Usianya baru menginjak 20 tahun, dia masih kuliah semester empat. Kania Gabriela, gadis yang ceria dan manja itu bersahabat dengan Bella Anastasya yang memiliki seorang paman bernama Axel Niel Pradita Winata.
Laki-laki blesteran Jerman Jawa itu adalah seorang duda beranak satu. Kania mengenal Axel dari sahabatnya Bella yang juga blesteran Jerman Jawa dari mamanya.
Karena iseng sering mengobrol dengan Axel om dari sahabatnya, Kania justru mengajak laki-laki itu menikah.
"Om, nikah yuk?"
"Eh, bocah. Kuliah yang benar, jangan mikir nikah."
Begitulah ketengilan Kania pada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Sikap Axel
Dua Minggu, Axel akhirnya kembali datang ke kafe lagi. Semua karyawannya sangat senang karena memang jika di atur oleh mamanya Bella, akan jadi tidak sabaran menghadapi mereka.
Kania, gadis itu sangat senang dengan kedatangan Axel kembali. Rasa rindunya pada laki-laki duda tampan dan mapan tersebut membuatnya bersemangat dalam bekerja.
Sepanjang hari dia mencuri waktu untuk melihat Axel di ruangannya, entah jika ketahuan yang lain akan memberikan alasan yang masuk akal.
Beruntungnya Bella kali ini tidak masuk karena ada acara penting dengan kedua orang tuanya. Tapi, kenapa Axel tidak ikut dengan acara penting itu.
Hingga malam menjelang, tugasnya merapikan meja dan kursi pengunjung pun dia lakukan dengan semangat dan penuh kegembiraan. Itu artinya dia bisa bicara dengan Axel karena sudah lama dia tidak bicara dengan pujaan hatinya itu.
"Kania, pulang ngga?"
"Ngga, kan ini belum selesai kerjaannya," jawab Kania.
"Itu biar besok pagi aja, kan ada tugas piket dari yang lain. Kasihan Lo sejak siang kerja terus."
"Ngga apa-apa, gue kuat kok."
"Yakin?"
"Yakin, udah sana pulang."
"Ya udah, di kafe masih ada bos Axel. Jadi Lo ngga sendirian."
"Iya. Gue tahu."
Temannya itu pun pergi, hanya teman laki-laki itu saja yang baik padanya bahkan perhatian jika sudah waktunya selesai kerja. Tapi Kania tetap tidak juga pulang.
Gadis itu senang kini dia sendirian kafe itu, pukul sepuluh malam kurang lima menit. Kerjaan mengelap meja kursi pengunjung pun selesai, pinggang Kania terasa sakit. Tangannya memegangi pinggangnya, tapi dia tahan saat menolah ke arah sosok Axel berdiri menatapnya datar.
"Om Axel, semua sudah selesai," ucap Kania dengan tersenyum.
"Selesai? Kalau selesai, cepat pulang. Nanti orang tuamu khawatir," ucap Axel.
"Emm, papa dan mamaku ngga masalah kok aku pulang malam. Kalau ada yang harus aku kerjakan, tinggal bilang aja om," ucap Kania.
"Tidak ada, sebaiknya kamu cepat pulang. Aku juga mau pulang," kata Axel sambil berbalik melangkah pergi.
Kania diam di tempatnya dengan menatap punggung Axel hingga menghilang di pintu ruang kantornya. Gadis itu menghela napas panjang, berpikir sejenak lalu dia berjalan cepat menuju ruangan kantor Axel. Berdiri di depan pintu, tangannya di angkat hendak mengetuk pintu.
Tapi pintu terbuka, Axel berdiri di depannya dengan wajah terkejut namun kembali datar.
"Kenapa kamu ada di sini? Bukankah kamu harus cepat pulang?" tanya Axel.
"Om tahu kenapa aku di sini? Kerja di kafe om Axel?" tanya Kania membuat Axel diam menatapnya.
"Aku sengaja magang di kafe om Axel agar lebih dekat dengan om Axel. Tahu kenapa? Mungkin aku suka sama om Axel, cinta sama om Axel."
Kalimat sedikit panjang Kania menjelaskan alasannya magang di kafe Axel itu membuat Axel terdiam dengan tatapan datar. Keduanya saling tatap, lalu Axel menunduk sambil menarik napas panjang.
"Om Axel."
"Cepat pulang Kania, om tidak akan mendengarkan penjelasanmu. Itu tidak penting," kata Axel menutup pintu kantornya lalu pergi meninggalkan Kania.
Ia tidak peduli dengan gadis yang sedang mengungkapkan isi hatinya.
"Dasar gadis aneh."
_
Sejak pernyataan Kania itu, Axel jadi lebih sering menghindar darinya. Kania tahu itu akan terjadi padanya, tapi dia merasa lebih baik mengungkapkan isi hatinya langsung dari pada harus bergulat dengan rasa rindu dan juga keinginan untuk lebih dekat dengan Axel.
Masalah Bella yang selalu menghalanginya dekat dengan Axel itu tidak ada masalah, pikirnya lebih cepat lebih baik mengungkapkan perasaannya pada Axel.
Dan benar saja, Kania kini tidak lagi melihat Axel meladeni tamu spesial kafe. Bahkan hanya sekali saja melihat Axel itu pun hanya punggungnya saja.
Dia sedih dengan sikap Axel yang selalu menghindarinya.
Pengunjung kafe cukup ramai malam ini karena setiap malam Minggu ada musik life yang selalu di undang dari manajemen. Kania sangat sibuk sekali malam ini, dan kebetulan lagi Bella juga tidak datang.
"Kania, cepat tuh ada pengunjung baru. Lo cepat sana samperin."
"Kursi mana?"
"Di pojok. Cepat sana, kelihatannya mereka itu orang penting."
Kania buru-buru menuju kursi yang ada di pojok, posisi kedua orang itu membelakangi Kania yang berjalan mendekatinya. Wajah gadis itu berkerut dan kaget siapa dua orang pengunjung tersebut.
"Mama? Papa?"
Kedua orang yang di panggil mama papa itu menoleh pada Kania, keduanya juga terkejut lalu tersenyum senang.
"Sayang, kamu sibuk ya?" tanya pak Suryadi.
"Iya pa, papa sama mama kok kesini?" tanya Kania.
"Mama tuh khawatir sama kamu, setiap malam selalu pulangnya malam terus. Mama ngga bisa tidur kalau kamu belum pulang," jawab pak Suryadi melirik pada istrinya.
Ibu Laras hanya diam saja, dia melihat ke penjuru tempat dan memang cukup ramai.
"Kania, cepat dong itu pengunjung yang lain. Jangan diam di situ aja."
Satu suara menegur Kania, gadis itu menoleh dan gadis dengan wajah ketus menatapnya kesal.
"Iya, aku ke sana."
"Jangan lama-lama mengajak pengunjung, jangan ganjen." ucap Sinta.
"Heh, apa kamu bilang? Ganjen? Anakku bukan gadis ganjen!"
Mulut ibu Laras mendengar ucapan Sinta itu pun berkerut meski dia menyangkal ucapan Sinta. Pak Suryadi menutup mulut istrinya agar tidak lagi mengumpat.
"Sst, mama jangan ladeni pelayan itu. Sayang, cepat kamu kerjakan yang lain. Papa sama mama akan menunggu dengan sabar," ucap pak Suryadi.
Kania mengangguk, lalu menatap Sinta dengan sinis juga. Lalu gadis itu pun pergi ke dapur untuk memberikan pesanan dari kedua orang tuanya.
Saat melewati lorong menuju dapur, dia berpapasan dengan Axel. Laki-laki berhenti, begitu juga dengan Kania. Keduanya saling tatap, tapi kemudian Axel membuang wajahnya ke arah lain lalu pergi, Kania mengejar dari belakang.
"Om Axel, tunggu."
"Kerja Kania, atau aku akan memecatmu." ucap Axel menatap dingin pada Kania.
Kania kaget dengan ucapan tegas dari Axel, dia menatap Axel beberapa detik. Setelah Axel kembali melangkah, Kania pun berbalik dan berjalan menuju dapur.
Hatinya bingung juga sedih dengan sikap Axel yang dingin itu.
"Om Axel marah ya sama aku?" gumamnya.
Dia terus berjalan lunglai sampai tersenggol oleh yang lain hingga di marahi.
"Jangan ngelamun dong, kerja yang benar."
Ucapan itu membuyarkan pikirannya, dia menatap satu perempuan menatapnya kesal lalu perempuan itu pergi. Kania pun menarik napas panjang, dan berucap lirih.
"Apa gue keluar aja ya dari kafe ini?"
_
_
******