Crystal Kusuma sih bungsu dari keluarga Kusuma yang terobsesi pada sang daddy sejak bayi.
Sedari dalam kandungan bayi mungil berusia dua tahun tersebut selalu ingin berada dekat dengan Jimmy Kusuma sang daddy.
Mereka pikir itu hanya ketertarikan biasa putri kecil pada daddynya. Siapa sangka obsesi tersebut malah berubah menjadi dosa terlarang selama belasan tahun?
Dosa terlarang dimana sang daddy Jimmy Kusuma pun tidak menyadarinya.
Selama ini kematian-kematian pegawai di kantor hukumnya, jimmy kira semata hanya kecelakaan biasa.
Tapi mereka salah, semua itu adalah dosa yang dilakukan Crystal kecil.....
Lalu dosa apa itu? Apa yang bisa dilakukan oleh bayi berusia dua tahun?
Saksikan eklusif disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cloud_berry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24 : Pangsit Udang
Siang itu, lobi Menara Kusuma mendadak riuh oleh bisikan yang menjalar lebih cepat daripada lift eksekutif. Pemandangan Alice yang melangkah anggun dengan sebuah tas bekal eksklusif di tangannya, sementara Crystal menggandengnya dengan wajah ceria, menjadi tontonan yang tak ternilai bagi para staf.
"Bukannya mereka sudah pisah rumah? Katanya tinggal tunggu waktu saja sampai benar-benar 'selesai' di atas kertas," bisik seorang staf administrasi di balik kubikelnya.
"Tapi lihat itu, Nyonya Alice membawakan bekal. Wajahnya tidak terlihat seperti orang yang sedang berperang dingin. Apa gosip perceraian itu cuma karangan media saingan ya?" timpal yang lain sembari pura-pura sibuk dengan tumpukan dokumen.
Gosip tentang keretakan rumah tangga Jimmy dan Alice memang sudah menjadi rahasia umum yang dibicarakan dalam gelap. Namun, kehadiran Alice siang ini menghancurkan narasi tersebut dalam sekejap. Di mata para staf, ini adalah proklamasi keharmonisan yang sangat nyata.
Di lantai 85, Jimmy sedang meninjau jadwal makan siangnya yang padat saat pintu ruangannya terbuka. Alih-alih terkejut, Jimmy hanya mengangkat alisnya saat melihat sosok Alice masuk, diikuti oleh Crystal yang tampak sangat bangga.
Sudah lama sekali ia menanti hari ini tapi tidak kunjung datang. Mimpi apa ia semalam? Hingga istrinya mau mengantar bekal untuknya.
"Daddy! Mommy masak pangsit enak sekali! Crystal bawa untuk Daddy," seru Crystal sembari berlari kecil memeluk kaki daddynya.
Jimmy menatap Alice yang berdiri sedikit canggung, memegang tas bekal tersebut. Jimmy sama sekali tidak terkejut. Pria itu tahu persis ini bukan inisiatif Alice secara murni. Ia menatap mata bulat putrinya yang berkedip tanpa dosa.
Tentu saja, ini pasti ulah tiran kecilku, batin Jimmy dengan senyum tipis yang geli. Ia tahu Crystal sedang menggunakan Alice untuk "menandai wilayah" daddynya di kantor.
"Duduklah, Alice. Sepertinya aku harus membatalkan pesanan makan siangku kalau begini," ujar Jimmy dengan nada yang lebih hangat dari biasanya.
Alice meletakkan pangsit itu di meja kerja Jimmy. "Crystal yang memaksa. Katanya, kau harus makan ini supaya tidak... cari makan di luar." Alice mengucapkan kalimat terakhir dengan sedikit penekanan, matanya melirik Jimmy yang tampak mulai membuka kotak bekal itu.
Entah mengapa Alice mulai merasa cemburu pada Jimmy akhir-akhir ini. Padahal ia sangat membencinya dan mereka telah bercerai dua tahun silam.
Percakapan mereka berlangsung cukup lama. Alice menceritakan bagaimana patuhnya Crystal di rumah pagi tadi, sementara Jimmy mendengarkan sembari menyantap pangsit buatan mantan istrinya dengan lahap.
Bagi para staf yang mengintip dari celah pintu atau mendengar dari Helena, pemandangan itu tampak seperti pasangan suami istri yang sangat serasi—sebuah obrolan hangat di tengah kesibukan kantor.
Setelah memastikan Jimmy memakan habis "umpan" tersebut, Crystal merasa tugasnya di tahap pertama selesai. Ia menarik tangan Alice, memberikan tanda bahwa sekarang adalah waktunya ia mengambil alih posisi utama.
"Mommy pulang dulu ya? Crystal mau di sini sama Daddy. Mau bantu Daddy kerja," ucap Crystal dengan nada "atasan" yang sangat menggemaskan.
Alice menghela napas, menatap Jimmy seolah meminta bantuan, namun Jimmy hanya mengangguk kecil. "Biarkan dia di sini. Aku akan menjaganya."
Saat Alice melangkah keluar dari ruangan, para staf segera menundukkan kepala, pura-pura kembali bekerja. Mereka tidak menyadari bahwa di balik pintu tertutup itu, Crystal sedang duduk di kursi kebesaran daddynya, mengamati meja kerja Jimmy dengan teliti seolah-olah sedang mencari jejak "rubah" yang mungkin tertinggal.
"Daddy, besok Mommy masak lagi ya?" pancing Crystal sembari menyandarkan kepalanya di lengan Jimmy.
Jimmy tertawa, mengacak rambut putrinya. "Tanyakan saja pada Mommymu. Tapi sepertinya, rencanamu berhasil membuat seisi gedung ini gempar, Little Boss."
Crystal hanya tersenyum puas. Ia telah berhasil membuktikan dua hal hari ini. Pertama, masakan Alice adalah pengikat terbaik untuk Jimmy. Kedua, gosip tentang "kehancuran" keluarga mereka baru saja ia bungkam dengan sebuah kotak pangsit udang.