NovelToon NovelToon
Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

​“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
​Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
​Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
​Tetap jadi musuh di kantor.
​Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
​Dilarang jatuh cinta!
​Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
​"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan Maaf Canggung

Jumat malam di apartemen 12-B biasanya diwarnai dengan kesunyian yang fungsional—suara denting sendok yang beradu dengan piring atau gemericik air dari wastafel. Namun, setelah insiden piring krisan yang pecah dan misi rahasia Jingga ke pasar antik, udara di dalam unit itu terasa berbeda. Ada semacam ketegangan baru, bukan ketegangan karena amarah, melainkan ketegangan dari dua orang yang baru saja saling melihat "isi perut" emosi masing-masing dan kini tidak tahu bagaimana harus bersikap normal kembali.

Sinta berdiri di dapur, menatap piring krisan baru yang kini bertengger manis di rak paling atas. Ia baru saja selesai membersihkan sisa makan malam—nasi goreng gila yang ia pesan lewat aplikasi karena tenaganya sudah habis terkuras oleh audit internal di kantor. Di ruang tengah, Jingga duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya, namun sejak tiga puluh menit lalu, jemarinya tidak mengetik satu huruf pun. Matanya terpaku pada layar, tapi pikirannya melayang pada isak tangis Sinta dua malam lalu.

Jingga berdehem. Suaranya memecah keheningan yang kaku itu. "Sin."

Sinta menoleh, tangannya masih memegang kain lap. "Ya?"

"Soal piring itu... dan soal cara gue ngomong pas kejadian itu..." Jingga menggantung kalimatnya. Ia menutup laptop dengan gerakan lambat, seolah sedang menyusun strategi audit yang paling rumit. Ia berdiri dan berjalan mendekati meja bar yang membatasi dapur dan ruang tamu.

Sinta meletakkan lapnya. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Melihat Jingga yang kaku mencoba bicara serius selalu membuatnya ikut merasa tegang.

"Gue... gue minta maaf," ucap Jingga akhirnya. Kata-kata itu meluncur dengan susah payah, seolah-olah pita suaranya belum pernah dilatih untuk mengucapkan permohonan maaf yang tulus. "Gue sadar gue sering nganggep remeh hal-hal yang menurut gue nggak logis. Gue nggak seharusnya bilang itu 'cuma piring'. Itu... itu nggak sopan buat kenangan lu."

Sinta tertegun. Ia melihat telinga Jingga yang sedikit memerah di bawah lampu dapur. Pria ini, yang biasanya lebih memilih mati daripada mengakui kesalahan, baru saja meminta maaf secara eksplisit. Dan yang lebih mengejutkan, permintaan maaf itu bukan hanya soal piring, tapi soal sikapnya.

Sinta tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung kelegaan luar biasa. "Gue juga minta maaf, Jingga. Gue teriak ke lu. Gue emang lagi stres banget di kantor gara-gara rumor itu, dan piring itu kayak... titik terakhir pertahanan gue yang jebol. Makasih ya udah dapet ganti piringnya. Itu lebih dari cukup."

Jingga mengangguk pendek, tampak sedikit lega namun tetap canggung. "Ya. Gue cuma nggak mau lu nangis lagi. Suara isakan lu itu... lebih berisik daripada suara motor butut gue. Ganggu konsentrasi."

Sinta tertawa pelan. "Hih, masih aja sempet ngeledek! Padahal tadi udah bagus minta maafnya."

"Gue serius," balas Jingga, meski sudut bibirnya berkedut menahan senyum. "Dan soal rumor di kantor... gue minta maaf juga kalau kehadiran gue malah bikin posisi lu sama Pak Adrian jadi susah. Gue tahu lu kerja keras buat posisi itu."

Sinta terdiam sejenak. Ia berjalan mendekat, kini hanya terpisah meja bar dari Jingga. "Sebenernya... rumor itu emang nyebelin. Tapi ada benernya juga kata lu di balkon hari itu. Kadang gue juga capek pura-pura. Makasih ya udah nemuin pulpen gue juga kemarin. Lu sebenernya... auditor yang teliti banget ya dalam urusan perasaan orang, walaupun lu selalu nolak buat ngakuin."

"Gue auditor profesional, Sinta. Detail adalah makanan sehari-hari gue," dalih Jingga, kembali ke mode defensifnya yang khas.

"Iya deh, Tuan Auditor Paling Profesional," goda Sinta.

Keheningan kembali menyergap, tapi kali ini terasa hangat. Sinta memperhatikan bagaimana Jingga kini tidak lagi tampak seperti ancaman atau musuh dalam kontrak ini. Ia tampak seperti seorang kawan yang sedang sama-sama mencoba bertahan hidup dalam sandiwara yang mereka buat sendiri.

"Lu mau minum teh? Gue baru mau nyeduh," tawar Sinta.

"Boleh. Tapi jangan terlalu manis. Gue bukan Pak Adrian yang suka semua yang manis-manis sampai bikin enek," sindir Jingga.

Sinta memutar bola matanya, namun ia tetap mengambil dua cangkir. "Sinisnya keluar lagi kan. Heran deh, sehari aja nggak nyenggol orang itu nggak bisa ya?"

"Gue cuma ngomong fakta, Sin. Fakta objektif," balas Jingga sambil menarik kursi tinggi di meja bar.

Sambil menunggu air mendidih, Sinta merapikan plester di tangannya yang mulai lepas. Melihat itu, Jingga secara alami meraih tangan Sinta. Gerakannya begitu cepat dan spontan sampai Sinta tidak sempat menghindar.

"Sini, biar gue ganti plesternya. Udah kotor itu," ucap Jingga. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan.

Jingga mengambil kotak P3K yang masih ada di atas meja sejak pagi. Ia melepaskan plester lama Sinta dengan sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang menangani dokumen negara yang sangat rapuh. Jari-jari Jingga yang panjang dan kasar karena sering bermain dengan mesin motor terasa hangat saat bersentuhan dengan kulit tangan Sinta.

Sinta menahan napas. Jarak mereka sangat dekat sekarang. Ia bisa mencium aroma sabun cuci tangan Jingga dan sisa aroma kopi yang selalu melekat pada pria itu. Ia memperhatikan bagaimana alis Jingga bertaut serius saat ia membersihkan luka gores kecil itu dengan alkohol.

"Masih perih?" tanya Jingga tanpa mendongak.

"Dikit," jawab Sinta pendek. Tenggorokannya terasa kering.

"Tahan. Biar nggak infeksi. Besok lu harus jabat tangan sama nasabah kan? Jangan sampai luka lu kelihatan jorok."

"Iya, Tuan Auditor," sahut Sinta lembut.

Setelah memasang plester baru bermotif polos, Jingga tidak langsung melepaskan tangan Sinta. Ia mengusap jempolnya di punggung tangan Sinta selama satu atau dua detik—sebuah gerakan yang sangat tidak perlu untuk sekadar mengobati luka, namun terasa sangat berarti bagi Sinta.

Jingga kemudian mendongak. Mata mereka bertemu. Dalam jarak sedekat ini, Sinta bisa melihat binar mata Jingga yang biasanya tertutup kacamata. Ada sebuah kerentanan di sana, sebuah pengakuan yang lebih dalam dari sekadar kata "maaf".

"Sin," panggil Jingga.

"Ya?"

"Gue... gue mungkin bukan orang yang pinter bikin kejutan mewah atau ngasih kata-kata manis. Tapi gue bakal pastiin kalau di rumah ini, lu nggak perlu ngerasa sendirian buat jaga rahasia kita. Gue bakal ada di belakang lu, walaupun di kantor kita harus tetep akting jadi orang asing."

Mata Sinta berkaca-kaca. Pengakuan itu terasa jauh lebih mewah daripada jam tangan bermerk yang pernah dihadiahkan Adrian, atau buket bunga raksasa yang sering dikirimkan ke mejanya. "Makasih, Jingga. Itu... itu lebih dari cukup buat gue."

Jingga segera melepaskan tangan Sinta, seolah baru tersadar dari hipnotis singkat. Ia berdehem keras dan kembali duduk tegak. "Ya udah. Mana tehnya? Airnya udah mendidih tuh, suaranya udah kayak sirine pemadam kebakaran."

Sinta tertawa, mencoba menghilangkan kegugupan yang mendadak melandanya. Ia menuangkan air panas ke dalam cangkir, memberikan satu pada Jingga. Mereka duduk di meja bar itu, menyesap teh dalam diam. Namun, diam kali ini adalah diam yang penuh dengan pemahaman baru.

Permintaan maaf yang canggung itu telah meruntuhkan satu lagi dinding beton di antara mereka. Sinta menyadari bahwa Jingga adalah pria yang tidak akan pernah memberinya janji-janji gombal, tapi dia adalah pria yang akan pergi ke pasar antik hanya untuk mengganti satu piring yang pecah. Dan bagi Sinta, itu adalah bentuk cinta yang paling jujur yang pernah ia rasakan.

Malam itu, sebelum masuk ke kamar masing-masing, suasana terasa jauh lebih ringan. Tidak ada lagi ganjalan di hati.

"Eh, Sin," panggil Jingga saat Sinta sudah memegang gagang pintu kamarnya.

"Apa lagi?"

"Besok pagi... kopinya yang Sidikalang ya. Gue butuh tenaga ekstra buat dengerin omelan Luna yang makin nggak jelas."

Sinta tersenyum lebar. "Siap, Bos. Tapi besok gantian, lu yang cuci piring bekas makan malam ini."

"Deal," sahut Jingga sambil tersenyum tipis—senyum yang benar-benar sampai ke matanya.

Saat Sinta merebahkan tubuhnya di tempat tidur, ia menyentuh plester baru di tangannya. Ia merasa hatinya yang sempat ikut pecah bersama piring krisan itu kini mulai tersambung kembali, keping demi keping, berkat kesabaran pria kaku di kamar sebelah.

Sinta menyadari bahwa meskipun dunia kantor masih penuh dengan rumor beracun dan tekanan dari Adrian, setidaknya ia memiliki satu tempat di dunia ini di mana ia bisa bernapas lega. Apartemen 12-B bukan lagi sekadar penjara kontrak, melainkan pelabuhan sementara yang mulai terasa seperti rumah yang sesungguhnya.

Dan di balik dinding, Jingga menatap langit-langit kamarnya. Ia merasakan sisa kehangatan tangan Sinta di jemarinya. Ia tahu, langkahnya setelah ini akan semakin sulit. Ia harus tetap dingin di kantor, tetap waspada terhadap Luna, dan tetap menjaga jarak dari Adrian. Namun, ia juga tahu, setiap kali ia pulang, ada seorang wanita yang memahami sisi "motor butut"-nya, dan itu membuatnya merasa sanggup menghadapi badai apa pun yang akan datang esok hari.

Permintaan maaf itu memang canggung, tapi itu adalah kunci yang membuka pintu kedekatan yang selama ini mereka kunci rapat-rapat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!