Seorang wanita yang bernama Karamel, di detik-detik kematiannya, sebelum menutup mata, dia melihat sosok pria berlari menuju ke arahnya dan langsung memeluknya dari api yang berkobar.
Pria itu adalah mantan suaminya yang dia ceraikan, pria yang sudah dia sakiti. Tapi pria itu masih datang untuk menolongnya, tapi sayang sekali, Karamel sudah tidak bisa bertahan, nafasnya sudah sudah berat dan matanya sudah mulai tertutup.
Tapi, ada suatu hal yang terjadi dan sulit dimengerti. Karamel kembali hidup di masa lalu, di mana dia masih menjadi seorang Istri.
Dengan kesempatan kedua yang dia dapatkan, tentu Karamel tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Mampukah Karamel membalas semua luka yang dia dapat kan di kehidupan pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Kebenaran
Di ruang rawat inap, Sarah sedang merengek kepada orang tuanya untuk mencari biaya operasi kakinya, dia tidak ingin lumpuh, dia masih ingin berjalan dengan bebas.
Tapi orang tuanya hanya memintanya untuk bersabar, mereka pasti berusaha untuk mencari uang, tapi uang sebanyak itu sangat sulit dikumpulkan jika tidak ada jaminan.
Sarah hanya bisa menangis, kenapa akhir-akhir ini dia begitu sial. Belum tadi pagi, Arka datang memberitahunya jika orang suruhan sepupunya tidak dapat menemukan orang dibalik semua kejadian itu.
Tapi berbeda dengan kecelakaan yang baru saja terjadi, kedua sopir sudah meminta maaf dan mengakui kesalahan mereka, dan membayar kompensasi, uang itulah yang Sarah gunakan dioperasi pertamanya.
"Hik hiks.. Ibu, aku mohon! Aku tidak ingin duduk di kursi roda!" Kata Sarah sambil mendorong kursi roda itu menjauh.
Ibu Sarah juga sangat prustasi, padahal beberapa bulan yang lalu, semua lancar-lancar saja. Kenapa akhir-akhir ini keluarganya begitu sial.
"Sar! Jujur saja! Kamu melakukan kesalahan kan pada Kara? Kalau tidak, kenapa dia berubah? Kenapa dia tidak ingin membantumu lagi? Kenapa dia tidak lagi mengejar Arka?" tanyanya beruntun.
"Aku tidak melakukan apapun! Aku hanya menghina suaminya yang buta itu seperti biasanya! Dia sendiri yang mengajarkan kami, tapi sekarang dia tidak terima, Kara bahkan sampai menamparku!" jelas Sarah dengan wajah masam.
"Aneh! Pasti Kara mengetahui sesuatu yang sangat fatal! Sampai dia mendadak berubah!" sahut Ayah Sarah.
Sarah terdiam, dia sudah mencoba mengingat-ingat semua apa yang dia lakukan akhir-akhir ini, tapi dia sangat yakin, dirinya tidak melakukan sesuatu yang buruk pada Sarah.
Namun, dia teringat dengan kejadian dua tahun lalu. Tubuh Sarah menegang, mungkinkah Kara sudah mengetahuinya?
Ayah Sarah yang melihat Sarah panik langsung bertanya. "Kenapa? Apa kamu sudah mengingat sesuatu?"
"Cepat katakanlah! Biar kita minta maaf kepada Kara!" Timpa Ibu Sarah.
Sarah tidak langsung merespon, saat ini dia tiba-tiba sangat takut. Karena dia tidak pernah menceritakan kepada orang tuanya.
"Kenapa diam?" tanya Ayah Sarah dengan serius. Apa jangan-jangan, Sarah sudah melakukan hal yang sangat fatal?
"Sar! Apa yang sudah kamu lakukan? Jangan bilang kamu melakukan tindakan kriminal?" tanya sang Ibu seraya menebak.
Sarah makin takut, tubuhnya gemetar dengan keringat yang sudah bercucuran. "Aku,, aku,, bukan aku yang melakukannya!"
"Apa maksudnya?" tanya Ayah Sarah dengan raut wajah dingin.
Mendengar nada suara Ayahnya yang sudah mulai emosi, Sarah makin terlihat panik. "Itu, Arka yang melakukannya. Aku hanya jadi saksi saja!" jelasnya
Ayah Sarah sedikit lega mendengarnya, tapi itu bukan berarti dia membenarkan, karena menjadi saksi juga bisa terlibat.
Ibu Sarah juga jadi takut, "Coba ceritakan! Apa sebenarnya yang sudah kalian lakukan?"
***
Hari itu, Arka mengajak Sarah makan di Restoran Sepupunya. Dia yang mentraktir, karena baru saja menerima transferan dari Kara, sebagai permintaan maaf. Karena Kara tidak bisa datang.
Saat sedang asik makan, Sarah tiba-tiba melihat kedua orang tua Kara. Tentu dia mengenalnya, karena dia sering melihat foto mereka yang Kara jadikan sebagai wallpaper di ponselnya.
"Ar, ada orang tua Kara di meja no 8!" kata Sarah dengan pelan. "Kau jangan langsung noleh, takutnya mereka mengenal kita!"
Arka menurut, dia baru menoleh setelah beberapa menit, dia juga mengenal orang tua Kara.
"Sar! Kamu mau tidak dapat uang banyak dari Kara,?" bisik Arka dengan pelan.
Mendengar kata uang, mata Sarah berbinar terang. "Ya mau lah, tapi gimana caranya?"
"Kamu hanya perlu ikut instruksiku, karena sebentar lagi kita akan menjadi penyelamat dan dibayar dengan mahal.!" jelas Arka.
Meski penasaran, Sarah hanya mengangguk setuju. Keduanya keluar Restoran secara pelan, agar orang tua Kara tidak melihat mereka.
Saat tiba di parkiran, Arka menelpon sepupunya untuk meminta bantuan, karena ini juga menyangkut bisnis dan bagian yang akan dia dapatkan.
Tak lama kemudian seseorang dengan pakaian serba hitam dan menggunakan masker datang, orang itu langsung menuju bawah mobil kedua orang tua Kara.
Niat awalnya, Arka hanya ingin membuat mereka kecelakaan ringan. Dan saat mereka lewat, berpura-pura terkejut dan langsung membantu.
Tapi tak disangka, kecelakaan itu tidak sesuai Ekspektasi mereka. Mobil itu menabrak pembatas jalan dengan keras sampai terbalik.
Arka dan Sarah yang melihat itu dari jauh langsung putar balik dengan perasaan was-was. Mereka benar-benar takut, karena merekalah yang membuat rencana itu.
Arka menghubungi sepupunya dan menceritakan apa yang terjadi. Sepupunya yang bernama Bastian juga langsung panik, karena mereka tidak menginginkan adanya nyawa yang melayang.
***
Tubuh Ayah Sarah langsung menegang setelah mendengar cerita tersebut, dia menatap Sarah dengan tatapan yang sulit diartikan.
Kenapa dia malah terlibat dengan urusan orang seperti itu, meski bukan dia pelakunya, Sarah pasti dianggap komplotan, apalagi dia juga mengincar uang, jika rencana mereka berhasil.
"Sar! Kamu.. Nak, apa yang sudah lakukan? Kenapa kamu begitu berani?. Bagaimana jika Kara mengetahui hal ini, bukan cuman kamu yang akan celaka, tapi kita satu keluarga!" ucap Sang Ibu dengan tubuh gemetar.
"Mungkin Kara sudah mengetahuinya, dan kecelakaan yang kamu alami sekarang dan sebelumnya adalah rencana balas dendamnya!" sela Ayah Sarah.
Sarah menatap kedua orang tuanya dengan air mata yang sudah berlinang. "Ayah, Ibu! Aku tidak ingin masuk penjara. Tolong lakukan sesuatu!" Suaranya gemetar karena panik.
"Kamu terlalu berani! Bagaimana jika Suami Kara yang sudah turun tangan? Uang bisa memudahkan segalanya!" kata Ayah Sarah dengan emosi.
"Tapi belum tentu Kara mengetahuinya. Buktinya, sampai sekarang Kara belum melaporkan Arka!" Ujar Ibu Sarah.
"BODOH... Kalian berdua sama saja, taunya hanya UANG.. UANG.. UANG." Bentaknya. Untung tidak pasien lain di kamar itu.
"Belum! Bukan berarti dai tidak tahu! Mereka pasti menunggu waktu yang tepat. Atau mungkin Kara ingin menyiksa kalian terlebih dahulu sebelum dijebloskan kepenjara!" lanjutnya dengan menebak.
Jika Kara mendengar tebakan itu, mungkin dia langsung bertepuk tangan. Karena tebakan itu sangat benar, dia ingin Sarah mesuk penjara dalam keadaan lumpuh.
"TIDAK.. Ayah aku tidak ingin masuk penjaraa...!" teriak Sarah dengan memberontak, dia membuang semua barang-barang yang ada didekatnya.
Ibu Sarah yang panik berusaha menenangkannya. Tapi dia malah terdorong, dan kepalanya terbentur sudut meja sampai tidak sadarkan diri.
Ayah Sarah segera mencari bantuan, Sarah terpaksa disuntik obat penenang. Dan Para Dokter hanya berpikir, Sarah belum bisa menerima kondisinya yang sekarang.
Dan Ibu Sarah juga dirawat di ruangan yang sama. Karena kamar itu memang untuk dua pasien.
Ayah Sarah segera menelepon Arka untuk datang, dia ingin meminta penjelasan lebih lanjut, dia tidak ingin dalang dari semua itu berkeliaran bebas di luar sana.
.
.
.
selamat idul Fitri thor, maafkan kami yang selalu minta crazy up yaa 😄