Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Pembatalan Kontrak Sepihak
"Kau bisa kembali menjadi Ratu Wiratmadja Tech. Bebas dari ancaman, bebas dari gosip... dan bebas dari suami miskin sepertiku."
Kalimat itu mengambang di udara ruang rawat VVIP yang steril ini. Menyesakkan. Beracun. Mengoyak-ngoyak sesuatu di dalam rongga dadaku hingga rasanya aku ingin menjerit.
Aku menatap pria yang sedang berbaring menghindar dari tatapanku itu. Kepalanya diperban, tangannya tertancap selang infus, dan wajahnya sepucat mayat. Namun, kata-katanya barusan jauh lebih menyakitkan daripada melihatnya berdarah.
Air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk mataku perlahan mengering. Rasa sedih dan haru yang menyelimutiku seketika menguap, digantikan oleh bara api yang menyala terang di dalam dadaku.
Aku melepaskan genggaman tanganku dari tangannya. Aku mundur satu langkah, menarik napas panjang, lalu melipat kedua tanganku di depan dada. Postur rapuhku lenyap, digantikan oleh postur seorang CEO yang sedang mengintimidasi lawan bicaranya.
"Ulangi kalimatmu," ucapku. Suaraku tidak bergetar. Keras, dingin, dan menuntut.
Bumi tampak sedikit terkejut dengan perubahan nada bicaraku. Ia menoleh perlahan, keningnya berkerut. Mata cokelatnya yang lelah menatapku dengan sorot serba salah.
"Aruna... aku hanya mencoba bersikap rasional," gumamnya pelan, menghindari tatapanku lagi. "Ancaman fisikmu sudah hilang. Rendra ditangkap. Aku tidak punya kapasitas lagi untuk berada di duniamu. Jika aku tetap di sini, kehadiran pria tanpa kasta sepertiku hanya akan menjadi beban untuk reputasi—"
"Aku bilang, ulangi kalimatmu, Bumi Arkan!" potongku tajam.
Bumi terdiam. Jakunnya bergerak naik-turun menelan ludah. Ia memaksakan diri menatap lurus ke dalam mataku. "Tugasku sebagai suami bayaranmu... sudah selesai."
Aku tersenyum. Bukan senyum bahagia, melainkan senyum sinis yang mengiris.
"Tugasmu selesai?" Aku mendengus pelan, melangkah kembali mendekati sisi ranjangnya. "Biar kita hitung 'tugas' itu di atas kertas neraca, Tuan Konsultan IT. Berapa tarif lembur untuk seorang pria yang rela menahan kram semalaman suntuk sebagai bantal guling hidup agar bosnya bisa tidur pulas?"
Bumi tersentak pelan. Telinganya seketika berubah warna menjadi merah bata. "I-itu..."
"Lalu, berapa biaya jasa spiritual untuk seorang pria yang menangis di sepertiga malam mendoakan bosnya agar tidak lagi merasa ketakutan?" Aku mencondongkan tubuhku ke depan, memangkas jarak di antara kami. "Dan tolong sebutkan nominal yang pas untuk pria yang memakaikan jas kebesarannya di bahuku sambil berbisik posesif bahwa kulitku adalah milik pribadinya?"
"Aruna, cukup," suara Bumi berubah serak. Rahangnya mengeras. Pria ini sedang mati-matian menahan benteng pertahanannya yang mulai retak.
"Tidak, aku belum selesai!" sergahku, mataku kini memancarkan amarah yang bercampur dengan rasa cinta yang begitu brutal.
Aku naik ke atas ranjang rumah sakit itu dengan satu lutut, mengabaikan gaun sifonku yang kotor oleh darahnya. Aku memosisikan diriku sedekat mungkin dengannya, menunduk hingga napas kami saling berbaur.
"Apakah menatapku dengan sorot memuja saat kita berdansa di Uluwatu adalah bagian dari deskripsi pekerjaanmu, Bumi?" bisikku tajam, air mata kembali menggenang namun kali ini karena emosi yang meluap. "Apakah mengorbankan nyawamu di depan parang tajam itu hanya karena dua miliar rupiah?!"
Bumi memejamkan matanya erat-erat. Ia memalingkan wajahnya, dadanya naik-turun dengan cepat. "Aku tidak pantas untukmu, Aruna," suaranya pecah, terdengar begitu putus asa. "Kau seorang ratu dengan mahkota triliunan. Aku... aku hanya pria yang bahkan tidak bisa membayar biaya rumah sakit adiknya sendiri."
"Persetan dengan mahkota itu!" teriakku, tidak peduli jika perawat di luar mendengar suaraku.
Aku meraih wajahnya dengan kedua tanganku, memaksanya menoleh dan menatap mataku. Ibu jariku mengusap rahangnya yang kasar.
"Kau pikir aku butuh pria kaya? Kau pikir aku butuh CEO bereksekutif untuk mendampingiku?" isakku, membiarkan air mataku jatuh menetesi punggung tangannya. "Aku butuh pria yang menuntunku kembali ke sajadah. Aku butuh pria yang melindungiku tanpa peduli pada hartaku. Aku butuh kau, Bumi. Ratu ini tidak ada artinya jika bukan kau Rajanya."
Mata Bumi membelalak. Cermin pertahanannya hancur lebur berkeping-keping.
"Jangan pernah berani merendahkan perasaanmu sendiri dengan menyebutnya sebagai sebuah 'tugas'," bisikku di depan bibirnya, napasku tersengal. "Tatapanmu tidak pernah berbohong. Kau mencintaiku. Katakan padaku bahwa kau tidak mencintaiku, tatap mataku dan katakan itu, maka aku akan pergi dari ruangan ini dan tidak akan pernah kembali."
Hening. Suara mesin monitor jantung (EKG) di samping ranjang berbunyi semakin cepat, mengkhianati debaran jantung Bumi yang berpacu gila-gilaan.
Pria itu menatap lurus ke dalam mataku. Ia mencari kebohongan, mencari rasa kasihan, atau mencari keraguan di mataku. Namun yang ia temukan hanyalah kepasrahan dan cinta yang mutlak dari seorang Aruna.
"Aku..." suara Bumi bergetar hebat. "Aku tidak bisa."
Sebelum aku sempat merespons, tangan kanannya—satu-satunya tangan yang tidak tertancap selang infus—bergerak dengan kecepatan yang membutakan. Tangan besar dan kokoh itu menyusup ke belakang leherku, menelusup ke sela-sela rambutku, dan menarik wajahku ke bawah.
Bibir kami bertabrakan.
Bukan kecupan pelan di dahi. Bukan sentuhan palsu untuk menipu dewan komisaris. Ini adalah ciuman pertama kami yang sesungguhnya.
Aku terkesiap pelan, kedua tanganku secara refleks bertumpu di dada bidangnya untuk menahan keseimbanganku.
Ciuman Bumi awalnya terasa ragu, seolah ia masih takut melukaiku atau melewati batas suciku. Namun, saat aku membalas ciumannya dengan membuka bibirku dan membiarkan air mata kebahagiaanku menetes di pipinya, keraguan pria itu menguap sepenuhnya.
Bumi mengerang rendah di sela-sela ciuman kami. Tangan besarnya di tengkukku mempererat dekapannya, menahan kepalaku agar tidak menjauh satu milimeter pun. Ciumannya berubah menjadi dalam, posesif, dan penuh dengan rasa lapar yang selama ini ia pendam mati-matian di balik sikap kaku dan formalnya.
Ia menciumku seolah aku adalah oksigen terakhir di bumi dan ia sedang sekarat. Ia menumpahkan seluruh rasa rindu, ketakutan, rasa insecure, dan cinta butanya ke dalam pagutan kami.
Seluruh duniaku meleleh. Aroma antiseptik rumah sakit tergantikan oleh wangi maskulin khas tubuhnya. Aku memiringkan kepalaku, memperdalam ciuman itu, membiarkan jemariku membelai lembut rambut hitamnya yang sedikit berantakan.
Jika ada yang melihat kami saat ini, mereka tidak akan melihat seorang CEO dan staf bawahannya. Mereka hanya akan melihat sepasang manusia yang saling menyelamatkan dari kehancuran.
Setelah entah berapa lama, paru-paru kami menjerit menuntut oksigen.
Bumi perlahan melepaskan tautan bibir kami. Ia tidak menjauh. Keningnya tetap menempel di keningku. Kami berdua terengah-engah, berbagi napas di ruang yang sangat sempit ini.
Mata cokelat gelapnya yang tadinya meredup karena keputusasaan, kini memancarkan binar kehidupan yang luar biasa terang. Ia menatap bibirku yang sedikit membengkak, lalu menatap kedua bola mataku dengan senyum yang membuat hatiku seakan meledak menjadi jutaan kembang api.
"Maaf," bisik Bumi dengan napas memburu, ibu jarinya membelai pelan pipiku. "Aku... aku kehilangan kendali."
Aku tersenyum lebar di sela tangis bahagia, mengusap rahangnya. "Kau suamiku, Bumi. Kau memegang kendali atas diriku sepenuhnya. Jangan pernah lagi membahas soal akhir kontrak, mengerti?"
Bumi menelan ludah, matanya memancarkan kesetiaan yang absolut. "Aku berjanji, Aruna. Mulai hari ini... tidak ada lagi kontrak. Hanya ada kita."
Aku menyandarkan kepalaku di dadanya yang hangat, mendengarkan ritme jantungnya yang berdebar kencang namun menenangkan. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, aku merasa benar-benar hidup. Badai telah berlalu. Rendra di penjara. Sarah tertangkap. Perusahaan aman. Dan yang terpenting, aku memenangkan hati pria ini seutuhnya.
Atau setidaknya, itulah yang kupikirkan.
Tepat saat aku memejamkan mata untuk meresapi momen bahagia kami, pintu ruang VVIP itu tiba-tiba didorong terbuka dengan kasar tanpa ketukan.
Aku dan Bumi tersentak kaget dan langsung menarik diri. Aku buru-buru turun dari atas ranjang, membetulkan letak rambutku dengan wajah yang pasti sudah semerah tomat.
Garda berdiri di ambang pintu. Mantan komandan pasukan khusus itu biasanya selalu memiliki postur setenang air telaga, namun kali ini, napasnya memburu, dadanya naik-turun dengan cepat, dan wajahnya sepucat kertas HVS.
Di tangannya, ia menggenggam sebuah tablet iPad dengan erat.
"Garda? Ada apa?" tanyaku panik. Jantungku yang tadinya berdebar karena asmara, kini kembali berdegup oleh firasat buruk. "Apakah Rendra mencoba kabur dari polisi?"
Garda menggeleng kaku. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan rapat. Matanya menatapku dan Bumi secara bergantian dengan sorot penuh penyesalan.
"Nyonya... Tuan Bumi," suara Garda bergetar pelan. "Polisi memang telah menahan Rendra dan Sarah. Serangan siber Tuan Bumi pagi tadi berjalan sempurna menghancurkan internal mereka."
"Lalu apa masalahnya?" Bumi ikut bertanya, berusaha duduk tegak meski ia harus meringis menahan sakit di kepalanya.
Garda menelan ludah. "Masalahnya, Rendra tidak bertarung sendirian. Dia memiliki tim kuasa hukum lapis kedua yang berada di luar jaringan server perusahaan. Tim kuasa hukum yang memegang salinan fisik dokumen Anda."
Napas ku terhenti seketika. Maksudnya... draf 'Kontrak Nikah Dua Miliar' itu?
Garda memutar layar iPad di tangannya, menyodorkannya ke arah kami.
"Satu jam yang lalu, saat kita sibuk di ruang IGD..." Garda memejamkan mata sejenak, tak sanggup melanjutkan kalimatnya dengan lantang. "...pengacara Rendra menggelar konferensi pers dadakan di depan Mabes Polri Jakarta."
Tanganku gemetar saat meraih iPad tersebut. Bumi memiringkan tubuhnya untuk ikut melihat layar dari atas ranjang.
Di layar itu, terpampang video siaran langsung dari sebuah stasiun televisi berita nasional ( Breaking News ).
Tampak seorang pria paruh baya berjas rapi berdiri di balik mikrofon yang dikelilingi oleh puluhan wartawan dan sorotan kilat kamera. Pria itu adalah kuasa hukum Rendra. Di tangannya, ia mengangkat sebuah map merah.
"Klien kami, Bapak Rendra Daniswara, saat ini sedang mengalami kriminalisasi tingkat tinggi yang dirancang oleh CEO Wiratmadja Tech," suara pengacara itu menggelegar dari speaker iPad. "Tuduhan pembunuhan dan penggelapan ini adalah rekayasa untuk menutupi kejahatan yang sesungguhnya. Kami memiliki bukti fisik, sebuah draf perjanjian bermeterai yang bocor dari brankas pribadi Ibu Aruna!"
Pengacara itu membuka map tersebut, memamerkan selembar kertas yang sangat kukenali bentuknya ke arah kamera.
"Dokumen ini membuktikan bahwa pernikahan Ibu Aruna Wiratmadja dengan staf IT bernama Bumi Arkan adalah PENIPUAN PUBLIK! Bumi Arkan dibayar dua miliar rupiah untuk memalsukan pernikahan demi mengamankan saham mayoritas! Ini adalah kejahatan korporasi manipulasi pasar dan pelecehan terhadap institusi pernikahan negara!"
Video itu bergeser, menampilkan headline teks merah berjalan di bagian bawah layar berita:
[SKANDAL NASIONAL: CEO WIRATMADJA TECH DIDUGA BAYAR SUAMI PALSU 2 MILIAR UNTUK KUASAI SAHAM. KEPOLISIAN BUKA PENYIDIKAN BARU TERKAIT DUGAAN PENIPUAN!]
Aku tidak bisa merasakan jari-jariku. Tablet di tanganku terlepas, jatuh menghantam lantai dengan bunyi Brak! yang keras.
"Tidak..." bisikku ngeri, menggelengkan kepala dengan air mata yang kembali merebak. "Tidak, ini tidak mungkin... Bumi tidak pernah menandatanganinya!"
"Media tidak peduli pada tanda tangan, Nyonya," sela Garda dengan nada putus asa. "Media hanya butuh narasi. Dan narasinya sudah meledak. Saham perusahaan anjlok lima belas persen dalam waktu kurang dari setengah jam. Dewan Direksi menuntut RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) besok pagi untuk melengserkan Anda secara paksa."
Garda menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Dan yang lebih buruk, Nyonya..." Garda menatap Bumi dengan mata memerah. "...Surat perintah pemanggilan dari Bareskrim baru saja diterbitkan untuk Tuan Bumi. Mereka akan menjemputnya begitu beliau keluar dari rumah sakit ini, dengan status sebagai tersangka penipuan."
Duniaku benar-benar hancur lebur dalam sekejap mata. Rendra Daniswara, meskipun raganya berada di balik jeruji besi, telah berhasil meluncurkan rudal nuklirnya yang terakhir. Kami berhasil memenjarakan iblis itu, namun iblis itu menarik kami jatuh bersamanya ke dalam jurang skandal nasional. Aku berbalik menatap Bumi. Pria yang baru saja menyatakan cinta seutuhnya padaku itu kini mematung di atas ranjang medisnya. Ciuman manis kami baru saja berakhir beberapa menit yang lalu, dan kini, dunia sedang bersiap untuk merobek kami, memisahkan kami dengan tuduhan penjahat kriminal.
𝐮𝐩 𝐲𝐠 𝐛𝐧𝐲𝐤𝟐 𝐭𝐡𝐨𝐫 🤪🤪🤪
𝐥𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐠𝐤 𝐦𝐚𝐮 𝐝𝐢𝐡𝐮𝐛𝐮𝐧𝐠𝐢 𝐥𝐠 😡😡😡😡
𝐦𝐞𝐦𝐛𝐢𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧
𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐛 𝐬𝐞𝐛𝐥𝐦 𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐞𝐤𝐚𝐩 𝐦𝐮𝐥𝐮𝐭 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐠𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐮𝐚𝐫𝐚 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐝𝐚 𝐲𝐠 𝐦𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐤 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐮 𝐤𝐦𝐫 𝐦𝐫𝐤
𝐭𝐩 𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐛 𝐢𝐧𝐢 𝐤𝐨𝐤 𝐮𝐝𝐡 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐞𝐥𝐚𝐡𝐢 𝐝𝐢 𝐝𝐩𝐧 𝐤𝐚𝐦𝐚𝐫, 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢 𝐝𝐩𝐧 𝐤𝐚𝐦𝐚𝐫 𝐛𝐫𝐭𝐢 𝐩𝐬𝐬 𝐦𝐫𝐤 𝐤𝐚𝐧 𝐮𝐝𝐡 𝐦𝐚𝐮 𝐛𝐮𝐤𝐚 𝐤𝐮𝐧𝐜𝐢? 😊😊😊
𝐜𝐛 𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐚𝐛 𝐬𝐛𝐥𝐦 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐚𝐠 𝐞𝐧𝐝𝐢𝐧𝐠 𝐚𝐣𝐚
𝐟𝐨𝐤𝐮𝐬 𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭😘😘😊😊😊