NovelToon NovelToon
OM CEO Itu Suamiku

OM CEO Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.

Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.

Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarak

Kost Sinta bau mie instan dan aromaterapi lavender secara bersamaan.

Kombinasi yang tak masuk akal tapi entah kenapa justru membuat Zahra merasa seperti pulang ke sesuatu yang familiar. Dia melempar koper kecilnya ke sudut kamar tamu Sinta, duduk di kasur yang springnya sudah tidak terlalu berfungsi, dan menghela napas panjang pertama sejak tadi malam.

"Baso-nya udah gue panasin." Sinta muncul di pintu dengan dua mangkuk dan muka yang penuh pertanyaan yang ditahan dengan susah payah. "Makan dulu. Cerita belakangan."

Zahra menatap mangkuk baso itu. Lalu menangis.Bukan dramatis takada isak yang keras atau bahu yang berguncang. Hanya air mata yang tiba-tiba mengalir tanpa permisi, seperti sesuatu yang sudah ditahan terlalu lama dan baru menemukan celah untuk keluar sekarang, di kamar tamu kost yang bau mie instan dan lavender, di depan sahabatnya yang langsung meletakkan dua mangkuk baso dan memeluknya tanpa berkata apa-apa.

Zahra cerita sambil makan.

Semua dari amplop itu, telepon Pak Irwan, percakapan di studio, sampai foyer tadi malam dan dua kata terakhir Rafandra.

"Hati-hati."

Sinta mendengarkan. Tak menyela. Tak langsung kasih pendapat. Hanya mendengarkan dengan cara yang membuat Zahra ingat kenapa pertemanan ini sudah bertahan sejak SMA.

Waktu Zahra selesai, Sinta duduk diam sebentar sambil memutar-mutar sumpit di antara jarinya.

"Lo tau yang paling menarik dari semua yang lo ceritain?" kata Sinta akhirnya.

"Apa."

"Lo nggak sekali pun bilang lo benci dia."

Zahra membuka mulut. Menutupnya lagi.

"Lo bilang lo capek. Lo bilang lo bingung. Lo bilang lo butuh jarak." Sinta menatapnya. "Tapi lo nggak bilang lo benci dia dan lo nggak bilang lo menyesal."

Zahra menatap mangkuk basonya yang sudah hampir habis.

"Karena gue nggak benci dia," katanya akhirnya. Pelan. "Dan gue nggak menyesal." Dia mendongak. "Itu yang bikin semuanya lebih rumit, Sin. Kalau gue benci dia, semuanya lebih gampang."

Sinta mengangguk pelan. "Jadi lo butuh tiga hari ini untuk apa?"

Zahra diam sebentar.

"Untuk mastiin," jawabnya. "Bahwa waktu gue balik dan gue akan balik gue tau kenapa gue balik. Bukan karena terpaksa. Bukan karena nggak ada pilihan lain." Dia menarik napas. "Tapi karena gue milih."

Sinta menatapnya lama.

Lalu tersenyum yang datang dari seseorang yang melihat sahabatnya tumbuh di depan matanya.

"Okay," kata Sinta. "Tiga hari. Tapi besok kita jalan. Lo nggak boleh duduk di kamar ini sambil overthinking."

"Sin—"

"Nggak ada negosiasi." Sinta sudah berdiri mengambil mangkuknya. "Besok kita ke mall. Lo udah berapa bulan nggak window shopping? Itu pelanggaran berat."

Zahra menatap sahabatnya itu. Lalu untuk pertama kali malam itu tertawa kecil yang nyata.

.

.

.

Esoknya mereka ke Grand Indonesia. Bukan karena ada yang perlu dibeli lebih karena Sinta benar, Zahra sudah terlalu lama di dalam ruangan dan otaknya butuh udara yang berbeda dari udara rumah Rafandra atau kost Sinta.

Mall di hari Kamis siang tidak terlalu ramai. Mereka jalan santai, masuk ke toko-toko tanpa tujuan jelas, Sinta yang komentar soal display window dengan antusias berlebihan sementara Zahra yang mengikuti dengan tangan di saku jaket.

Di depan sebuah toko baju, Sinta berhenti.

"Ini." Dia menarik Zahra masuk sebelum bisa protes.

"Gue nggak butuh baju baru—"

"Lo butuh sesuatu yang baru." Sinta sudah memilah-milah rak dengan kecepatan yang mencurigakan. "Bukan harus baju. Tapi sesuatu yang bikin lo ngerasa kayak lo lagi milih sesuatu untuk diri lo sendiri. Bukan karena disuruh, bukan karena ada acara, bukan karena ada tim stylist yang kirimin pilihan."

Zahra berdiri di tengah toko itu. Menatap rak-rak baju di sekelilingnya.

"Karena Om bilang gelap lebih baik." Kalimat Rafandra sebelum gala dinner itu bukan jahat, bukan mengontrol, tapi tanpa tanya. Dan Zahra yang memilih gaun hitam nomor sembilan bukan karena disuruh tapi karena itu pilihannya sendiri.

Tapi sekarang tanpa konteks apapun, tanpa acara, tanpa siapapun yang perlu dipuaskan Zahra bisa pilih apapun yang dia mau.

Dia mulai memilah.

Dua puluh menit kemudian dia keluar dengan dua kaus yang warnanya lebih cerah dari yang biasa dia pakai dan satu jaket denim yang Sinta bilang "lo banget tapi versi yang lebih berani."

Zahra menatap kantong belanjaannya di tangan.

Siang itu mereka makan di restoran Japanese fusion di lantai empat.

Tempat yang tidak terlalu besar, dekorasi kayu dan tanaman hijau, suara musik yang cukup pelan untuk ngobrol. Zahra memesan salmon don dan matcha latte, Sinta memesan ramen dan langsung menyesal karena terlalu pedas.

Di tengah makan, HP Zahra bergetar.

Bukan Rafandra email masuk. Zahra membukanya sambil lalu. Lalu berhenti.

Pengirimnya: Rafandra Surya Wibowo.

Bukan pesan panjang. Bukan penjelasan soal dokumen atau Pak Irwan atau tiga hari yang dia minta. Hanya satu baris:

Rafa: Makan yang banyak dan kalau mau salmon don, yang di lantai empat lebih bagus dari yang di Senayan.

Zahra menatap emailnya. Menatap salmon don di depannya. Lalu menatap emailnya lagi.

"Dia tau gue di sini."

"Lo kenapa?" Sinta mendongak dari ramennya yang terlalu pedas.

Zahra membalikkan HPnya menunjukkan email itu ke Sinta. Sinta membaca. Diam tiga detik. Lalu:

"DIA STALKING LO?!"

"Sinta—" Zahra menarik HPnya balik dengan cepat sambil melirik meja sebelah yang ikut menoleh.

"Dia tau lo di mall ini?! Di lantai berapa?! Lo lagi makan apa?!" Sinta menurunkan suaranya tapi matanya masih bulat. "Ini level perhatian atau level obsesi??"

"Gue rasa—" Zahra mempertimbangkan. "Supir yang nganterin lo kemarin mungkin laporan."

"Oh." Sinta terdiam. "Oh. Dia minta supirnya pantau lo."

"Atau supirnya yang laporan sendiri karena merasa tanggung jawab."

"Dua-duanya tetap dia tau lo di sini."

Zahra menatap salmon don-nya.

Yang harus diakui memang enak. Rafandra tidak salah soal itu.

"Lo mau balas?" tanya Sinta.

Zahra: Iya enak. Tapi gue nggak minta rekomendasi ari Om.

Kirim. Balasan datang dalam empat puluh detik.

Rafa: Aku tahu. Tapi tidak ada salahnya makan yang enak.

Zahra meletakkan HPnya.

Sinta yang membaca dari seberang karena layarnya terlihat langsung menekan bibirnya menahan sesuatu.

"Dia flirting," kata Sinta akhirnya.

"Dia ga flirting."

"ZAH. 'Tidak ada salahnya makan yang enak.' Itu flirting dengan kemasan CEO."

Zahra mengambil sendoknya dan mulai makan lagi tanpa berkomentar. Tapi pipinya sedikit lebih hangat dari sebelumnya.

.

.

.

Sore harinya Sinta menyeret Zahra ke salon. Bukan yang mahal-mahal salon langganan Sinta di lantai basement yang orangnya sudah kenal dan harganya masuk akal. Zahra yang tadinya hanya mau teman duduk akhirnya ikut creambath karena Sinta bilang "kapan lagi lo punya waktu buat diri sendiri."

Dua jam kemudian mereka duduk di kursi salon berdampingan dengan rambut yang baru dicuci dan kondisioner yang baunya seperti apel, memandangi bayangan mereka di cermin panjang.

"Lo kelihatan lebih seger," kata Sinta.

"Creambath memang efeknya gitu, Lo nya aja yang lebay"

"Bukan itu maksud gue." Sinta menatap Zahra di cermin. "Lo kelihatan lebih kayak lo. Bukan istri CEO. Bukan anak Hendra yang dipaksa nikah. Cuma Zahra."

Zahra menatap bayangannya sendiri.

Rambut yang masih agak lembab. Muka tanpa makeup. Kaos baru yang warnanya lebih cerah. Jaket denim di sandaran kursi.

"Cuma Zahra."

"Gue takut, Sin," kata Zahra tiba-tiba. Pelan. Ke bayangan di cermin, bukan ke Sinta langsung.

"Takut apa?"

"Kalau gue balik dan gue percaya dia lagi terus ternyata gue salah." Zahra menarik napas. "Gue udah terlanjur ngerasa sesuatu dan kalau itu salah sasaran..."

"Kalau itu salah sasaran, lo akan survive." Sinta menatapnya di cermin. "Lo udah survive banyak hal, Zah. Pernikahan paksa, rahasia keluarga, dokumen yang nggak lo tau, Pak Irwan yang nyebelin itu. Lo masih di sini."

Zahra diam.

"Tapi," lanjut Sinta, "gue rasa lo nggak salah sasaran."

"Kenapa lo yakin?"

"Karena orang yang salah sasaran biasanya nggak kirim email soal salmon don waktu lo lagi butuh jarak." Sinta mengangkat alis. "Itu bukan kalkulasi, Zah. Itu seseorang yang kangen tapi nggak tau cara bilangnya selain lewat rekomendasi makanan."

Zahra menatap Sinta di cermin. Lalu tidak bisa ditahan tertawa.

Beneran tertawa. Jenis yang dari perut, yang bikin mata sedikit berair, yang sudah lama tidak muncul dengan semudah ini.

Sinta ikut tertawa daan di salon kecil di basement mall itu, di antara bau apel dan suara hair dryer yang bising Zahra merasa sesuatu yang selama tiga hari ini tidak dia temukan.

.

.

.

Malam kedua di kost Sinta, Zahra tidak langsung tidur ia duduk di jendela kecil yang menghadap ke jalan lampu-lampu kota yang lebih redup dari jendela ruang baca di rumah itu, suara motor yang sesekali lewat, udara Tebet yang sedikit berbeda dari selatan Jakarta.

HPnya ada di tangan.

Ia membuka chat dengan Rafandra yang masih kosong karena mereka tidak pernah banyak chat, lebih sering bicara langsung atau email. Hanya beberapa pesan pendek yang tersebar di sana, termasuk email salmon don tadi siang.

Zahra mengetik. Menghapus. Mengetik lagi. Akhirnya:

Zahra: Mas baik-baik aja?

Tiga titik muncul hampir langsung artinya Rafandra juga belum tidur.

Rafa: Baik. Kamu?

Zahra: Lumayan. Tadi ke mall sama Sinta.

Rafa: Aku tahu.

Zahra menahan senyum.

Zahra: Om harus berhenti minta supir laporan ke Om.

Rafa: Supir laporan karena merasa tanggung jawab. Bukan karena aku minta.

Zahra: Bedanya tipis.

Rafa: Tidak tipis Zahra.

Zahra menatap layarnya. Jari-jarinya bergerak sebelum otaknya sempat menyensor:

Zahra: kangen?

Tiga titik muncul. Lama kali ini. Lebih lama dari biasanya.

Zahra hampir menyesal sudah mengirim pertanyaan itu waktu balasannya akhirnya muncul:

Rafa: Rumah terlalu sunyi.

Empat kata.

Bukan "iya" yang langsung. Bukan pengakuan yang gamblang. Tapi dari Rafandra empat kata itu adalah jawaban yang lebih jujur dari paragraf panjang manapun.

Zahra meletakkan HP ke dadanya.

Menatap langit-langit kost yang catnya mengelupas di sudut.

"Rumah terlalu sunyi." dan Zahra baru sadar selama ini tanpa dia sadari, dia sudah mengisi kesunyian itu. Dengan pertanyaan-pertanyaannya yang tidak kenal waktu, dengan debatnya soal data skripsi, dengan suara masakannya yang berantakan di dapur, dengan kehadirannya yang awalnya terasa seperti gangguan tapi ternyata sudah jadi sesuatu yang lain.

Ia mengetik satu kalimat terakhir:

Zahra: Dua hari lagi, Om. Gue janji.

Balasannya singkat:

Rafa: Aku pegang.

Zahra menutup HPnya di luar jendela, Tebet masih hidup motor, warung yang belum tutup, suara TV dari kamar sebelah. Tapi di dalam dadanya sesuatu sudah lebih jelas dari dua hari lalu.

"Gue tau kenapa gue akan balik, bukan karena terpaksa. Atau karena nggak ada pilihan. Tapi karena di rumah yang terlalu besar itu, ada seseorang yang menyebut namanya dengan cara yang membuat nama itu terdengar seperti miliknya dan itu lebih dari cukup untuk jadi alasan."

.

.

.

1
Liadjamileba 08
bagussss bangettt
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼
jlianty: sabar ya, masih dalam peninjauan bab selanjutnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!