Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Istri
Pagi itu, sinar matahari yang menerobos masuk ke ruang makan kediaman Sinclair terasa lebih cerah dari biasanya. Suasana hangat menyelimuti meja makan kayu jati yang besar, tempat William dan Rosetta sudah duduk lebih dulu menikmati sarapan mereka.
Suara langkah kaki yang ringan terdengar menuruni tangga. Alessia muncul dengan senyum yang sulit disembunyikan. Wajahnya berseri-seri, matanya berbinar dengan binar yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan alasan "tidur nyenyak".
"Pagi, Ayah! Pagi, Ibu!" sapa Alessia riang, bahkan ia sempat mengecup pipi kedua orang tuanya dengan semangat yang meluap-luap.
Rosetta mengernyitkan dahi, menatap putrinya dengan heran namun senang. "Wah, ada apa ini? Sepertinya ada yang sedang sangat bahagia pagi ini?"
Alessia hanya terkekeh sambil meraih sepotong roti. "Hanya merasa hari ini akan menjadi hari yang sangat produktif, Bu."
Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Nathaniel melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu gelapnya yang sempurna. Penampilannya tetap profesional dan kaku seperti biasa, namun ada sedikit ketegangan di sudut matanya yang hanya bisa ditangkap oleh Alessia.
"Selamat pagi, Tuan William, Nyonya Rosetta," ucap Nathaniel dengan nada bicara yang sangat formal, seolah-olah kejadian di ruangan kantor kemarin sore, ciuman yang meledak dan pengakuan cinta yang jujur, hanyalah fragmen dari mimpi yang jauh.
"Pagi, Nathan. Ayo, sarapan dulu sebentar sebelum kalian berangkat," ajak William tanpa curiga sedikit pun.
Nathaniel mengangguk sopan dan mengambil posisi duduk tepat di seberang Alessia. Saat pandangan mereka bertemu, jantung Nathaniel berdegup kencang secara tidak wajar. Ia melihat Alessia yang sedang menyesap kopinya, kopi pahit yang kemarin ia minta, sambil menatapnya dengan pandangan penuh arti yang seolah berkata, 'Rahasia kita aman, Kak.'
Di bawah meja, tanpa sengaja ujung sepatu mereka bersentuhan. Nathaniel segera menarik kakinya, merasa seperti seorang pencuri yang hampir tertangkap basah di rumah majikannya sendiri. Ia merutuki dirinya sendiri; bagaimana bisa ia harus menjaga rahasia sebesar ini di depan pria yang sudah ia anggap sebagai ayah kandungnya?
"Nathan, pastikan jadwal Alessia hari ini tidak terlalu padat. Dia terlihat sangat bersemangat, jangan sampai energinya habis di kantor," ujar William sambil tertawa kecil.
"Tentu, Tuan. Saya akan mengaturnya," jawab Nathaniel pendek, suaranya sedikit serak. Ia memaksakan diri untuk tetap menatap piringnya, takut jika ia menatap Alessia lebih lama, rahasia yang tersimpan di balik matanya akan terbongkar.
Makan siang, laporan vendor, dan rapat manajemen kini bukan lagi sekadar pekerjaan bagi mereka. Itu adalah kedok untuk sebuah hubungan terlarang yang baru saja dimulai. Di ruang makan yang hangat itu, di tengah obrolan santai keluarga, sebuah bom waktu mulai berdetak pelan dalam diam.
———
Suasana kantor siang itu terasa sunyi, hanya interupsi pelan dari suara pendingin ruangan dan gesekan jemari Alessia di atas tumpukan dokumen vendor. Nathaniel duduk di mejanya yang berjarak beberapa meter, tampak sangat serius menatap layar monitor dengan kacamata bertengger di hidungnya, pemandangan yang selalu sukses membuat jantung Alessia berdebar lebih kencang.
Alessia melirik pintu ruangan yang tertutup rapat, lalu beralih menatap Nathaniel yang tampak terlalu "profesional". Muncul keinginan nakal di benaknya untuk menguji sejauh mana pria itu bisa bertahan.
"Kak... tanganku sakit," ucap Alessia tiba-tiba, suaranya dibuat sedikit merintih sambil meletakkan pena dengan bunyi klotak yang cukup keras.
Seketika, insting protektif Nathaniel mengambil alih. Ia langsung melepas kacamatanya dan bergegas menghampiri meja Alessia tanpa keraguan sedikit pun. "Mana yang sakit? Terkilir? Atau terlalu banyak menulis?" tanyanya sigap, tangannya terulur hendak meraih jemari Alessia untuk memeriksanya.
Namun, alih-alih memberikan tangannya, Alessia justru menarik kerah kemeja Nathaniel sedikit lebih rendah dan memberikan kecupan singkat namun manis tepat di pipinya.
Nathaniel membeku. Matanya membelalak kaget, ia segera menegakkan punggungnya dan melirik ke arah pintu kaca yang untungnya sudah di- blur tadi.
"Al... jangan mulai deh... kita di kantor," gerutu Nathaniel dengan suara rendah yang ditekan. Wajahnya yang biasanya pucat kini merona merah hingga ke telinga. Ia mencoba memasang wajah galak, namun kilat di matanya menunjukkan bahwa ia sebenarnya sama sekali tidak keberatan.
"Katanya disuruh fokus kerja, tapi Kakak malah fokus ke aku begitu panggil sedikit," goda Alessia dengan senyum kemenangan.
Nathaniel menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa wibawanya yang baru saja runtuh karena satu kecupan kecil. "Kalau ada staf yang masuk tiba-tiba bagaimana? Kamu mau kita tertangkap di hari pertama?"
Ia kembali ke mejanya dengan langkah yang sengaja dipercepat, namun Alessia bisa melihat Nathaniel berkali-kali menyentuh pipinya yang baru saja dikecup, seolah ingin memastikan kehangatan itu masih di sana.
"Al... Lady mengajakku bertemu," ucap Nathaniel memecah keheningan.
Alessia seketika menghentikan gerakan penanya. Matanya menyipit, menatap Nathaniel dengan sorot menuntut penjelasan yang sangat jelas. "Terus... Kakak mau datang?" tanya Alessia, nadanya terdengar berusaha santai meski ada nada cemburu yang gagal disembunyikan.
Nathaniel mengangguk pelan, ia bangkit dari kursi kerjanya dan melangkah mendekati meja Alessia.
"Aku mau menemuinya dan menjelaskan semuanya. Aku tidak ingin dia terus-menerus mengirim bekal atau menghubungiku tanpa tujuan yang jelas."
"Menjelaskan apa?" pancing Alessia lagi.
"Aku akan bilang kalau aku sudah punya calon istri," ungkap Nathaniel dengan nada yang begitu tenang namun tegas.
Seketika, rona merah menjalar dari leher hingga ke pipi Alessia. Jantungnya berdebar kencang mendengar istilah itu keluar dari mulut pria yang selama ini hanya menganggapnya "adik". "Calon istri? Mendengar itu aku jadi malu, Kak..." ujar Alessia lirih, ia menutupi wajahnya dengan selembar berkas vendor, mencoba menyembunyikan senyum lebarnya.
Nathaniel mendengus kecil, sebuah senyum tipis yang jarang terlihat menghiasi sudut bibirnya. Ia menyandarkan pinggulnya di tepi meja Alessia, menatap gadis itu dengan tatapan yang sedikit menggoda.
"Kamu jangan senang dulu. Aku bilang begitu supaya adikku ini tidak cemburuan lagi," jawab Nathaniel, mencoba kembali ke mode kakaknya yang menyebalkan. "Aku sudah cukup pusing mengurus kantor dan kontrak vendor yang menumpuk. Kalau ditambah kamu yang hobi mengambek setiap kali ada paket dari Lady, aku bisa stres beneran."
Alessia menurunkan berkas yang menutupi wajahnya, menatap Nathaniel dengan mata yang masih berbinar. "Jadi ini hanya taktik supaya aku tidak ngambek? Bukan karena Kakak memang ingin menjadikanku calon istri?"
Nathaniel tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya meraih cangkir kopi pahit Alessia yang sudah mendingin, menyesapnya sedikit, lalu menatap Alessia dalam-dalam. "Pikirkan saja sendiri. Sekarang, selesaikan laporanmu sebelum Ayah memanggil kita untuk rapat sore nanti."
Nathaniel kembali ke mejanya dengan langkah tegap, meninggalkan Alessia yang kini justru makin gagal fokus karena membayangkan kata "calon istri" yang terasa begitu nyata di telinganya.
Alessia bersandar di kursi kerjanya, memutar pulpen di jemarinya dengan tatapan kosong yang penuh bunga. Fokusnya pada laporan vendor benar-benar telah lumpuh total, digantikan oleh proyeksi wajah Nathaniel yang terus menari di benaknya.
Mengetahui fakta bahwa Nathaniel juga menyimpan rasa yang sama, bahkan sudah melabelinya sebagai "calon istri" di depan Lady, membuat harga diri Alessia melambung tinggi. Ada rasa bangga yang membuncah; ia merasa menjadi wanita paling beruntung karena memiliki pria yang memahami setiap inci kepribadiannya, dari kebiasaan buruknya yang manja hingga dedikasi kerjanya yang baru tumbuh.
Mata Alessia tanpa sadar mulai "mengabsen" kelebihan fisik pria di seberang ruangan itu. Nathaniel memang nyaris sempurna. Dengan tinggi badan yang menjulang mencapai 192 cm, ia tampak seperti raksasa pelindung di samping tubuh Alessia yang lebih mungil. Tubuhnya bugar, hasil dari disiplin olahraga di sela kesibukan kantor, otot-ototnya tidak berlebihan seperti binaragawan, namun cukup tegas menonjol di balik kemeja putih yang pas di badan (slim fit). Belum lagi tatanan rambutnya yang selalu rapi dengan gaya modern, membingkai wajah tegasnya yang maskulin.
Semua bagian dari diri Nathaniel, dari ujung rambut hingga cara pria itu melangkah, kini menjadi candu baru bagi Alessia.
"Kenapa aku tidak sadar dari dulu, ya?" gumam Alessia lirih, menyunggingkan senyum tipis.
Ia merutuki kebutaannya selama sepuluh tahun ini. Mengapa ia baru menyadari sekarang bahwa debaran jantung yang ia rasakan setiap kali Nathaniel menjemputnya bukan sekadar rasa sayang pada seorang kakak, melainkan benih cinta yang sudah lama berakar?
"Al, kalau kamu senyum-senyum sendiri terus, laporan itu tidak akan selesai sampai besok pagi," suara bariton Nathaniel memecah lamunan Alessia.
Alessia tersentak, namun kali ini ia tidak membuang muka. Ia justru menopang dagu dengan kedua tangannya, menatap Nathaniel dengan berani. "Biarkan saja. Lagipula, pemandangan di depanku jauh lebih menarik daripada angka-angka vendor ini, Kak."
Nathaniel hanya bisa menggelengkan kepala, mencoba menyembunyikan senyumnya di balik berkas. Ia tahu, menjaga rahasia ini akan menjadi tantangan terberat dalam hidupnya, terutama dengan Alessia yang kini mulai terang-terangan menunjukkan kekagumannya.