Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FAJAR PERTAMA DI ISTANA KECIL
Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden kamar pengantin, menyentuh wajah Clarissa yang masih terlelap dengan damai. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidak terbangun karena rasa mual atau alarm jadwal minum obat yang mencekam. Ia terbangun karena embusan napas yang teratur di dekat telinganya.
Clarissa membuka mata perlahan dan mendapati wajah Adrian yang masih tertidur, sangat dekat dengannya. Adrian tampak begitu tenang dalam tidurnya, gurat kelelahan setelah acara pernikahan kemarin telah digantikan oleh raut kepuasan yang tulus. Clarissa tersenyum kecil, ia mengulurkan tangan untuk merapikan sedikit rambut Adrian yang berantakan, merasakan tekstur kulit suaminya yang hangat.
"Sudah bangun, Istriku?" suara Adrian terdengar serak khas orang baru bangun tidur, namun penuh dengan kasih sayang. Matanya perlahan terbuka dan langsung terkunci pada mata Clarissa.
Pipi Clarissa merona merah. Meskipun mereka telah melewati malam pertama, panggilan itu tetap memberikan getaran hebat di dadanya. "Sudah, Suamiku. Maaf, apa aku membangunkan kamu?"
Adrian menarik Clarissa ke dalam pelukannya, menyandarkan dagunya di atas kepala Clarissa yang kini rambutnya mulai tumbuh halus. "Nggak, Sayang. Dibangunkan dengan cara seperti ini adalah impian aku setiap hari selama di Singapura."
Sarapan Pertama dan Canggung yang Manis
Satu jam kemudian, suasana dapur yang biasanya sunyi kini terdengar riuh dengan suara tawa kecil. Clarissa, yang kini mengenakan jilbab rumah sederhana berwarna lavender, mencoba menyiapkan sarapan pertama mereka. Ia masih sedikit canggung di dapur, mengingat selama ini hidupnya selalu dilayani oleh asisten rumah tangga atau perawat.
"Adrian, menurut kamu ini telurnya terlalu asin nggak?" tanya Clarissa cemas sambil memegang spatula.
Adrian mendekat, ia berdiri di belakang Clarissa dan melingkarkan tangannya di pinggang istrinya, ikut melihat ke arah wajan. "Apapun yang kamu masak, rasanya pasti seperti makanan surga buat aku, Clar. Tapi kalau boleh jujur, baunya sudah sangat enak."
Mereka duduk di meja makan kecil di sudut dapur. Momen sarapan itu terasa sangat sakral. Mereka bercerita tentang rencana-rencana kecil ke depan—tentang menyelesaikan skripsi yang sempat tertunda dan tentang bagaimana mereka akan menata rumah baru mereka nanti.
"Aku mau kita punya satu ruangan khusus untuk perpustakaan mini, Dri," ujar Clarissa bersemangat. "Tempat kita bisa baca Qur'an dan buku-buku agama bareng."
"Setuju. Dan aku mau ada satu sudut untuk menyimpan semua tasbih biru dan kenangan kita dari Singapura, supaya kita nggak pernah lupa betapa kuatnya kita saat bersama Allah," tambah Adrian.
Tiba-tiba, bel rumah berbunyi. Bastian muncul dengan gaya khasnya, membawa sebuah amplop besar dan wajah yang penuh rahasia.
"Pagi, pasangan baru! Gimana? Masih bisa jalan atau butuh kursi roda lagi?" goda Bastian sambil tertawa lepas, yang langsung disambut lemparan serbet oleh Clarissa.
"Bas, mulutnya nggak bisa dijaga ya!" seru Clarissa, meski ia tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya.
Bastian duduk di meja makan dan menyodorkan amplop itu. "Ini dari gue dan Papa. Hadiah pernikahan buat kalian. Papa bilang, kalian sudah terlalu lama mencium bau obat-obatan. Sekarang saatnya kalian mencium bau laut."
Clarissa membuka amplop itu dengan tangan bergetar. Isinya adalah tiket pesawat dan reservasi vila privat di Pulau Maladewa (Maldives).
"Maladewa?" Clarissa menutup mulutnya tak percaya. "Bas, ini terlalu mewah."
"Nggak ada yang terlalu mewah buat perjuangan lo, Dek," ujar Bastian tulus, matanya yang biasa jenaka kini tampak haru. "Adrian, gue titip adek gue. Di sana udaranya bagus, matahari bagus. Nikmati waktu kalian tanpa ada gangguan rumah sakit."
Kekhawatiran yang Masih Tersisa
Setelah Bastian pulang, Clarissa tampak sedikit melamun. Adrian menyadari perubahan raut wajah istrinya. Ia menggenggam tangan Clarissa dengan lembut. "Kamu takut soal kesehatan kamu di sana?"
Clarissa mengangguk kecil. "Aku cuma takut kalau tiba-tiba drop di tempat sejauh itu. Aku nggak mau ngerusak momen bulan madu kita."
Adrian mengangkat dagu Clarissa agar menatapnya. "Sayang, dr. Chen sudah kasih izin. Kita bawa semua obat cadangan, dan aku sudah riset rumah sakit terdekat di sana. Tapi yang paling penting, kita punya Allah. Aku nggak akan biarkan kamu kelelahan. Kita ke sana untuk istirahat, bukan untuk lari maraton."
Clarissa tersenyum, kekuatan Adrian seolah kembali mengalir ke dalam nadinya. "Makasih ya, Adrian. Aku beruntung banget punya kamu."
Sore harinya, mereka mulai mengemas barang. Clarissa memasukkan beberapa jilbab barunya yang berwarna cerah, sementara Adrian memastikan semua perlengkapan ibadah mereka tidak ada yang tertinggal. Di tengah kesibukan itu, Adrian menemukan buku catatan hijrah Clarissa yang sudah hampir penuh.
"Boleh aku baca halaman terakhirnya?" tanya Adrian.
Clarissa mengangguk. Adrian membaca baris terakhir yang ditulis Clarissa pagi itu:
"Dulu aku kira kesembuhan adalah akhir dari perjuangan. Ternyata, kesembuhan hanyalah awal dari sebuah pengabdian. Sebagai seorang hamba, dan sebagai seorang istri."
Adrian menutup buku itu dan mencium kening Clarissa. "Kita tulis halaman-halaman berikutnya bareng-bareng di Maladewa, ya?"
Malam itu, mereka berangkat menuju bandara. Perjalanan ini bukan sekadar liburan, melainkan sebuah perayaan atas kehidupan kedua yang telah diberikan Tuhan. Clarissa memegang erat lengan suaminya, menatap langit Jakarta yang kini tampak jauh lebih indah daripada yang pernah ia ingat.