Bukan kisah pengantar tidur. Bukan untuk anak-anak manusia yang polos.
Ini adalah kitab untuk anak-anak jiwa yang sudah siap menghadapi kenyataan di balik kegaiban.
Bahwa di balik dinding realitas yang kau anggap nyata, terdapat celah.
Dan di dalam celah itu... hukum alam mati. Logika hancur.
Segala sesuatu menjadi abstrak, melengkung, dan berteriak.
PS: "Kamu bisa lari dari entitas di depan matamu, tapi kamu tidak bisa lari dari entitas di relung pikiranmu sendiri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbagi Kisah Mistis (Bag 2)
Setelah suara Mario yang berbisik-bisik serak itu mereda, hanya tersisa hembusan-hembusan napas yang berpadu deru angin. Meniup sebuah bayangan ketakutan yang baru saja ditanamkan oleh kisah anak kecil dan keranjang ajaib itu.
Heni, yang tubuhnya sudah gemetar sejak tadi, akhirnya tidak sanggup lagi menahan rasa ngerinya. Ia membenamkan wajahnya ke dalam lekukan bahu Ninda, memeluk tubuh temannya itu seolah itu adalah satu-satunya penyangga agar ia tidak hancur berkeping-keping. Ninda, meski dirinya juga merasa bulu kuduk merinding seluruh badan, berusaha menjadi kuat. Tangan kecilnya bergerak lambat, menepuk-nepuk punggung Heni, perhatian, namun getaran di tangannya itu membohongi ketenangannya.
“Tidak apa-apa... tenang...” bisik Ninda, suaranya nyaris tak terdengar, tertelan oleh semaraknya tiupan yang meraung di luar dinding kayu.
Keheningan yang mencekam itu dilanjutkan. Kali ini, Hendra mengangkat wajahnya. Wajah anak laki-laki itu pucat di bawah cahaya lampu senter yang kuning dan lemah. Tangannya terkepal erat di atas lutut, lalu ia menarik napas, seakan ia berusaha mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa.
“Sekarang... giliran saya,” ujar Hendra, suaranya memendam kabar, matanya menatap tajam ke arah teman-temannya, sekedar memastikan bahwa kisah yang akan ia sampaikan adalah kenyataan yang jauh lebih menyeramkan daripada mimpi buruk.
“Pengalaman mengerikan ini terjadi saat saya sedang menginap di rumah Kakek saya yang terletak jauh di pedalaman desa. Rumah itu sudah berdiri puluhan tahun, terbuat dari kayu ulin yang warnanya sudah menghitam dipoles waktu. Di bagian belakang sudut dapur, ada sebuah ruangan tua yang tampak berbeda, sebuah ruangan yang dimanfaatkan sebagai gudang yang terlihat angker dan terbengkalai. Kakek selalu bilang, ruangan gudang itu hanya boleh dibuka setahun sekali, tepat saat musim panen tiba. Sisanya, pintunya harus terkunci rapat, disegel, dan dibiarkan sunyi."
"Malam kedua saya di sana, tidur saya terganggu oleh rasa haus yang tidak biasa. Tenggorokan saya terasa kering seperti terkikis. Akhirnya saya memberanikan diri turun dari ranjang dan berjalan menuju dapur yang letaknya cukup jauh dari kamar tidur."
"Saat saya berjalan melewati lorong gelap yang menghadap ke arah gudang itu... langkah kaki saya tiba-tiba terhenti mati."
"Pintu gudang yang biasanya tertutup rapat, terkunci ganda, dan disegel dengan rantai kokoh... kini terbuka."
"Terbuka perlahan-lahan... kreeeeek..."
"Suara engselnya berdecit melengking. Tidak ada angin yang masuk ke dalam rumah. Tidak ada orang lain yang bangun selain saya. Tapi pintu itu terbuka dengan sendirinya."
"Dari kegelapan mulut gudang itu, tiba-tiba memancarkan cahaya. Bukan cahaya putih atau kuning terang seperti lampu biasa. Tapi cahaya yang berwarna MERAH DARAH. Merah menyala, redup, dan berdenyut-denyut seperti jantung yang masih berdetak. Cahaya itu begitu aneh, begitu jahat, menerangi bagian dalam gudang yang penuh dengan debu dan sarang laba-laba."
"Dan di tengah cahaya merah itu... saya mendengar suara."
"Suara itu bukan suara binatang, bukan suara angin. Itu suara manusia. Suara rintihan. Suara orang yang sedang menahan sakit, meratap pilu, seolah-olah ada seseorang yang sedang disiksa di dalam sana. Aduh... aduh... tolong... Suaranya parau dan bergema memantul di dinding kayu."
"Saya tidak berani melangkah maju. Saya tidak berani melihat lebih jelas apa yang ada di balik cahaya merah itu. Tubuh saya kaku beku. Dengan sisa tenaga yang ada, saya berbalik dan lari sekencang-kencangnya menuju kamar Kakek. Saya mengguncang-guncang tubuh Kakek saya sampai beliau terbangun kaget dengan napas meledak."
"Ada apa heh? Ada maling?"
"Tanya Kakek saya setengah sadar."
"Gudang... Kek... gudangnya terbuka! Ada orang di dalam! Ada cahaya merah!"
"Saya menjelaskannya terbata-bata."
"Kakek saya bangkit mengambil lampu minyak dan berjalan cepat ke belakang. Saya mengekor bayangannya. Tapi saat kami sampai di sana... pintu gudang itu sudah tertutup rapat kembali. Terkunci mati. Rantai besinya tergantung rapi seperti biasa. Tidak ada celah sedikitpun. Tidak ada cahaya merah. Tidak ada suara rintihan. Hanya kebisuan yang hening."
"Keesokan harinya, saat matahari baru saja muncul, Kakek memanggilku dengan wajah yang sangat serius, lebih serius dari biasanya. Beliau menatap mataku lekat-lekat."
"Nak," ucapnya dengan suara berat."
"Mulai sekarang, ingat pesan Kakek. Apapun yang terjadi, kalau sudah lewat tengah malam... jangan pernah berdiri berlama-lama di dekat gudang itu. Jangan pernah menatap pintunya. Karena yang tinggal di dalam sana... bukan manusia. Dan dia tidak suka dilihat."
Hendra mengakhiri ceritanya dengan napas tertahan. Suasana di dalam rumah pohon seketika berubah menjadi jauh lebih dingin, jauh lebih mencekam. Udara terasa sulit dihirup.
Tasya yang duduk di samping Agnes menggenggam tangan temannya itu semakin erat, jari-jemarinya saling mengunci seolah takut terpisah oleh kegelapan. Sementara itu, di pojok lingkaran, Fajar menundukkan wajahnya, memainkan ujung selimutnya dengan gelisah. Setelah beberapa saat hening, ia akhirnya mengangkat kepala, matanya tampak berkaca-kaca, ia kini sedang berada di persimpangan antara ingat dan lupa, tapi yang pasti, sebuah kenangan yang tidak menyenangkan itu masih membekas meski samar dalam benaknya.
hati bertanya tanya
mengapa di saat paling horor seperti yg digambarkan di awal cerita,
Mereka bertukar cerita horor ?🥹
Apakah jawabannya ada di bab selanjutnya?