NovelToon NovelToon
Lencana Cinta Sang Kapten

Lencana Cinta Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Militer
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sunyi di balik jendela

Asrama tidak pernah terasa sepi ini sebelumnya. Suara deru mesin mobil dinas Shaheer yang menjauh semalam menyisakan gema yang terus berdenging di telinga Adeeva. Biasanya, ia akan mengeluh tentang betapa kaku dan membosankannya rutinitas di sini, namun sekarang, suara langkah sepatu laras yang biasanya terdengar di ruang tamu justru menjadi hal yang paling ia rindukan.

Pagi itu, Adeeva terbangun dan secara refleks menoleh ke sisi ranjang yang kosong. Harum parfum maskulin Shaheer masih tertinggal tipis di bantal, namun pemiliknya sudah berada entah di koordinat mana, menjalankan tugas negara yang tak boleh ia ketahui rinciannya.

Ia bangkit, mencoba menyibukkan diri di studio kecil barunya. Namun, pensil gambarnya terasa berat. Setiap goresan yang ia buat seolah-olah kehilangan nyawanya tanpa ada suara bariton yang berkomentar "Bagus" dari ambang pintu.

Siang harinya, Adeeva memutuskan untuk pergi ke kantin asrama demi mencari suasana baru. Ia mengenakan gamis simpel dengan pashmina hitam yang kini ia pasang dengan sangat rapi—sebuah bentuk penghormatan untuk Shaheer yang sedang berjuang.

Namun, asrama tetaplah asrama. Tanpa sosok Shaheer di sisinya, Adeeva kembali menjadi sasaran empuk bagi mereka yang tak punya pekerjaan selain mengurusi hidup orang lain.

"Loh, Mbak Adeeva? Sendirian saja?" sapa Ibu Siska, istri Letda yang dulu pernah ia semprot lewat jendela. Ia duduk bersama rombongan ibu-ibu lainnya. "Dengar-dengar Kapten Shaheer tugas ke perbatasan, ya? Wah, hati-hati loh, Mbak. Di sana itu daerah rawan. Banyak godaan, bukan cuma dari musuh, tapi juga dari... 'bunga-bunga' di desa seberang."

Adeeva merasakan dadanya memanas. Sindiran itu halus, namun tajam. Dulu, ia mungkin akan langsung meledak atau pergi begitu saja. Tapi hari ini, ia teringat bagaimana Shaheer selalu menghadapi masalah dengan kepala dingin.

Adeeva berhenti melangkah, menoleh ke arah meja mereka dengan senyum tipis yang sangat tenang. "Terima kasih perhatiannya, Bu Siska. Tapi bagi seorang prajurit seperti suami saya, 'bunga' yang paling indah itu adalah yang menunggu di rumah dengan penuh kepercayaan. Jadi, saya tidak perlu khawatir soal itu."

Ibu-ibu itu terdiam, tidak menyangka Adeeva yang biasanya ketus kini bisa membalas dengan kata-kata yang begitu berkelas dan menusuk secara elegan.

Saat ia kembali ke rumah, sebuah motor dinas berhenti di depannya. Itu Kaysan. Pria itu tampak tidak sesemangat biasanya, mungkin karena ia juga merasa kehilangan partner debatnya di kantor.

"Mbak Deeva, aman?" tanya Kaysan sambil menurunkan kaca helmnya. "Bang Shaheer pesan, kalau Mbak butuh apa-apa, atau kalau ada yang mengganggu—termasuk ibu-ibu julid itu—langsung hubungi saya atau Nadhir."

Adeeva terkekeh pelan. "Aku aman, San. Tadi baru saja aku 'jinakkan' satu grup di depan kantin."

Kaysan tertawa lebar. "Bagus! Itu baru istrinya Kapten Ali! Oh iya, ini ada titipan dari Dokter Fathiyah. Katanya buat camilan sambil menggambar." Kaysan menyerahkan sekantong buah-buahan dan vitamin.

"Terima kasih, San. Kamu tidak mampir dulu?"

"Ah, tidak Mbak. Saya harus ke poliklinik, mau 'menyerahkan diri' pada Dokter Galak," canda Kaysan sebelum melesat pergi.

Malam harinya, Adeeva duduk sendirian di teras rumah. Ia menatap bintang-bintang yang bertebaran di langit asrama yang luas. Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu. Ia tidak lagi membenci tempat ini. Ia hanya membenci kenyataan bahwa ia harus berada di sini tanpa Shaheer.

Ia merogoh ponselnya, melihat foto Shaheer yang sedang memakai seragam loreng yang ia ambil secara diam-diam saat di Kairo.

"Cepat pulang, Kapten," bisiknya pada layar ponsel. "Ternyata, studio ini tidak ada gunanya kalau tidak ada kamu yang melihat hasilnya."

Adeeva mulai menyadari, ia mungkin belum mencintai Shaheer dengan kata-kata puitis, namun ia sudah mencintai Shaheer dengan cara yang paling nyata: merasa kehilangan saat pria itu tak ada.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Fauziah Rahma
👍
Ana
lbjut
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍😍😍
Ana
lnjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!