NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:977
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Jarum jam dinding di lobi penginapan berdentang lima kali, suaranya tumpul tertutup riuh rendah suara kuli panggul yang mulai memadati gang sempit di luar. Arlo tidak butuh dentangan itu untuk bangun. Tubuhnya sudah memiliki alarm sendiri berupa denyut kaku di pangkal leher dan rasa perih di ujung jari yang kapalan. Ia menarik napas, merasakan aroma sup ikan sisa semalam yang masih mengambang di udara kamar yang pengap. Tangannya meraba permukaan kasar kasur jerami, mencari kemeja katunnya yang sudah rapi terlipat di ujung dipan. Bekas jahitan tangan Kalea di bagian ketiak terasa menonjol saat jemarinya menyentuh kain itu, sebuah pengingat bisu bahwa hidupnya yang sekarang adalah tentang memperbaiki apa yang rusak, bukan membuangnya.

Arlo bangkit tanpa suara, melirik Pak Elara yang masih terlelap dengan tarikan napas yang jauh lebih bersih berkat ramuan herbal semalam. Di dipan seberang, Kalea tampak meringkuk dengan selimut ditarik sampai ke dagu. Rambutnya yang biasanya terikat rapi kini tergerai liar di atas bantal, namun tali biru pemberian Arlo masih melingkar di pergelangan tangannya. Arlo tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang jarang ia tunjukkan di depan cermin emas Aethelgard namun kini sering muncul secara alami. Ia membasuh wajahnya dengan sisa air dingin di mangkuk tanah liat, mengusap lebam di pipinya yang sudah hampir hilang sepenuhnya, lalu melangkah keluar kamar menuju Galangan D.

Jalanan Solandis masih diselimuti kabut tipis saat Arlo mulai berjalan. Langkah kakinya sudah tidak lagi canggung. Ia belajar untuk tidak berjalan di tengah, melainkan menyelip di antara tumpukan tong kayu dan gerobak sayur. Ia tidak lagi merasa terhina saat bahunya disenggol oleh pekerja kasar yang sedang terburu-buru. Di sini, sentuhan fisik bukan tentang agresi, melainkan tentang ruang yang terbatas. Arlo memasukkan tangannya ke dalam saku, merasakan dinginnya keping perak sisa bonus semalam. Logam itu seolah memberinya beban yang menyenangkan, sebuah tanggung jawab untuk memastikan Kalea dan ayahnya tidak perlu kembali ke jalanan.

Sesampainya di Galangan D, aroma kayu jati yang baru dibelah menyambutnya lebih awal daripada sapaan Master Bram. Arlo segera mengenakan apron kulitnya, mengikat talinya dengan simpul mati yang kuat di belakang pinggang. Ia berjalan menuju meja kerjanya, meja nomor 84 yang kini sudah dipenuhi dengan berbagai macam pahat yang ia asah sendiri setiap subuh. Master Bram sudah berdiri di sana, sedang menatap sebuah gambar sketsa besar di atas perkamen kasar—gambar naga laut yang akan menjadi hiasan utama haluan kapal perang pesanan Dewan Solandis.

"Kau melihat garis-garis ini, Arlo?" Bram menunjuk ke arah lekukan sayap naga dalam gambar tersebut.

Arlo mendekat, matanya menyapu setiap detail sketsa itu. "Garisnya sangat tajam, Master. Seperti sedang membelah air."

"Kayu tidak suka garis yang terlalu tajam," Bram mengambil sebilah pahat kecil yang matanya melengkung. "Kayu lebih suka lekukan yang mengikuti arusnya. Hari ini, aku ingin kau belajar tentang kesabaran tingkat kedua. Kau akan mulai memahat bagian sisik naga ini. Ada seribu sisik, dan setiap sisik harus memiliki kemiringan yang sama. Jika satu saja meleset, naga ini akan tampak seperti ikan yang sedang sakit."

Arlo menelan ludah. Seribu sisik? Itu bukan lagi soal teknik, itu soal ketahanan mental. Ia mengambil pahatnya, merasakan berat besi yang sudah mulai menyatu dengan telapak tangannya. Ia menempelkan ujung pahat pada balok jati raksasa di depannya. Ketukan pertama ia lakukan dengan sangat hati-hati. Tak. Serpihan jati berwarna cokelat kemerahan terangkat, memperlihatkan tekstur kayu yang sangat padat. Arlo fokus pada satu titik, melupakan segala kebisingan gergaji dan teriakan kuli di luar galangan.

Berjam-jam berlalu dalam keheningan yang melelahkan. Arlo tidak lagi merasakan perih di punggungnya atau kaku di lehernya. Pikirannya hanya berisi tentang kemiringan pahat dan kedalaman ketukan. Ia belajar bahwa jati adalah kayu yang angkuh; jika kau memukulnya terlalu keras, ia akan pecah di bagian yang tidak kau inginkan. Namun jika kau terlalu lembut, pahatmu hanya akan menggores permukaannya. Kau harus menemukan titik tengah, sebuah kompromi antara kekuatan dan perasaan.

"Kenapa kau memilih untuk tinggal, Arlo?" tanya Master Bram tiba-tiba, tanpa mengalihkan pandangannya dari ukiran kepalanya sendiri.

Arlo tertegun sejenak, pahatnya tertahan di udara. Ia tidak segera menjawab. Ia menatap serpihan kayu di bawah kakinya. "Karena di sini, kayu tidak pernah berbohong pada saya, Master. Jika saya salah memahat, hasilnya buruk. Jika saya benar, hasilnya indah. Di istana, benar atau salah sering kali hanya masalah siapa yang bicara lebih keras."

Bram tertawa kecil, suara tawanya kering seperti gesekan serutan kayu. "Jawaban yang bagus untuk seorang pria yang tangannya masih berbau parfum mahal saat pertama kali datang ke sini. Lanjutkan kerjamu. Sisik nomor empat puluh dua itu sedikit terlalu miring. Perbaiki dengan kikir."

Saat jam istirahat tiba, Arlo duduk di tepi dermaga galangan, kakinya menjuntai di atas air laut yang hijau tua. Ia mengeluarkan bekalnya—sepotong ikan panggang yang dibalut daun pisang dan roti gandum. Ia makan dengan lahap, merasakan setiap butir nasi dan serpihan ikan itu sebagai energi yang ia dapatkan dengan jujur. Di kejauhan, ia melihat sebuah kapal dagang dengan bendera yang ia kenal—bendera Vandellia.

Jantung Arlo berdegup kencang. Apakah Helena sudah sampai ke sini? Ia secara refleks menarik tudung jaket katunnya untuk menutupi wajah. Ia memperhatikan kapal itu merapat di dermaga utama, cukup jauh dari Galangan D. Beberapa orang berpakaian mewah turun, diikuti oleh pengawal berseragam ungu. Arlo mengepalkan tangannya di bawah meja kayu. Rasa takut itu kembali mencoba menyelinap, namun ia segera menepisnya saat ia merasakan koin perak di sakunya. Ia bukan lagi Arlo yang bisa diseret begitu saja.

"Kapal itu membawa utusan diplomatik," Jono tiba-tiba muncul, menyandarkan punggungnya pada tiang dermaga. Pria tua itu tampak sedang mengunyah tembakau. "Katanya mereka mencari 'aset' yang hilang. Tapi Dewan Solandis sangat ketat. Di sini, siapa pun yang sudah menginjakkan kaki di tanah merdeka adalah warga Solandis, kecuali mereka melakukan kriminal."

Arlo menatap Jono. "Apa mereka sering datang?"

"Vandellia selalu merasa mereka pemilik dunia, Arlo. Mereka sering datang untuk urusan dagang, tapi kali ini auranya beda. Seperti ada yang sedang murka," Jono menoleh ke arah Arlo, matanya yang tua menatap tajam di balik kerutan wajahnya. "Jangan khawatir. Selama kau berada di bawah perlindungan Master Bram dan galangan ini, pengawal ungu itu tidak akan berani menyentuhmu. Bram punya pengaruh besar di dewan."

Arlo mengangguk, sedikit merasa tenang namun kewaspadaannya kini berlipat ganda. Ia harus lebih berhati-hati saat berjalan pulang nanti. Ia tidak ingin membawa masalah ke pintu penginapan Kalea.

Sore harinya, Arlo bekerja dua kali lebih cepat namun tetap teliti. Ia menyelesaikan seratus sisik pertama sebelum matahari mulai condong ke barat. Master Bram memeriksa hasil kerjanya dengan kaca pembesar. Ia tidak memberikan pujian lisan, namun ia meletakkan sepuluh keping koin perunggu tambahan di meja Arlo. Itu adalah pengakuan yang cukup bagi Arlo.

Keluar dari galangan, Arlo tidak langsung menuju penginapan. Ia memutar melalui pasar belakang, menghindari jalan utama yang mungkin dilewati utusan Vandellia. Ia berhenti di sebuah toko perkakas tua, membeli sebotol kecil pernis bening berkualitas tinggi untuk Kalea. Ia tahu Kalea sedang mengerjakan proyek furnitur sulit di bengkelnya, dan pernis yang bagus adalah kunci untuk membuat kayu tampak hidup.

Sesampainya di penginapan, Arlo disambut oleh suara tawa yang jarang ia dengar. Di teras bawah, Pak Elara sedang duduk bersama pemilik penginapan, mereka sedang bermain papan permainan dari batu. Kalea berdiri di dekat mereka, memegang dua cangkir teh hangat. Begitu melihat Arlo, wajah Kalea yang tadinya santai berubah menjadi sedikit khawatir.

"Kau lewat jalan belakang?" tanya Kalea pelan saat Arlo mendekat.

Arlo mengangguk singkat. Ia memberikan botol pernis itu pada Kalea. "Ada kapal Vandellia di dermaga utama. Aku tidak ingin mengambil risiko."

Kalea menerima botol itu, ia menatap Arlo dengan pandangan yang dalam. "Kau melihat mereka?"

"Hanya dari jauh. Jono bilang mereka utusan diplomatik, tapi kita harus tetap waspada," Arlo membantu Pak Elara berdiri untuk kembali ke kamar.

Di dalam kamar yang sempit, suasana menjadi sedikit tegang. Kalea menutup jendela rapat-rapat, sesuatu yang biasanya tidak ia lakukan karena udara Solandis yang lembap. Arlo duduk di tepi dipannya, ia mengeluarkan koin perak dan perunggu hasil kerjanya hari ini, meletakkannya di atas meja.

"Kita punya cukup uang untuk membayar penginapan sebulan penuh, Kalea. Dan sisa ramuan herbal Bapak masih cukup untuk seminggu," Arlo mencoba memecah kesunyian.

Kalea tidak menatap uang itu. Ia berjalan mendekati Arlo, lalu berjongkok di depannya. Ia meraih tangan Arlo, mengusap bekas debu jati yang masih tertinggal di sela-sela buku jari pria itu. "Aku tidak peduli soal uangnya, Arlo. Aku peduli jika suatu hari nanti mereka benar-benar menemukanmu di sini. Kau tidak tahu seberapa kejam Helena jika keinginannya tidak dituruti."

Arlo meraih dagu Kalea, mengangkat wajah gadis itu agar menatapnya. "Dia mencari seorang pangeran yang memakai sutra, Kalea. Dia tidak akan mencari seorang asisten pemahat yang bajunya penuh serpihan kayu dan baunya amis laut. Aku sudah menghapus jejak pangeran itu di dalam diriku."

Kalea tersenyum sedih, ia menyandarkan kepalanya di lutut Arlo. "Tapi matamu tidak pernah bisa berbohong, Arlo. Binar birumu itu terlalu indah untuk seorang buruh kasar."

Arlo mengusap rambut Kalea dengan sangat lembut. "Maka aku akan belajar cara menundukkan kepalaku lebih dalam lagi. Agar binar ini hanya kau yang bisa melihatnya."

Malam itu, mereka makan dalam diam namun ada rasa saling melindungi yang sangat kuat. Pak Elara sudah tertidur setelah meminum ramuannya. Arlo sedang mengasah kembali pahat-pahatnya di bawah cahaya lampu minyak yang bergetar. Kalea duduk di depannya, sedang mencoba pernis baru pemberian Arlo pada sebuah contoh kayu kecil.

"Arlo," panggil Kalea lirih.

"Ya?"

"Jika keadaan memburuk... jika mereka benar-benar melacak keberadaanmu..." Kalea berhenti sejenak, ia menatap botol pernis itu. "Berjanjilah kau akan lari. Jangan pikirkan aku atau Ayah. Kami bisa bersembunyi di pemukiman nelayan, tapi kau..."

"Aku tidak akan pernah lari sendirian lagi, Kalea," potong Arlo tegas. Ia meletakkan batu asahnya, menatap Kalea dengan kejujuran yang paling murni. "Aku sudah pernah mencoba melarikan diri dari takdirku di Aethelgard, dan aku berakhir dengan kehilangan segalanya. Tapi saat aku berhenti lari dan memilih untuk bertarung di sisimu, aku mendapatkan hidupku kembali. Jadi, apa pun yang terjadi, kita akan menghadapinya bersama. Sebagai satu sambungan kayu yang utuh."

Kalea menahan napasnya, air mata mulai menggenang di sudut matanya. Ia berdiri, lalu melangkah ke arah Arlo dan memeluk leher pria itu dengan erat. Arlo membalas pelukannya, menenggelamkan wajahnya di bahu Kalea yang berbau pernis dan sedikit aroma bunga melati yang samar. Di kamar kecil ini, di tengah kota asing yang penuh tantangan, Arlo merasa ia telah memiliki benteng yang lebih kuat daripada dinding batu Aethelgard mana pun.

"Kita akan baik-baik saja," bisik Arlo di telinga Kalea.

Malam semakin larut di Solandis. Di luar, suara deburan ombak terdengar seperti musik pelindung. Arlo berbaring di dipannya, menggenggam koin perak di satu tangan dan kain pernis milik Kalea di tangan lainnya. Ia tahu besok tantangannya bukan lagi sekadar kayu jati yang keras, tapi bayang-bayang masa lalu yang mulai mengulurkan tangannya ke tanah merdeka ini.

Namun, Arlo tidak lagi takut. Ia telah belajar memahat, ia telah belajar merasakan serat, dan ia telah belajar bahwa di balik setiap retakan, ada rahasia tentang kekuatan yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh mahkota mana pun.

Arlo Valerius, sang pria tanpa mahkota, akhirnya benar-benar siap untuk memahat takdir terakhirnya. Bukan sebagai raja, melainkan sebagai pelindung bagi orang-orang yang ia cintai. Dan di Solandis, cerita baru ini baru saja memasuki babak yang paling berisiko.

Mau lanjut ke bab selanjutnya, non?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!