NovelToon NovelToon
Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Duluan Aja

Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.

Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?

Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.

Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hantu

Malam itu angin terdengar menyayat dingin, di antara sisa gerimis hujan sejak petang. Wangi tanah basah juga tercium meruah ke segala arah.

Di satu sudutnya menggenang air tenang. Tumbuhan di sekitar taman beberapa ada yang terlihat layu, dan bunga-bunga itu tertunduk lemas.

Hening.

Seakan, sekecil apapun sayup di sana, rasanya seperti sirna tak tahu kemana.

Dan Dena sedang duduk sendirian di ayunan itu.

Cuma bengong.

Seperti lagi banyak pikiran.

Salah satunya mikirin Alvaro. Yang entah kenapa laki-laki itu di jam segini belum juga pulang ke rumah.

Dan setelah Dena sempat bertanya melalui pesan. Bilangnya sih karena lagi ada urusan, tapi setelah Dena bertanya lagi ada urusan apa. Sampai sekarang Alvaro belum membalas.

Dena jadi mendengus.

Padahal, di pesan terakhirnya ia sambil nitip minta dibeliin martabak tanpa peduli rasa gengsi. Eh Alvaro malah nggak balas lagi.

Dena ya langsung keki.

"Hih! Bilang aja nggak mau beli!" gerutunya.

Kebetulan, malam itu Dena emang lagi pengen makan martabak. Bukan karena belum makan, tapi ya pengen aja.

Gara-garanya, pas Dena lagi maskeran sebelum Dena nangkring di ayunan. Ia sambil nontonin artis Korea yang lagi nge-vlog di Jakarta.

Si doi artis Korea itu kontennya review martabak—Dena yang menontonnya jadi ikutan ngiler.

Kayak udah setahunan dia nggak makan martabak, alasannya sih bukan karena nggak ada uang buat beli, tapi karena namanya udah di blacklist sejak lama sama yang si yang dagang langganannya itu.

Dena jadi tertawa sekarang. Inget aja, dulu ia pernah jahil masukin beberapa helai rambutnya di sekotak martabaknya yang baru banget mateng, pas si yang dagang kebetulan lagi nukerin uang.

Niatnya, supaya bisa protes dan akhirnya dikasih gratisan. Eh, nggak tahunya kotak itu malah dikasih ke ibu-ibu berdaster.

Ibu itu langsung marah, pas ia ngecek ternyata ada rambut di martabaknya.

Sialnya! Di detik itu juga Dena langsung ketahuan.

Gara-garanya ada tukang dagang lain yang ternyata nggak sengaja liat Dena masukin rambut itu. Dia yang dagang corndog—namanya Bang Kodok.

Dan sejak hari itu, Dena mulai benci sama yang namanya kodok—entah yang asli, atau replikanya.

Nggak lama setelah cekikikan sampai hampir membuat maskernya retak-retak. Dena mendadak gelisah sewaktu tiba-tiba mendengar suara orang teriak-teriak di rumah sebelah.

Dena langsung tegang, celingukan ke segala arah, mencari-cari sumber asal muasal suara itu terdengar.

Dena yang saat itu lagi di taman tengah di antara dua rumah itu, spontan mendongak ke atas.

Dug...Dug...Dug...

Di sana suara langkah seseorang berdentum kencang melintasi jembatan penghubung.

Jembatan itu dibangun dengan sisi-sisinya terlapisi kaca. Lampu-lampu di dalamnya yang menyala membuat Dena langsung tau, itu adik iparnya.

Mika.

"Woi! Kenapa lo?" teriak Dena dari bawah.

Di atas Mika nggak denger, dan malah si rambut pelangi itu terus berlari membelah jembatan, lalu masuk ke dalam area rumah Alvaro.

Padahal yang punya rumah lagi nggak ada di sana. Yang laki aja masih pergi, dan yang perempuan juga lagi duduk di ayunan.

Mbak Anis kebetulan lagi bersihin sofa setengah bengong. Melihat Mika lari-larian sambil teriak-teriak manggilin nama Alvaro, dan sesekali juga manggil nama Dena.

Kepala pelayan cantik itu langsung bergegas mendekat.

"Non Mika, kenapa?" tanyanya cemas.

"Mbak!" Mika spontan menggenggam tangan Mbak Anis, tangannya dingin.

Mbak Anis jadi makin khawatir.

"Kenapa, Non?"

"Tolongin Mika, Mbak!" cicitnya.

"Tolongin apa, Non?"

Mika noleh, lama, kayak lagi mastiin sesuatu. Di belakangnya kosong, tapi Mika justru makin merinding.

"Ituuu!"

"Ada hantu di rumah Mika, Mbak!" adunya sambil masih ngos-ngosan.

"Astaghfirullah! Hantu, Non?" Mbak Anis ikut parno.

"Iya Mbak!"

"Nyonya kalik?"

Mika menggeleng. "Enggak Mbak, Mama lagi nggak di rumah!"

Mbak Anis langsung mendelik.

"Waduh! Jangan-jangan beneran hantu, Non?"

"Ya beneran, Mbak!"

"Hantu apa?"

"Nggak tau, Mbak. Mika nggak liat. Cuma kedengeran suaranya aja!"

Mbak Anis tambah mendelik, ikutan keringat dingin. "Suara?"

"Iya, suara ketawa!"

Mbak Anis uratnya langsung menegang. "Ketawanya kenceng, Non?"

"Iya kenceng, kayak... kuntilanak!"

"Kuntilanak?!"

"Huaaa!" Mbak Anis yang ketakutan langsung ngibrit keluar. Mika nyusulin dari belakang sampai-sampai hampir kepleset.

"Mbak! Tungguin!"

Di pintu samping, Dena berdiri. Kebetulan sekali Dena lagi pake dress rumahan warna putih, mukanya juga lagi dipakein masker, jadinya agak item.

Niatnya sih cuma mau ngecek aja. Perihal apakah yang membuat adik iparnya itu lari-larian.

Eh, begitu mereka saling bertatap muka di ambang pintu.

Mbak Anis langsung terjingkat, begitu melihat Dena yang ia pikir adalah hantu. Mbak Anis spontan balik badan.

"Aaaaaa! Itu hantunya, Non!" teriaknya sambil merem.

"Mana?"

"Di belakang saya!" tunjuknya.

Seketika itu juga Mika langsung ikut menjerit-jerit, kaget sewaktu melihat Dena juga.

"Huaaa!"

"Pergi kamu! Jangan masuk! Hus, hus!" usirnya sambil komat-kamit baca doa.

"Di sini nggak ada apa-apa! Cuma ada dua perempuan kurang belaian!" cicit Mika.

Dena spontan mendelik, tiba-tiba banget dikira hantu. Sialan!

"Heh?!"

"Ini gue, Dena!" sengaknya.

"Nggak percaya!"

"Dena itu mukanya cantik! Lo burik! Jangan ngaku-ngaku deh!" ketus Mika sambil merem, baca ayat kursi.

"Ck! Buka mata dulu makanya—"

"Enggak mau!" tukas Mika.

"Dan kalau lo beneran Dena! Coba jawab pertanyaan gue!"

"Apa?"

"Siapa nama suami lo?"

"Alvaro!"

"Tanggal lahirnya?"

"Sebelas November..."

"Lah, kok tau?"

Dena berdecak malas, "Ck! Ya taulah! Gue kan istrinya!"

Mika dan Mbak Anis langsung buka mata. Masih takut, tapi akhirnya mereka percaya.

Itu memang Dena, cuma jadi kelihatan serem gara-gara lagi pake masker.

"Lo beneran Dena?"

"Enggak, gue hantu!" dengusnya sambil berkacak pinggang.

Mika langsung nyengir, mendadak nggak enak udah ngira kakak iparnya sendiri sebagai hantu. Mbak Anis juga ikut senyum-senyum malu, mudah-mudahan aja nggak dilaporkan ke Alvaro.

"Kalau ternyata emang nggak ada hantu...terus suara tertawa yang tadi?"

Mendadak Mika merinding lagi.

"Itu suara siapa dong?"

...***...

"Suara gue juga!" ungkap Dena setelah ketiganya pindah duduk di gazebo samping rumah.

Di sana Mika duduk masih sambil meringkuk memeluk dengkul. Tengkuknya juga nggak tau kenapa masih aja merinding.

Sedang Mbak Anis duduk di bawah, ngitungin kerikil sambil masih deg-degan. Gelisah, takut banget dia bakal dilaporkan atau tidaknya.

Tapi, untungnya Dena nggak marah, cuma masih sebel aja. Sambil ngeletekin maskernya, ia tertawa puas melihat wajah-wajah takut dua gadis itu.

"Ah elo!" Mika yang tadinya beneran takut sekarang jadi gantian marah-marah.

"Gue kira suara hantu! Ternyata suara lo!" Mika mendengus.

Dena terkekeh pelan.

"Iya, tadi gue emang ketawa, nggak lama sebelum lo teriak!" ujarnya mengaku.

"Ck! Ketawa lo kedengeran kayak kuntilanak tau nggak!" decaknya.

"Iya kah?" Dena masih saja tertawa.

Mika langsung jengah. "Lagian lo ngapain sih, malem-malem ketawa?" dengusnya spontan mencubit lengan Dena.

Nyubitnya juga beneran.

"Udah mulai gila jadi bini Abang gue?" curiganya.

Dena langsung nyengir, yang kalau dipikir-pikir bisa jadi juga sih. Tapi enggak kok.

"Gue cuma lagi keinget sesuatu aja," katanya.

"Dih! Gue sih lebih percaya lo emang gila," cibir Mika.

Dena langsung mencebik.

"Lah, lo sendiri juga kenapa. Aneh! Padahal tinggal di rumah mewah begini, di komplek lagi. Ngapain tiba-tiba takut hantu?!" sergahnya.

Mika langsung jelasin sambil nyengir-nyengir. Awal mulanya ia takut sebenarnya cuma gara-gara tadi di bioskop 'mini' di rumahnya.

Mika habis nontonin film horor. Filmnya serem banyak jumpscare, dan setelah selesai menonton dia masih terbayang hantu yang melayang-layang itu. Apalagi pas tiba-tiba denger ada yang ketawa.

Eh, sekarang malah dia yang diketawain.

"Itu juga gara-gara lo!" dengus Mika.

Dena mendelik sewot, "Kenapa gara-gara gue?!"

"Tadi lo gue ajak nonton nggak mau! Lo kan suka nonton film, kenapa nolak?" sungutnya.

"Bukannya gue nggak mau. Mik. Gue lagi nungguin Abang lo pulang," sahut Dena.

Mika langsung celingukan, sorot matanya langsung tertuju di depan garasi tempat biasa Alvaro memarkirkan mobilnya. Di sana lantainya masih kering. Tandanya, sejak tadi memang belum ada mobil yang masuk.

"Serius, jam segini Kak Varo belum balik?"

"Belum."

"Kemana dia?"

Dena mengangkat bahu. "Nggak tau!"

"Wah..."

Senyum jahil Mika tiba-tiba tersungging tipis di bibirnya.

"Jangan-jangan laki lo selingkuh!" tuduh Mika. "Atau mungkin lagi mabuk-mabukan sama cegil-cegil dia di tempat dugeman," kikiknya sekarang.

Tapi Dena tak acuh. Tak peduli perkataan Mika.

Padahal, Mika pengen banget melihat ekspresi cemburu Dena. Mika jadi terheran-heran.

"Lo nggak cemburu, Den?" ujarnya setelah meminta tolong Mbak Anis untuk dibuatkan minum.

Begitu Mbak Anis beranjak, Dena menggeleng langsung. "Enggak."

"Kenapa?"

"Ya buat apa, itu kan cuma perkiraan lo aja," sahut Dena.

"Kalau beneran terjadi?"

Dena mengangkat bahu lagi. "Gue sih nggak peduli."

"Nggak peduli kalau laki lo selingkuh?"

"Iya!" tegas Dena.

Mika langsung menghela napas panjang.

"Istri macam apa sih lo!" sewotnya.

...***...

Beberapa jam kemudian, di rumah sebelah satu mobil mewah terlihat memasuki halaman. Mobil itu berwarna putih.

Nggak lama, Mama Nita turun, dengan setelan formalnya. Setahu Mika, perempuan itu baru pulang dari kantor perusahaan parfum miliknya. Habis meeting katanya, dan asistennya ikut sampai malem.

"Loh, anak-anak Mama di sini rupanya."

Sambil tersenyum begitu asistennya pamit pulang. Mama Nita langsung deketin putri dan anak menantunya di gazebo.

Di tangannya menjinjing beberapa totebag—isinya makanan. Taulah ya, biasanya kalau pulang ibu-ibu emang suka bawain oleh-oleh tanpa diminta.

Mereka berdua ya langsung nyengir. Apalagi Dena, jujur saja ia yang lagi pengen banget dibawain martabak sama suaminya. Eh, mama mertuanya udah duluan bawain.

Nggak pake lama Dena langsung mengincarnya.

"Dena makan ya, Ma?" ucapnya sebelum membuka kotak.

"Iya sayang, makan aja," sahut Mama Nita sambil merhatiin rumah anaknya. Sepi, para penjaga di sana juga terlihat lagi santai, merokok sambil main catur.

Itu sih nggak mungkin terjadi kalau bos mereka udah ada di rumah.

Mama Nita kembali menoleh ke arah Dena.

"Varo emang belum pulang apa udah pergi lagi sih?" tanyanya kemudian.

"Memang belum pulang, Ma," jawab Dena.

"Bilangnya kemana?"

Dena langsung membuka ponsel bututnya, sedangkan di sebelah, Mika langsung melirik keheranan. Sumpah! Ponsel Dena butut banget udah di karet-karetin. Mendadak, Mika jadi pengen banget ngelempar ponsel itu ke got.

"Lagi ada urusan?" Mama Nita mengerinyit, sesudah membaca isi balasan Alvaro tadi.

"Iya katanya, Ma."

Mama Nita manggut-manggut, udah nggak kaget. Akhir-akhir ini Alvaro emang seringkali pulang terlambat. Biasanya sih karena emang lagi ada urusan mendesak di kantor, gara-gara Lusi asistennya itu masih belum kembali ke Jakarta.

Nggak lama, Mama Nita malah ikutan salfok ke ponsel Dena yang bututnya udah kebangetan.

"Ya ampun Dena, HP kamu pecah gini kenapa nggak beli baru aja," ujarnya heran.

"Tauk! Lo kan tau HP merek ini sekarang udah sampai seri berapa?" serobot Mika sambil nunjukin ponselnya yang palingan baru dibeli sebulan lalu.

Kemudian melirik ponsel Dena, ia jadi tertawa.

"Lah punya lo masih seri berapa tuh... X? Mana kecil banget lagi!" timpal Mika dengan nada menggunjing.

"Sini gue buang!" rebutnya.

"Eh, jangan! Enak aja main buang!" dengus Dena. "Sayang!"

"Udah buluk gitu, apanya sih yang disayang?!" kesal Mika.

"Ya sayang aja, kan masih bisa dipake!"

"Ah elah! Beli baru aja kenapa sih!"

"Iya, kamu minta dibeliin sama Varo aja sayang. Sekalian mumpung belum pulang tuh," saran Mama Nita.

Dena menggeleng sambil tersenyum. "Enggak ah, Ma. Dena malu mintanya."

"Ya udah Mama aja yang beliin deh..." tawarnya.

"Eh, jangan, Ma...yang ini masih bisa dipake kok. Dena belum pengen ganti," tolaknya lembut.

"Mau nunggu HP kamu rusak dulu?" Sebagai ibu, Mama Nita ngerti perasaan Dena. Mungkin ponsel itu hasil dibelinya dengan usaha sendiri, jadinya ya sayang kalau mau diganti yang baru.

"Iya, Ma. Belinya nanti aja kalau udah beneran nggak bisa dipake," katanya.

Mama Nita tersenyum. "Ya udah deh, tapi kalau nanti kamu udah pengen yang baru, langsung ngomong ke suami kamu ya," pesannya.

Dena ngangguk-ngangguk.

Sedangkan Mika justru malah terlihat garuk-garuk kepala.

Dia bingung.

Mikirin Dena yang bisa-bisanya masih punya pikiran begitu, padahal apapun yang dia minta udah pasti langsung dikasih.

Kok bisa sih?

Aneh deh!

Selang beberapa menit. Mama Nita kembali bertanya. Tapi bukan soal ponsel menantunya yang butut gila, melainkan soal bagaimana kehidupan Dena sekarang, setelah genap satu minggu diperistri Alvaro.

Dena langsung jawab seneng-seneng aja. Katanya, punya suami yang jauh lebih tua darinya, nggak begitu berat dilalui.

Paling cuma sikapnya aja yang terkadang nyebelin. Dan kebanyakan, hari-hari Dena juga cuma dihabiskan dengan menyendiri di kamar nontonin film pas Alvaro pergi.

Dan pas Alvaro ada di rumah. Palingan mereka juga cuma saling memperdebatkan segala hal yang sebenarnya nggak penting-penting amat.

Tapi, Mama Nita kelihatan lega mendengarnya. "Syukur deh kalau kamu seneng..."

"Kamu juga belum pernah dimarahin kan?" tanyanya.

Dena menggeleng, "Belum, Ma. Paling cuma pas waktu itu, yang gara-gara Dena mendadak minta jemput padahal udah bilang mau pulang sendiri," sahutnya sambil nyengir.

"Oh itu. Itu mah dia nggak beneran marah kok, cuma pura-pura," kekeh Mama Nita.

"Iya, Dena tau kok, Ma..."

"Terus, sekarang kamu setiap hari masih pulang pake angkot?" tanya mana Nita

Dena mengangguk. "Masih, Ma."

"Angkotnya ada terus kan?"

"Ada kok, Ma. Ya walaupun emang agak aneh juga sih, tiba-tiba banget jalur itu beroperasi lagi," ujar Dena.

"Kayak, kebetulan banget pas Dena butuh, mereka langsung ada," lanjutnya agak heran.

Mama Nita tersenyum tipis, "Mungkin itu udah jadi rezeki kamu. Biar kamu nggak bingung gimana pulangnya, makanya mereka ada," ujarnya berpikir positif.

"Mungkin iya, Ma."

"Yang penting kamu harus tetap hati-hati ya," pesan Mama Nita.

Dena manggut-manggut.

Tapi, tidak dengan satu manusia di sebelahnya. Mika yang sedari tadi lagi ngunyah siomay langsung mendelik, bukan karena keselek, tapi kaget.

Dan jujur aja, Mika ini sebenarnya masih nggak tau, atau mungkin belum. Selama seminggu lalu setelah Dena menjadi istri sah kakaknya, dia selalu pulang menaiki kendaraan itu.

Angkot?

Nggak selang lama Mika langsung melotot menatap Dena.

"What the hell?! Istri Kak Varo yang seorang CEO... pulang sekolah naik angkot?"

Dena dan Mama Nita sontak saling tatap.

1
Ppinkykhaenafk_
lanjut kak sampe eps 45 😁
dan semangat buatnya 💪
Ppinkykhaenafk_
lanjut dong kak, kalo bisa segera ya udah ga sabar nih 🤭
Ppinkykhaenafk_
keren plotnya tuh dar der dor banget
Ppinkykhaenafk_
aku kasih gift nih 🌹
Ppinkykhaenafk_
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!