NovelToon NovelToon
SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.

Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.

Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.

Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**

Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FAKTA YANG TIDAK MENYENANGKAN

Pukul sembilan malam, Ana sudah merebahkan diri di atas kasur kamar kosnya.

Kos Ana terletak di kawasan perumahan elit yang strategis karena dekat dengan kampus. Meski dikelilingi fasilitas mewah dan lengkap yang menjanjikan kenyamanan, kamar itu kini justru terasa seperti penjara kaca—indah, namun sunyi dan menyesakkan.

Ana hanya bisa meringkuk di atas tempat tidur, dikelilingi jurnal-jurnal psikologi yang terbuka lebar namun tak satu pun kalimat dari lembaran itu berhasil meresap ke kepalanya.

Dalam kesunyian itu, tiba-tiba Ponselnya yang tergeletak di atas nakas bergetar.

Pak Dosen Killer: Ana, Saya baru sempat pegang HP. Pulang jam berapa tadi? Maaf ya, seharian ini benar-benar kacau. Proyek riset dengan Eva masuk tahap krusial karena ada kunjungan mendadak dari tim asesor senior. Saya nggak sempet balik ke ruangan sama sekali.

Ana menatap layar itu dengan tatapan kosong. Jarinya ragu untuk mengetik balasan. Ada rasa sesak yang aneh; pesan itu terdengar sangat formal, sangat "bos dan bawahan", meskipun beberapa malam lalu mereka baru saja berbagi keintiman "rekonsiliasi" setelah ketegangan yang disebabkan Eva, Ana kira telah mengubah segalanya.

Ana membalas: Iya, Pak. Nggak apa-apa. Aku tadi pulang jam empat, tepat waktu, balas Ana singkat, menjaga dinding "juteknya" tetap tegak.

Pak Dosen Killer: Oh iya An. Eva butuh bantuan untuk input data mentah dari hasil observasi lapangan. Besok kamu bisa bantu ?

Ana: jadi ini hitungannya lembur kan ya, pak?

Pak dosen Killer: Hahaha, iya sayang. Besok pagi ketemu di lab pusat jam sembilan. Istirahat ya, jangan begadang. Saya masih harus nyiapin bahan ngajar dan presentasi penelitian ke dewan dekanat untuk senin nanti. Sampai ketemu.

Ana tidak membalas, dan malah melempar ponselnya ke ujung bantal. Kalau senin dia ada kegiatan, artinya Adi tidak akan punya waktu untuk hadir di acara yudisiumnya senin nanti.

Hmmm... baiklah, masih ada acara wisuda. Batin Ana menghibur diri.

Oh ya apa tadi? "Jangan begadang?," gumamnya sinis. "Gimana mau tidur kalau isi kepala cuma bakwan Bu Parti dan proyek penelitian yang nggak ada habisnya?. Tapi dimaafkan deh karena ada panggilan sayangnya."

*

Hari yang melelahkan

Keesokan harinya, Laboratorium Pusat tampak lengang. Seperti biasa Ana selalu datang lebih awal. Tercium bau khas cairan pembersih lantai menusuk hidung saat Ana melangkah masuk. Namun, harapannya untuk bertemu Adi pupus seketika. Ana sedikit terkejut, ternyata sudah ada Eva di sana, sedang menata tumpukan berkas di meja panjang.

Ana segera mengecek ponselnya dan mendapati pesan dari Adi bahwa ia mendadak dipanggil oleh Kajur untuk membahas detail kegiatan Senin besok. Alhasil, hanya ada Ana dan Eva di ruangan luas itu. Suasana canggung langsung menyergap. Suara denting jemari di atas keyboard laptop menjadi satu-satunya musik latar di antara mereka.

"Hi Ana... duduk sini An," Eva menyapa begitu melihat Ana.

"Mas Adi belum bisa ke sini, mungkin baru siangan nyusul karena di panggil oleh bu Kajur. Hari ini bantu saya input data ini ya" katanya kemudian sambil menunjuk sebuah berkas tebal di atas meja.

"Baik bu" Ana dan eva tak banyak bicara pagi itu, Eva hanya menjawab beberapa detail soal proses penginputan data, selebihnya Eva tenggelam ke dalam laptopnya, sepertinya ia sedang mulai menulis laporan. Atau entahlah, sesuatu yang Ana sendiri belum terlalu paham.

"An, makan siang keluar yuk. Sudah jam dua belas lewat nih," ajak Eva saat matahari tepat berada di atas kepala.

Ana tersentak. Ia tak menyadari telah melewati pagi yang canggung itu hanya dengan berdiam diri dan tenggelam denagn pekerjaan bersama Bu Eva.

Meski sebenarnya enggan, Ana akhirnya mengiyakan ajakan tersebut. Mereka melangkah menuju sebuah warung bakso populer di dekat kampus. Aroma gurih dari kuah kaldu yang mengepul di atas dandang besar setidaknya berhasil memberikan kehangatan, sedikit demi sedikit mencairkan suasana kaku di antara mereka.

Sembari menunggu pesanan datang, Eva mulai bercerita. "Kamu tau Ana, saya itu sebenarnya bangga sekali bisa jadi alumni sekaligus dosen di sini," ujarnya dengan mata berbinar. "Mengikuti jejak ayah saya."

"Oh ya? Memangnya ayah Ibu kerja di mana?" tanya Ana berbasa-basi.

"Pak Wahyu Suroso. Beliau guru besar di Fakultas Psikologi," jawab Eva santai.

Ana hampir tersedak air mineralnya. "Wah, luar biasa! Pak Wahyu itu legenda di fakultas saya. Tapi kenapa Bu Eva malah ambil MIPA dan fokus di Biologi?"

Eva tertawa kecil. "Biar nggak sama-sama bangetlah. Lagipula minat saya memang lebih ke biologi murni. Dulu sempat mau jadi dokter, tapi bayangan harus jaga malam berjam-jam dan sekolah yang lama banget bikin saya menyerah. Akhirnya, jadi dosen terasa lebih manusiawi buat saya."

Begitu pesanan datang, sambil makan mereka tetap ngobrol, dan percakapan mengalir lancar sampai akhirnya Eva mengganti topik ke arah yang membuat jantung Ana berdegup kencang: Adi.

"Dulu, pertama kali ketemu Adi, saya sama sekali nggak menyangka kami bisa sedekat ini," kenang Eva sambil mengaduk baksonya. "Imej dia di kampus itu kan dingin, sulit didekati, dan benar-benar 'killer'. Kamu tau sendiri kan, An?" Eva tersenyum saat mengatakannya sambil melirik mencari dukungan Ana. "Saya bahkan nggak ada niat sedikit pun untuk mendekati dia awalnya."

Ana mendengarkan dengan perasaan tidak nyaman, namun telinganya seolah terkunci pada setiap kata yang keluar dari mulut Eva.

"Tapi karena kami satu almamater dan sering ketemu di berbagai proyek penelitian, frekuensi pertemuan itu mengubah segalanya. Sampai akhirnya..." Eva menjeda kalimatnya sejenak, memberikan senyum tipis yang tampak penuh arti, "...Adi menyatakan cinta."

Deg.

Dada Ana serasa dihujam sesuatu yang tajam dan dingin. Menyatakan cinta? Kalimat itu terus terngiang di kepalanya seperti kaset rusak. Eva baru saja mengonfirmasi bahwa ada sejarah romantis yang nyata di antara mereka.

Sementara itu, Hubungannya dengan Adi memang ada panggilan sayang, ada perhatian, bahkan... mereka sudah melakukan hal yang intim. Namun tapi tak satu pun kata "cinta" atau pernyataan resmi yang keluar dari mulut pria itu. Statusnya masih mengambang di antara asisten kesayangan atau kekasih rahasia yang tak diakui.

Rasa sebal mulai merayapi hati Ana. Nafsu makannya hilang seketika. Bakso di hadapannya yang tadi tampak menggiurkan kini terasa hambar.

"Bu, sepertinya kita harus cepet balik ke lab. Masih banyak data yang belum masuk ke sistem, saya takut nanti sore hujan dan kita malah kemaleman," potong Ana dengan nada yang sedikit lebih tajam dari biasanya.

Eva tampak agak terkejut dengan perubahan sikap Ana yang tiba-tiba, namun ia mengangguk setuju. "Ah, bener juga. Yuk, kalo bisa kita selesein semuanya hari ini."

Sepanjang perjalanan kembali ke lab, Ana tenggelam dalam diam. Selanjutnya ia bekerja dengan kecepatan dua kali lipat, melampiaskan kekesalannya pada barisan angka di layar monitor.

Pikirannya kalut. Jika Adi bisa menyatakan cinta pada Eva dulu, kenapa pria itu begitu sulit mengatakannya pada Ana sekarang? Apakah bagi Adi, Ana hanya sekadar pelipur lara di tengah kesibukannya, ataukah ia hanya "murid" yang kebetulan mendapat perhatian lebih?

Di tengah riuhnya data penelitian, hati Ana justru terasa semakin sunyi.

1
Almeera
Kaaa aku pertama hihihi 😍😍
Nina Sani: ❤️❤️❤️😍
total 1 replies
Almeera
thankyou, have a nice weekend 😍
Almeera
Bu myra gak usah diajakin lah, taro aja di bagasi 🙏
Almeera
Terimakasih banyak Kak sudah menciptakan karya indah ini dengan penuh kasih dan cinta sampai tercipta karya terbaiknya ❣️❣️
Nina Sani: makasih dukungannya kak, ikutin trs ya perjalanan Adi dan Ana. ❤️❤️
total 1 replies
Almeera
Kak aku siapin seragam buat kondangan, tolong jaga pasangan baik ini 🙏🙏😍
Almeera
seruuu banget, tapi tolong jangan berat berat ya kak masalahnya 🤗
Almeera
Aku udah nething yaa kak please 🥲
Ririn Susanti
sejauh ini aku suka ceritanya dan karakter Adi dan Ana,dn sampai disini aku faham ternyata.... kehidupan manusia itu ada yg spt itu,ngeri banget Krn aku punya anak perempuan 🤭
Fitriani
😄😄
Murni Asih
dr pertama sy lngsng suka
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
Nina Sani: makasih ya kak, stay tune ikutin kelanjutannya😇
total 1 replies
Sartini 02
kayaknya menarik ya kak Krn masih bab 1
lanjut kak....🤭🙏👍
Nina Sani: siaap 😇😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!