicara, Sayang. Jangan tinggalkan aku… kumohon,” tangis Arya pecah. Ia mendekap kepala Sekar ke dadanya, mencoba memberikan degup jantungnya sendiri kepada wanita itu. “Kau sudah berjanji akan berjalan di sampingku, bukan? Kau tidak boleh menyerah pada racun ini! Sekar!”
Tiga tabib istana berlari masuk dengan wajah ketakutan, membawa kotak-kotak ramuan mereka. Mereka segera bersimpuh di sekeliling Arya dan Sekar.
“Gusti Prabu, hamba mohon… berikan ruang,” ucap tabib kepala dengan tangan gemetar saat melihat warna kulit Sekar.
Arya tidak ingin melepaskannya. Ia memegang tangan Sekar begitu erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, Sekar akan terbang menuju alam keabadian. “Selamatkan dia,” desis Arya di depan wajah sang tabib, matanya berkilat antara ancaman dan permohonan yang paling dalam. “Selamatkan dia, atau kalian akan menyusulnya ke liang lahat malam ini juga.”
Lampu minyak dikamar itu berkedip-kedip tertiup angin malam yang masuk dari pintu yang terbuka. Di luar, langit Amarta yang tadinya cerah tiba-tiba tertutup mendung pekat. Seisi istana menahan napas, meratapi sang Melati yang sedang bertaruh nyawa di titik nadir, sementara sang Raja bersimpuh di tengah reruntuhan harapannya, memohon semesta agar tidak merenggut satu-satunya cahaya dalam hidupnya.