NovelToon NovelToon
MISSION : MELTING THE ICE DOCTOR

MISSION : MELTING THE ICE DOCTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kania (20 tahun) mengira hidupnya tamat saat dijodohkan dengan dr. Devan (30 tahun), dokter bedah saraf jenius yang lebih mirip robot daripada manusia. Baginya, Devan adalah "kulkas dua pintu" yang hanya bicara soal logika dan efisiensi.
Namun, di balik tembok es itu, Devan menyimpan lelah yang tak tersentuh. Kania yang ceroboh dan berisik datang sebagai anomali yang mulai merusak ritme jantungnya yang selalu stabil. Kini, Kania punya satu misi gila: Mencairkan hati sang Dokter Es.
Di antara aroma antiseptik, ancaman dr. Sarah yang ambisius, dan taruhan nyawa di meja operasi, Kania harus memilih: Terus mengejar pria yang dunianya tak tersentuh, atau menyerah pada dingin yang mematikan?
Satu janji kelingking, dua kutub yang berbeda. Siapkah kamu melihat sang Dokter Es berlutut karena cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konfrontasi di Tepi Pantai Kenjeran

Angin laut bertiup kencang, membawa aroma garam dan sisa-sisa amis dari pasar ikan yang tak jauh dari sana. Pantai Kenjeran di pagi hari bukanlah tempat yang romantis bagi Devan Dirgantara. Baginya, tempat ini hanyalah sebuah lokasi dengan tingkat kelembapan tinggi yang berpotensi merusak komponen elektronik ponselnya. Namun, di sinilah Malik meminta bertemu.

Devan berdiri tegak di samping Kania, mengenakan kemeja linen berwarna biru navy yang lengannya digulung hingga siku. Kacamata hitamnya bertengger kokoh, menyembunyikan mata yang sedang melakukan pemindaian visual terhadap setiap pergerakan di sekitar mereka.

"Dok, rileks. Bahu Dokter kaku banget, kayak mau operasi cranial base," bisik Kania sambil menggenggam jemari Devan.

"Saya sedang berada dalam mode waspada, Kania. Malik memilih tempat terbuka seperti ini agar kita tidak bisa merekam pembicaraan dengan jelas karena noise angin. Itu taktik negosiasi klasik," jawab Devan tanpa mengalihkan pandangan.

Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam mewah berhenti. Malik turun dengan setelan yang tampak terlalu formal untuk cuaca Surabaya. Wajahnya terlihat lebih tirus dibanding terakhir kali mereka bertemu di Jakarta.

Malik berjalan mendekat, langkahnya ragu saat melihat Devan berdiri seperti pengawal pribadi di sisi Kania.

"Kania... Dokter Devan," sapa Malik dengan suara parau. "Terima kasih sudah mau datang. Saya tahu ini mendadak."

"Langsung ke intinya, Malik," potong Devan dingin. "Kania memiliki jadwal pemeriksaan kehamilan rutin dua jam lagi. Saya tidak punya banyak waktu untuk basa-basi protokoler."

Malik menghela napas, menatap deburan ombak yang keruh. "Ini soal Najwa. Dan Zea."

Kania menegang. Nama kakaknya selalu menjadi pemicu emosi yang rumit. "Ada apa dengan Mbak Najwa? Bukannya semuanya sudah selesai setelah pembagian hak asuh di Jakarta?"

"Belum, Kania. Najwa... dia sakit. Dan dia menolak untuk diobati jika bukan saya yang menemaninya. Tapi Zea sedang hamil anak pertama kami, dan kondisinya lemah. Saya terjepit di antara dua komitmen yang sama-sama menuntut kehadiran fisik saya," Malik menunduk, tampak hancur.

Kania terdiam. Dilema poligami yang dihadapi Malik adalah sesuatu yang selalu ia hindari untuk dibahas. Namun, melihat Malik seperti ini, sisi empati Kania sebagai adik mulai terusik.

"Lalu apa hubungannya dengan aku di Surabaya?" tanya Kania pelan.

"Najwa ingin melihatmu. Dia merasa bersalah telah memaksamu pergi ke Surabaya. Dia ingin memberikan surat kuasa pengelolaan yayasan keluarga di Jakarta kepadamu. Dia bilang, hanya kamu yang memiliki integritas untuk mengurusnya tanpa campur tangan kepentingan Zea," Malik menyodorkan sebuah amplop cokelat besar.

Sebelum Kania sempat menyentuh amplop itu, tangan Devan lebih dulu mencegatnya.

"Tunggu dulu," ujar Devan. Ia menatap Malik dengan intensitas seorang interogator. "Secara medis, jika Najwa sakit dan membutuhkan kehadiran kamu sebagai 'obat' psikologis, itu adalah tanda ketergantungan patologis. Dan memberikan tanggung jawab yayasan kepada Kania yang sedang hamil besar di kota yang berbeda? Itu bukan solusi, Malik. Itu adalah transfer beban kerja yang tidak logis."

"Dokter tidak mengerti kekeluargaan kami—"

"Saya mengerti sistem," potong Devan lagi. "Sistem keluarga kalian sedang mengalami multi-organ failure. Kamu mencoba menjahit luka di satu tempat dengan menyobek kulit di tempat lain. Kania sedang membangun hidupnya di sini. Membawa masalah yayasan Jakarta ke Surabaya hanya akan merusak stabilitas emosional istri saya."

Kania menatap Devan, lalu beralih ke Malik. Ia merasa ada benarnya perkataan Devan, namun rasa sayangnya pada Najwa tidak bisa diabaikan begitu saja.

"Malik, aku akan baca dulu dokumennya. Tapi aku tidak janji bisa kembali ke Jakarta. Surabaya adalah rumahku sekarang," tegas Kania.

Tiba-tiba, ponsel Malik bergetar. Ia mengangkatnya dengan wajah panik. "Zea? Apa? Kontraksi?"

Malik memandang Kania dan Devan dengan tatapan memohon. "Saya harus ke rumah sakit. Zea di RSIA di pusat kota. Bisakah kalian... bisakah kalian membantu saya memastikan Najwa baik-baik saja di hotel? Dia menyusul saya ke Surabaya tanpa izin."

Dunia seolah berhenti sejenak bagi Kania. Najwa ada di Surabaya? Di tengah kondisi fisiknya yang melemah?

"Dok..." Kania menatap Devan dengan tatapan memohon.

Devan menghela napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa menang melawan insting kasih sayang Kania. "Baik. Malik, pergi urus istri kamu. Kania, kita akan ke hotel Najwa. Tapi saya yang akan melakukan pemeriksaan awal. Jika kondisinya tidak stabil secara klinis, saya akan langsung membawanya ke RS Dr. Soetomo."

Di sebuah suite mewah di pusat Surabaya, Kania menemukan Najwa sedang terduduk di dekat jendela, menatap gedung-gedung yang mulai diselimuti kabut panas. Najwa tampak sangat pucat, matanya sayu.

"Kania..." Najwa terisak saat melihat adiknya masuk. "Maafkan Mbak... Mbak cuma ingin merasa dekat dengan kamu."

Kania langsung memeluk kakaknya. "Mbak kenapa nggak bilang kalau ke sini? Surabaya panas banget, nggak baik buat kondisi Mbak."

Di sudut ruangan, Devan sudah mengeluarkan stetoskop dari tas medis yang selalu ia bawa di mobil. Tanpa banyak bicara, ia mulai memeriksa tanda-tanda vital Najwa.

"Tekanan darah 90/60. Takikardia ringan. Najwa, kapan terakhir kali Anda makan?" suara Devan terdengar seperti instruksi medis yang kaku namun memberikan rasa aman.

"Saya tidak selera, Dok..."

"Ketidakseleraan Anda adalah variabel yang membahayakan nyawa Anda sendiri. Kania, ambilkan air gula hangat. Saya harus menstabilkan kadar glukosanya sebelum kita bicara soal yayasan atau masalah Malik," perintah Devan.

Selama satu jam berikutnya, Devan berubah menjadi dokter pribadi bagi kakak iparnya. Ia tidak menghakimi, ia tidak ikut campur dalam drama keluarga. Ia hanya fokus pada angka-angka di monitor dan respon pupil.

Setelah kondisi Najwa sedikit lebih stabil, Devan membiarkan kedua saudara itu bicara berdua di balkon, sementara ia berjaga di dalam ruangan sambil terus memantau jam tangannya.

"Kania," ucap Najwa pelan. "Melihat kamu dengan Devan... Mbak sadar satu hal. Mbak salah memilih jalan. Mbak pikir dengan berbagi, Mbak bisa menyelamatkan cinta. Tapi ternyata Mbak hanya berbagi luka."

Kania menggenggam tangan kakaknya yang dingin. "Mbak, setiap orang punya takdirnya sendiri. Tapi Mbak harus kuat. Bukan buat Malik, tapi buat Mbak sendiri."

"Zea sedang melahirkan sekarang, ya?" tanya Najwa dengan senyum pahit. "Anak yang seharusnya lahir dari rahimku."

Kania tidak tahu harus menjawab apa. Di Surabaya, ia belajar bahwa hidup tidak selamanya hitam putih seperti pasal-pasal hukum yang ia pelajari.

Sore harinya, setelah memastikan Najwa tertidur karena pengaruh obat penenang ringan, Devan dan Kania berjalan menuju parkiran hotel. Matahari Surabaya mulai tenggelam, menyisakan warna jingga yang dramatis di langit.

"Dok," panggil Kania saat mereka di dalam mobil. "Makasih ya sudah bantu Mbak Najwa. Padahal aku tahu Dokter paling benci urusan keluarga yang ribet begini."

Devan menghidupkan mesin mobil, mengatur AC ke suhu 20 derajat. "Saya tidak membantu 'urusan keluarga', Kania. Saya membantu pasien yang sedang dalam kondisi darurat medis. Dan lebih dari itu, saya membantu istri saya agar tidak perlu menangis sepanjang malam karena mengkhawatirkan kakaknya."

Kania tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Devan. "Jadi, soal yayasan itu gimana?"

"Kita akan pelajari dokumennya. Tapi syarat saya tetap satu: Kamu tidak boleh ke Jakarta. Jika yayasan itu mau dikelola dari Surabaya, silakan. Kita akan buat sistem digitalisasi untuk laporannya. Jika mereka menolak, biarkan Malik yang mengurusnya sendiri. Prioritas saya adalah kamu, Arlo, dan bayi kita."

Kania mengangguk mantap. Ia merasa beruntung memiliki Devan pria yang mungkin dingin seperti es, namun merupakan fondasi yang paling kokoh di tengah badai emosi keluarganya.

"Oh ya, Dok," goda Kania. "Tadi pas Dokter periksa Mbak Najwa, Dokter kelihatan ganteng banget. Lebih ganteng daripada pas lagi ngomel di kelas."

Devan berdehem, telinganya sedikit memerah—sebuah reaksi fisiologis yang jarang terjadi. "Fokus pada jalan, Kania. Kita harus menjemput Arlo di tempat kursus robotiknya."

Mobil itu pun melaju membelah jalanan Surabaya yang mulai macet. Masalah dari Jakarta mungkin belum sepenuhnya usai, namun di dalam mobil itu, resonansi hati mereka terasa begitu sinkron. Mereka siap menghadapi apa pun, selama mereka menghadapinya dalam satu frekuensi yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!