IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Kalo Lo cakep, kenapa Lo nggak pake kecakepan Lo itu buat bikin hidup Lo, jadi lebih berguna. Lo sadar nggak sih Kenzo, sikap Lo yang apa-apa selalu pake kekerasan itu, lama-lama bisa bikin hidup Lo makin ribet tau nggak?!"
Kenzo hanya diam, karna satu-satunya orang yang paling ia takuti sebenarnya adalah kakak perempuannya ini. Kalau sama orang lain dia pasti akan melawan, tapi dengan Anin, ia memilih untuk diam.
"Ujung-ujungnya, gue lagi yang di bikin repot!" Anin sudah berada di titik muak, sehingga semua yang menjadi uneg-uneg nya, bisa keluar begitu saja.
"Iya, gue nggak bakal bikin Lo repot lagi kak."
"Waktu itu, Lo juga ngomongnya gitu" sela Anin, "Tapi apa? Buktinya, gue lagi yang di panggil buat urusan ke kantor polisi perkara Lo bawa sajam, perkara Lo mau bales sakit hati karana anggota Genk Lo kena palak, padahal dia duluan yang malak."
Kenzo menunduk, menatap jari jemarinya yang sengaja ia mainkan dengan menautkan antara jempol kanan dan kirinya.
"Nin, udah Nin. Gue juga minta maaf, gue nggak bermaksud nyari keributan tadi." Ujar Widya sambil mengelus pelan punggung putrinya, "Tapi mau gimana, Si May mulutnya suka bikin emosi. Nggak tahan gue, akhirnya sampe kelepasan tadi."
Anin memejamkan mata, mencoba menetralkan emosinya, ia merasa sebanyak apapun ia bicara, sebanyak apapun ia mengeluarkan keluhannya, keadaan keluarga tetap saja seperti ini. Rusak, berantakan dan tidak bisa di perbaiki. Entah sampai kapan, ia harus bertahan dalam keadaan yang terlalu pelik ini.
Anin berdiri, melangkah menuju kamarnya. Tanpa sepatah kata lagi.
Yang di lakukan Anin adalah, duduk meringkuk, memeluk lutut. Membiarkan air mata jatuh, tanda ada Isak dan suara sedikitpun.
Baru saja satu hari, ia merasakan kebahagiaan bersama Naufal dan keluarganya. Tapi kemudian, ia kembali di sadarkan oleh keadaan tempat asalnya. Seolah kehidupan, sedang memperingatkannya untuk jangan pernah merasa bahagia, karana di balik kebahagiaan itu, ia harus membayar dengan kesedihan lainnya. Anin tergugu, semakin tenggelam pada lipatan tangannya di atas lutut.
Sebuah notifikasi pesan dari Naufal, dan Anin hanya mengintipnya saja, kemudian membiarkan.
Tak lama, dering notifikasi telepon darinya menyusul.
Anin menyela air matanya, lantas meraih ponsel itu, dan menjawab teleponnya.
"Aku kira kamu nggak bales chat aku, karna kamu udah istirahat. Ternyata belum, lagi apa itu?"
Anin masih belum menjawab, ia tahu kalau suaranya masih serak, ia tidak mau Naufal tahu kalau dirinya tengah menangis.
"Sayang, kenapa diem aja?"
Anin menelan ludah, lantas berdehem pelan.
"Sayang, kamu... Kamu baik-baik aja kan?" Naufal mulai mengkhawatirkan.
"Sayang, bilang kalau ada apa-apa, jangan diem begini." desaknya lagi.
Anin mendongak, lantas memejamkan mata dan menghembuskan nafas pelan. "Aku nggak apa-apa." lirihnya.
Namun jelas terdengar kalau Anin menyembunyikan isaknya.
"Oke sayang, satu jam lagi aku ke sana. Jemput kamu, aku yakin kamu lagi dalam keadaan nggak baik-baik aja."
"Eh... nggak, aku nggak kenapa-napa." sergah Anin cepat.
"Kamu butuh ruang Sayang, kamu butuh tempat nyaman, untuk kamu tahu apa yang kamu inginkan, dan itu nggak apa-apa. Sekali-kali memikirkan diri sendiri. Wajar, semua manusia pasti ada fasenya untuk break time. Kamu jangan paksakan terus diri kamu untuk menerima semua sampah tanpa kamu tahu cara mengelolanya."
Anin merasa, Naufal memang selalu berhasil memahami dirinya. Dan sepanjang perjalanan hidupnya, baru kali ini ia menemukan seseorang yang begitu peduli dengan apa yang ia butuhkan.
"Mau ya? satu jam dari sekarang, aku tunggu kamu berkemas."
Anin mengalah, ia tidak memiliki alasan apapun lagi untuk menolak bantuan Naufal kali ini. Karna memang kini dirinya sedang berada di titik lelahnya. "Iya, aku berkemas dulu." lirihnya.
"Nah, gitu dong. Nanti aku jemput ke rumah langsung, atau di depan gapura?"
"Di gapura aja, tunggu aku di sana." Anin menjawab dengan cepat.
"Ya udah, aku tutup teleponnya ya."
Telepon pun terputus, Anin termenung sebentar. Lantas mengambil koper di balik lemari pakaiannya. Memasukkan beberapa baju, juga semua peralatan makeup dan skincarenya. Anin benar-benar bersiap untuk pergi, menuruti saran kekasihnya itu.
"Nin, Lo udah mak...." Kalimat Widaya menggantung, saat melihat koper sudah siap Anin siapkan, ketika masuk ke kamarnya.
"Lo mau kemana? Astaghfirullah... Lo mau pergi?"
"Iya, gue mending pergi dari rumah ini. Semua yang di rumah ini juga nggak pernah peduli-in gue. Jadi buat apa gue di sini terus."
"Siapa yang nggak peduli-in elu? Gue peduli, adik-adik Lo juga peduli sama Lo."
Anin tersenyum sinis, "Peduli? Di mana letak pedulinya?"
"Ya, kan itu buktinya tadi si Kenzo bela-in Lo, sampe bawa-bawa golok segala."
Mendengar itu emosi Anin kembali memuncak, "Buk!" pekiknya "Apa yang di lakukan Kenzo itu, bukan mau bela-in gue, tapi dia mau pamer kalau dia jago berantem. Yang ada sikap nya Kenzo itu bisa bikin masalah baru buat kita, yang ujung-ujungnya pasti gue yang kena."
"Kenzo nggak begitu." sela Widya.
"Nggak begitu gimana? Cobak tadi kalau sampe ada polisi, atau ada yang laporin dia ke polisi dengan tuduhan ancaman dengan senjata tajam? Mau bilang apa kita? Alhasil gue lagi kan yang kena, karna pasti Ibuk bakal nangis-nangis, nyuruh buat gue bayar duit tebusan supaya Kenzo nggak di tahan."
Widya mengerjapkan mata, baru masuk ke logikanya setelah Anin jelaskan panjang lebar barusan.
"Tapi Lo, emangnya mau kemana? Sudah malam begini?"
"Nggak tahu, mau kemana. Yang jelas gue lagi mau nyari ketenangan." sahut Anin, malas.
"Nin, Lo mendingan jangan aneh-aneh deh. Keluarga kita bakal gimana kalau Lo nggak ada?!"
Anin mendengkus kesal, "Itu kan yang ada di pikiran Ibuk. Gue harus mikirin gimana keluarga ini kalo nggak ada gue, seolah gue yang harus bertanggung jawab sama apa yang ada di rumah ini. Tapi nggak ada yang mikirin, apa gue sanggup ngejalaninya, apa nggak! Dan nggak ada yang pernah nanyain gue ini capek, apa nggak!"
Widya tertegun.
Anin bangkit dari duduknya, ketika melihat notifikasi pesan, bahwa Naufal sudah menunggunya di depan gapura.
"Gue pergi, dulu. Dan ini..." Anin merogoh tasnya, mengeluarkan dua puluh lembar uang berwarna merah. "Ini, buat pegangan ibuk, selama gue nggak ada."
"Tapi Nin, kalo Lo pegi gue gimana? Cuma Lo anak perawan gue satu-satunya. Nin, Lo jangan pegi...!" Widya terus merengek, namun Anin tetap tidak menggubris.
Ia seret koper miliknya, dan terus berjalan menuju pintu keluar. Namun langkahnya berhenti, saat mendengar suara dinding di tinju dengan keras dari dalam kamar Bayu.
Bugh!
"Nin, jangan pergi Nin..."
"Nggak, gue harus pergi!"
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍