"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.
Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,
"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."
Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.
Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,
Namun siapa sangka? Di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bahan gunjingan
"Ha? Iya---maaf, maaf." sahut Nila menenangkan diri, kembali berjalan mendekat.
"Tenang Nila, itu kan cuma masa lalu. Sekarang kamu fokus sama pekerjaanmu saja," bergumam sendiri.
"Oh ya, mas! Dandananku gimana? Udah bagus kan?" Menoleh cepat, tak ingin terlihat menyedihkan.
Nila bertekad, kalau memang ditakdirkan bertemu maka dia harus bisa menunjukkan sebaik mungkin dan membuktikan bahwa dirinya bisa menjalani hidup bahagia tanpa mantannya itu.
Detik pun berlalu dalam keadaan lancar. Terlihat Nila berjalan dengan senyum lega, akhirnya selesai mengantarkan semua stok makanan ke dalam aula,
Lalu hal terpentingnya dia merasa bangga sebab berhasil menyembunyikan diri dan menghindari Rangga.
Wajahnya tersenyum riang, sejenak berjalan sambil melihat sekeliling. Ikut terpukau menikmati pesta mewah para orang kelas atas,
Banyak tokoh terkenal dari kalangan pejabat, artis, dan juga pengusaha berkumpul di sana.
Mereka semua dibaluti pakaian mewah elegan serta barang branded yang harganya pasti melebihi gaji UMR.
"Hei, lihat deh. Itu kan keponakan Pak Wijaya! Bukannya dia ada di luar negeri?" celetuk suara wanita yang mulai bergosip.
Nila yang lewat tak sengaja mendengar, tanpa sadar ikut menoleh dan menyimak obrolan tersebut.
"Iya, setahuku dia ada di luar negeri buat ngobatin matanya. Kapan dia pulang?" ujar wanita bergaun merah,
"Emang matanya kenapa?" tanya yang lain,
Mereka bergerombol dengan segelas minuman di tangan masing-masing,
"..." Nila sibuk menoleh mencari sosok yang sedang dibicarakan. Mendapati pria dengan setelan jas mewah berdiri tak jauh dari sana,
Seorang pria tinggi berkacamata hitam yang melangkah lirih berbekal tongkat di tangan, tampak meraba demi mengambil gelas minuman yang disediakan di atas meja.
"Apa kamu ga tau? Dulu dia mengalami kecelakaan. Orang tua dan adiknya meninggal, cuma dia yang berhasil selamat!"
"Tapi, sayangnya kedua matanya buta. Terus dia ke luar negeri buat ngobatin matanya itu,"
"Tuh lihat, dia masih pakai kacamata kan? Berarti pengobatannya ga berhasil, kata ayahku sih---dia udah buta permanen." ujar seorang wanita yang terlihat paling mengerti soal informasi keluarga Wijaya.
Sedangkan yang lain amat betah menyimak dengan ekspresi beragam, mereka bergantian menatap penuh kritik pria tadi bak tontonan.
"Hhh, sayang sekali. Kalau aku sih lebih baik mati daripada selamat tapi buta selamanya," celoteh wanita berambut pirang,
Nila mengernyit mulai merasa terusik dengan obrolan mereka. "Apa dia ga punya hati? Omongannya kelewatan banget---bisa-bisanya gosip di depan orangnya langsung."
"Udah sendirian, buta lagi. Aku dengar dia juga kehilangan hak waris ya?"
"Pasti lah! Lagian mana mungkin pria buta memimpin perusahaan."
"Ng!" Elang menggertak geram, menggenggam erat tongkat di tangannya.
Sepertinya Elang juga serius mendengar semua perbincangan mereka.
Tak disangka jika dulu mereka lah yang berlomba-lomba mendekat, memakai segala cara agar bisa berteman dengannya.
Namun dalam sekejap, kemalangannya membuat semua itu sirna.
Ketika berita kecelakaannya menyebar, perihal kebutaan juga kehilangan hak waris, Elang pun dijauhi.
Perlahan satu persatu temannya menghilang dan mendorong Elang ke dalam kesepian. Hingga akhirnya dia menyadari betapa munafiknya mereka,
"Pasti selama ini dia cuma bergantung dari sumbangan keluarga."
"Gak guna gak sih punya wajah tampan? kalau buta dan miskin. Mana ada wanita yang mau nikah sama dia,"
"Siapa bilang?" celetuk Nila tiba-tiba menyela,
Tanpa sadar gadis itu bergerak membela, berusaha menghentikan obrolan yang dinilai berlebihan.
Bukan hanya bergosip, apa mereka tidak memiliki perasaan sampai tega memperolok ketidak berdayaan orang yang telah ditimpa musibah?
"Aku mau kok nikah sama dia." tambahnya dengan percaya diri,
"Siapa kamu?" gadis lain bertanya dengan raut curiga, entah siapa orang asing yang baru saja datang di tengah-tengah mereka.
"Ng..." Nila terbata bingung beralasan, jangan sampai menimbulkan masalah. Pasti gawat kalau orang lain tahu dia cuma pelayan yang tak sengaja lewat,
"Aku calon istri dari pria yang sedang kalian bicarakan." tegas Nila dengan lantang, berhasil mengagetkan segerombolan wanita itu.
"Istri? Siapa dia, berani-beraninya mengaku jadi calon istriku..." batin Elang tanpa sadar menerbitkan senyum di wajahnya,
Perlahan melirik pada sosok yang merebut perhatian. Memandang gaun hitam serta heels tinggi yang Nila pakai,
Begitu seksama Elang mengamati dari atas ke bawah. Rambut sebahu yang dibiarkan terurai, pakaian sederhana bahkan benar-benar tidak ada satu pun barang branded menggantung di tubuh gadis itu,
Anehnya, meski hanya berbalut gaun murah, kecantikan wajah Nila membuatnya tak kalah saing walau disandingkan dengan nona kaya di sana.
Pandangan Elang terus terpana memandangi gadis yang masih sibuk membelanya, "Tiba-tiba mengaku jadi calon istriku---"
"Dasar gadis aneh."